Monthly Archives: Februari 2013

Senja

Senja, ketika matahari bersiap meninggalkan horizon, langit berwarna keemasan dan burung mulai berhenti bernyanyi  adalah saat yang paling indah dari hari. Dan momen  itu,  membuatku rindu setengah mati

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
Diantara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
Aku menunggu dengan sabar
Diatas sini melayang-layang
Tergoyang angin , menantikan tubuh itu

Hokkaido: Mataharinya Tidak Hangat

Akhir tahun 2012 lalu saya jalan-jalan ke Hokkaido. Rencana awalnya saya cuma ingin menengok pacar yang sedang studi di Osaka. Tapi karena saya sudah pernah ke Osaka dan saya ingin melihat wajah lain Jepang akhirnya kami jalan-jalan ke Hokkaido. Pergi ke Hokkaido tidaklah sulit karena sekarang banyak penerbangan murah. Kami berangkat dari Osaka dengan Jet Star. Harga tiket round trip dari Osaka ke Chitose berdua adalah Y 25,000 atau sekitar Rp 2.7 juta

Hokkaido merupakan salah satu dari empat pulau besar di Jepang dengan Ibukota Sapporo. Hokkaido berbentuk seperti Ikan Manta yang sedang berenang dengan ekornya di Hakodate dan kepalanya di Shiroteko dan Nemuro. Hokkaido adalah salah satu tujuan traveling penduduk lokal ataupun wisatawan mancanegara karena landscapenya yang luar biasa dan makanannya yang enak. Untuk menikmati Hokkaido secara penuh kita disarankan untuk mengendarai mobil karena banyak taman nasional dengan landscape dramatis namun sulit diakses oleh transportasi publik. Waktu yang sempit dan  meragukan kemampuan nyetir saya di kondisi salju yang licin, saya mengambil yang aman saja yaitu dengan kereta.

Suhu di Hokkaido pada musim dingin berkisar antara -4 sampai -12 derajat celcius. Walaupun cerah, mataharinya tidak hangat. Saya kuatir karena saya cuma bawa satu buah jaket dan satu raincoat yang saya sadari kemudian tidak ada gunanya. Saya tidak bisa membawa lebih banyak jaket karena tas ransel besar saya itu tiga perempatnya dipenuhi oleh titipan makanan khas Indonesia seperti indomie, sambel terasi, ikan bandeng, rendang, bumbu-bumbu masakan dan lain-lain. Pacar saya itu mungkin lupa atau pura-pura lupa kalau saya orang tropis yang hobinya main ke laut. Dasar memang hobinya belanja dia bilang kalau nanti saya kedinginan dia akan antar belanja.

Hokkaido juga terkenal akan powder snownya di daerah seperti Niseko dan Furano sehingga menjadi tujuan olahraga musim dingin seperti ski dan snowboarding. Namun karena mahal  saya harus menunda keinginan mencoba main ski dan snowboarding.

Di Hokkaido saya  menjelajah berbagai tempat yaitu Toya, Hakodate, Otaru, dan  Sapporo. Makanan yang enak, partner jalan-jalan yang hobi makan dan belanja menjadikan trip kali ini boros namun berkesan. Pengetahuan saya tentang mode bertambah dan lidah saya berpengalaman mencecap makanan Jepang yang miskin bumbu itu.

Trip kali ini juga menjadi petualangan seru karena kami menggunakan kereta api untuk menjelajah. Akhir tahun 2012 adalah masa liburan yang padat dan salju yang tak mau berhenti. Sering terjadi road block dan kereta delay. Tulisan di papan pengumuman pun kebanyakan pakai huruf kanji. Walaupun begitu, saya sangat terkesan dengan pelayanan JR (perusahaan kereta api di Jepang). Di setiap counter ada customer service yang bisa berbahasa inggris dengan baik,  mencarikan tiket diskon, mengatur jadwal sampai memandu kami  sampai platform yang dituju saat badai salju dan penumpang membludak. Berikut adalah cerita dan pengalaman seru di Hokkaido

***

Toya

Road to Toya Onsen

Perjalanan dari Sapporo menuju Toya memakan waktu dua jam dengan kereta cepat. Karena delay Sesampainya di stasiun Toya sudah jam 4 sore hari sudah mulai gelap dan salju turun lumayan deras. Untungnya walaupun salju, bus masih tetap beroperasi.  Transportasi publik sangat mudah di Jepang. Keluar dari stasiun Toya ada halte bus dengan jadwal yang reliable. Waktu tempuh dari Toya ke Sun Palace tempat kami menginap sekitar setengah jam. Perjalanan cukup mendebarkan karena mendaki bukit dan salju turun lumayan deras.  Kami bersyukur karena mengurungkan niat nyetir mobil di Hokkaido. Saya tidak bisa membayangkan kalau harus nyetir di cuaca seperti ini.

Lake Toya

Danau Toya adalah kaldera di  Taman Nasional Shikotsu-Toya. Diameternya mencapai 10 km dan merupakan danau yang tidak pernah membeku di musim dingin. Di tengah-tengah danau terdapat pulau yang bernama Nakano-shima. Seharusnya danau ini sangat cantik, tapi karena badai salju kami tidak melihat apapun.

Rencananya di Toya Onsen  kami mau makan udon yang terkenal itu,  namun karena badai salju dan cuaca dingin akhirnya kami memutuskan makan di hotel saja. Hotel tempat kami menginap cukup jauh dari pusat Kota. Karena sudah malam dan cuaca yang tidak bagus  kami terpaksa makan buffet di Hotel. Mahal memang sekitar  Y 3150/orang.  Supaya gak nyesel kami makan gila-gilaan, kari, miso, udon, salmon, suhsi, udang, siput, lidah, kambing bakar, dan hampir semua jenis cake yang disajikan kami sikat. Orang-orang Jepang sampai geleng-geleng melihat kami makan. Yang membuat saya kagum, walaupun tabehodai (buffet) hampir semua makanan di sana sangat enak. Yang paling enak adalah lidah sapi bakar dan siput.

Yang tidak disangka, kami bertemu geng turis dari Indonesia. Awalnya kami tidak yakin sampai mendengar mereka berbahasa Indonesia. Geng turis dari Indonesia ini kelihatannya ikut tur. Tur wisata ke Jepang tidak murah , mungkin harganya sama  seperti ke Eropa. Rombongan keluarga di belakang saya ini membawa keluarga besar! Orang Indonesia ternyata makmur.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di Toya karena salju yang tidak berhenti turun. Daripada membuang waktu, pagi harinya kami langsung berangkat ke kota selanjutnya, Hakodate.

Hakodate

Sesampainya di Hakodate cuaca cukup cerah walau suhu mencapai – 7 derajat celcius. Aneh memang, sinar matahari menyinari tapi panasnya sama sekali tidak terasa. Stasiun Hakodate cukup besar dan tourist friendly. Tidak jauh dari pintu keluar ada tourist information. Sepertinya hampir semua kota tujuan wisata di Jepang punya tourist information dengan petugas yang bisa bahasa inggris dan informasi yang lengkap.

Hakodate Tram

Di Hakodate alat transportasi utama adalah trem dan bus. Saya suka naik trem. Cuma ya itu, tempat nunggu tremnya outdoor sementara cuaca -7 derajat dan menjelang malam suhu bisa mencapai -12. Saya cuma dua kali naik trem karena suhu yang terlalu dingin untuk menunggu trem.

Pergi ke Hokkaido kurang lengkap rasanya kalau tidak mengenal budaya dan orang-orangnya. Oleh karenanya kami mengunjungi Museum of Northern people. Di sana kita bisa melihat budaya, cara hidup, senjata, perhiasan sampai corak pakaian orang-orang dari utara seperti Ainu, Nivkh dan Orok. Ternyata  etnis Ainu tersisih dan didiskriminasi oleh etnis Yamato yang dominan di Jepang hingga hampir punah. Baru pada tahun 2008 pemerintah Jepang mengakui etnis Ainu. Kisah sedih ini juga terjadi di Amerika Utara dan Australia. Saya menjadi bangga karena di Indonesia tidak terjadi penyisihan dan diskriminasi yang parah. Di Indonesia kita  bisa hidup berdampingan dengan berbagai etnis, suku dan agama. Bukankah itu indah?

Museum ini lokasinya berdekatan dengan tiga lokasi turis lainnya: Hakodate History Plaza, British Consulate Building, dan Hakodate Public Hall. Biaya masuk ke satu tempat 300 yen, dua tempat 500 yen, tiga tempat 720 yen dan empat tempat 840 yen. Museum of Northern People menempati gedung tua persis di depan stasiun trem Suehirocho. Menurut saya yang lumayan  untuk dikunjungi adalah Museum dan Public Hall.

Hakodate Old Public Hall

Hakodate Old Public Hall berada tidak jauh dari Museum of Northern People, sekitar 15 menit berjalan kaki menanjak slope. Public Hall yang merupakan bangunan tua bergaya victorian dengan paduan warna biru dan kuning  dahulunya adalah tempat konser/pertemuan warga. Sebetulnya tidak ada yang terlalu menarik di dalam bangunan ini, namun arsitektur dan lokasinya yang berada di tempat yang tinggi menjadikan bangunan ini cantik dan mencolok, kalau saja tidak kalau saja tidak badai salju.

Berjalan 15 menit ditengah badai salju dengan suhu -12 derajat celcius merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Saat kembali turun dari Public Hall, saya sok-sokan tidak memakai kupluk, daun telinga saya langsung mati rasa dan ketika dipegang terasa nyeri. Khawatir kena frostbite dan takut telinga saya tiba-tiba copot, saya memaksa pacar bergegas museum dan memanggil taksi dari sana. Saya tidak mau menunggu trem di cuaca seperti ini. Melihat saya panik pacar tertawa puas sekali dan terus menerus mengolok-olok saya si telinga mau copot.

Di Hakodate kami juga sok-sokan mau  seperti orang Jepang dengan nongkrong di Izakaya. Izakaya adalah tempat minum dan makan orang jepang sehabis kerja. Izakaya biasa menyediakan minuman keras khas jepang (sake) dan makanan. Rencananya kami mau makan kudapan ringan, namun karena bahasa jepang terbatas, yang disajikan kepada kami adalah ikan bakar.

Asa-Ichi

Pagi harinya kami menuju Morning Market (Asa-Ichi). Tujuan utama saya adalah melihat kepiting yang sering saya tonton di Deadliest Cacth dan tentu saja sarapan donburi (rice bowl) yang terkenal itu. Morning market yang terletak dekat dengan Hakodate Stasiun menjual ikan dan hasil laut lainnya, sayur-sayuran dan buah-buahan. Magnet utamanya tentu adalah seafood. Haram hukumnya datang ke morning market tanpa sarapan di sana. Tidak mampu beli kepiting yang harganya jutaan itu saya mencoba sup kaki kepiting dan donburi yang diatasnya ada bulu babi, kepiting, udang dan kerang.  Kami beruntung karena memilih restoran yang tepat. Sebetulnya ada restoran yang lebih ramai turis yang memberi harga lebih murah. Tapi insting saya mengatakan lebih baik mengikuti ke mana orang-orang Jepang pergi. Insting saya benar.

Donburi

Rasa kepiting mahal itu lebih gurih daripada kepiting di Indonesia. Kalau ke Asa-Ichi anda harus mencoba bulu babi (uni) dan kerang (kaibashira) yang gemuk dan enak banget. Seperti halnya di Toya, di sini kami juga ketemu segerombolan turis Indonesia yang sedang memesan kaibashira. Kami tidak sebegitu kaget  seperti Toya karena Hakodate memang daerah wisata.

Konon pemandangan dari puncak gunung Hakodate (Hakodateyama) paling indah di dunia, menyamai Hongkong dan Napoli. Ada dua cara mencapai Hakodateyama yaitu naik mobil atau naik cable car. Kami memilih cable car. Cable car beroperasi dari pukul 10.00 sampai 21.00 dengan biaya Y 1160 bolak-balik atau Y 640 sekali jalan.  Puncak gunung hakodate berada pada 334 m dpl. Sebetulnya pemandangannya cukup menjanjikan karena Hakodate berada di ujung ekor ikan pari pulau Hokkaido, dari puncak kita bisa melihat kota Hakodate yang terjepit oleh selat Tsugaru. Waktu itu saya datang siang hari. Mungkin kalau saya datang malam hari lebih keren. Tapi apa daya, malam hari cuacanya kurang bagus dan turun salju. Kalau memaksakan pergi kejadian Hongkong bisa terulang, sudah mahal, dingin, di atas saya cuma bisa lihat kabut.

Puas di Hakodate kami kembali ke Sapporo, namun kami mampir dulu ke Otaru untuk tujuan yang sangat penting yaitu foto di kanal.

Otaru & Sapporo

Otaru Canal

Otaru merupakan kota kecil di sebelah timur laut Hokkaido yang menghadap ke Teluk Ishikari. Yang menarik di Otaru adalah kanal dengan lampu bergaya victoria. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik ke Otaru, cuma pacar memaksa pergi ke sana untuk foto di kanal. Di Otaru kami makan malam di restoran sushi yang bernama Topi Sushi. Ikannya segar dan potongannya besar. Harganya memang lebih mahal sedikit dari restoran sushi pada umumnya. Namun, kesegaran dan kualitas ikannya juga lebih baik. Favorit saya di Topi adalah salmon nigiri. Simpel dan segar.

Sapporo

Sapporo sangat berbeda dengan kota-kota di Jepang pada umumnya. Arsitektur yang bergaya eropa, dan saljunya yang tebal membuatnya mirip seperti kota di eropa. Di Sapporo kami sengaja menginap di daerah Susukino yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Namun, karena kami  memang tipikal orang rumahan dan tidak suka begajulan,  kami  tidak terlalu menikmati kehidupan malam di Susukino.

Chocolate Lounge

Di Sapporo kami mengunjungi Shiroi Koibito, sebuah museum cum pabrik cokelat, surga buat anak-anak.  Tidak ada yang istimewa, highlight dari tempat ini adalah Chocolate loungenya yang menghadap ke pegunungan di Sapporo. Cokelat panas dihidangkan pada cangkir khusus cokelat. Menikmati cokelat panas dengan eclair dilatarbelakangi pemandangan pegunungan yang tertutup salju bersama dengan orang yang penting dalam hidup menjadi momen tak terlupakan.

Gengis Khan Hall

Konon Sapporo memiliki brewery pertama di Jepang. Bir yang terkenal di Sapporo adalah sapporo beer dan ada museumnya. Awalnya kami hanya mau mengunjungi museum dan lihat-lihat. Namun karena  tutup akhirnya kami malah masuk ke suatu ruangan besar yang luas dan disatu sudutnya ada tungku raksasa. Ternyata itu adalah Gengis Khan hall, tempat makan “jingisukan” atau yakiniku kambing. Memang enak tapi mahal! Satu orang kami harus membayar sekitar Y 3000. Sebelum makan kami harus melepas jaket dan menaruhnya di plastik. Awalnya kami bingung, tapi ternyata hal itu dilakukan agar aroma kambing bakar tidak melekat ke pakaian.

***

Hokkaido

Sapporo menjadi penutup liburan kami di Hokkaido. Walaupun saya masih memiliki beberapa hari lagi di Jepang, tapi saya sedih meninggalkan Hokkaido.  Bau makanannya yang khas, atmosfer kota yang sendu, burung gagak yang parau, gunung-gunungnya yang putih,  salju yang hening,  jalanannya yang licin, mataharinya yang tidak hangat, ah saya akan merindukannya.