Turis VS Traveler

Menjamurnya  Low Cost Carrier mengubah wajah traveling.  Jika pada tahun 90an hanya orang-orang kelas atas saja yang mampu liburan ke luar negeri, sekarang kelas menengah Indonesia pun bisa melanglang buana ke Eropa.

Hal yang positif  karena dunia pariwisata mampu menggerakan ekonomi. Indonesia contohnya, menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2012, rata-rata pengeluaran wisatawan asing per kunjungannya mencapai $ 1.133 dengan jumlah kedatangan 8,044,462, fantastis bukan?

Namun sebagaimana kebiasaan warga kelas menengah, kita gemar membuat perbandingan yang agak absurd. Akhir-akhir ini ramai dibanding-bandingkan antara turis dan traveler. Dikatakan kalau predikat traveler memiliki makna lebih “dalam” daripada predikat turis karena seorang traveler  dengan backpacknya membenamkan diri pada budaya dan warga lokal, berpikiran tebuka, menghargai norma-norma setempat. Sedangkan turis dengan kopernya cenderung memisahkan diri dari budaya lokal, tidak menghargai norma-norma setempat dan senang berbelanja di toko suvenir.

Saya  bukan traveler hard core seperti Marco Polo atau pasangan Tony & Maureen Wheeler, pendiri Lonely Planet. Saya juga tidak menjadikan traveling sebagai profesi (walaupun ingin). Namun saya mengerti bahwa traveling sangat personal dan amat tergantung pada keadaan seseorang. Saya tidak pernah memaksakan diri jadi backpacker dan bawa carrier segede gaban jika saya memang mau hura-hura. Saya juga tidak memaksakan diri hura-hura jika  saya tidak ada uang.

Kalau mengikuti kategori turis dan travel, saya pernah menjadi turis sejati, yaitu ketika saya pergi ke Hongkong lepas dinas dari Taipei, untuk  wisata belanja dan mampir ke tempat “must-see” seperti Ngong Ping.  

Saya juga pernah jadi traveler dengan backpack ke desa Ciptagelar di Kaki Gunung Halimun untuk melihat acara Seren Taun. Sambil bawa carrier gede, saya naik turun angkot dan bus ke Gunung Halimun, kemudian dengan arogannya (maklum masih muda) menolak naik angkutan yang disediakan untuk menuju Ciptagelar dari Kaki Halimun, padahal hanya bayar Rp. 10,000. Tapi  setelah 10 km berjalan  dan hari sudah gelap saya menyerah karena capek , akhirnya saya naik juga angkutan tersebut. 

Waktu jalan-jalan ke  Jepang saya juga backpacking,  maksudnya bawa carrier besar. Walaupun bawa carrier tapi saya nginap di hotel berbintang, dan makan di restoran mahal. Pakai backpack tidak lantas membuat saya tidur di Hostel, mempelajari Sinto, dan menyepi di Gunung Fuji. Backpack memudahkan saya naik turun kereta dan bus. 

Pointnya adalah, gaya traveling  sangat tergantung pada keadaan. Waktu saya SMA dan kuliah dulu, saya senang dan mampu jalan-jalan super hemat. Tidur di musholla, makan nasi kering, gak mandi berhari-hari tidak masalah karena saya tidak punya uang, dan saya punya banyak waktu. Namun sekarang ketika punya uang, saya sudah malas tidur di musholla. Ngapain tidur di musholla padahal punya uang untuk tidur di penginapan? kikir namanya. Lagian sekarang saya tidak punya privilese seperti masa lalu, ketika waktu bukan perkara penting. Sekarang, cuti terbatas, tidak bisa seenaknya.

Bawa koper juga tidak membuat kita harus menginap di hotel dan Bawa backpack tidak lantas membuat  kita nginep di Hostel. Walaupun nampak keren tidur di Hostel,  perlu anda tau, bule-bule yang nginep di hostel itu kebanyakan berasal dari negara dunia pertama yang upah minimumnya pun bisa lebih tinggi dari gaji seorang engineer Indonesia. Mereka punya banyak waktu & uang untuk liburan lama makanya mereka memilih hostel. Kalau kita, sudah cuti cuma tiga hari, maksain nginepnya di Hostel, bergabung sama bule-bule yang nginepnya lama itu. Hemat sih, tapi janganlah terlampau kikir.

Setiap orang juga berhak memilih gaya perjalanannya sendiri. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah sikap terbuka dan menghargai budaya setempat. Menghargai budaya setempat tidak lantas kita harus melakukan apa yang mereka lakukan, namun bagaimana kita menyadari bahwa budaya tersebut adalah bentukan dari interaksi sosial dan interaksi alam selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Dan dengan itu kitapun dapat melihat, bahwa kita bukanlah pusat dari dunia seperti selama ini kita rasakan, banyak sekali budaya yang berbeda dan unik.

Dan itulah yang penting dari perjalanan. Entah bagaiman caranya, dengan jadi turis atau traveler.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s