Monthly Archives: Januari 2012

Pulau Weh: The Diving

Sebetulnya saya tidak punya rencana untuk diving pada awal tahun 2012. Namun ketika saya diajak nyelam di Pulau Weh dengan diiming-imingi segala kemudahan (kebetulan sahabat saya sedang berada di sana), saya tidak sanggup menolak ajakan nyelam di salah satu lokasi terbaik di ujung paling barat Indonesia.

Sebelumnya, tidak pernah saya melihat begitu banyak ikan di suatu perairan. Padahal di Weh, kenanekaragaman terumbu karangnya biasa saja, warna warni yang khas pada terumbu karang tidak tampak, hanya batu-batu vulkanik yang besar-besar. Dulu saya menanggap terumbu karang yang berankeragam dan warna warni berkorelasi positif dengan banyaknya ikan. Di Aceh saya menemukan kenyataan yang berbeda.

Pulau Weh pada dasarnya adalah daerah vulkanik yang masih aktif, makanya  di Pulau Weh kita akan melihat batu-batu vulkanik yang besar-besar. Aktivitas vulkanik ini pula yang membentuk bentuk bawah air Pulau Weh menjadi fenomenal. Slope, wall, drop off, overhang, swimthrough dan channel banyak terdapat di Weh.

Rubiah Tirta

Di Weh, saya nyelam dengan Rubiah Tirta yang merupakan dive center tertua di Aceh dengan reputasi yang baik. Rubiah Tirta dijalankan oleh tiga bersaudara, Yudi, Iskandar, dan Isfanuddin. Mereka meneruskan usaha ayah mereka, alm Dodent, seorang penyelam legendaris dan penggiat lingkungan hidup di Aceh.

Rubiah Tirta terletak di Bantai Iboih Pulau Weh, sekitar 40 menit berkendara dari Pelabuhan Balohan. Yang berbeda dengan dive center lain, Rubiah Tirta hanya melayani dive, tidak melayani penginapan dan makan. Ketika saya tanyakan ke Isfan – salah satu pemilik dan guide –  kenapa tidak mengembangkan bisnis  beliau menjelaskan kalau filosofi berbisnis mereka berbagi dengan penduduk sekitar. Mereka ingin memberikan dampak positif kepada penduduk yang ada di Iboih. Visi yang luar biasa walaupun saya harus naik turun bukit dari penginapan ke Dive Center.

Courtesy of Cut Rinda

Di Iboih, saya menginap di Iboih Inn yang dijalankan oleh Ibu Saliza. Saya menginap di kamar twin bed dengan fan. Setiap kamar punya fasilitas tempat tidur dengan kelambu, kamar mandi, balkon dengan hammock. Kamarnya cukup bersih dan nyaman. Hanya memang seperti layaknya kamar dengan dinding kayu di daerah pantai, aroma lembabnya terasa sekali. Mungkin kamar dengan AC bisa membantu mengurangi lembab, sayangnya budget saya tidak cukup untuk kamar AC.

Rubiah Tirta memiliki kebijakan satu guide untuk tiap dua penyelam. Biasanya satu guide untuk empat penyelam. Mungkin karena di Weh arusnya deras dan sulit diprediksi sehingga guide harus ekstra hati-hati dalam memandu penyelam. Selama menyelam di Weh, guide kami adalah Wandi dan Isfanuddin. Guide yang berpengalaman dan asik.

Karena hanya empat kali dive (dari rencana lima dive), kami langsung ditawari site terbaik di Weh. Dive pertama sekaligus check dive dilakukan di West Seulako, dive kedua night dive di Sea Garden, dive ketiga di Canyon, dan dive keempat di Batee Tokong.

West Seulako

Dive pertama merupakan check dive. Karena hanya check dive, saya kira kami akan melakukannya di lokasi yang biasa-biasa saja. Makanya saya tidak bawa kamera. Satu hal yang saya sesali belakangan.

Pertama kali masuk ke air saja saya langsung kaget dengan begitu banyaknya ikan berseliweran. Kerapu yang sulitnya minta ampun ditemukan di Bontang, sangat melimpah di Weh. Saya nyesel gak bawa kamera. Di lokasi ini pula saya melihat Ribbon Eel yang sudah jadi incaran saya sejak dulu. Di bawah air saya misuh-misuh kepada diri sendiri karena malas bawa kamera.

Courtesy of Rinda

West Seulako adalah slope dengan substrate dasar batu-batu gede, walaupun di beberapa bagian ada substrat dasar berpasir. Pada sekitar kedalaman 14 m ke arah Arus Paleeh, kita dapat menemukan overhang yang keren. Lagi-lagi saya nyesel karena gak bawa kamera. Saya juga nyesel karena gak bawa senter, padahal saya pingin tahu apa yang ada di bawah overhang itu.

Tanpa terasa satu jam sudah terlewati.  Pada saat melakukan safety stop, saya menemukan greenfish dan pinkfish yang merupakan salah satu spesies indikator pada metode reef check.

Sering ditemukannya kerapu dan teripang yang merupakan indikator reef check, saya menarik kesimpulan bahwa program konservasi di Weh berjalan baik. Pada saat surfacing dan ngobrol-ngobrol dengan Wandi. Dia cerita bahwa pada sepanjang area penyelaman, nelayan dilarang mengambil ikan dengan jaring. Penangkapan dengan racun dan pengeboman haram dilakukan. Pantas saja ikan dan invertebrata bernilai ekonomis seperti kerapu dan teripang masih banyak ditemui.

Sea Garden / Night Dive

Sea garden terletak di sisi Pulau Rubiah yang mengarah ke barat. Kami menyelam tidak terlalu dalam, hanya sekitar 12 meter saja.  5 meter pertama substrat dasarnya karang keras yang kebanyakan jenis acropora. Kemudian 5 – 8 meter rubble,  lebih dari 12 meter hanya terlihat pasir.

Tidak banyak juga yang kami temui di Sea Garden, yang menarik hanya Fimbriated moray dan Red Spooner crab gede yang diameternya sekitar 20 cm.  Saya berharap ketemu dengan lobster dan Spanish Dancer, tapi ternyata gak ketemu.

Fierce Looking Moray

Saya niat sekali untuk nite dive, sampai-sampai bawa lensa macro Inon saya. Eh ternyata sulit sekali pakai lensa macro, apalagi di lingkungan yang hanya mendapat cahaya senter. Berkali-kali saya ubah setingan kamera, berkali2 saya ubah sudut strobe ternyata hasilnya tetap tidak memuaskan. Pada akhirnya saya lepas itu lensa macro dan memotret seperti tanpa macro.

Canyon

Sejak perencanaan diving di Aceh saya selalu melihat review yang baik tentang site ini. Tentang seascapenya yang fenomenal, tentang arusnya yang bikin ngeri-ngeri asik, tentang ikannya yang besar-besar, bahkan ada yang pernah melihat mola-mola di site ini. Makanya pagi itu saya siap diving dengan penuh semangat.

Sampai tiba-tiba hujan deras.

Dive kami yang harusnya mulai jam delapan pagi terpaksa diundur ke jam sembilan karena hujan deras. Saya mulai cemas, bukan hujan yang saya kuatirkan, tapi visibility. Saat hujan berangin biasanya gelombang datang dan mengangkat sedimen-sedimen yang ada di dasar, sehingga menyebabkan visibility berkurang. Belum ditambah dengan run-off dari daratan.

Benar saja, saya mulai entry, visibilitynya kurang baik, hanya sekitar 10 – 15 m. harusnya kami menikmati reefscape Canyon yang konon mirip Grand Canyon jadi terganggu.

Canyon merupakan site seperti tebing yang dinding-dindingnya memiliki channel yang dapat dieksplor. Substrat dasar dari Canyon adalah karang keras. Tujuan kami adalah mengekslporasi canyon adalah mencapai channel yang menghadap ke selatan baru kemudian naik perlahan-lahan. Rencana kedalaman maksimal adalah 33 m. Channel tujuan kami berada pada kedalam 22 m pada dasarnya, sedangkan puncak pintunya terdapat pada kedalaman 16 m.

Saya sudah mengantisipasi arus deras yang tidak bisa ditebak di Canyon, sampai-sampai saya tidak membawa lensa macro karena khawatir jatuh. Nyatanya, di sana arusnya biasa saja, tidak terlalu deras. Memang saat dikedalaman sekitar 10 m, arusnya lumayan deras dan naik turun, sampai-sampai saya mual dibuatnya. Namun kenyataannya arus yang kami jumpai tidak semenyeramkan itu.

Di Canyon saya banyak melihat ikan-ikan besar. Di Channel saya menemukan Bumphead Parrotfish yang luar biasa besar, panjangnya sekitar 1.5 m.  Tidak lama kemudian saya mendapati seekor Ikan Napoleon yang besar. Panjangnya kira-kira 1 m. Tidak mau kehilangan momen, saya mengejar dan merekam napoleon itu, walaupun ketika kembali saya harus berenang melawan arus.

Napoleon, atau di Hongkong dikenal dengan Soo-Mei merupakan ikan famili Labridae yang keberadaannya terancam. Bayangkan saja, harga seekor Napoleon  di Hongkong dan Taiwan dihargai $180 / kg. Konon, dengan memakan Napoleon dapat meningkatkan stamina seksual. Sesuatu yang bisa diperdebatkan. Yang paling berharga adalah bibirnya, harga masakan bibir Napoleon bisa mencapai $300. Gila.

Saya ingat, di Derawan hampir saja saya memakan Napoleon. Pak Ruslan nawarin saya makan Napoleon seberat 300 gram dengan harga 350 ribu saja. Katanya paling enak dimasak steam jahe. Saya sudah ngiler saja ngebayanginnya. Kalau gak inget budget pas-pasan, mungkin sudah saya sikat itu Napoleon. Belakangan baru saya tahu kalau Napoleon sangat terancam keberadaannya.  Untung saja.

Batee Tokong

Batee Tokong terletak di sisi sebelah utara pulau Seulako. Batee Tokong adalah karang yang menyeruak dari dasar laut.  Dive plan kami hanya sedalam 20 m  dari arah Batee Tokong ke Seulako. Di site ini Wandi cerita kalau akan ditemukan banyak Moray Eel, dia berpesan untuk tidak takut kalau ketemu yang besar-besar.

Karakteristik Batee Tokong adalah wall sampai kedalaman 20 meter, kemudian slope. Substratnya adalah karang keras. Pada slope, saya melihat substrat dasarnya kebanyakan pasir.

Benar saja, dimana-mana tidak sulit untuk menemukan Moray. Hampir disetiap ceruk kami menemukan Moray. Menemukan Moray untuk objek foto sama sekali tidak sulit. Selain Moray yang berlimpah, saya sempat memergoki kerapu besar yang sedang beristirahat di batu karang. Saya sempat memotret sekali. Namun ketika saya yang saat itu sedang menyesuaikan buoyancy dengan menarik  tali emergency air dump dari BCD, si kerapu malah lari.

Ada sedikit fakta yang unik tentang Moray Eel tentang mengapa mereka selalu membuka mulutnya ketika menyeruak dari dalam ceruk. Awalnya saya kira mereka sedang dalam posisi mengancam. Tapi kenyataanya perilaku membuka mulut ini adalah untuk mengalirkan air ke insang mereka untuk bernafas. Moray merupakan makhluk yang tidak menyerang kecuali jika diganggu. Apabila diperhatikan baik-baik, mereka memiliki dua rahang, satu untuk mencaplok mangsa, dan satu lagi untuk menarik masuk ke dalam saluran pencernaan. Luar biasa bukan.

Diving di Weh benar-benar memuaskan, terutama bila yang anda sukai adalah drift diving dan melihat ikan-ikan yang banyak. Yang paling saya sukai di Aceh adalah makanan dan orang-orangnya yang memiliki karakter mengagumkan. Mengangumkan dalam arti fair dan menghargai hak-hak orang lain. Mungkin yang kurang selama di Aceh adalah waktu kami yang terlampau sempit dan perjalanan yang cukup melelahkan antara penginapan dan dive center. Apalagi saat malam karena tidak ada penerangan sepanjang jalan. Selebihnya, saya menganggap Weh yang terbaik dari beberapa dive trip saya.

Rubiah Tirta

______________________

Info Penting:

Dive di Rubiah Tirta untuk “Asians, not including Singaporean” adalah 185 ribu/dive. 225 ribu / dive kalau anda meminjam peralatan ke Rubiah Tirta. telepon: +62.652.3324555. email: info@rubiahdivers.com. website: http://www.rubiahdivers.com

Harga penginapan rata-rata 250 ribu / malam dengan dua bed dan fan. Pakai AC sekitar 300 -350 ribu.

Makan siang bisa didapat di dekat Dive Center. Sebagai gambaran, lontong aceh harganya Rp, 10,000.

Transport dari Balohan ke Iboih sangat mudah. Hanya Rp 50,000 per orang. Saran saya jangan bawa mobil apabila jika anda cuma seorang weekend warrior atau cuma 2-3 hari. Nanti anda akan pusing sendiri di pelabuhan. seperti saya.

Jangan segan-segan untuk jalan-jalan ke Km 0 dan Kota Sabang. Pengalaman berharga itu menginjakan kaki di km 0. Apalagi maghrib-maghrib dan tak tahu kalau km 0 itu ternyata banyak hantunya, hehehe.

Saya pribadi merekomendasikan Iboih Inn. Pertama karena memiliki jetty sendiri. Kedua karena kebaikan Ibu Saliza yang bermurah hati membiarkan saya tidur di hammock saat luntang-lantung di Sabang karena gak dapet ferry. Akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya. Ibu Saliza: +62811841570, +628126991659. Email: iboih.inn@gmail.com

Iklan

Katak dalam Tempurung

If all you have is hammer, everything looks like a nail – Abraham Maslow –

Sering saya mendapati orang-orang yang merasa sudah jagoan di bidang yang dikuasainya. Tapi menurut saya, dengan pengalaman berpuluh tahun di suatu bidang  belum tentu menjadikannya jagoan. Penyelam contohnya, anggap dia sudah mencatatkan sekian puluh ribu jam selam di bawah sabuknya, namun bukan berarti jumlah jam selamnya menandakan dia penyelam jagoan. Harus ditanyakan dari sekian puluh ribu jam selamnya, sudah ke mana saja dia menyelam, jangan-jangan nyelamnya di situ-situ saja. Tentu juga harus dilihat skillnya di bawah air.

Merasa jagoan dengan jagoan betulan tentu beda. Merasa jagoan hanya karena merasa sudah pengalaman puluhan tahun di suatu bidang  tentu berbeda dengan orang yang memang asli jago karena betul-betul bergumul di suatu hal, menggalinya dalam,  mengembangkan skillnya, membuka wawawasannya dan mau belajar dari ahli-ahli lain.

Nah yang repot kalau orang-orang yang sudah merasa jagoan tersebut senang memamerkan cerita dan pengalamannya yang ternyata sudah ketinggalan jaman, alias jadul.  Dia merasa sudah sedikit lagi mencapai langit, padahal kenyataannya itu langit-langit tempurung.  Seperti perumpamaan katak dalam tempurung.

Sempit wawasannya, tidak mau belajar, susah diberi pengertian, merasa paling jago sendiri, itulah ciri-ciri katak dalam tempurung. Susah memang kalau ketemu orang kayak gini. Kagak mempan diomongin. Ngelesnya juga jago bener. Yang paling nyebelin kalau sudah bawa-bawa umur dan pengalaman. Nah kita yang udah berbusa-busa menerangkan pake “common sense” dibales dengan “wah, kamu masih terlalu muda untuk bisa memahami persoalan dengan baik”.  Bikin frustasi.

Saya sering menghadapi yang kayak gini di lingkungan kerja. Sering bukan berarti saya menggeneralisir kalau  semua orang dalam lingkungan kerja saya seperti katak dalam tempurung lho. Tapi itulah kenyataannya, saya sering menemukan, bahkan yang punya jabatan penting sekalipun. Apakah mungkin karena kami kerja di lingkungan yang itu-itu, ketemu orang yang itu-itu saja, terus berinteraksi dengan hal yang itu-itu saja membuat wawasan kami terbatas?

Kan ada internet?  untuk orang-orang yang sadar kalau kemampuannya minim dan punya dorongan untuk berkembang, internet adalah alat yang powerful. Tapi untuk orang-orang yang merasa puas dengan masa lalu seolah-olah masa lalunya adalah suatu pencapaian maksimal dan wajib dikenang-kenang. Internet hanya alat untuk mencari racikan bumbu masak dan melihat artis-artis seksi.

Iklim kerja? Memang sih di BUMN kultur kerjanya sangat berbeda dengan swasta. Di swasta yang kompetisinya sangat ketat, setiap orang dipaksa untuk maju. Gak update berita, matilah dia. Makanya di swasta sering banget diadakan training dan seminar. Karyawannya kalau ikut seminar serius banget. Kalau di BUMN yang mirip institusi pemerintah ini, pejabatnya sangat terbiasa dengan kondisi steady state. Targetnya juga gak muluk-muluk asal bisa business as usual saja sudah puas. Seminar dan konferensi diikuti untuk ajang rekreasi. Tipe karyawannya kalau ikut seminar selalu nunggu waktu seminar selesai supaya bisa happy-happy 😀 (*pengalaman :D) Iklim yang sangat mendukung untuk jadi katak dalam tempurung.

Mungkin cara terbaik ngeladenin si katak adalah membuka tempurungnya dan mengingatkan kalau tempurungnya itu kecil dibanding dengan yang ada di luar sana. Apabila setelah dibuka si katak tetep bersikeras untuk hidup di dalem tempurung, Ya suka-sukanyalah. Mungkin dia lebih merasa aman dengan dunianya di dalam tempurung.