Monthly Archives: April 2012

Tentang Memberi & Menerima

Waaahh sudah lama sekali saya tidak menulis di sini, hampir dua bulan. Alasan paling mudah sih karena saya lagi sibuk-sibuknya di Kantor. Tapi sebenernya itu juga bukan alasan yang bagus, soalnya saya masih sempet ngabisin True Blood Season 4, begadang nonton liga champion, bengong-bengong di depan tipi dan pelbagai hal tidak produktif lainnya. Eniwei, daripada semakin gak jelas saya mau sharing sesuatu.

Pasti rekan-rekan sekalian pernah bertemu atau minimal kenal dengan seseorang yang sangat dermawan. Seorang yang untuk membantu orang lain dia tidak pernah tanggung-tanggung. Kalau masih gak kebayang juga. Ambil contoh Bill & Melinda Gates Foundation. Yayasan besutan salah satu orang terkaya di dunia ini sudah menyumbangkan lebih dari $ 26 milyar (gak usah dirupiahkan deh, capek ngitung enolnya). Tentu dengan duit sebanyak ini Yayasan ini bukan ecek-ecek. Visinya juga keren. Konon, Bill & Melinda ingin membantu memecahkan permasalahan sulit di dunia seperti kemiskinan  parah dan kesehatan buruk di negara-negara berkembang. Oh iya, Om Bill & Tante Melinda ini juga yang mensponsori Salman Khan dalam pembuatan website pembelajaran Khan Academy yang fenomenal itu.

Di Indonesia, Yayasan berkonsep Phylanthrophy yang tentu saja didirikan oleh orang-orang kaya cukup banyak. Contohnya Tanoto Foundation milik Sukanto Tanoto, Taipan Kertas dan Kelapa Sawit, yang rajin memberikan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Lalu ada Ancora Foundation milik Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan Indonesia Kabinet SBY. Ancora setiap tahunnya membuka kesempatan bagi warga Indonesia untuk belajar di Harvard dan Cambridge di Amerika Serikat. Konon, Agus Harimurti, Putra Sulung SBY dibantuk oleh Ancora dalam pembiayaan studinya di Harvard. Yang saya maksud di sini, banyak sekali orang-orang dermawan yang mau mengulurkan tangannya untuk orang lain. Justru yang ingin saya share adalah orang-orang yang sulit menerima uluran tangan tersebut.

Anda pasti pernah punya pengalaman ketika anda sudah mengulurkan tangan dengan ikhlas untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan, orang tersebut tidak mau menerima uluran tangan kita dan malah memilih bergumul sendirian dengan kesulitannya

Orang-orang yang mmiliki ego segede lapangan bola inilah yang patut dikasihani. Tipe orang seperti ini mungkin tidak ingin merasa berhutang budi kepada yang membantunya. Sebab dia merasa terbebani akan hutang budi. Oleh karenanya daripada terbebani balas budi, lebih baik tidak usah terima saja. Ada juga orang yang merasa jika menerima uluran tangan orang lain merasa dirinya lebih rendah dari orang yang memberi sehingga enggan untuk diposisikan berada lebih rendah. Nah yang paling buruk adalah ketika orang tersebut merasa tidak berhak diberikan bantuan. Dia merasa dirinya amat rendah sehingga tidak pantas mendapatkan bantuan.

Perkara memberi memang mudah. Menerimalah menurut saya yang sesungguhnya lebih sulit. Apalagi ketika kita terbiasa dalam posisi memberi. Memberi memang menimbulkan suatu efek bahwa kita telah mengorbankan sebagian dari milik kita untuk sesuatu yang baik. Menerima lebih sulit karena posisinya kita sebagai objek dikasihani.  Menerima membutuhkan kebesaran hati dan kelapangan dada untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak mampu dan membutuhkan bantuan.

Maka dari itu selain memberi lebih banyak, belajarlah juga untuk menerima 🙂