Monthly Archives: Maret 2011

Diving Sulawesi: Bagian II, Bunaken

Bunaken (sambungan dari Lembeh)

Menjadi PADI 5 star dive resort tidak menjamin suatu dive resort cocok dengan anda. Tasik Ria contohnya, sebuah resort bintang lima, review serba bagus, dan jadi tujuan diver elite. Tapi bagi saya, Tasik Ria kekurangan elemen penting yaitu ketidakmampuan membangun suasan akrab dengan pengunjungnya.

Tasik Ria sudah seperti hotel berbintang.  Bahkan saat saya disana sedang diadakan seminar disalah satu seminar hall. Luar biasa bukan! dive resort punya seminar hall. Cottagenya bagus dan bersih. Di tengah-tengah cottage ada kolam renang yang cukup besar. Karena Tasik Ria adalah dive resort, tentu saja kolam renangya dirancang cukup dalam untuk latihan selam. Saya perhatikan dalam kolam renang itu sekitar 5 -6 m.

Kamarnyapun tidak seperti kamar di dive resort pada umumnya, Tasik Ria memiliki semacam ruang tamu khusus menyimpan dive gear. Di samping ruang itu terletak kamar mandi, kamar tidur terletak di ruangan tersendiri yang terhubung oleh pintu. Kamarnya besar dengan king size bed, ber-ac dan siaran tv kabel.

Semuanya setingkat bintang lima kecuali kemampuannya membangun suasana akrab. Bayangkan, sejak saya check in sampai makan malam, nyaris tidak ada yang menyambut saya kecuali resepsionis, padahal saya cukup sering ke lobby resort untuk internetan. Kemudian juga, saya hampir tidak menemui tamu lain. Alhasil saya bengong-bengong saja seharian.

Sorenya, saat saya check in untuk diving, petugas di dive center kebingungan. Dia bilang tidak ada informasi ada tamu datang untuk diving. Saya malas sekali  untuk menjelaskan lagi dari awal,  belum lagi saya harus cerita  bahwa saya mau ambil advanced course. Eh, tiba-tiba dia bilang bahwa ada kemungkinan Tasik Ria tidak ada trip ke Bunaken dalam satu dua hari ini karena cuaca buruk sehingga menyebabkan ombak tinggi. Mendengar itu, saya kecewa. Setelah isi form dan bilang bahwa saya mungkin tidak ikut diving esok hari, saya langsung melesat ke kamar, ambil laptop, dan mencari cara supaya bisa diving di Bunaken walaupun cuaca buruk.

Perlu diketahui bahwa Tasik Ria terletak di main land, bukan di Pulau Bunaken sehingga membutuhkan waktu 45 menit untuk mencapai Bunaken. Cuaca buruk menyebabkan ombak tinggi di perairan utara Manado. Saya memaklumi keputusan Tasik Ria tidak pergi ke Bunaken karena masalah safety. Yang saya  sebal, mereka tidak menginformasikan kepada saya sejak awal bahwa jika cuaca buruk ada kemungkinan mereka tidak ada trip ke Bunaken.

Akhirnya saya membuat reservasi baru dengan Two Fish  yang terletak di Pulau Bunaken untuk keesokan harinya. Nah saat saya membatalkan rencana diving saya di Tasik Ria, barulah manajer Tasik Ria menemui saya dan meminta maaf karena kemungkinan tidak ada trip ke Bunaken. Saya hanya tersenyum saja. Kalau saja sejak siang tadi ada yang menyambut dan menjelaskan keadaannya, barangkali saya tetap akan tinggal di Tasik Ria.

Perjalanan ke Two Fish juga tidak mudah. Karena cuaca buruk, tidak ada perahu yang boleh sandar di dermaga Manado, alhasil saya harus menempuh jarak lebih jauh menuju dermaga Wori yang terletak sekitar 45 menit dari Manado. Dengan bujuk rayu akhirnya saya berhasil meminta sopir Tasik Ria untuk mengantar saya ke dermaga Wori, padahal tadinya dia bersikeras hanya mengantar saya sampai bandara 😀

Two Fish memang tidak semewah Tasik Ria. Lobbynya tidak luas dan ber-AC. Internet saja harus bayar lumayan mahal. Saya reservasi di kamar budget room,  kamar yang bahkan lebih buruk dari kos-kosan saya di bandung. Di tambah lagi, karena tinggak di budget room, saya harus share kamar mandi dengan tetangga kamar.

Walaupun begitu,  sejak awalpun saya sudah merasa “cocok” dengan Two Fish. Saya langsung disambut oleh manajer Two Fish dan diberi briefing tentang lokasi-lokasi di sana. Kemudian, manajer yang menjadi instruktur saya itu juga bercerita bahwa akan ada pesta tahun baru cina dan dia mengharapkan saya untuk bersosialisasi dengan tamu-tamu lain. Saya tersenyum lega.

Kedatangan saya di Manado dipenuhi keberuntungan. Saat saya disana cuacanya tiba-tiba menjadi cerah. Kemudian, saya bertemu dengan tamu lain yang sedang kursus Rescue Diver dan Divemaster. Saya lumayan akrab dengan calon divemasters ini karena seperti saya, mereka traveling sendirian 😀 Hal itu juga yang menambah pengetahuan saya tentang industri pariwisata selam. Ternyata, untuk menjadi penyelam profesional (divemaster) ternyata tidak mudah, dan bisa membuat frustasi. Ya, bahkan sesuatu yang paling menyenangkan sekalipun apabila porsinya terlalu banyak akan jadi menyebalkan.

Dalam PADI advanced open water course, saya harus mengambil lima specialty. Dua specialty wajib yaitu deep dive dan navigation, sementara tiga lagi saya memilih drift dive, night dive, dan underwater photography. Tujuan AOW adalah mengenalkan kita pada berbagai lingkungan diving, resiko dan bagaimana cara mengurangi resiko yang diakibatkan. Kalau menurut Flavia dan Bastian yang sedang ujian DM, AOW adalah tingkatan yang paling mudah. Kursus Open Water semuanya serba baru sehingga kadang menyulitkan, kursus rescue dive penuh perhitungan dan harus dijalani dengan serius karena menyangkut keselamatan orang laib, lebih-lebih DM yang harus dijalani super serius.  Saat kursus AOW saya pilih drift dan night dive karena dua dive itu merupakan favorit saya. Underwater Photography semata dipilih karena tangan saya sudah gatal ingin motret. Selama course, saya tidak boleh membawa kamera 😦

Dari semua specialty yang diambil, menurut saya yang paling menyenangkan adalah deep dive & night dive. Night dive di house reef depan resort menyenangkan karena instruktur saya jago sekali dalam mencari makhluk unik yang keluar saat malam. Saya melihat lobster-lobster besar, beberapa kepiting dan udang yang keluar saat malam. Deep dive istimewa karena lokasinya keren sekali. Saya deep dive di Fukui Point dan visibilitynya saat itu mencapai 40 m. Saking jernihnya, tidak kerasa saya sudah sampai di kedalaman 30 m. Yang istimewa, di Fukui Point, landscapenya indah sekali, seperti pegunungan di dasar laut. Enak sekali menyelam lambat-lambat sambil menikmati keindahan landscape Fukui Point.  Sayang saya tidak boleh bawa kamera saat itu. Navigation  tidak menyenangkan karena terlalu melelahkan. Saya tidak konsisten dalam kick cycle, sehingga sering diminta mengulang. Drift dive juga kurang asyik karena di Sachiko saat itu arusnya lemah sehingga kurang menantang. Underwater photography lebih parah, di Lekuan III visibilitynya hancur lebur sehingga apapun yang difoto terlihat hazy, menyebalkan.

Sama dengan saat di Lembeh, di Two Fish, saya satu-satunya tamu Indonesia selain dive guide dan staf. Bahkan Manajer dan salah satu owner berkata bahwa sudah lama sekali mereka tidak menerima tamu asli Indonesia. Tamu yang datang ke Two Fish biasanya adalah turis yang tidak terlalu kaya dan eksklusif sehingga tidak sulit untuk mengobrol bersama mereka. Apalagi dining roomnya memang dirancang untuk makan bersama-sama dalam satu meja. Tidak melulu tamu yang datang berpasangan atau dalam satu grup, ada juga yang datang sendirian, seperti Flavia, Bastian dan Sofia jadinya saya punya teman 😀

Saya sangat menikmati waktu saya di Two Fish, terutama saat pesta tahun baru cina. Warga asing memang lebih mampu menikmati pesta daripada orang Indonesia,  mungkin karena pengaruh alkohol sehingga mereka menjadi terbuka dan santai. Bagaimanapun saya sangat menikmati waktu bersama mereka. Benar-benar fun!

Two Fish adalah 5 star instructor development dive resort. Dari namanya saja kita tahu bahwa Two Fish unggul dalam bidang pengajaran. Saya lihat memang instruktur di Two Fish punya passion mengajar yang tinggi. Itu juga sebabnya saya memilih ambil AOW di Two Fish. Tapi menurut saya sih, Instruktur lokal tidak kalah kok dengan instruktur asing, bahkan kadang lebih enak diajar oleh instruktur lokal karena lebih mudah untuk berhubungan, dan apabila suatu hari ada keperluan, dengan mudah kita bisa berhubungan dengan instruktur itu.

Bagi anda yang ingin diving dengan suasana mewah dan private, jelas Two Fish bukan tempat untuk anda. Tapi bagi anda yang diving sendirian, kesepian, dan perlu ruang untuk berbaur dengan tamu lain, Two Fish adalah resort yang sempurna bagi anda 🙂

Iklan

The End

And in the end the love you take is equal to the love you make

The Beatles

Damn…