PROPER Hijau dan Kritik yang Tidak Pada Tempatnya

Tahun ini adalah tahun yang menggembirakan bagi Departemen saya. Awal Desember lalu kami mendapat kado manis penutup akhir tahun dengan diraihnya penghargaan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Awalnya kami pesismis bisa dapat PROPER hijau karena masih banyak hal, terutama dari sisi manajemen yang sangat kurang di bidang pengelolaan lingkungan. Namun dengan visi manajer, kekompakan dan kerja keras tim, perlahan-lahan kekosongan-kekosongan itu bisa dipenuhi dan kami bisa meraih PROPER hijau.

Tidak hanya itu, kami juga berhasil mendapatkan penghargaan level V (tertinggi) Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian, dan peringkat ke II Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2013 untuk kategori manajemen energi di Industri. Untuk yang terakhir sebetulnya bukan hanya Departemen kami saja yang terlibat, tapi  karena saya dan satu rekan terlibat di dalamnya, jadi bisalah dikatakan kami juga berkontribusi.

Nah, awal Desember lalu Manajer saya yang baru kembali dari dinas ke Jepang mengumpulkan kami semua. Dia kelihatan happy sekali, mungkin karena puja puji dari direksi dan rekan-rekan dari industri pupuk lain kepadanya. Dia sampai membawa kue black forest (kata teman saya ini bukan black forest tapi lapis surabaya yang dilumuri cokelat) yang bertulisan “Kue Untuk Para Juara Departemen LH”. Kami semua happy, karena PROPER hijau ini bukan hanya target Departemen, namun target korporat, bahkan Menteri BUMN mentitahkan seluruh Industri Pupuk di Indonesia harus mendapat PROPER Hijau. Kami happy mungkin karena merasa bagian dari satu tim yang telah bekerja keras membanggakan perusahaan.

Namun, seperti semua hal, ada saja orang yang tidak senang dengan diraihnya PROPER hijau ini. Memang benar perkataan orang bijak, apapun yang kita lakukan , baik ataupun buruk, pasti ada saja orang yang nyinyir. Tepat sehabis doa bersama, satu orang bersuara memprotes cara kerja kami yang tidak “efektif” dan “efisien” karena kami harus lembur berhari-hari dan kadang harus pulang lewat tengah malam bahkan sampai jam 04.00 pagi. Kita sebut saja orang ini si nyinyir. Yang lucu, si nyinyir sama sekali tidak ikut lembur dan tidak ikut pulang pagi. Dia memprotes hal yang tidak dia lakukan. Dia bilang dia kuatir dengan kebiasaan kerja seperti ini, “bukan sistem manajemen yang baik” katanya seraya dia menunjukan bahwa dia telah mencoba membuat suatu sistem yang “efektif” dan “efisien”. Sistem kerja yang dia maksud adalah melempar pekerjaan-pekerjaan di area abu-abu ke Departemen lain. Menurut dia Departemen kami adalah regulator, akan menjadi aneh kalau ada pekerjaan-pekerjaan teknis yang kami kerjakan. Dia menganggap kami terlalu banyak mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab kami.

Atmosfir ruang rapat itu jadi berat oleh perkataan-perkataannya. Kami semua diam bukan karena yang dikatakannya benar, namun  karena heran, kok bisa-bisanya di acara sukuran seperti ini ada orang yang malah merusak suasana dengan mengkritisi hal yang sebetulnya kami tahu  dan kami, yang betul-betul bekerja, sangat mengerti keadaannya. Kalau boleh dianalogikan, hal itu sama seperti anda datang ke acara sukuran pembangunan rumah teman dan bilang kalau teman anda gak bisa mendesain rumah dengan baik. Terlepas dari benar dan tidaknya hal itu, anda harusnya bisa menutup mulut dan berbahagia untuk pencapaiannya. Kalau ada kritikan kan bisa disampaikan ketika anda berdua saja dengan si pemilik rumah.

Untungnya manajer saya cukup bijak dan tidak terpancing dengan ucapannya. Dia bilang untuk meraih sesuatu yang sulit, kita harus bekerja keras dan tidak hitung-hitungan. Going the extra miles, istilahnya.  Dia juga bilang sistem kerja kita memang tidak baik, dia mencontohkan beberapa dari kami harus pulang sampai pagi. Hal itu harus dilakukan,  jika tidak dilakukan kita tidak akan bisa bekerja karena data yang dibutuhkan sangat banyak. Dia bilang sudah membagi-bagi tugas sesuai scope kerja ke Departemen lain. Namun yang terjadi, karena tidak mengerti dan tidak merasa memiliki,  terpaksa personil-personil LH yang harus mengejar-ngejar dan pada akhirnya kami jualah yang mengerjakan. Di masa depan supaya cara kerja ini tak terulang, dia akan mensosialisakan dan membuat form yang tinggal diisi oleh unit-unit kerja terkait.

Yang cukup mengagetkan, saya kenal betul manajer saya. Seorang pekerja keras yang emosional dan kadang terlalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Namun pagi itu dia tenang dan jernih menyampaikan argumennya. Dia juga tidak terpancing walau dipojokkan. Saya yang pada awal pengangkatannya tidak terlalu yakin dengan kemampuannya memimpin Departemen yang masih baru ini terkesima. Perubahan itu ternyata bisa terjadi dengan sangat cepat. Tempaan-tempaan dari berbagai masalah lingkungan, tekanan lembaga pemerintah, rong-rongan LSM-LSM ternyata cepat sekali membentuk jadi seorang yang tenang dan tangguh.

Ternyata menghadapi hal-hal sulit  mempu membentuk seseorang menjadi lebih baik asalkan orang tersebut betul-betul mau untuk berubah dan tentu going the extra miles. Klise sih memang, tapi saya melihat sendiri hal tersebut, Manajer saya yang pekerja keras yang memiliki kelamahan bisa cepat berubah dan menutup kelemahannya dibandingkan dengan si nyinyir yang kalau ketemu masalah langsung mundur atau menghindar. Manajer saya bisa menjadi lebih baik sedangkan si nyinyir sampai sekarang begitu-begitu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s