Kebersamaan

Jam hampir menunjukkan pukul 14.30 ketika ruang rapat sempit itu penuh sesak dengan karyawan yang berkepentingan dengan suatu perayaan penting , yaitu Hari Ulang Tahun (HUT) perusahaan. Rapat dipimpin oleh seorang GM yang mengurusi protokoler perusahaan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, puncak acara HUT akan dilaksanakan secara inklusif dengan mengajak masyarakat ikut serta. Biasanya, HUT diadakan secara tertutup yang hanya bisa dihadiri oleh karyawan. Acara HUT tersebut dari tahun ke tahun dimeriahkan oleh artis ibukota.

Ditengah rapat seorang GM lain menyampaikan kekuatirannya tentang kehadiran karyawan yang terancam sedikit karena konsep acara baru ini tidak ada doorprize. Oleh karenanya kehadiran yang hanya sedikit ini dapat mengganggu kebersamaan karyawan. Kalaupun dipaksakan ada pembagian doorprize dikuatirkan akan menyakiti hati masyarakat yang diundang. Semuapun mengamini. Menurut pengalaman  acara perusahaan yang diadakan tanpa doorprize terancam garing dan sepi pengunjung. Acara semacam inipun dicap gagal dan panitia akan pulang dengan wajah tertunduk.

Saya yang duduk di layer kedua meja bundar tersebut karena kasta yang rendah hampir tertawa oleh lelucon yang dilontarkan. Saya gagal paham mendengar bahwa kebersamaan pabrik terbesar di Asia Tenggara itu dinilai dengan doorprize: kulkas, home theater dan sepeda motor. Saya bisa membayangkan “kebersamaan” tersebut berakhir di rumah salah satu karyawan menjadi tempat menyimpan sayur mayur, home theater yang diam-diam digunakan untuk menyetel film porno, atau sepeda motor yang ringsek akibat ugal-ugalan.

Tidak menemukan cara untuk menyisipkan doorprize bagi karyawan tanpa menyakiti perasaan masyarakat yang turut hadir pada acara perayaan HUT, diputuskanlah untuk mengadakan acara lain untuk membagikan kebersamaan tersebut (red: doorprize). Dibuatlah acara jalan sehat bersama dengan tentu ada pretensi lain, yaitu tidak membagikan makanan karena, lagi-lagi dari pengalaman sebelumnya, pembagian makanan saat jalan sehat sering rebutan dan tidak mencerminkan etika yang baik dari karyawan. Lagi-lagi saya harus menahan tawa, ternyata karyawan Pabrik itu sudah dianggap layaknya makhluk barbar yang tak mengenal tatakrama.

Gagal paham karena lakon yang membuat depresi dan sumpek karena ruangan itu terlampau sempit untuk orang yang segitu banyak, saya memutuskan untuk keluar sejenak dan menghirup udara segar. Di luar saya bertemu dengan fotografer perusahaan asal Bali yang mengajak saya merokok sambil ngobrol-ngobrol. Karena tidak ada smoking room di gedung itu, kami berdua harus merokok di dalam satu ruangan di kamar mandi, di ruangan sempit berdinding merah yang tersedia kursi panjang tapi juga ada shower di sana.

Tak banyak yang kami obrolkan, hanya seputaran Mahabharata dan permintaan si fotografer untuk mencarikan iphone bekas karena iphone buatan cinanya sudah rusak. Sayapun berjanji untuk mencarikan iphone bekasnya.

Setelah obrolan tersebut, saya tidak banyak bicara, hanya memikirkan mengapa kebersamaan yang harusnya merupakan sesuatu yang mulia, yang menggambarkan ikhtiar untuk bekerja keras mencapai tujuan bersama, berkeringat bersama, keinginan menyokong orang yang hampir jatuh di satu barisan agar tetap melangkah bersama direduksi menjadi sangat kecil, bahkan kecil sekali, menjadi home theater dan sepeda motor.

Mungkin itulah kenyataannya. Kebersamaan yang diributkan itu adalah sebuah impian yang nyaris pudar. Maka untuk mengembalikan cahayanya yang pudar, dibuatlah sebuah pengganti yang palsu, yaitu iming-iming memiliki home theater yang secara jernih dapat memperdengarkan suara-suara samar,  bahkan erangan tertahan dari bintang porno tedengar jelas dan jernih. Dan dengannya kita bisa membanggakan bahwa karyawan Pabrik ini adalah karyawan yang kompak, yang tidak meninggalkan acara sebelum acara selesai. Luar biasa. Semestapun bertepuk tangan.

Sayapun berpikir, apakah tidak lebih baik membangun suatu acara yang dapat memancing keterlibatan karyawan dan berinteraksi dengan masyarakat? bukankah harus diberikan suatu pemahaman bahwa HUT layak dirayakan karena pengorbanan para pioneer untuk mendirikan pabrik di tanah rawa ini adalah tonggak sejarah kita sebagai perwujudan ikhtiar bangsa ini untuk menjaga ketahanan pangan. Bukankah harus diciptakan kesan bahwa Pabrik ini berhutang banyak dan oleh karenanya harus berterima kasih kepada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Telepon genggam saya bergetar, manager saya telepon karena dia tidak bisa tetap tinggal di rapat itu dan harus menghadiri rapat lain. Dia meminta saya untuk tetap tinggal dan mewakilinya kalau-kalau ada pertanyaan menyangkut program Departemen.

Sayapun beranjak dari tempat sempit yang asap rokok serta udaranya bercampur sesak sehingga membuat pening kepala. Saya masuk kembali ke ruang rapat itu dan tak sabar menyimak lawakan-lawakan selanjutnya.

Iklan

2 responses to “Kebersamaan

  1. apakah ada doorprize di upacara? berapa persen kehadiran disana?
    “pengalaman” sudah jadi dogma, akhirnya membunuh kreatifitas

  2. Kalo upacara sih ada unsur nasionalisme dan loyalitas yang disimbolkan jadi upacara. Jadi masih ada orang-orang yang menghargai values itu dateng. kalo doorprize end up jadi sesuatu yang uda terlalu sering dilakukan akhirnya jadi kewajiban tanpa dikritisi lagi…ya begitulah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s