Monthly Archives: September 2012

Wishes

Semoga bisa diberi kecukupan hati atas apapun yang diterima, bisa bersyukur dan menikmati, juga bisa membawa manfaat sebesar-besarnya bagi orang banyak.

Amin !

Kearifan Lokal

Di suatu sore yang sejuk tadi ketika saya sedang survey bersama tim proyek Kaltim 5, iseng-iseng saya mengamati rerumputan yang tumbuh pada lahan bekas urugan pasir laut tersebut. Saya melihat ada rumput liar yang berbunga merah. Tanpa pikir panjang saya cabut rumput itu.

Salah satu tim proyek menegur saya dan menceritakan tentang kisah orang tuanya yang kecelakaan karena mencabut bunga sembarangan. Dia cerita kalau bunga satu-satunya jangan sekali-sekali dicabut karena bisa jadi bunga itu ada tulahnya.

Takhayul atau bahasa kerennya kearifan lokal.

Ada beberapa pandangan mengenai kearifan lokal ini.  Pertama adalah orang modern yang skeptis dan sinis karena di zaman edan sekarang ini rasanya aneh kalau ada orang yang masih percaya terhadap hal-hal macam itu. Apa hubungannya bunga dengan kecelakaan?

Kedua adalah orang-orang yang hobinya bermain di wilayah klenik. Orang-orang ini gemar menghubung-hubungkan suatu gejala dengan hal klenik. Contohnya ketika ada kesulitan menancapkan piling sebagai pondasi suatu struktur langsung dihubungkan dengan adanya kekuatan ghaib yang menghambat. Oleh karenanya solusinya adalah menemui “orang pintar” dan mencari tahu apa keinginan makhluk ghaib yang menghambat tadi.

Ketiga adalah orang yang menghormati takhayul namun tetap bersikap kritis. Kerangka berpikir moderinsme memang telah membebaskan kita dari takhayul dan ketakutan-ketakutan yang menghambat kemajuan. Namun, sehebat apapun modernisme telah membawa kita, itu tetaplah alat. Saya suka dengan pernyataan Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu. Modernisme memiliki jalan yang lurus tapi tidak tujuan yang lurus. Takhayul memiliki tujuan yang lurus tapi tidak jalan yang lurus.

Modernisme sesungguhnya telah membawa kita ke dunia yang seperti sekarang.  Sayangnya, karena hanya alat untuk mencapai tujuan, kesadaran modern sangat bergantung pada “man behind the gun”. Takhayul dan ketakutan di masa kegelapan yang telah disingkirkan dengan cepat digantikan oleh takhayul dan ketakutan model baru. Kalau dulu gereja ditakuti karena sangat berkuasa sampai bisa membakar orang hidup-hidup. Di masa kini, kita smua takut kalau berurusan dengan institusi hukum seperti kejaksaan, kepolisian dan kehakiman.

Nah kembali ke kisah bunga yang tercerabut tadi. Saya menganggap bangsa saya, bangsa Indonesia sangat charmingSepertinya kita punya sejuta kreativitas untuk melindungi kekayaan alam. Cerita tentang Jin yang tinggal di pohon-pohon besar, mata air yang dijaga siluman, atau roh-roh yang bersemayam di hutan keramat merupakan kisah yang menarik yang mengajari kita untuk melindungi alam dan mencegah kita bertindak sewenang-wenang.

Memang kalau kita melihatnya dari kacamata modern, apa hubungannya bunga yang tercabut dengan ancaman kecelakaan atau nasib sial. Tapi hey! bagaimana bisa kita memaksakan kerangka modern kepada sesuatu yang metaforis. Sama seperti bagaimana kita mencoba membuktikan adanya Tuhan dengan matematika. Bukankah pemaksaan kerangka berpikir akan menjadikan kita fasis modern?

Setelah mendengar cerita kecelakaan tersebut saya langsung berpaling kepada salah satu kontraktor proyek Kaltim 5 yang bertanggung jawab terhadap atas penyiapan lahan. Saya bilang kepadanya kalau mencabut satu bunga saja bisa bernasib buruk seperti itu saya tidak bisa membayangkan nasib dia yang akan mengurug seluruh lahan ini dan membunuh tumbuhan yang sudah ada.

Kami semuapun tertawa.

Zona Nyaman

April 2012 lalu terakhir saya menulis di sini.  Saya sudah melenggar janji suci saya untuk menyisihkan paling tidak  satu kali dalam sebulan untuk menulis. Sebenarnya satu tulisan sebulan gak susah, cuma karena kebiasaan ngabisin waktu main gadget, ngerumpi gak jelas di BBM atau browsing-browsing gak produktif, janji suci itu tinggallah janji. Saya sudah paripurna sekarang, jeleknya.  Sudah malas, tukang nunda, gak konsisten lagi. Paripurna. Jeleknya.

Eniwei, saya tiba-tiba ingin menghidupkan kembali kebiasaan menulis. Ya paling tidak sharing informasi, atau seburuk-buruknya sebagai katarsis.

Saya baru saja selesai ngerumpi dengan sahabat saya si gendut di telpon. Kami kalau sudah telponan bisa berjam-jam. Bahkan, disela-sela telponan saya masih sempet nyuci dan jemur baju. Awalnya saya hanya menjadi tempat sampah saja. Semua uneg-uneg dikeluarin sama si gendut. Beruntung saya dikaruniai sepasang telinga yang baik dan cukup besar untuk menampung sampah dari si gendut sehingga dia bisa lancar nyerocos.

Nah kelebihan si gendut adalah dia tau cara balas budi. Setelah puas sharing sampahnya dengan saya, giliran dia yang menawarkan telinganya untuk dicerocosi sampah. Saya memang dari awal tidak ada keinginan untuk bagi-bagi sampah, namun akhirnya saya ceritakanlah sedikit ganjalan di hati. Dari situlah akhirnya sampah-sampah yang tadinya mau disimpen akhirnya mengalir juga. Dan ternyata sampah saya jauh lebih busuk daripada punya dia.

Kalau saya cuma bisa menawarkan telinga saya saja untuk menampung sampah-sampahnya,  dia bantu saya beberes sampah dan menata kembali isi kepala saya yang sudah tidak karu-karuan. Dia mengingatkan saya untuk menggali kembali tujuan-tujuan hidup yang entah sudah saya timbun di suatu sudut pikiran saya. Pertanyaan seperti “Kamu mau ngapain 5 – 10 tahun lagi?” bikin saya merengut-rengut dan memaksa saya untuk menggali kembali cita-cita masa lalu dan mengevaluasi sudah sejauh mana langkah saya. Saya malas. Saya sudah terlalu sering mereorientasi cita-cita. Jadi pertanyaan-pertanyaan itu hanya memperjelas kalau sebenarnya saya masih belom ke mana-mana. Dan parahnya, usaha saya cuma secuil untuk memperjuangkan cita-cita itu.

Melihat saya yang apatis dan tidak ada semangat, si gendut mengingatkan betapa saya sudah beruntung dan menyianyiakan kesempatan yang ada. Dia bercerita tentang target jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjangnya lengkap dengan rencana aksinya. Saya merasa ditabok. Si gendut saja ternyata sudah tau apa yang mau dituju, lewat mana dan apa yang harus dibawa. Saat si gendut cerita dia sudah bikin financial plan awalnya saya mengira si gendut sedang mainstreaming karena financial planning lagi trend. Apalagi dia kelewatan antusiasnya, jadi saya ledek-ledekin dia yang mainstream. Dia ngetawain saya dan bilang justru lebih dangkal saya yang tidak mau mainstream tapi gak punya rencana apa-apa. Sialnya dia benar. Saya ketampar bolak-balik.

Sepertinya saya sudah terlalu lama ada di tempat duduk yang nyaman ini. Si gendut memaklumi karena diapun mungkin akan seperti itu kalau duduk di sini. Zona nyaman inilah yang membuat saya jadi lebam, apatis, tidak punya semangat menggebu-gebu seperti dahulu. Dulu saya kira seorang yang tidak berada dalam zona nyaman paling sulit untuk meraih tujuan hidupnya karena terlalu banyak tekanan dan tuntutan. Dari perspektif saya sekarang, ternyata jauh lebih sulit untuk  meraih tujuan-tujuan hidup apabila sudah berada pada zona nyaman. Ada rasa takut dan kuatir kalau bergeser  dari zona ini akan kehilangan kenyamanan yang sudah diraih. Tantangan untuk menggapai tujuan hidup ternyata lebih berat ketika kita berada di zona nyaman. Tapi sebelum itu, PR saya sekarang adalah menemukan tujuan-tujuan yang mau diraih. Passion. Gak perlu takut jadi mainstream, gak perlu kuatir sama kaya orang lain.

Pembicaraan berjam-jam dengan si gendut memang gak pernah sia-sia. Beruntung saya memiliki sahabat sebaik dia. I owe you a lot ndut! Makasih udah nampar saya bolak balik.