Monthly Archives: Juni 2011

Sonnet XVII

Pablo Neruda (July 12, 1904 – September 23, 1973)

I do not love you as if you were salt-rose, or topaz,
or the arrow of carnations the fire shoots off.
I love you as certain dark things are to be loved,
in secret, between the shadow and the soul.

I love you as the plant that never blooms
but carries in itself the light of hidden flowers;
thanks to your love a certain solid fragrance,
risen from the earth, lives darkly in my body.

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way than this:

where I does not exist, nor you,
so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep

Iklan

Passion

Sudah sebulan saya tidak menulis di sini. Sebetulnya tidak ada sesuatu hal yang spesial terjadi. Saya belum menjadi orang yang sangat berdedikasi kepada pekerjaan sehingga tidak punya waktu untuk menulis, saya juga belum ada rencana nulis buku sehingga tulisan di sini terabaikan, apalagi saya tidak sedang trip keliling dunia (I wish :D) . Sebulan terakhir atau mungkin lebih, saya sedang gundah gulana gendang rebana (*sok asik bikin-bikin rima padahal gak sesuai konteks)

To the point saja, saya merasa kecewa dengan perkembangan hidup saya tiga tahun terakhir ini. Kayaknya, tiga tahun lalu bukan kehidupan seperti ini yang saya inginkan. Sekarang, saya merasa tersesat. I mean, kalo seseorang terbentur dengan kesulitan saat akan menggapai cita-cita sih itu wajar. Tapi dalam kasus saya, saya sedang kebingungan mencari apa itu cita-cita saya. Menyedihkan sekaligus menyebalkan.

What are you looking for anyway dude? saya sudah memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan yang  cukup, serta fasilitas yang memadai. Mau apa lagi? Bukannya tidak bersyukur,Tuhan sudah amat baik kepada saya yang lebih sering mendekati larangannya daripada menjalankan perintahnya ini. Tapi tetap saja saya merasa ada yang kosong.

Passion. Itu yang tidak ada di setiap derap langkah saya, setiap tarikan nafas saya, dan di tengah-tengah tarian jari saya di keyboard selama tiga tahun ini. Selama ini  tidak pernah sekalipun saya mendambakan hari esok untuk bekerja lagi. Yang ada, saya bekerja untuk mengejar weekend dan menanti-nanti waktu cuti. Mudah sekali menyimpulkan bahwa tidak ada passion dalam apa yang saya lakukan. Lack of excitement, lack of enthusiasm.

Some people say there is nothing great achieved without passion. Dan saya percaya itu. Hal-hal terbaik yang berhasil diraih orang besar dalam hidupnya berawal dari passion yang besar kepada bidang yang mereka tekuni. Sampai berdarah-darahpun, apabila tidak punya passion, saya tidak akan meraih yang terbaik. I mean to be the best of the best.

Tentu saja, untuk mencapai hal-hal terbaik, passion saja tidak cukup. Sikap lain  seperti kerja keras, persisten, konsisten, dan hal-hal semacam itu mutlak diperlukan. Kalau hanya mengandalkan passion saja, gak akan kemana-kemana. Ibaratnya nafsu besar tenaga kurang.

Di mana harus mencari passion? Ini pertanyaan yang sangat menarik. Beberapa orang menyarankan untuk mencoba hal-hal baru. Premisnya, semakin banyak kita mencoba hal baru semakin dekat kita menemukan passion. Well, mencoba hal-hal baru memang menyenangkan dan menambah pengalaman di hidup yang cenderung monoton ini. Namun andaikan selama masa pencarian kita belum mendapatkan passion, apakah kita akan menhabiskan seluruh waktu kita untuk mencari?

Daripada mencari keluar, saya lebih condong mencari ke dalam. I believe passion lies within you. Tidak perlu cari jauh-jauh ke ujung dunia kalau ternyata yang dicari ada dibawah telapak kaki kita. Tidak banyak yang diperlukan untuk menemukan passion hanya kejujuran dan keberanian. Kejujuran pada diri sendiri dan keberanian untuk membuat perubahan.

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan kawan yang sudah lama sekali tidak kontak. Terakhir berhubungan dengannya mungkin tahun 2002. Ketika itu kami masih sama-sama duduk di bangku SMA. Kami ngobrol ngalor ngidul lama sekali. Dia banyak bercerita tentang kisahnya yang seru dan filosofi hidupnya yang kadang membikin saya berkernyit. Sayapun sempat curhat tentang kegelisahan saya. Saya bisa merasakan bahwa dia kasihan pada saya. Dia begitu “hidup”, sedangkan saya seperti berada dibawah bayang-bayang gelap. Di akhir pembicaraan, dia memberi saya saran yang mengharukan. Surrender katanya, kelak saya akan menemukan apa yang dicari.

Seketika tuntutan-tuntutan terhadap diri sendiri, kekuatiran terhadap penilaian orang lain, ketakutan untuk gagal yang tadinya menyelimuti pikiran-pikiran saya  perlahan-lahan runtuh. Sayapun tersenyum dan merasa lebih rileks. Tidak perlu lagi saya membanding-bandingkan hidup saya dengan orang lain. Tidak usah lagi saya takut bersikap dan bertindak. Dan gagal, ah  siapa sih orang yang tidak pernah gagal dalam hidupnya 🙂

Take it easy for all the beauty in life, katamu.

Nampaknya benar angin sedang berubah arah. Kita lihat saja kemana dia membawaku 😉