Insignifikan

Saya ingat ketika kuliah evolusi dulu, dosen yang juga seorang profesor  terkenal itu memberi kami tugas untuk membuat waktu geologi bumi dari gulungan kertas kasir panjang. Beliau memberikan semacam milestone dengan skalanya tentang kondisi geologis bumi dan keberadaan dari sel hingga hominid (primata). Saya awalnya tidak paham dengan maksud beliau memberikan tugas ngukur dan nandain gulungan kertas tersebut.

Namun setelah mengukur, menandai dengan spidol warna warni dan merentangkan kertas kasir yang super panjang itu, saya melihat dari usia Ibu Bumi yang diperkirakan mencapai 4550 juta tahun itu, makhluk multiseluler baru muncul  sekitar 700 juta tahun lalu. Sementara, peradaban manusia muncul sekitar 2 juta tahun lalu. Jika kita membuat skala 1 meter =1000 juta tahun. Maka peradaban manusia baru dimulai 2 mm sebelum kertas gulungan berakhir.

Dosen saya nampaknya mau menunjukkan bahwa evolusi adalah proses yang panjang, dan keberadaan manusia di bumi ini baru beberapa saat lalu. Hal itupun tidak terjadi sekonyong-konyong, namun diawali dengan adanya makhluk bersel tunggal, bersel jamak, hewan, tumbuhan dan mamalia.  Tapi saya bukan mau membahas tentang teori evolusi di sini.

Saya ingin memberikan perspektif bahwa dibandingkan dengan usia “ibu bumi”, keberadaan manusia insignifikan. Saya ingat dalam satu bab di novel The God of Small Things karya Arundhati Roy, ketika Chacko, paman si kembar Estha dan Rahel menceritakan tentang kisah Ibu Bumi yang berusia empat puluh enam tahun. Ibu bumi telah memberikan seluruh hidupnya untuk bumi. Di usianya sebelas tahun, muncul organisme bersel tunggal, hewan pertama seperti cacing dan ubur-ubur baru muncul ketika ibu bumi berusia 40 tahun. Delapan bulan lalu, dinosaurus baru menjelajah dunia. Sedangkan peradaban manusia baru muncul dua jam lalu. Dan kita? keberadaan kita tidak lebih dari sekerdipan mata Ibu Bumi.

Tidak usahlah  terlampau cemas, sombong, atau membanggakan diri sendiri. Ingatlah bahwa siapa pun dan apa pun jadinya kita di masa mendatang, hanyalah sekerdipan mata ibu bumi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s