Iqra ! Bacalah !

Einstein pernah bilang, ada dua hal yang tidak terbatas di dunia ini; alam semesta dan kebodohan manusia, ia tidak yakin dengan yang pertama.

Tanggal 5 Desember lalu, setelah menyelesaikan diving terakhir dari rangkaian trip saya selama delapan hari di Raja Ampat, kami menuju ke Pulau Mansuar untuk istirahat sebelum kembali ke Sorong. Di Pulau Mansuar, sinyal telepon genggam cukup kuat, dan akhirnya setelah hampir satu minggu mati suri, telepon genggam saya menyalak kembali oleh sms, notifikasi media sosial dan email. Saya segera membuka-buka twitter untuk mengetahui perkembangan berita yang sudah seminggu saya tinggalkan. Banyak berita terlewat, namun yang paling menyedihkan adalah kematian Nelson Mandela setelah berbulan-bulan menderita infeksi paru. Tapi hal yang paling menyedihkan bukan kematian Mandela, tapi posting teman saya tentang beberapa remaja Indonesia yang tidak tahu siapa Nelson Mandela, padahal sebelumnya para remaja itu menyatakan duka cita atas kematian Paul Walker, bintang Fast & Furious.

Saya sedih, kenapa tokoh yang  berjuang melawan diskriminasi warna kulit, yang merupakan pencapaian besar di abad 20 ini bisa luput dari ingatan anak-anak muda Indonesia. Ah andaikata yang tidak tahu adalah anak-anak dari kepulauan Raja Ampat, mungkin saya bisa memakluminya karena keterbatasan akses informasi dan kurangnya mutu pendidikan. Tapi yang tidak tahu adalah anak-anak pengguna Twitter yang tinggal di Kota besar, yang belajar sejarah dan menonton televisi, yang dengan ketikan jarinya di tuts komputer atau layar telepon genggam saja bisa mencari tau siapa itu Nelson Mandela.

Ada apa dengan anak-anak muda ini? mengapa begitu tidak peduli dengan sejarah? Apa di sekolah tidak ada pelajaran sejarah? Mungkin remaja ini tidak paham bahwa siapa tidak tahu sejarah akan dikutuk mengulang sejarah, kata Edmund Burke, filosof Irlandia. Untuk belajar sejarah diperlukan minat baca yang tinggi, karena ketika mempelajari sejarah, kita akan masuk dalam ke runutan cerita yang menggambarkan latar belakang suatu kejadian. Mungkin itulah masalahnya, Kita tidak memiliki budaya membaca yang mengakar, terutama di institusi pendidikan. Institusi pendidikan di Indonesia terlalu berorientasi kepada hasil dan tidak kepada proses. Akibatnya, pelajar lebih suka belajar dari soal-soal tahun lalu dibandingkan mengerti suatu konsep, akhirnya minat baca rendah dan pengetahuan umum dan sejarah lemah.

Mungkin karena lemahnya budaya membaca, kita tidak mampu berpikir dengan kritis, dan akibatnya kita mudah direcoki oleh dogma-dogma. Kita bisa melihat lemahnya orang Indonesia berpikir kritis. Coba perhatikan keriuhan dunia perpolitikan kita yang irasional. Atau kehidupan beragama kita yang simbolis & dogmatis,  belum lagi sinetron yang betapa jelas dibuat-buatnya seolah meledek intelektualitas orang Indonesia. Pantas saja kita terus menerus tersungkur ke jurang kebodohan yang dalam dan tak terbatas. Hasil penilaian kualitas pendidikan anak-anak Indonesia  (PISA & TiMMS) menunjukkan anak-anak Indonesia secara konsisten berada di peringkat terbawah.

Tak lama kemudian, seorang teman saya sharing foto hasil capture di Facebook, gambar Morgan Freeman yang beri komen RIP Nelson Mandela. Ya Allah, kebodohan memang tidak terbatas…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s