How Not To Be a Jerk

Tak ada yang lebih menyebalkan dari kegagalan. Ketika kita sudah berusaha maksimal, sudah mengeluarkan semua upaya namun kita harus terbentur pada kenyataan kalau kita gagal.

Bukan, tulisan saya sini tidak akan jadi ajang curhat tentang kegagalan-kegagalan saya selama ini. Tidak saya tidak akan mengeluh bahwa saya tidak atau belum mencapai tujuan saya. Saya hanya ingin share insight yang saya dapat dari beberapa kegagalan saya.

Satu hal yang saya sadari, kegagalan demi kegagalan agaknya membuat saya rendah hati. Tapi rendah hati adalah kata yang terlalu mulia untuk saya, mungkin yang tepat adalah saya belajar how not to be a jerk. Saya punya bakat belagu luar biasa,  a jerk. Dengan gagal,  saya belajar berempati, bahwa disekeliling saya orang-orang juga sedang bejuang meraih apa yang dicitakan. Jika mereka belum mendapatkan apa yg diupayakan, bukan berarti mereka gagal, dan saya bersama mereka. Yang harus dilihat dari seseorang bukan masa lalu atau keadaan sekarang, tapi ke mana mereka menuju.

Baru-baru ini saya membaca The Fault in Our Stars karya John Green yang heartbreaking itu. Saya harus malu pada Hazel Grace Lancaster, gadis 17 tahun penderita kanker paru-paru yang mengharuskannya menyeret tabung oksigen kemana-mana karena paru-parunya kepayahan mensuplai oksigen. Augustus Waters, penderita osteosarcoma, mantan atlet karismatik yang ternyata bisa rapuh dalam menghadapi penyakitnya,  Isaac seorang yang percaya cinta sejati, penderita kanker mata yang pada akhirnya menyebabkan dia kehilangan  mata dan cintanya.

The Fault in Our Stars, bukan buku kanker yang pretensius, yang padanya kita menemukan penderita kanker yang menginspirasi kita. Buku in memberi makna lain tentang kematian. Hazel, August dan Isaac tidak mencoba memberi makna ketika kematian sudah dekat. Mereka justru jujur dalam menghadapi kanker. Kanker, katanya adalah konsekuensi dari proses evolusi, dan penderita kanker adalah orang-orang yang tidak beruntung karena harus menempuh jalur yang tidak enak.

Alih-alih manja dan mencoba mencari perhatian dari seluruh dunia, mereka hidup saja layaknya remaja; nonton, belajar,  membaca, bercinta, main game, dan sesedikit mungkin kuatir, toh pada akhirnya mereka akan mati.

Sayapun harusnya gak lebay dan kuatir berlebihan. Lagian hidup harus terus berjalan 🙂

Iklan

One response to “How Not To Be a Jerk

  1. Suka dengan tulisannya. Jadi belajar menyikapi kegagalan dengan cara yang agak berbeda: biasa aja, gak lebay, dan gak khawatir berlebihan. Semoga prakteknya mudah dijalankan.

    Semoga bisa melihat kegagalan bukan sebagai suatu kegagalan, tapi bisa jadi jalan lain yang mungkin lebih baik untuk kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s