Monthly Archives: September 2013

Kampung

Oleh: Subagio Sastrowardoyo

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemanten.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan
agama
seperti soal-soal yang dikuasai.
Di mana setiap tukang jamu disambut dengan
hangat
dengan perhatian dan tawanya.

di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya

Kalau aku pergi di luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.

Iklan

In Defense Of Rahwana

Tuhan, Jika Cintaku pada Shinta terlarang? mengapa Kau bangun perasaan megah ini di dalam sukmaku? – Rahwana

Petikan tersebut saya ambil dari  pertunjukan teater plus musik plus wayang Maha Cinta Rahwana karya Sujiwo Tejo. Pertunjukan ini adalah tafsir lain dari Sujiwo Tejo tentang cerita Ramayana. Rahwana,  Raksasa dari Alengka yang biasanya merupakan tokoh antagonis dalam cerita Ramayana menjadi fokus jadi cerita ini, terutama tentang cintanya yang agung terhadap Sinta.

Rahwana menculik Sinta dari Rama di Hutan Dandaka ketika Rama sedang menjalankan dharmanya untuk melindungi pertapa. Namun, bukankah Rama sedang menjalani pengasingan di Hutan Dandaka? Perang antara pertapa dengan kaum raksasa seharusnya bukan merupakan perang Rama? mengapa Rama harus ikut campur walaupun Sinta sebetulnya sudah keberatan dengan ikut campurnya Rama?

Rahwana menculik Sinta selama 12 tahun (versi S. Pendit 12 bulan). Rahwana membuatkan Sinta taman yang indah. Selama 12 tahun itupun Rahwana memperlakukan Sinta dengan amat baik; tidak pernah menyentuh Sinta, selalu berkata-kata lembut dan menyiraminya dengan rayuan manis. Rahwana tidak ingin memaksakan cintanya, ia ingin menyentuh Sinta jika benar-benar jatuh cinta pada Rahwana. Sampai akhirnya ketika dia harus kehilangan saudara dan anaknya karena serangan Rama dan balatentara kera, dia bertanggung jawab kepada cintanya yang teguh dengan mempertahankan Sinta sampai ajal menjemput.

Rama, putra mahkota kerajaan Ayodya, mendapatkan Sinta lewat sayembara yang sebetulnya tidak dia inginkan. Namun karena kesaktiannnya, dia berhasil mematahkan busur dan mendapatkan Sinta. Selama hidup di pengasingan Rama sering meninggalkan Sinta untuk ikut campur dalam perang antara pertapa dengan raksasa, perang yang sebetulnya bukan perang Rama. Ketika berhasil merebut Sinta dengan bantuan bala tentara monyet pimpinan Hanoman dan Sugriwa (tidak ada satupun tentara Ayodya) Rama membiarkan Sinta lompat ke dalam api untuk membuktikan kesetiannya. Setelah itupun, Sinta malah diusir ke hutan saat hamil tua karena Rama masih tetap tidak percaya kepada Sinta.

Rahwana, yang walaupun memiliki istri yang banyak dan semuanya cantik, tidak dapat menahan perasaan cintanya yang besar terhadap Sinta. Itulah yang mendorongnya untuk bertahan selama 12 tahun tidak menyentuh Sinta. Cinta Rahwana sangat agung terhadap Sinta. Sedangkan Sinta cinta setengah mati kepada Rama, diminta lompat ke api saja mau, diusir ke hutan saat hamil tua Sintapun menurut.

Cinta yang tidak simetris memang pahit. Bagi anda yang belum pernah merasakan cinta yang tidak simetris, tidak akan paham mengapa ini begitu pahit dan menyakitkan. Namun bagi anda yang pernah mengalami cinta yang tidak simetris, anda akan empati terhadap Rahwana dan segeralah tumpah air mata oleh luka yang kembali terbuka. Seperti sahabat saya itu. Dia menitikan air mata dalam diam dan gelap ketika Glenn Fredly dengan syahdunya menyanyikan Maha Cinta Rahwana.

Hal inilah yang saya suka dari Epik Hindu. Baik Mahabharata dan Ramayana tidak memandang segala sesuatunya dengan hitam putih. Rama yang menjadi simbol kebaikan ternyata seorang yang picik dan dangkal. Sedangkan Rahwana yang menjadi simbol kejahatan ternyata seorang yang dicintai rakyatnya, dan mampu mencintai secara utuh penuh.

Sebelum saya menutup tulisan ini, izinkanlah saya mengambil kutipan dari pertunjukan itu,

Menikah itu soal takdir. Cinta itu martabat. Kita tahu, mana yang harus diperjuangkan, -Maha Cinta Rahwana-

Rahwana mungkin bersalah secara etika ketika dia menculik Sinta yang sudah bersuamikan Rama. Namun, siapa yang bisa menyalahkan perasaan?