Bangga Menjadi Indonesia

Banyak  opini yang kita dengar dari media cetak, elektronik, media sosial bahkan dari beberapa anggota dewan di parlemen bahwa negara kita, Indonesia, seolah-olah berada pada keadaan genting sehingga utang meningkat, rakyat menderita, pengangguran tinggi, kasus korupsi yang akut, kurikulum pendidikan yang tidak jelas dan lain-lain.

Apabila kita melihat Indonesia dari gambaran yang lebih besar, kita akan segera mengetahui bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia amat baik. GDP (Gross Domestic Product)  kita tahun 2012 sekitar $1,2  trilyun, nomor 15 di dunia, lebih besar dari Malaysia, Singapur, Arab Saudi, bahkan Australia. Oleh karenanya kita masuk dalam negara G20, yaitu perkumpulan negara yang berkontribusi terhadap 80% GWP (Gross World Product), 80% perdagangan dunia dan 2/3 dari total populasi dunia. Pertumbuhan ekonomi berhasil kita pertahankan pada kisaran 6-6.5%  sejak tahun 2010 dibandingkan dengan China dan India yang pertumbuhan ekonominya cenderung menurun.

Pendorong utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi domestik yang besar yaitu sekitar 60% dari GDP. Perlambatan ekonomi di Eropa dan AS tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kita karena konsumsi domestik yang tinggi dan diperkirakan akan meningkat  karena Indonesia memiliki keunggulan demografi. Sekitar 50% dari populasi Indonesia <29 tahun dan 60% dari populasi Indonesia <39 tahun, usia yang senang-senangnya belanja. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan penduduk stabil, diperkirakan sampai dengan 20 tahun ke depan keunggulan demografi akan tetap kita miliki dan ekonomi kita akan terus tumbuh.

Kondisi fiskal kita juga cukup baik. Di Indonesia hanya 10 juta orang & perusahaan yang membayar pajak.  Walaupun begitu, kita hanya mengenakan pajak 20-25% bagi korporasi, berani memberikan tax holiday beberapa industri penting seperti logam dasar, baja, dll. Rasio utang kita terhadap GDP per September 2012 23,7%, Amerika Serikat dan beberapa negara Uni Eropa rasio utang terhadap GDP mencapai lebih dari 100%. Defisit anggaran Indonesia akhir 2012 sekitar 1.5%, lebih rendah dari batas yang diizinkan Undang undang, yaitu 3%.

Melihat dari indikator ekonomi makro, sepertinya tidak ada alasan untuk mendramatisir keadaan indonesia yang pada kondisi perekonomian global yang suram masih tetap mengkilap. Memang kita tidak boleh  memungkiri ada beberapa sektor kita yang buruk dan harus diperbaiki seperti kemiskinan, pendidikan, korupsi dan industri manufaktur.

Makanya kita tidak boleh minder sama orang asing. Hey, perekonomian kita nomor 15 terbesar di dunia, bahkan Mckinsey memproyeksikan pada tahun 2030 Indonesia bisa merengsek ke peringkat 7 dunia, mengalahkan Inggris dan Jerman.

Saya percaya, dengan mengetahui posisi Indonesia di dunia dan kemampuan memproyeksikan diri kita ke masa depan, kita bisa fokus mengejar target pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan kita

Nah, sekarang tidak ada lagi alasan untuk menganggap diri kita rendah. Dimanapun kita melangkah di dunia ini, seharusnya kita bisa berjalan tegak dan bangga berpaspor hijau, berbangsa Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s