Diving Sulawesi: Bagian I, Lembeh.

Awal februari lalu saya nekat pergi diving sendirian ke Bunaken & Lembeh yang terletak di Sulawesi Utara. Tujuannya adalah untuk merasakan muck dan wall diving sekaligus menaikkan level sertifikasi menjadi advanced scuba diver. Saya sebetulnya sudah ngajak teman-teman lain untuk bergabung, namun karena gak ada yang merespons akhirnya saya memutuskan untuk pergi sendirian.

Ini adalah kali kedua saya menyambangi dua kota tersebut. Sebelumnya,  saya pernah menyambangi Manado & Bitung (Lembeh terletak di Bitung) bersama Sigit & Cima. Bedanya, dulu orientasi saya adalah eksplorasi dan jalan-jalan, sekarang orientasi saya adalah diving.

Setelah cari referensi di internet dan cari info ke sana sini, akhirnya saya memilihi Bastianos Lembeh dan Tasik Ria sebagai operator diving di Lembeh & Manado. Rencananya, tanggal 29 Januari – 1 Februari diving di Bastianos dan tanggal 1 – 6 Februari diving di Manado dengan Tasik Ria.

Diving di Lembeh sesuai rencana dan memenuhi ekspektasi saya, namun di Manado dengan kecewa saya harus meninggalkan Tasik Ria dan beralih ke Two Fish di Pulau Bunaken. Faktor cuacalah yang terutama membuat saya beralih ke Two Fish. Selain itu juga ada beberapa hal yang membuat saya kecewa. Padahal ekspektasi saya sudah besar terhadap Tasik Ria.

Diving di Manado & Lembeh rasanya seperti tamu di negeri sendiri. Baik di Bastianos, Tasik Ria ataupun Two Fish, cuma saya tamu yang berasal dari Indonesia. Ratenya dalam Euro dan Dolar dan gak bisa nawar 😦 Memang itulah salah satu tujuan saya pergi sendirian, yaitu untuk berbaur dengan tamu dari negara lain sehingga bisa menambah pengalaman & pengetahuan. Lagian, saya selalu suka dengan lingkungan baru dan orang-orang baru 🙂

Overall, diving di Lembeh & Manado sangat menyenangkan dan relaxing. Di Lembeh, cita-cita saya kesampaian untuk melihat frogfish/anglerfish yang nyeleneh dari pemahaman kita tentang ikan. Di Manado, walaupun dengan susah payah, bisa juga saya menikmati wall di Bunaken.

Lembeh

Saya tiba di Bastianos Lembeh pukul 00.30 karena pesawat saya delay satu jam. Satu jam sangat berharga karena saya masih harus menempuh satu setengah jam lagi untuk mencapai lembeh. Bah! Untunglah saya disambut dengan baik oleh staff Bastianos dengan plang besar bertuliskan “Welcome Wildan”, walaupun capek dan lelah tapi saya senang karena merasa diperhatikan.

Pagi harinya, saat sarapan saya berkenalan  dan ngobrol-ngobrol dengan manager Bastianos Serge Abourjeily. Manager yang berwawasan luas, memiliki pacar yang cantik, dan juga seorang u/w fotografer handal (sempurnalah hidupnya :D). Sayang yang terakhir ini saya baru tahu belakangan, kalau tahu sejak awal saya pasti sudah memohon-mohon minta diajari motret.

Bersenjatakan Canon G11, u/w housing, dan strobe Ikelite AF 35 yang baru saja dibeli beberapa hari sebelumnya, saya siap muck diving sambil foto-foto critters. Sebenernya saya rada keder juga,  karena membawa strobe tamu-tamu lain kayaknya mengira saya fotografer handal. Padahal ini pertama kalinya saya mencoba motret pake strobe 😀 Ya sudah, berlagak jago saja.

Selama diving di sana, guide saya adalah Fanly, pemuda yang sangat ngotot untuk menunjukkan kepada saya critters spesial khas Lembeh. Saking ngototnya dia sampai ngajak saya turun lagi saat rekannya melihat frogfish padahal saya sudah naik ke perahu dan tekanan udara saya tinggal 30 bar.  Kemudian,ternyata dia juga memecahkan telur flamboyant cuttlefish (Metasepia pfefferi) hanya untuk menunjukkannya kepada saya. Saya tahu ini dari Serge belakangan saat makan siang setelah dive.  Serge bercerita kalau dia melihat telur flamboyant cuttlefish dalam tempurung kelapa sejumlah enam. Namun setelah kami lewat, telurnya tinggal lima. Awalnya saya tidak ngeh saat Serge bercerita. Saat itu juga saya tidak tahu bahwa yang saya lihat adalah cuttlefish. Saya kira itu nudibranch 😀 Tapi setelah saya cermati foto yang saya ambil, saya sadar bahwa yang saya foto adalah flamboyant cuttlefish. Tidak sulit untuk menebak kalau Fanlylah yang memecahkan telurnya. Lanjut Serge, kemungkinan besar flamboyant cuttlefish itu akan mati karena belum siap untuk keluar dari telur. Saat dipecahkan, sotong kecil itu akan menggunakan sebagian besar energinya untuk mengeluarkan warna dengan tujuan melindungi dirinya dari predator. Lagian dia masih terlalu lemah untuk berburu. Saya merasa tidak enak. Harusnya saya bicara sama Fanly, tapi saya tidak melakukannya (sigh).

Flamboyant Cuttlefish

Lepas dari itu, muck diving di Lembeh sangat berkesan bagi saya. Pertama, karena saya banyak belajar untuk menjaga buoyancy. Dasar pasir hitam mengharuskan saya baik-baik menjaga buoyancy. Kalau saya tidak bisa menjaga buoyancy, berhamburanlah pasir-pasir itu sehingga bertambah sulit mengambil foto. Kalau foto sendiri saja sih gak papa, kalau foto bareng tamu yang lain jadi gak enak. Kedua, walaupun saya masih harus belajar lagi terutama untuk mengatur lighting dan kompisisi, namun saya cukup puas dengan hasil foto. Saya akan terus belajar sampai bisa menghasilkan foto seperti profesional 😀 Ketiga, Saya jadi belajar untuk diving dengan santai sambil menikmati lingkungan sekitar. Cuma dengan diving santai kita bisa benar-benar menikmati lingkungan dan punya lebih banyak kesempatan untuk melihat kehidupan laut yang unik. Keempat, di Lembehlah pertama kalinya saya muntah di bawah air :D.  Saya muntah karena belum biasa mengambil foto makro sambil mempertahankan posisi akibat arusnya yang lumayan sehingga menyebabkan mual. Pelajarannya, ternyata muntah di bawah air tidak sulit, cukup buka regulator terus muntah deh. Setelah selesai, pakai lagi regulatornya hehehe.

Dive spot di Lembeh typical, dasarnya pasir hitam dan kadang ada sedikit rubble. Yang membedakan hanya makhluk-makhluk yang ditemukan. Dive spot terbaik diantara enam diving saya di Lembeh adalah Jahir dan TK 1. Di Jahir saya melihat frogfish dan wunderpus, sedangkan di TK 1 saya melihat empat frogfish! tiga painted frogfish dan satu giant frogfish. Nah bagi rekan-rekan yang tidak tahu, frogfish/anglerfish adalah ikan yang unik. Sirip perutnya berevolusi sehingga berfungsi seperti tangan yang bisa digunakan untuk berjalan dan menggenggam. Ditambah lagi, sirip punggung pertama terletak di bagian kepala depan dan terevolusi menjadi seperti kail yang bisa digoyang-goyangkan yang fungsinya adalah untuk menarik mangsa. Kemudian juga, frogfish perlahan-lahan bisa menyesuaikan warna kulit dengan warna lingkungan. Luar biasa bukan! Makanya saya tertarik sekali dengan ikan unik ini.

frogfish

Kamar di Resort bastianos yang saya tempati walaupun lembab tapi cukup bersih. Kamar mandinya juga bersih dan nyaman. Yang keren,tempat tidurnya berkelambu, cocok buat yang sedang bulan madu 😀 Makanannya tidak terlalu istimewa tapi mereka perhatian terhadap tamu. Tau saya muslim, mereka tidak menghidangkan babi. Yang agak repot memang cara pembayarannya, mereka tidak biasa transaksi dengan rupiah. Sementara bayar pakai kartu kredit kena surcharge 3 %.  Pesan saya, kalau mau diving di Lembeh atau manado lebih baik bawa Euro supaya tidak rugi akibat perbedaan kurs. Overall, menginap di Lembeh memuaskan karena sesuai dengan harga. Ditambah lagi manajer Lembeh enak diajak diskusi mengenai marine life dan juga seorang fotografer handal.

Superior Room Bastianos

Tipe tamu yang saya temui di Bastianos Lembeh adalah couple atau group of friends sehingga agak sulit untuk berbaur. Disana saya bertemu Daniel & Heike, pasangan peneliti asal jerman yang bekerja di Singapore. Daniel adalah seorang diver yang serius. Dia punya gear yang sumpah, keren-keren. Logbooknya saja mirip buku agenda yang dibuat sendiri.  Saya juga bertemu dengan gerombolan orang Hongkong. Karena mereka beramai-ramai jadi sulit untuk berinteraksi. Ditambah lagi hanya satu dua orang yang bahasa inggrisnya bisa dimengerti. Ada tamu  yang sendirian yaitu Victoria, seorang perawat berkebangsaan inggris yang terkena infeksi telinga sehingga tidak bisa diving. Namun kelihatannya Victoria lebih tertarik untuk membaca buku dan bersantai daripada ngobrol-ngobrol.

Sebetulnya bukan suasana seperti ini yang saya cari saat traveling sendirian. Saya lebih suka penginapan yang suasananya tidak terlalu private sehingga setiap pengunjungnya bisa berbaur.  Di Bastianos terlihat setiap tamu yang datang punya acara masing-masing.  Saya yang sendirian jadi celingak celinguk gak karuan. Akhirnya daripada bingung, saya memilih untuk tidur saja di kamar.

Bulan Oktober adalah waktu terbaik diving di Lembeh karena di bulan itulah critters lebih mudah dijumpai. Namun seperti yang kita tahu, Oktober adalah peak season dan aturan di Lembeh setiap dive spot hanya boleh menerima lima belas orang diver. Diving di bulan Oktober sama saja seperti berebutan kamar mandi saat kebelet. Diving di Lembeh sebetulnya bisa dilakukan all season. Walaupun hujan, tidak akan terlalu berpengaruh, hanya visibilitynya yang tidak terlalu bagus. Namun itu bukan masalah karena kebanyakan objek fotonya macro.

Lembeh memang tempat yang asyik untuk mengasah kemampuan sebagai u/w fotografer karena banyak sekali makhluk-makhluk unik yang bisa dijadikan objek foto. Apabila anda berencana ke Lembeh, siapkanlah wetsuit yang agak tebal karena banyak motret dan sedikit aktivitas cardio kita akan mudah kedinginan. Bagi yang tidak memiliki kamera u/w, lebih baik beli dulu atau pinjam teman. Saya tidak bisa membayangkan diving di Lembeh tidak membawa kamera. Pasti akan membosankan karena kita hanya bisa melihat diver lain asyik memotret.

*)Cerita diving di Manado dilanjutkan pada tulisan selanjutnya supaya gak kepanjangan

Iklan

5 responses to “Diving Sulawesi: Bagian I, Lembeh.

  1. mybrainsgrowell

    “Rencananya, tanggal 29 Februari – 1 Maret diving di Bastianos dan tanggal 1 – 6 Maret diving di Manado dengan Tasik Ria.”

    Ini baru tanggal 1 Maret, dan. Dan 29 Februari itu gak ada. 😛

  2. wildanjohardi

    hahahaha, sori, my bad. Maklumlah gak ada yang proofread tulisan ini :p untung lu komen 😀

  3. si sigit komen, url-nya ngelink ke blog lama yang dah ga ada wkakkaaka

  4. ini link yang baru. 😛

  5. salam kenal Mas Wildan, aku tertarik banget sama diving trip dimanado & lembeh. rencananya aku bakal ngabisin akhir taun 2013 di manado selama sebulan. aku juga pengen belajar dan ngambil sertifikt diving disana. mau nanya2 dan minta rekomendasinya, kalo boleh aku minta no HP ato Pin bb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s