Pentingnya Dive Buddy

Trip ke Raja Ampat akhir November kemarin menyadarkan saya betapa pentingnya seorang trip buddy. Saya sudah punya pengalaman trip solo ke Manado dan Lembeh tahun 2011. Trip yang menyenangkan karena saya bisa ketemu teman sesama soloist dan bahkan sampai sekarang masih berhubungan dengan mereka. Memang kita tidak boleh dan tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu pengalaman saja. Perjalanan suci saya ke Raja Ampat kemarin ternodai oleh ulah buddy saya yang sombong dan menyebalkan.

Raja Ampat adalah Mekahnya penyelam. Perjalanan ke Raja Ampat adalah perjalanan suci, oleh karenanya semua harus dipersiapkan dengan baik. Fisik harus prima, pikiran harus terbuka, energi negatif harus dibuang jauh-jauh.

Walaupun jiwa dan raga saya sudah ditempa untuk pergi ke Raja Ampat,  saya melupakan faktor eksternal, yaitu buddy. Selama di Raja Ampat saya dipasangkan dengan seorang pria paruh baya asal Amerika Serikat yang sudah tujuh tahun kerja di Australia. Awalnya saya berusaha ramah dan memperkenalkan diri saya kepada dia, tapi sejak awal bertemu, dia nampak cemberut dan tidak ramah sama sekali. Dan kelihatannya situasi semakin tidak menyenangkan buat dia ketika pembagian grup.

Di Kapal Raja Ampat Explorer milik Grand Komodo ada 10 tamu (termasuk saya),  yaitu pasangan dokter Amerika Pak Jose dan bu Peggy Duran asal Texas yang sudah berusia 67 tahun tapi masih diving! Saya suka sekali melihat kemesraan dan kekompakan mereka, apalagi ketika mereka sedang membahas hasil rekaman video mereka. Saya harap saya juga bisa seperti mereka, diving sampai tua. Yang kedua pasangan Phillip dan Lora Lockett asal Minnesota, yang sudah traveling keliling dunia. Saya iri sekali melihat foto-foto mereka keliling dunia. Lalu ada pasangan Joey Huang dan Janet Koh asal Taiwan yang bekerja di HTC. Kedua pasangan ini bertemu ketika sedang mengambil kursus selam, dan hanya dalam waktu 6 bulan Joey melamar Janet di Sipadan Malaysia. Saya senang sekali mendengar cerita romantis mereka. Kemudian pasangan Kenward dan Cora Li asal Hongkong. Cora dan Kenward awalnya nampak dingin dan sombong, tapi setelah ngobrol-ngobrol dan kenal lebih jauh, ternyata mereka berdua sangat ramah dan baik. Kenward sangat kreatif, dia memodifikasi beberapa alat diving. Bahkan di akhir perjalanan saya dikasih bola lampu LED hasil modifikasi Kenward untuk menggantikan lampu senter saya yang cupu. Kenward baik banget. Nah yang terakhir Buddy saya yang bermasalah Joseph Jasmine, dari Minnesota, Amerika Serikat. Dia sudah kerja 7 tahun di Australia. Dia mengaku sudah 26 tahun diving dan sudah diving di Hawaii, Australia, Bonaire, Guam dan beberapa tempat lainnya. Awalnya saya senang mendengar dia cerita tentang pengalamannya, tapi lama kelamaan kok dia seperti pamer, pretensius dan negatif.

Kami dibagi menjadi dua grup, Pasangan Duran dan lockett di grup satu bersama Weka, dive leader di trip ini. Sedangkan pasangan Taiwan, Hongkong, saya dan Joe di grup dua dipandu oleh Aran, anak Fakfak.  Saya awalnya tidak sadar, tapi Joe selalu cemberut ketika diving bersama dengan grup dua. Dia yang biasanya cerewet di meja makan jadi pendiam ketika diving bareng kami. Dia cuma mau sharing dengan sesama orang Amerika, dan tidak dengan kami (Orang Asia). Joey sudah menyadari hal itu sejak awal, saya tidak, mungkin karena saya lagi positif-positifnya, hehehe.

Ada  yang agak aneh, pengakuan dia yang sudah 26 tahun diving tidak terlihat di bawah air. Dia nampak tidak terlalu nyaman berada dalam air. Konsumsi udaranya pun tidak terlalu baik. Ketika kami semua masih punya 70 Bar dia sudah tinggal 500 psi atau sekitar 35 Bar. Bahkan ketika divingpun dia pakai snorkel, seperti saya waktu masih baru selesai sertifikasi Open Water.

Puncak kejadian yang paling menyebalkan adalah saat night dive. Ketika saya sedang meyenter lubang untuk mencari hewan-hewan tiba-tiba kaki saya ditarik. Saya langsung melihat ke siapa yang menarik. Ternyata di belakang saya ada Joe dan Pak Jose. Joe memberi gestur kepada saya untuk naik.  Ternyata saya tidak sadar fins saya menyentuh soft coral. Mungkin saya memang salah dan dia menegur saya. Tapi kenapa harus di depan Pak Jose?

Setelah selesai night dive tiba-tiba dia membuat drama di atas perahu dan membuat grup kami  seolah-olah reckless divers yang merusak terumbu karang. Saya bingung, Joey bingung, Kenward bingung, bahkan Aran pun bingung. Dia bilang kalau diving kami buruk sekali, dan dia gak mau lagi diving sama kami. Saya sudah kesal sekali dengan dia dan ingin saya balas kata-katanya. Namun karena saya akan berada satu kapal dengannya beberapa hari ke depan saya tahan diri dan berkata pada dia dengan dingin; kalo gak suka diving sama kami silahkan pindah. Setelah night dive Joe ngambek tidak mau makan malam.

Joey dan Janet mencoba menenangkan saya. Dia bilang memang sejak awal dia tidak ramah terhadap kita (orang asia). Sepertinya dia merasa lebih baik dari kita, dan ketika ditempatkan satu grup dengan kita, dia merasa terlalu baik berada satu grup dengan kami. Dia kelihatan mencari-cari kesalahan di grup dua supaya bisa pindah ke grup pertama, walaupun itu berarti menjelek-jelekan kami. Sangat menyebalkan. Saya setuju dengan analisis Joey. Saya, Joey, Kenward dan Cora akhirnya bersekongkol untuk tidak lagi bicara dengan Joe. Enak buat pasangan Taiwan dan Hongkong ini ketika makan malam mereka duduk satu meja dan berbicara dengan bahasa yang sama. Lah saya duduk berhadapan dengan Joe.

Setelah kejadian itu, Joe dipindahkan ke grup satu. Saya lebih banyak diam di meja makan. Saya tidak pernah lagi melibatkan diri dengan obrolan orang-orang Amerika. Setelah makan biasanya saya langsung keluar dan ngobrol-ngobrol dengan crew. Tapi sepertinya Joe juga tidak begitu cocok dengan pasangan Duran dan Lockett. Dia jarang diajak ngobrol dan akhirnya lebih sering membenamkan diri di kamar.

Sejak itu setiap diving saya selalu memperhatikan dia. Saya lihat beberapa kali Pasangan Duran dan pasangan locket menyentuh terumbu karang dan jelas-jelas duduk di atas encrusting coral saat ambil foto namun Joe bergeming dan tidak membuat drama seperti saat night dive kemarin.

Dia kena batunya di Cape Kri. Cape Kri terkenal dengan arusnya yang kencang. Kami semua excited karena seperti Weka bilang, no current no life. Means, ada arus berarti ikannya banyak. Dive plan kami adalah drift dive sampai melewati tanjung kri dan stay di sana melawan arus selama 20 menit. Weka menyarankan hook atau glove untuk pegangan. Saya perhatikan Joe yang paling panik, dia kerap menanyakan bagaimana jika tidak punya hook. Saya tersenyum dalam hati ingin lihat bagaimana dia mengatasi arus di Kri tanpa menyentuh karang. Akhirnya saat diving saya lihat dia pontang panting pegangan karang dan tentu saja merusak banyak karang. Saya semakin yakin kalau kepedulian Joe terhadap terumbu karang hanya omong kosong, dan pengalaman diving  26 tahun diving itu bullshit. Saya memperkirakan dia baru belajar nyelam awal tahun ini.

Joey lah yang pertama kali membuat saya sadar pentingnya buddy dengan melontarkan pertanyaan; do you know how much fun you get when you have your partner in this trip?   Mungkin dia kasihan sama saya yang tidak bisa share cerita pasca diving. Beruntung Joey & Janet serta Kenward dan Cori baik hati dan mau mendengarkan saya sehingga saya masih bisa share. Tapi Joey benar, sebagus apapun lokasi diving, tetap ada yang kurang kalau kita tidak bisa sharing cerita tentang bagusnya warna ikan, lucunya perilaku ikan, atau kebodohan-kebodohan yang dilakukan di bawah air.

Ah saya jadi kangen sama buddy diving saya yang lagi kuliah di Jogja. Ayo kapan kamu selesai kuliah, kita diving bareng lagi 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s