Monthly Archives: Januari 2013

Budaya Tertib di Jepang

Menurut saya negara yang paling tertib dan penduduknya paling disiplin adalah Jepang. Di Jepang, antri dan tertib adalah hal yang sudah membudaya. Saya punya pengalaman ketika traveling di Hokkaido, Jepang. Saat itu suhu di bawah nol derajat. Kereta delay karena badai salju sehingga antrian menunggu kereta lumayan panjang. Di kondisi seperti itu, semua orang pasti ingin cepat-cepat mencapai tujuan. Hebatnya, ketika kereta datang, semua orang tetap tertib mengikuti barisannya masing-masing masuk kereta tanpa ada orang-orang yang bikin barisan baru disamping pintu kereta.

Di Jepang anda akan merasakan keteraturan dan ketertiban. Jadwal bus dan kereta yang tepat waktu.  Pada jam sibuk, ratusan ribu orang bisa memadati stasiun kereta. Di stasiun Shibuya, Tokyo, saya merasa insignifikan ketika melihat sebegitu banyak orang dalam satu tempat dan satu waktu. Saya yang sedang minum air mineral di suatu kiosk terperangah melihat barisan orang berjalan ke segala penjuru tidak habis-habis. Kereta di Jepang tiba setiap tiga sampai lima menit sekali dan tepat waktu. Justru karena itu kita harus sigap mendengarkan dan membaca tulisan kereta yang kita tuju. Nah sistem ini ditopang oleh warganya yang disiplin dan antri. Tidak pernah saya melihat ada orang yang menyerobot antrian.

Di pusat perbelanjaan di Jepang, naik eskalator saja ada aturannya dan di tiap-tiap kota berbeda. Di Tokyo, Sapporo dan Kyoto jalur sebelah kiri untuk yang diam sementara jalur sebelah kanan untuk yang berjalan. Di Osaka berlaku sebaliknya, jalur sebelah kanan untuk yang diam sementara jalur sebelah kiri untuk berjalan. Jarang di Jepang kita temui pasangan muda mudi yang merebut jalur kiri dan kanan supaya bisa gandengan seperti layaknya kita temui di Indonesia.

Saya juga merasakan ketika antri Bus di Jepang tidak ada orang yang berupaya menyerobot antrian, manula sekalipun. Ketika saya sedang menunggu bus di Bus Stop di depan saya ada keluarga dari Philippines. Anak-anaknya & Ibunya duduk di tempat duduk samping bus stop,  sementara ayahnya duduk di emperan restoran Yakinku. Saya yang baru datang berdiri di belakang si Ayah yang menunggu di emperan tersebut. Tempat duduk si Ayah kurang lebih tiga langkah dari antrian bus. Asyik ngobrol-ngobrol, tidak sengaja saya melihat ke belakang. Ternyata di belakang saya sudah ada sepasang manula dan sudah banyak orang-orang yang antri. Yang saya kagum, walaupun saya berdiri tidak pada tempat antrian yang seharusnya, orang-orang jepang tetap berbaris di belakang saya. Saya membayangkan jika saya sedang berada di terminal Bungur Asih pasti langsung diserobot.

Di Jepang saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa mahasiswa dan ekspatriat asal Indonesia yang bekerja di sana. Ketertiban dan keteraturan di Jepang memang membuat kota di Jepang menjadi nyaman dan enak untuk ditinggali. Ada salah satu ekspatriat asal Indonesia sudah sepuluh tahun lebih tinggal di Jepang, sejak lulus SMA, lulus kuliah sampai bekerja sangat ingin sekali pulang di Indonesia. Lucu, karena saya saja kalau bisa ingin bekerja di sana. Bukankah lebih enak tinggal di kota yang bersih, teratur, dan disiplin? Tapi dia punya pertimbangannya sendiri. Nah kami yang sedang berkumpul berkelakar memberikan dia tips-tips untuk hidup di Indonesia. Di Indonesia yang paling penting adalah teknik menyebrang jalan dan menyerobot antrian. Jika kedua skill itu bisa dikuasai maka dia bisa survive di Indonesia.

Panggilan untuk Boarding menuju pesawat Lion Air dari Jakarta menuju Balikpapan diserukan, sayapun berdiri dari tempat duduk dan mengikuti antrian untuk masuk ke pesawat. Pintu yang dibuka cuma satu karena petugas pemerika terakhir sebelum masuk ke pesawat memang cuma sendirian sementara jumlah penumpang sekitar  200 orang. Karena tingkat kreativitas  yang tinggi, alih-alih mengikuti barisan yang sudah terbentuk dengan rapih beberapa orang membuat barisan baru di sisi kiri dan sisi kanan pintu masuk supaya lebih cepat masuk. Yang paling fenomenal, dari belakang tiba-tiba seorang bapak melewati barisan saya dan tanpa rasa bersalah nyempil kayak upil di barisan depan.

Ya, this is Indonesia. I am home baby!

Iklan

2012

Tahun 2012 sudah berakhir. Di tahun kemarin ada hal-hal yang berhasil saya capai, namun banyak juga yang tidak berhasil dicapai. Beberapa milestone terpenting di hidup saya alami di tahun 2012 yang mungkin akan membuat saya menjadi orang yang lebih baik.

Saya perlu menyebutkan sejak awal bahwa tulisan ini bukan dibuat untuk pamer, pencitraan diri atau mencari perhatian. Penulisan semacam refleksi dan resolusi bagi saya sudah merupakan semacam tradisi. Kenapa saya perlu posting di sini? karena kalau saya save saja di laptop, maka pasti gak akan saya baca lagi. Kalau saya post di sini, saya punya semacam jurnal kronologis yang bisa saya tengok kapan saja. Sayapun menyimpan harapan ketika entah berapa tahun lagi saya hidup, suatu hari saya bisa menengok laman ini, mungkin bersama orang-orang terpenting di hidup saya dan bisa melihat kembali perjalanan hidup saya.

Di bidang perdivingan tahun 2012 saya sudah mendapat sertifikat rescue diver. Sertifikasi yang cukup prestisius awalnya sampai saya sadar di trip Komodo bulan November lalu bahwa level sertifikasi tidak menjamin keahlian seseorang dalam diving. Sertifikasi hanya semacam legitimasi dan tangga untuk masuk ke industri diving.

Tahun ini saya merilis 12 tulisan di  blog ini dengan kategori 6 insight, 2 resensi buku, 2 tentang lingkungan hidup dan sisanya tentang diving. Ada masa vakum menulis dari bulan mei – september 2012. Ya lumayanlah, walaupun saya belum bisa memenuhi keinginan menulis resensi buku yang dibaca dan film yang ditonton.

Setelah dua tiga tahun bekerja tanpa mampu memposisikan diri saya di perusahaan akhirnya pada tahun 2012 ini saya menemukan niche saya. Satu kepercayaan dari atasan  bisa saya balas dengan hasil yang  baik sehingga saya diberi tanggung jawab lebih tapi tidak bayaran yang lebih, hahaha. Alhamdulillah, saya syukuri saja.

Keinginan lanjut sekolah sudah lama saya impikan. Tahun 2012, saya sudah mendaftar ke beberapa sekolah di UK dan berharap mendapat beasiswa chevening yang kompetitif itu. Jujur saja, saya tidak pede. Kesulitan terbesarnya adalah minta rekomendasi dari atasan. Saya tidak mengerti kenapa sulit sekali minta rekomendasi di Perusahaan ini. Padahal rekomendasi merupakan hal yang sangat penting bila mau lanjut sekolah di luar negeri. Memang sih, bukan budaya Indonesia untuk menulis review tentang seseorang. Tapi ayolah, masa saya tidak berhak mendapat rekomendasi atas segala yang sudah saya lakukan untuk perusahaan ini.

Tahun 2012 di dalam negeri saya traveling di Sabang dan Banda Aceh, Pulau Komodo, Lombok dan Gili Tarawangan. Sedangkan di luar negeri saya traveling di Jepang yaitu di Osaka dan Hokkaido. Di Sabang saya nyangkut di pelabuhan selama dua malam untuk dapat menyebrang ke Banda Aceh. Di Komodo fisik saya buruk sehingga saya pusing dan muntah-muntah di hampir setiap dive. Di Lombok saya baru tau kalau dinas dengan Departemen yang ngurus CSR paling enak karena saya ditraktir makan terus.  Di Hokkaido saya belajar bahwa berjalan 15 menit di suhu -10 derajat dan tidak pakai kupluk/topi bisa membuat daun telinga rasanya mau copot karena beku.

Di tahun 2012 ini pula akhirnya saya memutuskan untuk berlabuh walaupun belum official. Setelah sekian lama saya masih mencari-cari dan menunda-nunda, saya akhirnya sadar bahwa yang paling mengerti saya yang egois dan moody ini dan yang paling bisa membuat saya melucuti semua ego saya dan melakukan hal-hal terbodoh di dunia ya cuma kamu 🙂

Ekspektasi di Tahun 2013

Sekolah: Tahun 2013 saya rencananya mau lanjut sekolah di bidang lingkungan. Saya sudah mendaftar kuliah di UK walaupun sampai sekarang saya masih kesulitan minta rekomendasi. Walaupun saya pesimis, tapi saya masih meyimpan harapan.

Diving: Saya hanya merencanakan satu dive trip tahun 2013. itupun kemungkinan sendirian saja, karena geng diving saya sudah terpecah belah. Saya belum punya target. Mungkin  saya akan ke derawan, Belongas di Lombok, atau  bisa saja Manado.

Blog: Saya akan tetap menulis di tahun 2013. Intensitas akan saya tambah. target saya tahun 2013 adalah 24 tulisan setahun atau dua tulisan setiap bulannya. Saya tidak akan membatas kategori tulisan saya, segala sesuatu yang mau saya tulis akan saya tulis. Pengalaman, hal yang saya rasakan, makanan yang dimakan, buku yang dibaca dan film yang ditonton.

Kesehatan: Target saya di tahun 2013 adalah  hasil check up yang tidak melebihi ambang batas baik kolesterol, tekanan darah dan asam urat.  Berat badan juga tidak boleh lebih dari 85 kg. Kelebihan berat badan buruk untuk kesehatan dan penampilan, oleh karena itu saya akan berolahraga 2 kali dalam seminggu. Ini tidak sulit karena setiap rabu pagi kami diwajibkan senam pagi di kantor.

Traveling: Tahun ini saya sudah menganggarkan budget untuk traveling. Rencananya saya mau ke Perancis atau maroko untuk menambah pengalaman traveling saya. Kalau saya dapet beasiswa Chevening akan lebih baik lagi karena saya bisa travel across Europe.

Financial Plan: Sudah terlalu lama hidup saya tidak punya perencanaan yang jelas. Traveling seenak perut, dive trip tidak direncanakan, belanja pelit tapi jajan boros. Saya sudah membuat tujuan finansial dan membuat rencana implementasi. Targetnya tujuan finansial di tahun 2013 ini tercapai dan rencana keuangan bisa sepenuhnya dilaksanakan.

Bisnis: Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 mencapai 6.5 %.  Nomor dua tertinggi di Asia setelah China dengan lokomotifnya konsumsi domestik. Selain itu, Indonesia punya keunggulan demografi dari tahun 2010 – 2035 dengan penduduk produktif dominan. Hal ini harus bisa dimanfaatkan. Saya harus bisa memulai bisnis riil. Saya harus bisa mengatasi hambatan psikologis yang selama ini jadi halangan.

Bahasa: Saya punya keinginan dalam hidup ini untuk menguasai lima bahasa. Saya sudah menguasi dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia. Tahun ini saya mau belajar bahasa Jepang. Saya sudah dua kali ke Jepang dan mengenal sedikit kata dan beberapa huruf kanji. Karena di Bontang gak ada tempat les bahasa Jepang, Saya mau belajar online.

Yah, sekali lagi  saya tekankan tulisan ini bukan untuk pamer atau pencitraan diri, tapi hanya sebagai jurnal hidup. Saya sadar bahwa rencana bisa tinggal rencana kalau tidak dilaksanakan. Tapi lebih baik punya rencana daripada hidup tanpa kompas dan asal jalan saja.