Monthly Archives: Juli 2011

Anders Behring Breivik

Anders Behring Breivik

Di usianya yang ke-32 Anders Behring Breivik berdiri di bawah sorot lampu panggung dunia. Dia membuat tindakan yang mencengangkan, membantai 76 anak muda  di Norwegia dengan menyamar sebagai polisi setelah sebelumnya membom sebuah gedung pemerintah yang menewaskan delapan orang.

Mungkin kalau ini terjadi di Afghanistan tempat nyawa manusia seperti tidak berharga dan pembantaian terlalu sering terjadi, orang-orang tidak akan terkejut. Namun pembantaian ini terjadi di Norwegia, negara yang memiliki reputasi sebagai juru runding damai dan merupakan rumah pemberi hadiah nobel perdamaian.

Breivik membenci imigran, terutama imigran muslim. Baginya, imigran muslim berpotensi merusak tatanan kultur eropa yang ada dan suatu saat dikhawatirkan akan mengambil alih eropa. Dia menganggap satu-satunya jalan keluar untuk itu adalah “memperingatkan” partai yang berkuasa di Norwegia sekarang – Partai Buruh- yang terlalu moderat terhadap imigran muslim dengan bom dan pembantaian.

Breivik hidup dalam paranoia yang dibuatnya sendiri. Dia aktif di forum-forum internet dalam mengusung pandangan islamofobia.  Dalam manifesto yang dibuatnya sebelum melakukan hal keji tersebut dia mengaku telah merencanakan pembantaian ini sejak sembilan tahun lalu. Terakhir dia menyewa rumah petani di daerah terpencil agar bisa terisolasi dalam merencanakan tindakannya. Brevik menjauhi keluarga dan rekan-rekannya untuk mengurangi kecurigaan. Dia hidup di dunianya sendiri.

Mirip dengan semua aliran fundamentalisme. Dia menganggap dirinya dan ideologinya yang paling luhur, murni dan paling mulia. Dia tidak setuju dengan pandangan marxisme yang menyatakan bahwa semua orang adalah sama, equal. Baginya multikulturalisme adalah nonsens. Bagaimana setiap orang dengan pikirannya masing-masing, pendapatnya masing-masing dianggap sama. Menurutnya Islam mendompleng semangat multikulturalisme untuk menutupi niat sesungguhnya menguasai dunia sembari memberikan data pembantaian terhadap umat kristen yang telah dilakukan umat muslim sejak abad ke tujuh. Dia mengaku adalah bagian Ksatria Templar, suatu pasukan elit untuk menghalangi infiltrasi Islam secara sistematis ke kebudayaan barat.

Buah pikirannya mirip dengan fundamentalis Islam yang senang mereduksi permasalahan dengan menganggap Amerika dan Israel adalah biang keladi keterpurukan Islam. Amerika dan Israel dikabarkan memiliki rencana besar untuk mencegah kemajuan umat islam karena mereka yakin Islam akan maju pesat. Untuk itu mereka (red: fundamentalis) menyerukan gerakan jihad untuk melawan hegemoni AS dan Israel.

Radikalisme ternyata tidak dimonopoli kelompok dan agama tertentu. Bahkan di negara mapan yang penduduknya menghargai hak asasi manusia pun radikalisme bisa terjadi. Selama ini, label radikal dan teroris melekat pada umat muslim, seoalah-olah hanya muslim saja yang melakukan tindakan kekerasan atas nama agama.

Di era demokrasi ini setiap orang dijamin haknya untuk  berpendapat, berdebat, percaya, tidak percaya, berideologi, tidak punya ideologi. Proses itu harus dilakukan atas dasar saling menghargai. Kebanggaan berlebihan atas ras, suku dan agama tertentu harus dihindari. Kebencian dan stereotyping atas suatu kelompok harus disingkirkan jauh-jauh dalam proses bermasyarakat. Nilai-nilai keberagaman harus dihargai karena itulah yang sebenarnya yang membuat kehidupan manusia lebih berwarna. Tuhan telah menciptakan bangsa-bangsa di dunia dengan kekhasannya masing-masing. Tidak pantas manusia berseteru karena perbedaan yang telah diberikan Tuhan.

Andres Behring Breivik menebarkan kebencian mendalam kepada imigran muslim di eropa. Hal terbaik untuk menghukum Brevik sekaligus menghargai korban-korban yang terbunuh adalah memastikan dunia tidak menjadi yang Brevik cita-citakan. Menjadi xenophobia.

May peace prevail on earth

Lagi-lagi Cuaca

Cuma keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Itulah perumpamaan yang diberikan untuk orang yang tidak mau belajar dari kesalahan. Keledai digambarkan sebagai mahkluk yang bebal dan bodoh. Walaupun sudah dipukul dan bentak, kalau mereka tidak mau jalan ya dia tidak akan jalan. Seharusnya memang manusia bisa belajar dari kesalahan. Namun selalu ada orang yang cukup bodoh untuk mengulangi kesalahannya dua kali. Saya termasuk di dalamnya.

Bulan Februari 2011 saya sudah amat lelah dengan rutinitas sehari-hari. Berawal dari iseng-iseng buka-buka situs mengenai lokasi-lokasi diving terbaik di Indonesia, saya langsung kepincut Bunaken. Bukan hanya Bunaken, saya juga sekaligus merencanakan diving di Lembeh yang terkenal sebagai muck diving capital of the world. Bunaken dan Lembeh hanya terpaut satu jam perjalanan. Terlalu bersemangat saya juga berencana untuk meningkatkan sertifikasi diving menjadi advanced open water diver. Tidak cukup sampai di situ, karena akan diving ke Lembeh yang menjadi surganya fotografer macro – seni memotret benda-benda kecil – saya lantas membeli external strobe sebagai peralatan wajib fotografer macro. Akibat tambahan-tambahan itu biaya liburan saya langsung membengkak drastis. Saya tidak peduli, yang penting senang. Namun ada hal yang lupa saya pertimbangkan. Cuaca.

Saya kena batunya, tiga hari saya di Lembeh cuacanya selalu mendung. Namun karena terletak di selat, diving di Lembeh tidak terlalu terpengaruh cuaca dan gelombang. Di Bunakenlah rencana diving hampir saja berantakan.  Waktu itu cuacanya sangat buruk dan gelombang tinggi sehingga hampir tidak mungkin untuk pergi ke Bunaken. Saya harus bersusah payah mencari dive center di Bunaken yang bisa menjamin diving saya lancar dan saya bisa ambil sertifikat advanced. Walaupun saya berhasil mendapatkan dive resort yang bisa mengakomodasi keinginan saya, namun tetap saja ketenangan liburan terusik dan saya harus keluar uang lebih untuk pindah resort.

Juli 2011 kejadian yang mirip berulang. Karena dipanas-panasi teman dan keracunan informasi tentang Wakatobi di internet, saya yang tidak berencana untuk dive trip lagi akhirnya memutuskan ikut ke Wakatobi dengan Live on Board (LoB) pula. Live on Board adalah tipe akomodasi diving yang segala aktivitas dilakukan di atas perahu, baik makan, tidur, dan tentu diving. LoB lebih mahal dari akomodasi land-based. Kelebihan LoB adalah kemampuannya untuk mengakses dive spot yang tidak sulit diakses dengan land-based. Seperti diduga, saya yang sudah terlanjur bersemangat tidak mempertimbangkan masalah cuaca. Lagi. Di Wakatobi angin timur berhembus kencang sehingga gelombang tinggi. Trip itinerary kami kacau balau. Kelebihan LoB untuk mengakses dive spot terisolir tidak bisa dimanfaatkan. Selama tiga hari kami hanya ngendon di Hoga dengan perahu besar itu. Di dive spot yang itu-itu saja.

Wakatobi merupakan singkatan dari empat pulau utamanya. Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Tomia adalah yang terbaik dari semuanya. Pantai indah dengan pasir putih yang sepi, laut dengan gradasi warna birunya, dan terumbu karang warna warni yang menyejukkan hati. Saya hanya sempat ke Wanci dan Kaledupa sedangkan Hoga adalah pulau kecil di dekat Kaledupa. Belum bisa bilang diving di Wakatobi kalau belum ke Tomia. Sungguh tidak enak kalau sudah mengeluarkan banyak energi dan uang untuk trip tapi hati tidak puas.

Mengingat-ingat kembali kebodohan yang dilakukan, saya hanya bisa tertawa saja. Meratapi nasib tidak akan mengembalikan apa-apa. Berandai-andai tidak bisa mengembalikan uang saya. Selama ini saya selalu menganggap diri saya tidak impulsif dan selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pada kenyataannya, untuk hal yang sangat saya sukai, saya sangat impulsif, tidak mampu berpikir panjang.

Penyelamat trip di Wakatobi adalah teman seperjalanan, Rinda, Ima, Agung dan Sigit. Tanpa mereka entah bagaimana jadinya dive trip saya di Wakatobi. Di Bunaken, ketika trip tidak sesuai rencana, saya tidak bisa sharing dan berkeluh kesah ke siapa-siapa. Dengan adanya teman, paling tidak sekarang saya bisa sharing dan sama-sama menertawakan nasib.

Namun keledai tetap saja keledai. Dua kali dive trip saya kacau karena saya yang impulsif dengan kesalahan yang sama pula. Cuaca.  Mudah-mudahan hal ini tidak terulang untuk ketiga kalinya. Amin.