Ekonomi VS Lingkungan? Suatu Miskonsepsi

Beberapa hari lalu ketika saya sedang rapat kerja di Jakarta, seorang GM berkomentar kalau Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terlalu ekosentris. Beliau menambahkan kalau syarat yang terlalu ketat untuk lingkungan hidup bisa menghambat pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh lagi, beliau berkelakar kalau Pupuk Kaltim seharusnya jangan produksi pupuk tapi produksi PROPER saja.

Sepertinya, sudah umum  konsepsi yang membenturkan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup. Seolah-olah kita harus memilih. Tony Jupiter, seorang environmentalist dengan baik memaparkan bahwa hal ini merupakan miskonsepsi.  Fondasi dasar pertumbuhan ekonomi adalah jasa dan keuntungan yang kita dapatkan dari kerja alam. Kita memerlukan jasa ekosistem agar pertumbuhan ekonomi terjadi secara berkelanjutan.

Banyak dari kita yang belum memahami kalau tanah, udara, air, kayu, makanan, dan obat-obatan yang kita perlukan berasal dari jasa ekosistem. Tanah yang kita gunakan untuk agrikultur itu tidak turun dari langit, tapi dari aktivitas serangga dan mikroba tanah yang dengan tekun mengurai sampah dan kotoran kita menjadi tanah subur yang penuh nutrien. Buah-buahan yang kita nikmati ini berasal dari suatu sistem yang melibatkan hewan dan serangga sebagai penyerbuk dan pengontrol hama yang sekarang terancam keberadaannya akibat penggunaan pestisida yang tidak bertanggung jawab.  Dari segi kesehatan, kondisi lingkungan yang buruk diduga menimbulkan kanker dan berbagai penyakit lainnya. WHO memperkirakan pada tahun 2008, 12.7 juta orang di dunia menderita kanker dan diperkirakan angka ini akan melonjak menjadi 22 Juta orang pada tahun 2030, 80%nya diperkirakan berasal dari negara berkembang.

Dari sudut pandang pertumbuhan ekonomi, studi yang dilakukan oleh trucost memperkirakan bahwa biaya lingkungan yang timbul dari aktivitas manusia mencapai $ 6600 trilyun atau sekitar 11% dari global GDP tahun 2008 dan diperikirakan mencapai  $28,000 trilyun tahun 2050. Angka ini menunjukkan bahwa ongkos lingkungan hidup cukup besar. Dan angka fantastis ini nampaknya sudah mewujud secara nyata di China, negara yang pertumbuhan ekonominya fantastis namun tidak dibarengi dengan perlindungan lingkungan hidup.

Jing Zengmin seorang pengusaha kacamata dari Zhejiang di sebelah timur China menantang Kepala Departemen Lingkungan Hidup setempat untuk berenang di sungai  terpolusi selama 20 menit dan akan memberikan $32,000 apabila dia berani melakukannya. Tidak mengejutkan ketika yang ditantang kemudian tidak berani melakukannya. Latar belakang Jin menantang Kepala Dept LH karena adik Jin meninggal akibat kanker paru-paru pada usia 35 tahun. Jin menuding polusi di sungai sebagai penyebab kanker yang sekarang menyasar usia lebih muda. Jin mempertanyakan makna pertumbuhan ekonomi apabila orang China meninggal karena kanker akibat polusi.

China sedang mengalami permasalahan lingkungan yang sulit, pertumbuhan ekonomi yang gemilang selama tiga dekade terakhir tanpa perlindungan lingkungan hidup yang serius menimbulkan konsekuensi lingkungan yang berat. Pada bulan Januari 2013, uji emisi udara yang dilakukan oleh kedutaan AS di Beijing menunjukkan kadar debu halus berukuran 2.5 mikrometer (PM2.5) yang berpotensi masuk ke dalam sistem pernapasan manusia mencapai 886 mikrogram/m3, jauh dari standar WHO yaitu 25 mikrogram/m3. Pemerintah Kota Beijing terpaksa membatasi anak-anak dan orang tua untuk keluar rumah karena kondisi ini.

Saya kira pertentangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup sudah tidak relevan lagi. Yang tepat, kita  tidak mampu tumbuh secara berkelanjutan apabila tidak melakukan perlindungan lingkungan. UU 32/2009 merupakan suatu instrumen untuk memastikan Indonesia memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s