Monthly Archives: Juli 2013

Prayer

Ya Allah, Jika Engkau belum mengabulkan doaku, berikanlah kekuatan & kebesaran hati untuk dapat menerima. Apabila Engkau mengabulkan doaku, anugerahkanlah kerendahan hati dalam menjalaninya.

Amin.

Iklan

Insignifikan

Saya ingat ketika kuliah evolusi dulu, dosen yang juga seorang profesor  terkenal itu memberi kami tugas untuk membuat waktu geologi bumi dari gulungan kertas kasir panjang. Beliau memberikan semacam milestone dengan skalanya tentang kondisi geologis bumi dan keberadaan dari sel hingga hominid (primata). Saya awalnya tidak paham dengan maksud beliau memberikan tugas ngukur dan nandain gulungan kertas tersebut.

Namun setelah mengukur, menandai dengan spidol warna warni dan merentangkan kertas kasir yang super panjang itu, saya melihat dari usia Ibu Bumi yang diperkirakan mencapai 4550 juta tahun itu, makhluk multiseluler baru muncul  sekitar 700 juta tahun lalu. Sementara, peradaban manusia muncul sekitar 2 juta tahun lalu. Jika kita membuat skala 1 meter =1000 juta tahun. Maka peradaban manusia baru dimulai 2 mm sebelum kertas gulungan berakhir.

Dosen saya nampaknya mau menunjukkan bahwa evolusi adalah proses yang panjang, dan keberadaan manusia di bumi ini baru beberapa saat lalu. Hal itupun tidak terjadi sekonyong-konyong, namun diawali dengan adanya makhluk bersel tunggal, bersel jamak, hewan, tumbuhan dan mamalia.  Tapi saya bukan mau membahas tentang teori evolusi di sini.

Saya ingin memberikan perspektif bahwa dibandingkan dengan usia “ibu bumi”, keberadaan manusia insignifikan. Saya ingat dalam satu bab di novel The God of Small Things karya Arundhati Roy, ketika Chacko, paman si kembar Estha dan Rahel menceritakan tentang kisah Ibu Bumi yang berusia empat puluh enam tahun. Ibu bumi telah memberikan seluruh hidupnya untuk bumi. Di usianya sebelas tahun, muncul organisme bersel tunggal, hewan pertama seperti cacing dan ubur-ubur baru muncul ketika ibu bumi berusia 40 tahun. Delapan bulan lalu, dinosaurus baru menjelajah dunia. Sedangkan peradaban manusia baru muncul dua jam lalu. Dan kita? keberadaan kita tidak lebih dari sekerdipan mata Ibu Bumi.

Tidak usahlah  terlampau cemas, sombong, atau membanggakan diri sendiri. Ingatlah bahwa siapa pun dan apa pun jadinya kita di masa mendatang, hanyalah sekerdipan mata ibu bumi.

How Not To Be a Jerk

Tak ada yang lebih menyebalkan dari kegagalan. Ketika kita sudah berusaha maksimal, sudah mengeluarkan semua upaya namun kita harus terbentur pada kenyataan kalau kita gagal.

Bukan, tulisan saya sini tidak akan jadi ajang curhat tentang kegagalan-kegagalan saya selama ini. Tidak saya tidak akan mengeluh bahwa saya tidak atau belum mencapai tujuan saya. Saya hanya ingin share insight yang saya dapat dari beberapa kegagalan saya.

Satu hal yang saya sadari, kegagalan demi kegagalan agaknya membuat saya rendah hati. Tapi rendah hati adalah kata yang terlalu mulia untuk saya, mungkin yang tepat adalah saya belajar how not to be a jerk. Saya punya bakat belagu luar biasa,  a jerk. Dengan gagal,  saya belajar berempati, bahwa disekeliling saya orang-orang juga sedang bejuang meraih apa yang dicitakan. Jika mereka belum mendapatkan apa yg diupayakan, bukan berarti mereka gagal, dan saya bersama mereka. Yang harus dilihat dari seseorang bukan masa lalu atau keadaan sekarang, tapi ke mana mereka menuju.

Baru-baru ini saya membaca The Fault in Our Stars karya John Green yang heartbreaking itu. Saya harus malu pada Hazel Grace Lancaster, gadis 17 tahun penderita kanker paru-paru yang mengharuskannya menyeret tabung oksigen kemana-mana karena paru-parunya kepayahan mensuplai oksigen. Augustus Waters, penderita osteosarcoma, mantan atlet karismatik yang ternyata bisa rapuh dalam menghadapi penyakitnya,  Isaac seorang yang percaya cinta sejati, penderita kanker mata yang pada akhirnya menyebabkan dia kehilangan  mata dan cintanya.

The Fault in Our Stars, bukan buku kanker yang pretensius, yang padanya kita menemukan penderita kanker yang menginspirasi kita. Buku in memberi makna lain tentang kematian. Hazel, August dan Isaac tidak mencoba memberi makna ketika kematian sudah dekat. Mereka justru jujur dalam menghadapi kanker. Kanker, katanya adalah konsekuensi dari proses evolusi, dan penderita kanker adalah orang-orang yang tidak beruntung karena harus menempuh jalur yang tidak enak.

Alih-alih manja dan mencoba mencari perhatian dari seluruh dunia, mereka hidup saja layaknya remaja; nonton, belajar,  membaca, bercinta, main game, dan sesedikit mungkin kuatir, toh pada akhirnya mereka akan mati.

Sayapun harusnya gak lebay dan kuatir berlebihan. Lagian hidup harus terus berjalan 🙂