Monthly Archives: Agustus 2011

The Ugly Truth

After all these years, why am I turning into bastard that I never wanted to become.

Why oh why..

Iklan

Surrender

Empat tahun lalu  di ruang seminar pada bulan Ramadan yang tenang itu saya gelagapan menjawab pertanyaan dosen penguji yang juga dekan itu. Sebetulnya pertanyaannya adalah jenis pertanyaan ilmilah populer. Dia menanyakan tentang Michael J. Fox dan penyakit Parkinson yang dideritanya. Saya tidak siap. Walaupun sudah dua malam saya belajar mengenai sistem saraf manusia, tidak terpikir untuk membaca tentang penyakit Parkinson.

Sebetulnya penelitian saya itu sangat spesifik dan jarang sekali diketahui oleh dosen-dosen lain yang tidak terlibat langsung. Mungkin karena itu pertanyaan pembuka dari dekan saya adalah pertanyaan ilmiah populer tentang penyakit yang melibatkan sistem saraf manusia. Asumsinya, kalau saya belajar tentang neurotransmiter – suatu zat kimia yang mengatur pertukaran komunikasi antara sel-sel di otak –  pasti bisa menjelaskan tentang Parkinson yang diderita pemeran Marty McFly pada film Back to The Future itu. Nyatanya, saya tidak tahu.

Start yang buruk itu ternyata terus bergulir sampai akhir seminar. Banyak sekali koreksi dan pertanyaan yang sulit saya jawab. Saya tersadar, selama ini saya membohongi diri sendiri dengan mengira saya suka dengan neuroscience. Dengan jeda waktu enam bulan dari penelitian selesai sampai penulisan skripsi, sejujurnya, jarang sekali saya membaca referensi dan menelaah jurnal. Lantas ngapain dong? saya juga sudah lupa. Yang jelas saya tidak menikmati proses penelitian itu.

Kalau dulu saya jeli, itulah sumber masalah saya. Dasar pemilihan topik penelitian tentang neurofisiologi adalah gabungan dari kesombongan dan kepragmatisan saya. Sombong karena saya ingin membuktikan diri bahwa saya bukan hanya orang “lapangan” tapi juga bisa kerja di lab yang membutuhkan ketelitian tinggi. Pragmatis karena saya melihat teman-teman yang masuk ke lab fisiologi cepat lulus sehingga bisa langsung cari kerja. Karena bukan didasari sesuatu yang lebih substansial, saya mengerjakan peneltian itu seadanya saja. Makanya ketika ditanyain tentang Parkinson yang nyata-nyata berkaitan dengan neurotransmitter, saya tidak bisa jawab.

Dan sepertinya penyakit itu masih tumbuh subur di diri saya. Penyakit untuk selalu membuktikan diri. Saya selalu berupaya membuktikan diri bahwa saya bisa menjadi apapun yang diinginkan. Konyol sekali. Cukup sudah keinginan bukti membuktikan ini. Sudah tidak jelas juntrungannya. Saya menjadi tidak fokus dalam mencapai tujuan saya. Saya ingin  bisa ini, bisa itu tanpa bisa menghubungkannya dengan visi besar saya. Akhirnya terlalu banyak tuntutan yang saya bebankan ke diri sendiri dan yang terpenting hal tersebut tidak baik untuk kesehatan jiwa.

Langkah terbaik saat ini adalah belajar ikhlas, surrender. Jangan mikir macam-macam. Jangan mencoba membuktikan apapun kepada siapapun dan untuk apapun. Dan lagi, harus segera memutuskan orientasi hidup dan cepet melangkah dari zona nyaman ini.

Yah mudah-mudahan bukan cuma di tulisan dan di pikiran saja.

Semoga.