Monthly Archives: Desember 2013

2013

Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan di malam tahun baru ini. Tahun lalu, saya bertahun baru sama pacar di Sapporo sambil makan Nabe dan menikmati keriuhan bersama orang-orang Jepang yang mabuk. Tapi tahun ini saya sendirian saja, jadi saya akan menulis review tahun 2013 dan ekspektasi saya terhadap tahun 2014.

Secara umum tahun 2013 menuntut saya menjadi orang yang sabar dan belajar bahwa apa yang telah saya usahakan maksimal belum tentu meraih hasil yang baik pula. Manusia hanya bisa berusaha, hasilnya Allah yang menentukan.

Tahun 2013 saya daftar dua beasiswa kuliah S2 yaitu Chevening & USAID. Saya menumpahkan banyak waktu dan energi saya untuk mengisi form aplikasinya yang ribet itu. Bahkan setelah selesai, saya minta review kepada teman saya yang telah mendapat beasiswa tersebut. Saya juga harus mengemis-ngemis minta rekomendasi kepada bos saya dan dosen yang sepertinya sudah lupa sama saya. Hasilnya, walaupun saya diterima di beberapa Universitas di Inggris, saya gagal mendapat beasiswa. Saya sampai membohongi diri saya sendiri dan juga admission team Universitas-universitas tersebut dengan menunda admission prosesnya ke tahun 2014 seolah-olah saya bisa dapat beasiswa atau bisa bayar sendiri pada tahun itu. Sekarang tiap dapat email dari Inggris, sedih sekali rasanya.

Anyway, tidak seluruhnya tahun 2013 gelap, di sisi pekerjaan saya senang sekali karena termasuk dalam tim yang berhasil meraih target korporat, bahkan lebih dari target karena kami meraih tiga penghargaan antara lain; PROPER hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup, Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian, dan peringkat II Penghargaan Efisiensi Energi Nasional kategori manajemen energi dari Kementerian ESDM.

Walaupun tidak direncanakan sebelumnya, saya akhirnya diving juga ke Raja Ampat. Petualangan yang seru karena saya diving sendirian dan bergabung dengan grup lain dalam satu kapal Grand Komodo. Walaupun pada kenyataannya buddy saya tidak seseru yang saya bayangkan, bahkan sempat ada konflik, namun pada akhirnya keindahan bawah air Raja Ampatlah yang membuat trip itu sempurna.

Saya juga berhasil mencapai target menulis blog sebanyak 24 tulisan pada tahun ini. Apabila tulisan ini selesai, berarti 25 tulisan tercapai tahun 2013. Semoga tulisan-tulisan saya bisa menjadi warisan berharga untuk orang-orang terdekat saya.

Dari segi kesehatan, saya juga berhasil mempertahankan hasil Medical Check Up   yang tidak melebihi ambang batas. Kecuali asam urat yang sedikit di atas range, semuanya dalam toleransi. Berat badan saya juga masih berada pada kisaran 85 kg walaupun target olahraga dua minggu sekali sering tidak dilakukan.

Target ambisius ke Perancis atau Maroko tidak berhasil dilaksanakan karena saya kekurangan cuti dan juga kekurangan uang. Saya terlalu fokus pada urusan sekolah sehingga saya sedikit mengabaikan rencana traveling saya. Tahun 2014 pun rasanya berat untuk bisa traveling ke Eropa karena tahun 2014 akan menjadi tahun yang besar yang membutuhkan banyak energi dan biaya.

Sampai akhir tahun 2013 saya belum punya bisnis riil. Rencana bikin sekolah sama sahabat saya terpaksa ditunda karena ternyata buat sekolah gak semudah itu. Membuka sekolah juga butuh biaya dan effort yang besar, terlebih lagi si gendut dan saya masih sibuk dengan urusan masing-masing, si gendut dengan percintaan yang tragis dan saya dengan beasiswa yang gagal. Namun, ternyata si gendut tidak cepat terpuruk. Dia bisa mengambil inisiatif untuk membuat perusahaan jasa pelatihan yang rencananya akan dieksekusi tahun 2014 dan sata diajak!

Tahun 2013 kemarin saya akhirnya belajar bahasa perancis lagi bersama rekan saya di Bontang. Walaupun sampai sekarang saya masih belepotan ngomong, dan kalau diadu sama ponakan yang masih 6 tahun itu pasti kalah.

Ekspektasi Tahun 2014

Tahun 2014 akan menjadi tahun yang besar bagi saya. Bagaimana tidak, saya akhirnya akan settle down. Agak ngeri membayangkannya. Mungkin karena saya sudah terlalu lama bujang yang hidupnya berlangsung antara buritan dan kemudi kalau kata Chairil Anwar. Saya paham bahwa menikah, terutama di Indonesia bukan hanya urusan pengantin saja tapi dua keluarga. So I won’t have the privilege singles have, seperti hidup boros dan jadi flaneur  yang gemar keluyuran. Saya harus berbagi dan mencoba mengerti pasangan saya. Tahun 2014 akan menjadi tahun transisi saya dari bujangan ke pria berkeluarga. Oleh karena itu ekspektasi saya tidak akan seegois tahun sebelumnya.

Bisnis: Saya akan mengerahkan energi, waktu dan biaya untuk membangun dan membesarkan perusahaan yang sudah direncanakan oleh si gendut. Target pribadi saya, perusahaan ini harus sudah bisa berjalan dengan modal awal yang kami miliki walaupun belum untung.

Diving: Tahun depan saya akan meracuni pasangan saya itu untuk belajar diving.  Mungkin pada akhir tahun, karena pada tahun 2014 saya akan dapat cuti besar selama 75 hari!

Blog: Saya membuat target menulis 30 tulisan pada tahun 2014 tentang apapun. Saya juga akan berusaha jujur dalam menulis, sesuatu yang saya sadari sangat penting.

Kesehatan: Sama seperti tahun 2013, hasil medical check up tidak melebihi batas toleransi. Asam urat juga tidak boleh melebihi toleransi. Berat badan juga harus bisa mencapai 83 Kg dengan olahraga seminggu dua kali. Supaya nanti, walaupun setelah nikah, bisa tetap oke.

Bahasa: Saya akan fokus belajar bahasa perancis dengan target bisa ngobrol sama Zola, keponakan saya. Selama ini saya cuma ngomong perancis saat les saja, atau saat sms dengan rekan saya yang juga belajar bahasa perancis. Tahun 2014, saya harus lebih intens belajar.

Yah, kayaknya cukup ekspektasi saya di tahun 2014. Semoga saya bisa selamat melalui tahun 2014 yang merupakan tahun politik, tahun penuh ketidakpastian dan tahun yang menjadi milestone besar hidup saya.

Selamat tahun baru kawans, dan pada akhirnya saya akan mengutip Sapardi:

Yang fana adalah waktu. Kita abadi. 

Selamat tahun baru 2014.

Iklan

PROPER Hijau dan Kritik yang Tidak Pada Tempatnya

Tahun ini adalah tahun yang menggembirakan bagi Departemen saya. Awal Desember lalu kami mendapat kado manis penutup akhir tahun dengan diraihnya penghargaan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Awalnya kami pesismis bisa dapat PROPER hijau karena masih banyak hal, terutama dari sisi manajemen yang sangat kurang di bidang pengelolaan lingkungan. Namun dengan visi manajer, kekompakan dan kerja keras tim, perlahan-lahan kekosongan-kekosongan itu bisa dipenuhi dan kami bisa meraih PROPER hijau.

Tidak hanya itu, kami juga berhasil mendapatkan penghargaan level V (tertinggi) Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian, dan peringkat ke II Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2013 untuk kategori manajemen energi di Industri. Untuk yang terakhir sebetulnya bukan hanya Departemen kami saja yang terlibat, tapi  karena saya dan satu rekan terlibat di dalamnya, jadi bisalah dikatakan kami juga berkontribusi.

Nah, awal Desember lalu Manajer saya yang baru kembali dari dinas ke Jepang mengumpulkan kami semua. Dia kelihatan happy sekali, mungkin karena puja puji dari direksi dan rekan-rekan dari industri pupuk lain kepadanya. Dia sampai membawa kue black forest (kata teman saya ini bukan black forest tapi lapis surabaya yang dilumuri cokelat) yang bertulisan “Kue Untuk Para Juara Departemen LH”. Kami semua happy, karena PROPER hijau ini bukan hanya target Departemen, namun target korporat, bahkan Menteri BUMN mentitahkan seluruh Industri Pupuk di Indonesia harus mendapat PROPER Hijau. Kami happy mungkin karena merasa bagian dari satu tim yang telah bekerja keras membanggakan perusahaan.

Namun, seperti semua hal, ada saja orang yang tidak senang dengan diraihnya PROPER hijau ini. Memang benar perkataan orang bijak, apapun yang kita lakukan , baik ataupun buruk, pasti ada saja orang yang nyinyir. Tepat sehabis doa bersama, satu orang bersuara memprotes cara kerja kami yang tidak “efektif” dan “efisien” karena kami harus lembur berhari-hari dan kadang harus pulang lewat tengah malam bahkan sampai jam 04.00 pagi. Kita sebut saja orang ini si nyinyir. Yang lucu, si nyinyir sama sekali tidak ikut lembur dan tidak ikut pulang pagi. Dia memprotes hal yang tidak dia lakukan. Dia bilang dia kuatir dengan kebiasaan kerja seperti ini, “bukan sistem manajemen yang baik” katanya seraya dia menunjukan bahwa dia telah mencoba membuat suatu sistem yang “efektif” dan “efisien”. Sistem kerja yang dia maksud adalah melempar pekerjaan-pekerjaan di area abu-abu ke Departemen lain. Menurut dia Departemen kami adalah regulator, akan menjadi aneh kalau ada pekerjaan-pekerjaan teknis yang kami kerjakan. Dia menganggap kami terlalu banyak mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab kami.

Atmosfir ruang rapat itu jadi berat oleh perkataan-perkataannya. Kami semua diam bukan karena yang dikatakannya benar, namun  karena heran, kok bisa-bisanya di acara sukuran seperti ini ada orang yang malah merusak suasana dengan mengkritisi hal yang sebetulnya kami tahu  dan kami, yang betul-betul bekerja, sangat mengerti keadaannya. Kalau boleh dianalogikan, hal itu sama seperti anda datang ke acara sukuran pembangunan rumah teman dan bilang kalau teman anda gak bisa mendesain rumah dengan baik. Terlepas dari benar dan tidaknya hal itu, anda harusnya bisa menutup mulut dan berbahagia untuk pencapaiannya. Kalau ada kritikan kan bisa disampaikan ketika anda berdua saja dengan si pemilik rumah.

Untungnya manajer saya cukup bijak dan tidak terpancing dengan ucapannya. Dia bilang untuk meraih sesuatu yang sulit, kita harus bekerja keras dan tidak hitung-hitungan. Going the extra miles, istilahnya.  Dia juga bilang sistem kerja kita memang tidak baik, dia mencontohkan beberapa dari kami harus pulang sampai pagi. Hal itu harus dilakukan,  jika tidak dilakukan kita tidak akan bisa bekerja karena data yang dibutuhkan sangat banyak. Dia bilang sudah membagi-bagi tugas sesuai scope kerja ke Departemen lain. Namun yang terjadi, karena tidak mengerti dan tidak merasa memiliki,  terpaksa personil-personil LH yang harus mengejar-ngejar dan pada akhirnya kami jualah yang mengerjakan. Di masa depan supaya cara kerja ini tak terulang, dia akan mensosialisakan dan membuat form yang tinggal diisi oleh unit-unit kerja terkait.

Yang cukup mengagetkan, saya kenal betul manajer saya. Seorang pekerja keras yang emosional dan kadang terlalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Namun pagi itu dia tenang dan jernih menyampaikan argumennya. Dia juga tidak terpancing walau dipojokkan. Saya yang pada awal pengangkatannya tidak terlalu yakin dengan kemampuannya memimpin Departemen yang masih baru ini terkesima. Perubahan itu ternyata bisa terjadi dengan sangat cepat. Tempaan-tempaan dari berbagai masalah lingkungan, tekanan lembaga pemerintah, rong-rongan LSM-LSM ternyata cepat sekali membentuk jadi seorang yang tenang dan tangguh.

Ternyata menghadapi hal-hal sulit  mempu membentuk seseorang menjadi lebih baik asalkan orang tersebut betul-betul mau untuk berubah dan tentu going the extra miles. Klise sih memang, tapi saya melihat sendiri hal tersebut, Manajer saya yang pekerja keras yang memiliki kelamahan bisa cepat berubah dan menutup kelemahannya dibandingkan dengan si nyinyir yang kalau ketemu masalah langsung mundur atau menghindar. Manajer saya bisa menjadi lebih baik sedangkan si nyinyir sampai sekarang begitu-begitu saja.

Tips Diving Raja Ampat

Trip ke Raja Ampat mahal banget, kalau anda tidak benar-benar suka diving, anda akan berpikir ratusan kali sebelum pergi ke Raja Ampat. Saya memang suka sekali diving, walaupun tidak segitunya. Segitunya artinya mau menyerahkan hidup saya untuk diving. Contohnya seperti instruktur saya di Manado, Reynaldo Coral, sebelumnya dia adalah engineer IBM yang bekerja di Singapore. Entah apa yang ada di pikirannya tiba-tiba saja dia resign, menjadi instruktur diving dan menjadi resort manager di Manado yang saya kira pendapatannya tidak ada setengah dari pendapatannya di IBM.

Tidak hanya biaya yang harus disiapkan, anda juga harus nyaman diving dengan arus, seperti kalimat terkenal di Raja Ampat “No current no life“.  Pertunjukan spektakuler di Raja Ampat justru ketika arus kencang. Schooling runners yang tiba-tiba bubar karena dikejar tuna, manta yang dengan anggun berenang seperti terbang, dan patroli hiu disekitar terumbu karang, itu semua bisa dilihat apabila ada arus. Jadi untuk anda yang belum nyaman diving dengan arus sering-seringlah diving di daerah berarus sebelum datang ke Raja Ampat, karena seperti semua hal, kemampuan diving anda tumbuh dengan  pengalaman, tidak hanya membaca buku dan baca review di internet.

Jika anda sudah memutuskan untuk ke Raja Ampat, maka habis-habisanlah. Tentu habis-habisan anda harus diimbangi dengan kemampuan finansial dan ketersediaan waktu.  Raja Ampat merupakan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar;  Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang mencakup area seluas 40,000 km2. Saran saya lebih baik anda pakai Liveaboard daripada land-based. Atau lebih baik lagi jika menggabungkan keduanya, karena cakupan area yang luas dan karakter di tiap lokasi yang berbeda-beda. Daerah selatan, tengah dan utara memiliki karakternya sendiri-sendiri. Selatan didominasi oleh wall yang warnanya mengingatkan saya pada toko permen walaupun ikan pelagisnya tidak terlalu banyak. Daerah tengah didominasi oleh sea mount dengan banyak ikan pelagis walaupun warna-warninya tidak semenggetarkan daerah selatan. Saya belum pernah ke daerah utara, namun katanya di utara juga tipenya wall.

Warna Warni Misool

Waktu terbaik ke Raja Ampat antara bulan Oktober – Desember. Bulan Januari – April masih relatif baik walaupun sudah mulai berangin dan choppy. Tapi yang jelas jangan ke sana bulan Juni – September karena angin kencang dan hujan deras. Mungkin anda masih bisa diving apabila land-based, namun pasti diving anda tergganggu dengan hujan deras dan laut yang tidak tenang.

Oh iya,  jangan lupa ajak geng diving anda atau paling tidak buddy yang paling cocok. Jangan seperti saya kemarin, solo trip dan gabung dengan grupnya couples. Ada satu orang yang solo juga tapi belagunya minta ampun. Diving dengan geng ataupun hanya dengan couple ada plus minusnya. Diving dengan geng pasti rame banget dan berkesan. Rusuh, berantakan, dan banyak ketawa-ketawa, itu yang setidaknya saya alami saat di Komodo dan informasi dari Weka, dive leader saya di Raja Ampat. Diving dengan pasangan-pasangan yang sudah mapan lebih tenang dan nyaman. Restoran selalu bersih, para tamu yang lain tidak akan mencampuri urusan anda. Mau bareng geng, pasangan itu tergantung preferensi anda, tapi saran saya jangan pergi sendiri,hehehe.

Kecuali anda punya kemampuan finansial dan waktu yang tak terbatas, yang memungkinkan anda bolak-balik ke Raja Ampat.  15 hari sangat ideal untuk menjelajahi seluruh kepulauan Raja Ampat, apabila tidak punya cukup waktu dan biaya, 8 hari sudah cukup, tapi saran saya fokuslah di salah satu area; utara, selatan, atau tengah. Saya sendiri lebih senang ke selatan karena lebih beragam tipe lansekap bawah airnya serta warna warninya yang mengingatkan saya pada toko permen.

Akhir November sampai awal Desember kemarin  saya ke Raja Ampat selama 8 hari. Saya memakai operator Liveaboard Grand Komodo dengan Kapal Raja Ampat Explorer yang berkapasitas 14 divers. Raja Ampat Explorer merupakan kapal terbesar yang dimiliki oleh Grand Komodo. Dibandingkan dengan operator lain,  Grand Komodo lebih murah. Perbedaan harga antara Grand Komodo dengan Kapal Liveaboard lain saya lihat lebih karena fasilitas yang ada di Kapal. Kalau kemampuan dive guide saya rasa Grand Komodo tidak kalah atau bahkan lebih baik, karena dive leader di Grand Komodo seperti Weka dan Johnny berpengalaman mengeksplorasi Raja Ampat sejak tahun 1990an. Mereka mengetahui selak beluk Raja Ampat seperti mereka mengetahui garis tangan mereka sendiri.

Oceanic Manta Ray

Delapan hari trip ke Raja Ampat bersama Grand Komodo kami menghabiskan 3 hari di Selatan (Misool) dan 3 di tengah (Penemu dan Kri),  satu hari pertama digunakan untuk perjalanan dari Sorong ke Misool dan satu hari terakhir no dive karena keesokan harinya kami harus terbang. Saya sendiri lebih suka daerah selatan yang warna-warni dan tipe seascapenya lebih beragam dibandingkan daerah tengah. Namun daerah tengah tidak kalah seru dengan banyaknya atraksi ikan-ikan besar. Favorit saya di selatan (Misool) adalah Four Kings yang merupakan bukit bawah air yang memiliki empat puncak. Seru sekali berpindah-pindah dari satu puncak ke puncak lain, apalagi melihat terumbu karangnya yang warna warni. Selain itu yang istimewa di Misool adalah Batu Tengah. Belum pernah seumur hidup saya melihat begitu banyak ikan di satu lokasi. Bila dianalogikan mungkin sama seperti stasiun Shibuya di Jepang. Lokasi favorit saya di Raja Ampat tengah yaitu Kri karena ikan besarnya banyak dan slopenya ditutupi karang yang cantik.

Saya kira Raja Ampat adalah Mekahnya para penyelam. Anda harus ke Raja Ampat paling tidak satu kali dalam hidup untuk melihat betapa Tuhan maha pemurah  menciptakan laut yang kaya dan cantik untuk kita nikmati keindahannya. Dan sambil menyelam dalam keheningan yang menelusupi diri, kita menyadari bahwa diri kita ternyata hanya secuil dan pengetahuan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semesta yang luas ini.

Pentingnya Dive Buddy

Trip ke Raja Ampat akhir November kemarin menyadarkan saya betapa pentingnya seorang trip buddy. Saya sudah punya pengalaman trip solo ke Manado dan Lembeh tahun 2011. Trip yang menyenangkan karena saya bisa ketemu teman sesama soloist dan bahkan sampai sekarang masih berhubungan dengan mereka. Memang kita tidak boleh dan tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu pengalaman saja. Perjalanan suci saya ke Raja Ampat kemarin ternodai oleh ulah buddy saya yang sombong dan menyebalkan.

Raja Ampat adalah Mekahnya penyelam. Perjalanan ke Raja Ampat adalah perjalanan suci, oleh karenanya semua harus dipersiapkan dengan baik. Fisik harus prima, pikiran harus terbuka, energi negatif harus dibuang jauh-jauh.

Walaupun jiwa dan raga saya sudah ditempa untuk pergi ke Raja Ampat,  saya melupakan faktor eksternal, yaitu buddy. Selama di Raja Ampat saya dipasangkan dengan seorang pria paruh baya asal Amerika Serikat yang sudah tujuh tahun kerja di Australia. Awalnya saya berusaha ramah dan memperkenalkan diri saya kepada dia, tapi sejak awal bertemu, dia nampak cemberut dan tidak ramah sama sekali. Dan kelihatannya situasi semakin tidak menyenangkan buat dia ketika pembagian grup.

Di Kapal Raja Ampat Explorer milik Grand Komodo ada 10 tamu (termasuk saya),  yaitu pasangan dokter Amerika Pak Jose dan bu Peggy Duran asal Texas yang sudah berusia 67 tahun tapi masih diving! Saya suka sekali melihat kemesraan dan kekompakan mereka, apalagi ketika mereka sedang membahas hasil rekaman video mereka. Saya harap saya juga bisa seperti mereka, diving sampai tua. Yang kedua pasangan Phillip dan Lora Lockett asal Minnesota, yang sudah traveling keliling dunia. Saya iri sekali melihat foto-foto mereka keliling dunia. Lalu ada pasangan Joey Huang dan Janet Koh asal Taiwan yang bekerja di HTC. Kedua pasangan ini bertemu ketika sedang mengambil kursus selam, dan hanya dalam waktu 6 bulan Joey melamar Janet di Sipadan Malaysia. Saya senang sekali mendengar cerita romantis mereka. Kemudian pasangan Kenward dan Cora Li asal Hongkong. Cora dan Kenward awalnya nampak dingin dan sombong, tapi setelah ngobrol-ngobrol dan kenal lebih jauh, ternyata mereka berdua sangat ramah dan baik. Kenward sangat kreatif, dia memodifikasi beberapa alat diving. Bahkan di akhir perjalanan saya dikasih bola lampu LED hasil modifikasi Kenward untuk menggantikan lampu senter saya yang cupu. Kenward baik banget. Nah yang terakhir Buddy saya yang bermasalah Joseph Jasmine, dari Minnesota, Amerika Serikat. Dia sudah kerja 7 tahun di Australia. Dia mengaku sudah 26 tahun diving dan sudah diving di Hawaii, Australia, Bonaire, Guam dan beberapa tempat lainnya. Awalnya saya senang mendengar dia cerita tentang pengalamannya, tapi lama kelamaan kok dia seperti pamer, pretensius dan negatif.

Kami dibagi menjadi dua grup, Pasangan Duran dan lockett di grup satu bersama Weka, dive leader di trip ini. Sedangkan pasangan Taiwan, Hongkong, saya dan Joe di grup dua dipandu oleh Aran, anak Fakfak.  Saya awalnya tidak sadar, tapi Joe selalu cemberut ketika diving bersama dengan grup dua. Dia yang biasanya cerewet di meja makan jadi pendiam ketika diving bareng kami. Dia cuma mau sharing dengan sesama orang Amerika, dan tidak dengan kami (Orang Asia). Joey sudah menyadari hal itu sejak awal, saya tidak, mungkin karena saya lagi positif-positifnya, hehehe.

Ada  yang agak aneh, pengakuan dia yang sudah 26 tahun diving tidak terlihat di bawah air. Dia nampak tidak terlalu nyaman berada dalam air. Konsumsi udaranya pun tidak terlalu baik. Ketika kami semua masih punya 70 Bar dia sudah tinggal 500 psi atau sekitar 35 Bar. Bahkan ketika divingpun dia pakai snorkel, seperti saya waktu masih baru selesai sertifikasi Open Water.

Puncak kejadian yang paling menyebalkan adalah saat night dive. Ketika saya sedang meyenter lubang untuk mencari hewan-hewan tiba-tiba kaki saya ditarik. Saya langsung melihat ke siapa yang menarik. Ternyata di belakang saya ada Joe dan Pak Jose. Joe memberi gestur kepada saya untuk naik.  Ternyata saya tidak sadar fins saya menyentuh soft coral. Mungkin saya memang salah dan dia menegur saya. Tapi kenapa harus di depan Pak Jose?

Setelah selesai night dive tiba-tiba dia membuat drama di atas perahu dan membuat grup kami  seolah-olah reckless divers yang merusak terumbu karang. Saya bingung, Joey bingung, Kenward bingung, bahkan Aran pun bingung. Dia bilang kalau diving kami buruk sekali, dan dia gak mau lagi diving sama kami. Saya sudah kesal sekali dengan dia dan ingin saya balas kata-katanya. Namun karena saya akan berada satu kapal dengannya beberapa hari ke depan saya tahan diri dan berkata pada dia dengan dingin; kalo gak suka diving sama kami silahkan pindah. Setelah night dive Joe ngambek tidak mau makan malam.

Joey dan Janet mencoba menenangkan saya. Dia bilang memang sejak awal dia tidak ramah terhadap kita (orang asia). Sepertinya dia merasa lebih baik dari kita, dan ketika ditempatkan satu grup dengan kita, dia merasa terlalu baik berada satu grup dengan kami. Dia kelihatan mencari-cari kesalahan di grup dua supaya bisa pindah ke grup pertama, walaupun itu berarti menjelek-jelekan kami. Sangat menyebalkan. Saya setuju dengan analisis Joey. Saya, Joey, Kenward dan Cora akhirnya bersekongkol untuk tidak lagi bicara dengan Joe. Enak buat pasangan Taiwan dan Hongkong ini ketika makan malam mereka duduk satu meja dan berbicara dengan bahasa yang sama. Lah saya duduk berhadapan dengan Joe.

Setelah kejadian itu, Joe dipindahkan ke grup satu. Saya lebih banyak diam di meja makan. Saya tidak pernah lagi melibatkan diri dengan obrolan orang-orang Amerika. Setelah makan biasanya saya langsung keluar dan ngobrol-ngobrol dengan crew. Tapi sepertinya Joe juga tidak begitu cocok dengan pasangan Duran dan Lockett. Dia jarang diajak ngobrol dan akhirnya lebih sering membenamkan diri di kamar.

Sejak itu setiap diving saya selalu memperhatikan dia. Saya lihat beberapa kali Pasangan Duran dan pasangan locket menyentuh terumbu karang dan jelas-jelas duduk di atas encrusting coral saat ambil foto namun Joe bergeming dan tidak membuat drama seperti saat night dive kemarin.

Dia kena batunya di Cape Kri. Cape Kri terkenal dengan arusnya yang kencang. Kami semua excited karena seperti Weka bilang, no current no life. Means, ada arus berarti ikannya banyak. Dive plan kami adalah drift dive sampai melewati tanjung kri dan stay di sana melawan arus selama 20 menit. Weka menyarankan hook atau glove untuk pegangan. Saya perhatikan Joe yang paling panik, dia kerap menanyakan bagaimana jika tidak punya hook. Saya tersenyum dalam hati ingin lihat bagaimana dia mengatasi arus di Kri tanpa menyentuh karang. Akhirnya saat diving saya lihat dia pontang panting pegangan karang dan tentu saja merusak banyak karang. Saya semakin yakin kalau kepedulian Joe terhadap terumbu karang hanya omong kosong, dan pengalaman diving  26 tahun diving itu bullshit. Saya memperkirakan dia baru belajar nyelam awal tahun ini.

Joey lah yang pertama kali membuat saya sadar pentingnya buddy dengan melontarkan pertanyaan; do you know how much fun you get when you have your partner in this trip?   Mungkin dia kasihan sama saya yang tidak bisa share cerita pasca diving. Beruntung Joey & Janet serta Kenward dan Cori baik hati dan mau mendengarkan saya sehingga saya masih bisa share. Tapi Joey benar, sebagus apapun lokasi diving, tetap ada yang kurang kalau kita tidak bisa sharing cerita tentang bagusnya warna ikan, lucunya perilaku ikan, atau kebodohan-kebodohan yang dilakukan di bawah air.

Ah saya jadi kangen sama buddy diving saya yang lagi kuliah di Jogja. Ayo kapan kamu selesai kuliah, kita diving bareng lagi 🙂

Iqra ! Bacalah !

Einstein pernah bilang, ada dua hal yang tidak terbatas di dunia ini; alam semesta dan kebodohan manusia, ia tidak yakin dengan yang pertama.

Tanggal 5 Desember lalu, setelah menyelesaikan diving terakhir dari rangkaian trip saya selama delapan hari di Raja Ampat, kami menuju ke Pulau Mansuar untuk istirahat sebelum kembali ke Sorong. Di Pulau Mansuar, sinyal telepon genggam cukup kuat, dan akhirnya setelah hampir satu minggu mati suri, telepon genggam saya menyalak kembali oleh sms, notifikasi media sosial dan email. Saya segera membuka-buka twitter untuk mengetahui perkembangan berita yang sudah seminggu saya tinggalkan. Banyak berita terlewat, namun yang paling menyedihkan adalah kematian Nelson Mandela setelah berbulan-bulan menderita infeksi paru. Tapi hal yang paling menyedihkan bukan kematian Mandela, tapi posting teman saya tentang beberapa remaja Indonesia yang tidak tahu siapa Nelson Mandela, padahal sebelumnya para remaja itu menyatakan duka cita atas kematian Paul Walker, bintang Fast & Furious.

Saya sedih, kenapa tokoh yang  berjuang melawan diskriminasi warna kulit, yang merupakan pencapaian besar di abad 20 ini bisa luput dari ingatan anak-anak muda Indonesia. Ah andaikata yang tidak tahu adalah anak-anak dari kepulauan Raja Ampat, mungkin saya bisa memakluminya karena keterbatasan akses informasi dan kurangnya mutu pendidikan. Tapi yang tidak tahu adalah anak-anak pengguna Twitter yang tinggal di Kota besar, yang belajar sejarah dan menonton televisi, yang dengan ketikan jarinya di tuts komputer atau layar telepon genggam saja bisa mencari tau siapa itu Nelson Mandela.

Ada apa dengan anak-anak muda ini? mengapa begitu tidak peduli dengan sejarah? Apa di sekolah tidak ada pelajaran sejarah? Mungkin remaja ini tidak paham bahwa siapa tidak tahu sejarah akan dikutuk mengulang sejarah, kata Edmund Burke, filosof Irlandia. Untuk belajar sejarah diperlukan minat baca yang tinggi, karena ketika mempelajari sejarah, kita akan masuk dalam ke runutan cerita yang menggambarkan latar belakang suatu kejadian. Mungkin itulah masalahnya, Kita tidak memiliki budaya membaca yang mengakar, terutama di institusi pendidikan. Institusi pendidikan di Indonesia terlalu berorientasi kepada hasil dan tidak kepada proses. Akibatnya, pelajar lebih suka belajar dari soal-soal tahun lalu dibandingkan mengerti suatu konsep, akhirnya minat baca rendah dan pengetahuan umum dan sejarah lemah.

Mungkin karena lemahnya budaya membaca, kita tidak mampu berpikir dengan kritis, dan akibatnya kita mudah direcoki oleh dogma-dogma. Kita bisa melihat lemahnya orang Indonesia berpikir kritis. Coba perhatikan keriuhan dunia perpolitikan kita yang irasional. Atau kehidupan beragama kita yang simbolis & dogmatis,  belum lagi sinetron yang betapa jelas dibuat-buatnya seolah meledek intelektualitas orang Indonesia. Pantas saja kita terus menerus tersungkur ke jurang kebodohan yang dalam dan tak terbatas. Hasil penilaian kualitas pendidikan anak-anak Indonesia  (PISA & TiMMS) menunjukkan anak-anak Indonesia secara konsisten berada di peringkat terbawah.

Tak lama kemudian, seorang teman saya sharing foto hasil capture di Facebook, gambar Morgan Freeman yang beri komen RIP Nelson Mandela. Ya Allah, kebodohan memang tidak terbatas…