Paulo Coelho: Aleph

Saya tidak menyangka Paulo Coelho akan membuat buku yang sangat personal. Hal ini membuktikan bahwa bukan cuma kita-kita saja yang bisa galau dan labil. Seorang Paulo Coelho pun bisa galau dan labil, cuma ya galaunya kelas tinggi. Mainannya sudah spiritualisme dan yang digalaukan adalah dosa dikehidupan sebelumnya.

Ekspektasi  tinggi terhadap buku ini membuat saya berharap bisa mendapatkan petualangan seru Coelho serta menjadi tersegarkan oleh pesan moral dari petualangannya itu. Namun yang terjadi adalah saya tersesat di dalam buku ini.  Salah satu hal yang menyebabkan tersesat adalah mengenai Aleph. Menurut Coelho, Aleph adalah suatu titik pada jagat raya yang mengandung energi tinggi yang ketika melewatinya perasaan kita membuncah yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.  Okay, saya yakin kita semua pernah mengalami hal ini. Ada tempat-tempat yang entah bagaimana bisa menimbulkan efek seperti yang dimaksud Coelho. Nah yang sulit dijelaskan adalah ketika  dua orang atau lebih memiliki keterikatan yang kuat bertemu di Aleph, mereka akan mampu menembus waktu ke masa lalu di mana keduanya pernah menjalin suatu hubungan istimewa Bahkan mereka bisa menciptakan Aleph. Nah,  saya bingung dengan makhluk bernama Aleph itu.

Mungkin saya memahami buku ini sebagai non-fiksi, seperti sebuah  catatan pengalaman.  Harusnya saya menganggap ini sebagai buku fiksi yang tidak terlalu serius menanggapinya. Tapi itu sulit, karena Coelho membuat novel ini seolah-olah adalah cerita nyata. Sejak awal membaca buku ini saya terus terusik dengan konsep reinkarnasi dan penebusan dosa masa lalu. Pikiran dan imajinasi saya selalu menghalangi konsep ini masuk, dan saya menjadi sulit menikmatinya.

Buku ini menceritakan penulis sebagai tokoh utama yang sedang labil. Ia terus mempertanyakan kepercayaannya dan sudah mencapai titik jenuh dalam hidupnya. Dia terjebak dalam rutinitas. Menyadari hal ini, dia memutuskan untuk melakukan perjalanan. Ini yang keren, dia menelusuri jalur kereta legendaris, Trans-Siberian Railway sepanjang 9,288 km dari Moscow ke Vladivostok yang melewati tujuh zona waktu. Edan.

Dalam perjalanannya, Coelho  bersama Hilal, seorang violist berbakat yang memiliki masa lalu yang kelam. Kepadanya Coelho melakukan dosa masa lalu. Yao seorang penerjemah kelahiran cina dan ahli aikido yang tidak bisa melepaskan istrinya yang telah meninggal dan beberapa penerbit dan editor. Tentu karena inti ceritanya tentang spiritualisme kita tidak bisa berharap akan ada petualangan seru seperti di The Alchemist. It is all about spiritualism.

Paulo Coelho tetaplah Paulo Coelho, walaupun sering membuat saya mengernyitkan dahi, dia adalah seoraang story-teller yang hebat. Dia pandai menjaga alur cerita dan tidak terjebak dalam detail membosankan. Dia juga seorang bijak yang kata-katanya “quotable”

Seperti buku-buku Coelho yang lain, buku ini penuh dengan pesan moral. Anda yang fans Coelho pasti bisa menikmatinya. Saya sih selalu suka cara Coelho mengatasi kebuntuan di hidupnya dengan melakukan perjalanan. Cuma saya tidak memiliki kemewahan seperti dia yang bisa terus-terusan jalan-jalan. Namun seperti yang Coelho bilang. Traveling is never a matter of money, it is  a matter of courage. Sayangnya I have neither money nor courage.

Iklan

4 responses to “Paulo Coelho: Aleph

  1. btw ending ceritanya oke nggak Dan?

  2. Seharusnya endingnya romantis. tapi karena saya sudah terlanjur tidak cocok sama konsep spiritualisme Om Coelho jadi yah biasa saja 😀

  3. Bagi saya, Aleph adalah salah satu buku terbaiknya Paulo Coelho. Gimana ya.. Dia selalu bisa membuat sebuah cerita yang menginspirasi. Tidak bisa ditelan mentah-mentah memang, karena makna itu terkadang lebih mengena jika dituliskan secara implisit. Dan Paulo Coelho selalu berhasil mengemasnya 🙂

    Anw, membaca bukunya dalam bahasa Inggris terkadang lebih dapet maknanya daripada buku terjemahannya. Karena menurut saya, beberapa buku terjemahannya, bahasanya kurang nyastra atau terkadang kurang ‘pas’.. hehehe..

  4. Ya mungkin memang belum saatnya saya baca buku itu mbak, saya gak nyambung dengan tema spiritualisme. Anw, saya juga membacanya dalam bahasa inggris. Namun tetep saja gak kena, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s