Monthly Archives: Maret 2013

Generasi X vs Y

Sehari sebelum long weekend, saya pulang agak terlambat dari kantor. Sebelum pulang, senior saya mengajak melihat kondisi kolam limbah untuk menampung limbah pada saat keadaan emergency. Sesampainya di sana, ternyata Pabrik Kaltim 2 yang sedang mengejar target mengirim limbah dengan debit sekitar 50 m3/jam. Atasan saya itu menelpon salah satu anak buahnya meminta lembur untuk mengontrol limbah cair agar tidak luber. Di luar dugaan, anak buahnya menolak lembur selama long weekend ini karena memiliki agenda lain.

Senior sayapun curhat tentang betapa susah menyuruh anak muda sekarang untuk lembur. “Padahal kerjanya santai, cuma tinggal pencet-pencet tombol saja, bayarannya besar lagi”, sambungnya. Beliau lantas bercerita lagi kalau di zaman Pabrik ini masih amburadul, lembur itu berarti kerja rodi yang kejam, ditambah lagi bayarannya yang tidak seberapa. Menurutnya, lembur di masa kini malah menguntungkan karena tidak perlu berkeringat sudah dapat uang yang banyak.

Senior saya itu merupakan bagian dari Generasi yang lahir pada tahun 1960an. Kita tahu, Indonesia tahun 1960an sangat sulit; pertarungan ideologi, pergantian tampuk kekuasaan yang tidak mulus, pembantaian PKI, dan keadaan ekonomi yang hancur-hancuran. Senior saya merupakan bagian dari generasi X. Berangkat dari segala situasi tersebut, gen X merupakan generasi yang menghargai loyalitas dan kerja keras untuk meniti tangga karir. Gen X merupakan generasi tahan banting yang terbukti bisa bertahan dalam situasi yang  buruk sekalipun.

Sementara itu anak buahnya, lahir di akhir tahun 1980an. Generasi yang lahir ketika perekonomian Indonesia tumbuh dengan mengesankan, harga minyak yang murah dan kondisi politik yang relatif stabil. Anak buahnya ini merupakan bagian dari generasi Y atau generasi milenial. Gen Y menganggap generasi sebelumnya (gen X) yang bekerja terlalu keras untuk sekedar mendapat kenaikan gaji dan menggapai posisi adalah sia-sia. Gen Y menginginkan hidup yang lebih bermakna daripada sekedar bekerja keras dan mencari nafkah. Gen Y memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaannya. Gen Y juga butuh pengakuan, mereka ingin dianggap “penting” bagi suatu organisasi, bukan hanya kerja “ecek-ecek”.

Perbedaan sudut pandang inilah yang sering terjadi. Gen X menganggap generasi Y pemalas, arogan, dan tidak loyal. Sedangkan gen Y menganggap seniornya itu membosankan, kaku, lebay loyalitasnya, dan kurang wawasan. Perbedaan ini berpotensi semakin meruncing karena Gen X sekarang berada pada pucuk-pucuk penting dalam suatu organisasi dan memimpin generasi yang memiliki pandangan yang amat berbeda. Terlebih lagi di PKT.

Pada tahun 2012, 66 % dari populasi karyawan PKT berusia >41 tahun, populasi terbesar kedua berusia 17 – 30 tahun yaitu 25%, sedangkan sisanya, 9% berusia 30 – 41 tahun. Gen X di PKT merupakan generasi dominan. Dominansi populasi juga mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan perusahaan. Ketika kebijakan perusahaan kurang bisa mengakomodir keinginan karyawan, turn-over menjadi meningkat. Rekan-rekan saya di angkatan 2009 sudah tiga orang yang mengundurkan diri. Tidak seperti tempat kerja lain, di PKT karyawan yang resign merupakan hal yang tidak lazim dan menghebohkan. Dengan fasilitas jor-joran dan remunerasi yang tinggi,  harusnya karyawan tidak akan berpaling ke tempat lain. Tapi, lagi-lagi, itu adalah sudut pandang gen X. Gen Y, seperti yang sudah saya sebutkan, menganggap masalah fasilitas dan remunerasi bukan hal yang utama, mereka ingin menjalani hidup lebih bermakna. Kalau gen X mendefinisikan sukses dengan posisi yang diraih, gen Y memaknai sukses ketika bisa meraih hal-hal yang penting secara personal.

Saya berpendapat, sudah saatnya perusahaan mengarahkan titik fokusnya ke gen Y.  Karena, generasi inilah yang nantinya akan menjadi tulang punggung perusahaan. Ketidakmampuan memahami dan mengakomodir kebutuhan gen Y ini, apalagi di Perusahaan yang dalam 10 tahun lebih dari 50% populasinya masuk ke usia pensiun bisa menjadi ancaman.

Kereta

Kereta
Oleh: Sitok Srengenge

1
Sendiri di Stasiun Tugu,
entah siapa yang dia tunggu
Orang-orang datang dan lalu,
ia cuma termangu
Sepasang orang muda berpelukan
(sebelum pisah) seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang manis
Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna,
tapi asmara sering merana
Ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap
: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda + roda besi berderit,
tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

2
Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku
Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis berujung getir
Cahaya biru berkelebat dalam gelap,
kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
tinggal kenang timbul-tenggelam
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban
Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
kukenang sebagai pengantar esokku
Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut
Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu
Jadilah masinis bagi kereta waktumu,
menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,
sebab segalanya sudah beda
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih

***

Ekonomi VS Lingkungan? Suatu Miskonsepsi

Beberapa hari lalu ketika saya sedang rapat kerja di Jakarta, seorang GM berkomentar kalau Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terlalu ekosentris. Beliau menambahkan kalau syarat yang terlalu ketat untuk lingkungan hidup bisa menghambat pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh lagi, beliau berkelakar kalau Pupuk Kaltim seharusnya jangan produksi pupuk tapi produksi PROPER saja.

Sepertinya, sudah umum  konsepsi yang membenturkan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup. Seolah-olah kita harus memilih. Tony Jupiter, seorang environmentalist dengan baik memaparkan bahwa hal ini merupakan miskonsepsi.  Fondasi dasar pertumbuhan ekonomi adalah jasa dan keuntungan yang kita dapatkan dari kerja alam. Kita memerlukan jasa ekosistem agar pertumbuhan ekonomi terjadi secara berkelanjutan.

Banyak dari kita yang belum memahami kalau tanah, udara, air, kayu, makanan, dan obat-obatan yang kita perlukan berasal dari jasa ekosistem. Tanah yang kita gunakan untuk agrikultur itu tidak turun dari langit, tapi dari aktivitas serangga dan mikroba tanah yang dengan tekun mengurai sampah dan kotoran kita menjadi tanah subur yang penuh nutrien. Buah-buahan yang kita nikmati ini berasal dari suatu sistem yang melibatkan hewan dan serangga sebagai penyerbuk dan pengontrol hama yang sekarang terancam keberadaannya akibat penggunaan pestisida yang tidak bertanggung jawab.  Dari segi kesehatan, kondisi lingkungan yang buruk diduga menimbulkan kanker dan berbagai penyakit lainnya. WHO memperkirakan pada tahun 2008, 12.7 juta orang di dunia menderita kanker dan diperkirakan angka ini akan melonjak menjadi 22 Juta orang pada tahun 2030, 80%nya diperkirakan berasal dari negara berkembang.

Dari sudut pandang pertumbuhan ekonomi, studi yang dilakukan oleh trucost memperkirakan bahwa biaya lingkungan yang timbul dari aktivitas manusia mencapai $ 6600 trilyun atau sekitar 11% dari global GDP tahun 2008 dan diperikirakan mencapai  $28,000 trilyun tahun 2050. Angka ini menunjukkan bahwa ongkos lingkungan hidup cukup besar. Dan angka fantastis ini nampaknya sudah mewujud secara nyata di China, negara yang pertumbuhan ekonominya fantastis namun tidak dibarengi dengan perlindungan lingkungan hidup.

Jing Zengmin seorang pengusaha kacamata dari Zhejiang di sebelah timur China menantang Kepala Departemen Lingkungan Hidup setempat untuk berenang di sungai  terpolusi selama 20 menit dan akan memberikan $32,000 apabila dia berani melakukannya. Tidak mengejutkan ketika yang ditantang kemudian tidak berani melakukannya. Latar belakang Jin menantang Kepala Dept LH karena adik Jin meninggal akibat kanker paru-paru pada usia 35 tahun. Jin menuding polusi di sungai sebagai penyebab kanker yang sekarang menyasar usia lebih muda. Jin mempertanyakan makna pertumbuhan ekonomi apabila orang China meninggal karena kanker akibat polusi.

China sedang mengalami permasalahan lingkungan yang sulit, pertumbuhan ekonomi yang gemilang selama tiga dekade terakhir tanpa perlindungan lingkungan hidup yang serius menimbulkan konsekuensi lingkungan yang berat. Pada bulan Januari 2013, uji emisi udara yang dilakukan oleh kedutaan AS di Beijing menunjukkan kadar debu halus berukuran 2.5 mikrometer (PM2.5) yang berpotensi masuk ke dalam sistem pernapasan manusia mencapai 886 mikrogram/m3, jauh dari standar WHO yaitu 25 mikrogram/m3. Pemerintah Kota Beijing terpaksa membatasi anak-anak dan orang tua untuk keluar rumah karena kondisi ini.

Saya kira pertentangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup sudah tidak relevan lagi. Yang tepat, kita  tidak mampu tumbuh secara berkelanjutan apabila tidak melakukan perlindungan lingkungan. UU 32/2009 merupakan suatu instrumen untuk memastikan Indonesia memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Bangga Menjadi Indonesia

Banyak  opini yang kita dengar dari media cetak, elektronik, media sosial bahkan dari beberapa anggota dewan di parlemen bahwa negara kita, Indonesia, seolah-olah berada pada keadaan genting sehingga utang meningkat, rakyat menderita, pengangguran tinggi, kasus korupsi yang akut, kurikulum pendidikan yang tidak jelas dan lain-lain.

Apabila kita melihat Indonesia dari gambaran yang lebih besar, kita akan segera mengetahui bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia amat baik. GDP (Gross Domestic Product)  kita tahun 2012 sekitar $1,2  trilyun, nomor 15 di dunia, lebih besar dari Malaysia, Singapur, Arab Saudi, bahkan Australia. Oleh karenanya kita masuk dalam negara G20, yaitu perkumpulan negara yang berkontribusi terhadap 80% GWP (Gross World Product), 80% perdagangan dunia dan 2/3 dari total populasi dunia. Pertumbuhan ekonomi berhasil kita pertahankan pada kisaran 6-6.5%  sejak tahun 2010 dibandingkan dengan China dan India yang pertumbuhan ekonominya cenderung menurun.

Pendorong utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi domestik yang besar yaitu sekitar 60% dari GDP. Perlambatan ekonomi di Eropa dan AS tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kita karena konsumsi domestik yang tinggi dan diperkirakan akan meningkat  karena Indonesia memiliki keunggulan demografi. Sekitar 50% dari populasi Indonesia <29 tahun dan 60% dari populasi Indonesia <39 tahun, usia yang senang-senangnya belanja. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan penduduk stabil, diperkirakan sampai dengan 20 tahun ke depan keunggulan demografi akan tetap kita miliki dan ekonomi kita akan terus tumbuh.

Kondisi fiskal kita juga cukup baik. Di Indonesia hanya 10 juta orang & perusahaan yang membayar pajak.  Walaupun begitu, kita hanya mengenakan pajak 20-25% bagi korporasi, berani memberikan tax holiday beberapa industri penting seperti logam dasar, baja, dll. Rasio utang kita terhadap GDP per September 2012 23,7%, Amerika Serikat dan beberapa negara Uni Eropa rasio utang terhadap GDP mencapai lebih dari 100%. Defisit anggaran Indonesia akhir 2012 sekitar 1.5%, lebih rendah dari batas yang diizinkan Undang undang, yaitu 3%.

Melihat dari indikator ekonomi makro, sepertinya tidak ada alasan untuk mendramatisir keadaan indonesia yang pada kondisi perekonomian global yang suram masih tetap mengkilap. Memang kita tidak boleh  memungkiri ada beberapa sektor kita yang buruk dan harus diperbaiki seperti kemiskinan, pendidikan, korupsi dan industri manufaktur.

Makanya kita tidak boleh minder sama orang asing. Hey, perekonomian kita nomor 15 terbesar di dunia, bahkan Mckinsey memproyeksikan pada tahun 2030 Indonesia bisa merengsek ke peringkat 7 dunia, mengalahkan Inggris dan Jerman.

Saya percaya, dengan mengetahui posisi Indonesia di dunia dan kemampuan memproyeksikan diri kita ke masa depan, kita bisa fokus mengejar target pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan kita

Nah, sekarang tidak ada lagi alasan untuk menganggap diri kita rendah. Dimanapun kita melangkah di dunia ini, seharusnya kita bisa berjalan tegak dan bangga berpaspor hijau, berbangsa Indonesia.