Katak dalam Tempurung

If all you have is hammer, everything looks like a nail – Abraham Maslow –

Sering saya mendapati orang-orang yang merasa sudah jagoan di bidang yang dikuasainya. Tapi menurut saya, dengan pengalaman berpuluh tahun di suatu bidang  belum tentu menjadikannya jagoan. Penyelam contohnya, anggap dia sudah mencatatkan sekian puluh ribu jam selam di bawah sabuknya, namun bukan berarti jumlah jam selamnya menandakan dia penyelam jagoan. Harus ditanyakan dari sekian puluh ribu jam selamnya, sudah ke mana saja dia menyelam, jangan-jangan nyelamnya di situ-situ saja. Tentu juga harus dilihat skillnya di bawah air.

Merasa jagoan dengan jagoan betulan tentu beda. Merasa jagoan hanya karena merasa sudah pengalaman puluhan tahun di suatu bidang  tentu berbeda dengan orang yang memang asli jago karena betul-betul bergumul di suatu hal, menggalinya dalam,  mengembangkan skillnya, membuka wawawasannya dan mau belajar dari ahli-ahli lain.

Nah yang repot kalau orang-orang yang sudah merasa jagoan tersebut senang memamerkan cerita dan pengalamannya yang ternyata sudah ketinggalan jaman, alias jadul.  Dia merasa sudah sedikit lagi mencapai langit, padahal kenyataannya itu langit-langit tempurung.  Seperti perumpamaan katak dalam tempurung.

Sempit wawasannya, tidak mau belajar, susah diberi pengertian, merasa paling jago sendiri, itulah ciri-ciri katak dalam tempurung. Susah memang kalau ketemu orang kayak gini. Kagak mempan diomongin. Ngelesnya juga jago bener. Yang paling nyebelin kalau sudah bawa-bawa umur dan pengalaman. Nah kita yang udah berbusa-busa menerangkan pake “common sense” dibales dengan “wah, kamu masih terlalu muda untuk bisa memahami persoalan dengan baik”.  Bikin frustasi.

Saya sering menghadapi yang kayak gini di lingkungan kerja. Sering bukan berarti saya menggeneralisir kalau  semua orang dalam lingkungan kerja saya seperti katak dalam tempurung lho. Tapi itulah kenyataannya, saya sering menemukan, bahkan yang punya jabatan penting sekalipun. Apakah mungkin karena kami kerja di lingkungan yang itu-itu, ketemu orang yang itu-itu saja, terus berinteraksi dengan hal yang itu-itu saja membuat wawasan kami terbatas?

Kan ada internet?  untuk orang-orang yang sadar kalau kemampuannya minim dan punya dorongan untuk berkembang, internet adalah alat yang powerful. Tapi untuk orang-orang yang merasa puas dengan masa lalu seolah-olah masa lalunya adalah suatu pencapaian maksimal dan wajib dikenang-kenang. Internet hanya alat untuk mencari racikan bumbu masak dan melihat artis-artis seksi.

Iklim kerja? Memang sih di BUMN kultur kerjanya sangat berbeda dengan swasta. Di swasta yang kompetisinya sangat ketat, setiap orang dipaksa untuk maju. Gak update berita, matilah dia. Makanya di swasta sering banget diadakan training dan seminar. Karyawannya kalau ikut seminar serius banget. Kalau di BUMN yang mirip institusi pemerintah ini, pejabatnya sangat terbiasa dengan kondisi steady state. Targetnya juga gak muluk-muluk asal bisa business as usual saja sudah puas. Seminar dan konferensi diikuti untuk ajang rekreasi. Tipe karyawannya kalau ikut seminar selalu nunggu waktu seminar selesai supaya bisa happy-happy 😀 (*pengalaman :D) Iklim yang sangat mendukung untuk jadi katak dalam tempurung.

Mungkin cara terbaik ngeladenin si katak adalah membuka tempurungnya dan mengingatkan kalau tempurungnya itu kecil dibanding dengan yang ada di luar sana. Apabila setelah dibuka si katak tetep bersikeras untuk hidup di dalem tempurung, Ya suka-sukanyalah. Mungkin dia lebih merasa aman dengan dunianya di dalam tempurung.

Iklan

2 responses to “Katak dalam Tempurung

  1. Yang terpenting, sekarang jagn mulai membangun tempurungmu Dan..
    Btw, “Internet hanya alat untuk mencari racikan bumbu masak dan melihat artis-artis seksi.”–> pengalaman pribadi jga ya??

  2. Weits, kurang berguna dengan baik kalau cuma cari resep masakan sama artis-artis seksi, hahaha. Internet alat yang ampuh untuk membuat kerjaan gak beres2 x) x)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s