Monthly Archives: November 2012

Kebersamaan

Jam hampir menunjukkan pukul 14.30 ketika ruang rapat sempit itu penuh sesak dengan karyawan yang berkepentingan dengan suatu perayaan penting , yaitu Hari Ulang Tahun (HUT) perusahaan. Rapat dipimpin oleh seorang GM yang mengurusi protokoler perusahaan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, puncak acara HUT akan dilaksanakan secara inklusif dengan mengajak masyarakat ikut serta. Biasanya, HUT diadakan secara tertutup yang hanya bisa dihadiri oleh karyawan. Acara HUT tersebut dari tahun ke tahun dimeriahkan oleh artis ibukota.

Ditengah rapat seorang GM lain menyampaikan kekuatirannya tentang kehadiran karyawan yang terancam sedikit karena konsep acara baru ini tidak ada doorprize. Oleh karenanya kehadiran yang hanya sedikit ini dapat mengganggu kebersamaan karyawan. Kalaupun dipaksakan ada pembagian doorprize dikuatirkan akan menyakiti hati masyarakat yang diundang. Semuapun mengamini. Menurut pengalaman  acara perusahaan yang diadakan tanpa doorprize terancam garing dan sepi pengunjung. Acara semacam inipun dicap gagal dan panitia akan pulang dengan wajah tertunduk.

Saya yang duduk di layer kedua meja bundar tersebut karena kasta yang rendah hampir tertawa oleh lelucon yang dilontarkan. Saya gagal paham mendengar bahwa kebersamaan pabrik terbesar di Asia Tenggara itu dinilai dengan doorprize: kulkas, home theater dan sepeda motor. Saya bisa membayangkan “kebersamaan” tersebut berakhir di rumah salah satu karyawan menjadi tempat menyimpan sayur mayur, home theater yang diam-diam digunakan untuk menyetel film porno, atau sepeda motor yang ringsek akibat ugal-ugalan.

Tidak menemukan cara untuk menyisipkan doorprize bagi karyawan tanpa menyakiti perasaan masyarakat yang turut hadir pada acara perayaan HUT, diputuskanlah untuk mengadakan acara lain untuk membagikan kebersamaan tersebut (red: doorprize). Dibuatlah acara jalan sehat bersama dengan tentu ada pretensi lain, yaitu tidak membagikan makanan karena, lagi-lagi dari pengalaman sebelumnya, pembagian makanan saat jalan sehat sering rebutan dan tidak mencerminkan etika yang baik dari karyawan. Lagi-lagi saya harus menahan tawa, ternyata karyawan Pabrik itu sudah dianggap layaknya makhluk barbar yang tak mengenal tatakrama.

Gagal paham karena lakon yang membuat depresi dan sumpek karena ruangan itu terlampau sempit untuk orang yang segitu banyak, saya memutuskan untuk keluar sejenak dan menghirup udara segar. Di luar saya bertemu dengan fotografer perusahaan asal Bali yang mengajak saya merokok sambil ngobrol-ngobrol. Karena tidak ada smoking room di gedung itu, kami berdua harus merokok di dalam satu ruangan di kamar mandi, di ruangan sempit berdinding merah yang tersedia kursi panjang tapi juga ada shower di sana.

Tak banyak yang kami obrolkan, hanya seputaran Mahabharata dan permintaan si fotografer untuk mencarikan iphone bekas karena iphone buatan cinanya sudah rusak. Sayapun berjanji untuk mencarikan iphone bekasnya.

Setelah obrolan tersebut, saya tidak banyak bicara, hanya memikirkan mengapa kebersamaan yang harusnya merupakan sesuatu yang mulia, yang menggambarkan ikhtiar untuk bekerja keras mencapai tujuan bersama, berkeringat bersama, keinginan menyokong orang yang hampir jatuh di satu barisan agar tetap melangkah bersama direduksi menjadi sangat kecil, bahkan kecil sekali, menjadi home theater dan sepeda motor.

Mungkin itulah kenyataannya. Kebersamaan yang diributkan itu adalah sebuah impian yang nyaris pudar. Maka untuk mengembalikan cahayanya yang pudar, dibuatlah sebuah pengganti yang palsu, yaitu iming-iming memiliki home theater yang secara jernih dapat memperdengarkan suara-suara samar,  bahkan erangan tertahan dari bintang porno tedengar jelas dan jernih. Dan dengannya kita bisa membanggakan bahwa karyawan Pabrik ini adalah karyawan yang kompak, yang tidak meninggalkan acara sebelum acara selesai. Luar biasa. Semestapun bertepuk tangan.

Sayapun berpikir, apakah tidak lebih baik membangun suatu acara yang dapat memancing keterlibatan karyawan dan berinteraksi dengan masyarakat? bukankah harus diberikan suatu pemahaman bahwa HUT layak dirayakan karena pengorbanan para pioneer untuk mendirikan pabrik di tanah rawa ini adalah tonggak sejarah kita sebagai perwujudan ikhtiar bangsa ini untuk menjaga ketahanan pangan. Bukankah harus diciptakan kesan bahwa Pabrik ini berhutang banyak dan oleh karenanya harus berterima kasih kepada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Telepon genggam saya bergetar, manager saya telepon karena dia tidak bisa tetap tinggal di rapat itu dan harus menghadiri rapat lain. Dia meminta saya untuk tetap tinggal dan mewakilinya kalau-kalau ada pertanyaan menyangkut program Departemen.

Sayapun beranjak dari tempat sempit yang asap rokok serta udaranya bercampur sesak sehingga membuat pening kepala. Saya masuk kembali ke ruang rapat itu dan tak sabar menyimak lawakan-lawakan selanjutnya.

Iklan

Amba: Sebuah Resensi

“Apabila kita bertanya pada seorang ksatria tua, apa keberanian yang paling purba, dia akan menjawab: kewajiban”

Siapapun yang familiar dengan cerita Mahabharata pasti tahu kisah Amba & Bhisma.  Kisah Bhisma tidak dapat diceritakan tanpa Amba dan sebaliknya. Keduanya dipertemukan oleh nasib dan masing-masing mempengaruhi nasib satu  lainnya.  Nukilan kisah Mahabharata dengan latar tahun 1965 yang merupakan tahun yang berat bagi republik ini  memberi warna tersendiri pada novel Amba.

Diawali dengan suatu peristiwa di Pulau Buru pada tahun 2006 ketika seorang wanita ditikam oleh wanita lainnya di atas sebuah makam. Dari situlah kita tahu bahwa wanita yang tertikam adalah Amba yang sedang menangis diatas makam Bhisma, ayah dari anaknya di luar nikah. Sementara yang menikam adalah Mukaburung, istri Bhisma selama pengungsian di Pulau Buru. Istri yang tidak pernah disentuhnya.

Amba yang tertikam adalah seorang wanita yang mencari cinta yang tercerabut akibat pergolakan politik di tahun 1965. Pencariannya sampai pada Pulau Buru yang menjadi pengungsian tahanan politik oleh pemerintah Orde Baru. Dari sana kita akan menyelami karakter Amba, yang cerdas, yang pikirannya lebih maju dibandingkan zamannya. Kemudian kita lantas memahami alasan kenapa dia tidak kunjung menerima lamaran Salwa, pemuda idaman orang tuanya, yang hatinya lurus dan lempang. Amba yang lebih cinta kepada bahasa dan puisi itupun oleh nasib dituntun ke sebuah rumah sakit di Kediri. Bertemu dengan cintanya, Bhisma seorang dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur. Dokter yang simpati sekaligus ragu terhadap komunis, yang memikul tanggung jawab berat di pundaknya.

Bagi anda yang familiar dengan kisah Amba pasti sudah bisa menebak arah dari Novel ini. Dalam Mahabharata dikisahkan Amba, Ambika dan Ambalika adalah Putri Raja Kasi yang cantik. Raja Kasi mengadakan Sayembara untuk memilih calon suami untuk putrinya. Bhisma yang sakti mengikuti sayembara dan berhasil memboyong putri-putri kerajaan Kasi, tidak untuk dirinya karena Bhisma sudah bersumpah untuk tidak menikah dan menjalani hidup sebagai brahmana, namun untuk adiknya, Wichitrawirya. Di tengah perjalanan pulang, Bhisma dihadang oleh Salwa dan pasukannya. Salwa yang sudah menjalin kasih dengan Amba dipermalukan oleh Bhisma di hadapan pasukannya. Karena sudah menjalin kasih dengan Salwa, Wichitrawirya tidak lagi menginginkan Amba. Salwa yang sudah merasa jatuh harga dirinya karena dikalahkan Bhisma juga menolak Amba.

Kalau ada hal yang mengganggu pada novel ini, mungkin karena terlalu banyak kebetulan yang mirip dengan kisah Mahabharata, bahkan sampai nama  tokoh utamanya (Amba, Ambika, Ambalika, Bhisma, Salwa dan Srikandi). Kalau di Mahabharata Bhisma meninggalkan Amba karena menjalani hidup sebagai brahmana, di novel ini Bhisma diasingkan ke Pulau Buru.

Laksmi Pamuntjak dikenal sebagai esais dan penulis puisi yang lebih kerap menulis  dengan bahasa inggris. Pemilihan diksi pada novel ini menjadi ajang pamer Laksmi akan kekuatannya mengubah kata-kata menjadi nada. Disatu sisi itu merupakan hal yang baik, namun saya merasa agak berlebihan, apalagi surat-surat dari Salwa yang terlampau manis. Ditambah lagi, banyak diksi di novel Amba yang saya tidak tahu apa artinya.

Di Novel ini juga saya melihat Amba begitu banyak dikelilingi lelaki yang amat baik dan simpati kepadanya (Salwa, Bhisma, Adalhard, Zulfikar dan Samuel) sementara tidak satupun diantara mereka, kecuali Bhisma, yang mendapatkan balasan layak dari Amba, seakan dunia Amba hanya terfokus pada satu hal yaitu Bhisma. Satu  karakter yang  mengagumkan adalah Adalhard yang tahu bahwa dia tidak akan mungkin menggantikan Bhisma dalam hati Amba namun tetap mau menerima Amba dan mengambil tanggung jawab Bhisma dengan menjadi ayah dari anaknya.

Laksmi Pamuntjak tidak saja berhasil membuat sebuah  novel yang indah  namun juga sebuah historiografi yang enggan menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Pengetahuan kita di tahun 1965 mengacu pada buku sejarah terbitan Pemerintah yang tentu saja tidak objektif dan tidak pernah dikupas secara adil tentang sang pecundang yaitu PKI dan sayap sayap politiknya. Yang kita paham dari PKI adalah segerombolan orang-orang sadis tidak beragama yang gemar menyembelih orang-orang yang tidak sealiran dengannya. Laksmi berhasil menghindarkan diri dari anakronisme sejarah dengan tidak menilai, tapi memaparkan secara cermat keadaan sejarah pada saat itu.

Seperti pada Mahabharata, pesan yang coba dikemukakan oleh Laksmi Pamunjtak adalah tidak ada sesuatupun di dunia ini yang benar-benar putih dan benar-benar hitam. Bahkan hitampun punya kata-kata yang mewakili –ebony, coal,raven– dan stigma pada hitam tidak selalu bermakna kelam, buruk dan membawa mala. Begitupun dengan merah. Merah punya banyak jenis – merah delima, merah hati, merah marun – dan bukan hal yang harus ditakuti.

Sandy

Akhir Oktober lalu, angin berkekuatan 155 km / jam disertai ombak setinggi empat meter menyerang New York dan tetangganya New Jersey. Sandy namanya.  Tahun 2005, badai juga menyerang New Orleans dengan kekuatan angin mencapai 280 km/jam dengan tinggi ombak 8.2 m. Katrina namanya.  Ia merenggut 1322 nyawa dan menyebabkan kerugian mencapai US$ 81 milyar dolar.

Speaking of names. ternyata penamaan ini tidak begitu saja dibuat. Setiap tahunnya National Hurricane Center merilis nama-nama. Nama badai tropis yang muncul di awal tahun dimulai dari “A” kemudian yang kedua dimulai dengan “B” dan seterusnya alfabetis (Q, U, X, Y, Z tidak digunakan). Dan lagi, pada tahun genap, nama laki-laki diberikan pada badai ganjil dan pada tahun ganjil nama perempuan diberikan untuk badai ganjil.

Kawasan Amerika Serikat dan Karibia memang rentan badai karena diapit oleh Samudera Atlantik dan Pasifik yang hangat dan mensuplai uap air yang menjadi bahan bakar badai. Hurikan merupakan istilah yang diberikan untuk badai yang memiliki “mata” ditengahnya. Hurikan terbentuk akibat udara bertekanan rendah yang muncul karena suhu lautan yang lebih panas dari suhu udara. Kondensasi uap air di atmosfer akan melepaskan panas yang menjadi bahan bakar hurikan.

Hurikan Sandy lahir di sekitar kepulauan Karibia dan menyerang negara sekitarnya. Sempat melemah saat menuju ke Amerika namun menguat kembali ketika bertemu Badai awal musim dingin yang bertiup dari Kanada yang membuat ukurannya menjadi lebih besar dari badai tropis umumnya. Hal inilah yang membuat Sandy jadi menarik. Belum pernah terjadi ada perpaduan dua badai yang seperti Sandy. Badai dari utara juga yang menyebabkan Sandy tidak kehilangan kekuatannya di darat.

New York lumpuh, listik dimatikan oleh otoritas, subway New York yang merupakan salah satu sistem transportasi terbesar dan tercanggih di dunia terendam air. Puluhan ribu warga New York terpaksa mengungsi dan memerlukan tempat tinggal apalagi musim dingin akan segera tiba. Selama listrik belum menyala, diperkirakan banyak warga New York yang terancam kedinginan. Walikota New York, Michael Bloomberg meminta penduduk yang rumahnya belum teraliri listrik agar meninggalkan rumahnya dan menempati shelter yang telah disiapkan Pemerintah. Menurut lembaga penaksir risiko bencana, Eqecat Inc, badai Sandy mengakibatkan kerugian sekitar $50 miliar.

Hurikan Sandy memang muncul agak telat. “Peak season” hurikan di Amerika terjadi sekitar bulan Agustus dan September. Sementara Sandy muncul pada akhir Oktober. Belakangan ini memang banyak terjadi hal-hal di luar “normal” seperti banjir yang tidak disangka-sangka, musim panas yang tidak kunjungi dibasahi hujan, dan permukaan air laut yang terus naik. Al Gore menyebut hal ini sebagai the new normal.

Menurut Kevin Tranberth, peneliti dari Australia, suhu permukaan laut sepanjang samudera atlantik berada 3C diatas normal. Setiap kenaikan satu derajat C, kadar air di atmosfer naik 7% dan kadar air ini menjadi bahan bakar hurikan, meningkatkan intensitas dan meperbesar curah hujan.

Seperti yang kita tahu, pada konferensi perubahan Iklim di Copenhagen tahun 2009, Amerika dan Cina, penyumbang terbesar gas rumah kaca menolak berkomitmen mengurangi emisi gas buangnya. Sudah saatnya Amerika merubah pandangan politiknya terhadap perubahan Iklim global. Apalagi setelah Sandy menghajar New York yang merupakan Kota produktif dan mesin uang Amerika Serikat. Kerugian akibat perubahan iklim sudah sangat terasa dan di masa depan akan ada hurikan-hurikan lain yang menerjang Amerika.

Memang dengan kecanggihan peramalan hurikan saat ini dapat menciptakan early warning system sehingga mengurangi timbulnya korban. Lagian, bencana ini terjadi di New York yang cukup adaptif menghadapi bencana karena mesin uangnya yang bekerja kencang. Saya tidak bisa membayangkan apabila hal ini terjadi di negara lain yang tidak memiliki akses serta sumberdaya seperti New York. Pasti dampaknya akan jauh lebih dahsyat dan korban yang timbul juga semakin banyak.