Komodo Journey

Rencananya dive trip komodo ini menjadi trip terakhir sebelum cuti diving untuk waktu yang tidak ditentukan. Diving adalah olahraga yang butuh waktu,  biaya dan toleransi dari pacar yang tinggi. Suatu saat pasti kalah salah satu, entah waktu, biaya atau toleransi.

Awalnya saya tidak antusias menjalani trip ini. Bahkan sampai Labuan Bajo pun, saya tidak tau mana saja dive site mana yang bagus di Komodo. Yang saya tau, di Komodo arusnya kencang sehingga harus ekstra hati-hati.

Kami LOB bersama Grand Komodo dengan Kapal MV Tarata. Tarata berkapasitas 12 orang. Selain kami berempat ada dua grup lagi. Sebut saja grup Jakarta -Bandung dan Grup Donggala. Berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, usia, etnis, dan suku yang berbeda-beda tidak lantas menghalangi kami. Bisa dibilang,walaupun kami semua baru kenal saat LOB, kami sudah seperti ketemu sahabat lama. Beginilah dunia para penyelam, dari latar belakang apapun kalau sudah ngomongin diving semuanya nyambung.

Grand Komodo memberikan service yang sangat baik. MV Tarata fasilitasnya oke, kamarnya walaupun kecil cukup nyaman. Deknya terdiri dari empat kamar, dua kamarnya twin bed, sisanya bunk bed. Setiap kamar ada pendingin udara dan kamar mandi. Restorannya juga menyediakan ruang yang cukup untuk berkumpul. Di restoran ada tempat menyimpan kamera, dan LCD untuk menayangkan foto/video. Di bagian atas ada tempat berjemur yang asik juga untuk menikmati sunrise/sunset atau sekedar hang out saat surface interval.

Guide kami adalah Bang Joni, dia adalah divemaster senior di Grand Komodo. Dia cukup menguasai site di Komodo. Perhatiannya terhadap safety juga tinggi. Kami semua merasa aman dipandu olehnya di Komodo. Namun di bawah air dia sedikit serampangan. Dia enak saja megang-megang Gorgonian untuk cari pygmy seahorse. Di Grup sebelah ada dua guide lain yaitu Egi dan Yanto, anak Gunung yang nyasar ke laut. Mereka berdua berasal dari Ruteng NTT yang merupakan daerah pegunungan. Egi punya kepribadian menarik, bandel, iseng dan sedikit pemberontak tapi memiliki passion yang tinggi terhadap Ikan dan hewan-hewan laut. Idola Egi adalah Wally Siagian, seorang divemaster yang sudah terkenal di seleuruh dunia dalam hal identifikasi Ikan. Egi juga sangat peduli kepada biota laut. Dia cerita bahwa dia hampir memukul tamu karena ingin menunggangi penyu.

The Diving

Diving di Komodo harus nyaman dengan arus yang deras karena daerah ini merupakan pertemuan antara air hangat dari Samudra pasifik dengan upwelling laut dalam yang dingin dari Samudra Hindia. Arusnya pecah berputar, memantul, naik turun di antara pulau-pulau kecil membawa nutrient yang kaya sehingga menjadikannya kaya akan kehidupan. Tipikal diving di utara Komodo airnya hangat dan jernih. Tipikal diving di selatan airnya dingin dan lebih butek. Karena waktu yang hanya empat hari efektif, kami hanya bisa menjelajahi sisi utara Komodo, itupun tidak semua.

Kami diving selama empat hari di 10 dive sites. Macam-macam sitenya, dari yang arusnya gila-gilaan sampe site yang terlalu banyak serangga kecil sehingga saat nyenter suatu objek semua serangga ngumpul dan menghalangi objek. Secara keseluruhan, kami puas dengan pilihan sitenya, walaupun ada beberapa site yang tidak jelas apa yang mau dilihat.

Komodo memang terkenal dengan arusnya yang deras. Tapi dari arus yang kencang itu ada sisi positifnya yaitu ikan yang luar biasa banyak ! Komodo adalah surga pelagic! Ikan-ikan besar macam GT, Tuna, Hiu, Manta mudah ditemui di Komodo.  Favorit pribadi saya adalah castle rock.

Castle rock adalah sea mount yang puncaknya berada sekitar 3 meter dibawah permukaan laut. Arus atasnya cukup kencang sehingga negative entry menjadi wajib. Tapi apabila anda sudah berada di kedalaman 20 m. Amboi! Ikan-ikan besar ada di mana-mana. Baru tiba kami sudah disambut oleh beberapa ekor white tip shark yang lagi patroli. Belum lagi GT dan Tuna yang seperti parkir tanpa kuatir terganggu diver. Schooling Snapper & batfish menambah keren suasana. Napoleon Wrasse seliweran sekitar kami tanpa takut. Kalau di Manado atau Bali kalau ketemu sama Napoleon sudah girang, di Komodo ketemu Nepoleon jadi biasa saja. Saat safety stop juga istimewa karena ada schooling rainbow runners yang mengelilingi kita jadi kita seperti dikelilingi ribuan ikan. Luar biasa.

Favorit kedua adalah Batu Bolong atau Current city. Sesuai namanya, current disini seperti washing machine. Tapi kalau tau selahnya sih santai saja, makanya nurut dive guide di site ini sangat penting. Batu Bolong pelagicnya tidak terlalu banyak namun karangnya lebih indah dibandingkan dengan crystal rock. Apalagi jika tiba di batu bolong pagi hari yang coral slope dan wall ditaburi ratusan anthias ungu langsung disinari sinar matahari. Breathtaking.

Yang paling berkesan adalah Taka Makassar atau Manta Point. Di site ini tidak ada apa-apa selain arus yang kencang dan Manta. Kalau ada manta kitapun harus fight supaya bisa melihat manta atraksi. Peganganpun sulit karena substrat dasarnya kebanyakan rubble atau pecahan karang. Jadi bisa terbayang hebohnya diving di sini. Kami berempat mati-matian mencari tempat yang pas untuk nonton manta yang tanpa usaha bisa melayang-layang di air.

The Landscape

Bukan cuma underwater, pemandangan atasnyapun luar biasa. Saya bisa bilang kalau senja terindah di sepanjang hidup saya adalah di menit itu, ketika kopi hitam, aroma tembakau (saya gak merokok tapi di Komodo I couldn’t resist),  pancaran keemasan di ufuk barat, sayup sayup canda tawa diving buddies dan angin semilir memelusup masuk sampai hati saya di Kepulauan Komodo.What could be better than that!. Sampai sekarangpun saya masih kangen sama senja di pulau komodo.

Perbukitan kering dan savanna juga luar biasa, kontras sekali dengan warna air laut disekitarnya yang merupakan gradasi biru muda-tosca-biru tua. Daerah NTT memang lebih kering dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Tapi justru itulah yang membuatnya menjadi menarik. Bentang alamnya sangat berbeda dengan bukit-bukit hijau di daerah tropis.

Betapapun fenomenalnya hewan komodo, saya tidak melihat sesuatu yang istimewa dari mereka. Oke liurnya beracun, ya mereka hewan yang terisoloasi secara geografis di NTT, memang feeding behavior mereka menarik, tapi di Bontang, kami juga punya hewan yang mirip komodo yaitu biawak. Setiap liat komodo saya jadi ingat si Solomon, biawak liar yang sering selieweran di Kantor saya.

Kami trekking di dua tempat yaitu Gili Lawa Laut dan Pulau Rinca. Di Rincalah kami melihat komodo yang sedang ngadem di sekitaran dapur. Dari pengakuan para rangers, Komodo yang berada di sana tidak diberi makan. Menurut saya itu Bullshit. C’mon, rangers itu dapat duit dari turis untuk ngeliat Komodo. Kalo gak dikasih makan atau paling tidak kalau si Komodo gak nemukan sisa-sisa makanan mustahil komodo akan bertahan lama di sana, bahkan sampai beranak pinak segala. Kedua pihak masing-masing diuntungkan, Rangers diuntungkan dengan adanya komodo, dan komodo diuntungkan dengan adanya makanan. Very simple.

Saya yang tadinya tidak antusias dan biasa-biasa saja jadi menemukan makna baru pada dive trip Komodo ini. Pertama, diving tidak selalu tentang tingginya level sertifikasi namun tentang pengalaman, pengetahuan dalam membaca site dan kepandaian membaca situasi. Setinggi apapun level sertifikasi anda tidak akan banyak berpengaruh kalau dive logged anda sedikit dan tidak tau caranya bergumul dengan arus. Kedua, operator lokal tidak kalah dengan operator luar negeri, termasuk masalah safety bahkan dalam beberapa hal lebih nyaman menggunakan operator lokal daripada operator luar. Ketiga, dengan LOB bukan hanya pengalaman diving yang didapat, tapi juga interaksi dengan grup lain, interaksi dengan kru dan tentu saja momen berharga dengan diri anda sendiri.

Saya yang tadinya sudah lupa dengan nikmatnya diving  jadi ingat kembali bagaimana sunyinya di bawah sana, kesunyian yang menenangkan. Saya teringat kembali rasanya terkagum-kagum karena melihat hiu, penyu atau apapun makhluk besar yang tadinya cuma bisa dilihat di televisi. Atau kebanggaan ketika menemukan hewan kecil nan cantik yang tidak ditemukan teman lain. Serta kehangatan ketika sharing cerita lucu kepada grup lain tentang peristiwa konyol yang mengundang derai tawa bahagia. Ah kalau sudah begini, bagaimana saya bisa meninggalkan diving yang sudah kadung saya cintai itu.

Iklan

2 responses to “Komodo Journey

  1. Eh, resensi Amba dong Dan 😀 Da baik.. Yah?

  2. Kereen…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s