Amba: Sebuah Resensi

“Apabila kita bertanya pada seorang ksatria tua, apa keberanian yang paling purba, dia akan menjawab: kewajiban”

Siapapun yang familiar dengan cerita Mahabharata pasti tahu kisah Amba & Bhisma.  Kisah Bhisma tidak dapat diceritakan tanpa Amba dan sebaliknya. Keduanya dipertemukan oleh nasib dan masing-masing mempengaruhi nasib satu  lainnya.  Nukilan kisah Mahabharata dengan latar tahun 1965 yang merupakan tahun yang berat bagi republik ini  memberi warna tersendiri pada novel Amba.

Diawali dengan suatu peristiwa di Pulau Buru pada tahun 2006 ketika seorang wanita ditikam oleh wanita lainnya di atas sebuah makam. Dari situlah kita tahu bahwa wanita yang tertikam adalah Amba yang sedang menangis diatas makam Bhisma, ayah dari anaknya di luar nikah. Sementara yang menikam adalah Mukaburung, istri Bhisma selama pengungsian di Pulau Buru. Istri yang tidak pernah disentuhnya.

Amba yang tertikam adalah seorang wanita yang mencari cinta yang tercerabut akibat pergolakan politik di tahun 1965. Pencariannya sampai pada Pulau Buru yang menjadi pengungsian tahanan politik oleh pemerintah Orde Baru. Dari sana kita akan menyelami karakter Amba, yang cerdas, yang pikirannya lebih maju dibandingkan zamannya. Kemudian kita lantas memahami alasan kenapa dia tidak kunjung menerima lamaran Salwa, pemuda idaman orang tuanya, yang hatinya lurus dan lempang. Amba yang lebih cinta kepada bahasa dan puisi itupun oleh nasib dituntun ke sebuah rumah sakit di Kediri. Bertemu dengan cintanya, Bhisma seorang dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur. Dokter yang simpati sekaligus ragu terhadap komunis, yang memikul tanggung jawab berat di pundaknya.

Bagi anda yang familiar dengan kisah Amba pasti sudah bisa menebak arah dari Novel ini. Dalam Mahabharata dikisahkan Amba, Ambika dan Ambalika adalah Putri Raja Kasi yang cantik. Raja Kasi mengadakan Sayembara untuk memilih calon suami untuk putrinya. Bhisma yang sakti mengikuti sayembara dan berhasil memboyong putri-putri kerajaan Kasi, tidak untuk dirinya karena Bhisma sudah bersumpah untuk tidak menikah dan menjalani hidup sebagai brahmana, namun untuk adiknya, Wichitrawirya. Di tengah perjalanan pulang, Bhisma dihadang oleh Salwa dan pasukannya. Salwa yang sudah menjalin kasih dengan Amba dipermalukan oleh Bhisma di hadapan pasukannya. Karena sudah menjalin kasih dengan Salwa, Wichitrawirya tidak lagi menginginkan Amba. Salwa yang sudah merasa jatuh harga dirinya karena dikalahkan Bhisma juga menolak Amba.

Kalau ada hal yang mengganggu pada novel ini, mungkin karena terlalu banyak kebetulan yang mirip dengan kisah Mahabharata, bahkan sampai nama  tokoh utamanya (Amba, Ambika, Ambalika, Bhisma, Salwa dan Srikandi). Kalau di Mahabharata Bhisma meninggalkan Amba karena menjalani hidup sebagai brahmana, di novel ini Bhisma diasingkan ke Pulau Buru.

Laksmi Pamuntjak dikenal sebagai esais dan penulis puisi yang lebih kerap menulis  dengan bahasa inggris. Pemilihan diksi pada novel ini menjadi ajang pamer Laksmi akan kekuatannya mengubah kata-kata menjadi nada. Disatu sisi itu merupakan hal yang baik, namun saya merasa agak berlebihan, apalagi surat-surat dari Salwa yang terlampau manis. Ditambah lagi, banyak diksi di novel Amba yang saya tidak tahu apa artinya.

Di Novel ini juga saya melihat Amba begitu banyak dikelilingi lelaki yang amat baik dan simpati kepadanya (Salwa, Bhisma, Adalhard, Zulfikar dan Samuel) sementara tidak satupun diantara mereka, kecuali Bhisma, yang mendapatkan balasan layak dari Amba, seakan dunia Amba hanya terfokus pada satu hal yaitu Bhisma. Satu  karakter yang  mengagumkan adalah Adalhard yang tahu bahwa dia tidak akan mungkin menggantikan Bhisma dalam hati Amba namun tetap mau menerima Amba dan mengambil tanggung jawab Bhisma dengan menjadi ayah dari anaknya.

Laksmi Pamuntjak tidak saja berhasil membuat sebuah  novel yang indah  namun juga sebuah historiografi yang enggan menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Pengetahuan kita di tahun 1965 mengacu pada buku sejarah terbitan Pemerintah yang tentu saja tidak objektif dan tidak pernah dikupas secara adil tentang sang pecundang yaitu PKI dan sayap sayap politiknya. Yang kita paham dari PKI adalah segerombolan orang-orang sadis tidak beragama yang gemar menyembelih orang-orang yang tidak sealiran dengannya. Laksmi berhasil menghindarkan diri dari anakronisme sejarah dengan tidak menilai, tapi memaparkan secara cermat keadaan sejarah pada saat itu.

Seperti pada Mahabharata, pesan yang coba dikemukakan oleh Laksmi Pamunjtak adalah tidak ada sesuatupun di dunia ini yang benar-benar putih dan benar-benar hitam. Bahkan hitampun punya kata-kata yang mewakili –ebony, coal,raven– dan stigma pada hitam tidak selalu bermakna kelam, buruk dan membawa mala. Begitupun dengan merah. Merah punya banyak jenis – merah delima, merah hati, merah marun – dan bukan hal yang harus ditakuti.

Iklan

2 responses to “Amba: Sebuah Resensi

  1. Eh apa waktu itu buku ttg Mahabharata yg kamu rekomendasiin?

  2. Mahabharata, Nyoman S Pendit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s