Monthly Archives: Januari 2014

Memori Masa Kecil

Malam sebelum April, buddy diving saya itu pulang kembali ke Yogja, kami makan malam bersama di Soto Sragen. Karena dia kuliah psikologi, dia mengajukan pertanyaan tentang ingatan pertama saya di waktu kecil. Samar-samar saya coba mengais-ngais di sudut pikiran saya. Saya menjawab saat saya sedang menonton Winnie the Pooh pagi hari. Namun saya ralat lagi, ternyata ada lagi yang lebih tua dan lebih samar, ketika saya sedang berdiri di pinggir dermaga saat senja dan menggamit tangan seseorang, yang kemungkinan besar nenek saya.

Ibu saya pernah bercerita, di usia 3 tahun, nenek mengajak saya jalan-jalan ke Padang naik kapal ferry. Cerita yang sama juga disampaikan nenek saya. Beliau menceritakan hal yang sama, tapi dengan lebih detail tentang saya yang lagi sakit gigi dan rewel terus menerus minta naik bendi. Walaupun begitu, nenek saya bangga sekali dengan saya. Dia bilang di usia 3 tahun, saya tidak manja dan tidak sulit diajak jalan-jalan. Sedetail apapun nenek saya becerita, saya sama sekali tidak ingat jalan-jalan saya ke Padang. Cuma satu fragmen yang samar terlintas, ketika saya sedang melihat matahari tenggelam di pinggir dermaga sambil menggamit lengan seseorang, selebihnya gelap. Freud menyebut hal ini infantile amnesia.

Bagian otak yang berperan untuk menyimpan  memori adalah hippocampus, suatu struktur di otak tengah yang berbentuk seperti kacang. Pembentukan memori adalah satu hal dan mengembalikan ingatan itu adalah hal lain. Dikatakan, bahwa untuk mengembalikan kembali dibutuhkan jaringan neuron yang kuat dan solid. Di usia dini, walaupun memori sudah dapat terbentuk nampaknya kita kesulitan mengembalikan memori, apalagi ketika tidak ada emosi yang terlibat dan konteks yang sesuai.

Mungkin, di tepi laut adalah memori yang memiliki emosi dan ada konteks di sana. Mungkin nenek saya saat itu mencoba menunjukkan kepada saya bahwa senja terindah selalu ada di pinggir laut. Atau bisa juga saat itu saya dimarahi nenek saya karena berdiri terlalu dekat dengan laut sehingga takut saya tercebur. Namun apapun itu, senja dan pantai nampaknya menimbulkan kesan mendalam bagi saya. Makanya ketika melihat senja di pinggir laut, saya merasa tentram.

Bagaimana dengan kamu?

The Stranger in Me

Jika kamu merasa mengetahui dirimu, berarti kamu benar-benar belum tahu dirimu sendiri. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Kamu boleh saja mengernyitkan dahi atau menertawakan pernyataan saya. Tapi itulah yang saya rasakan saat ini. Bahkan sampai usia di penghujung 20 ini terkadang saya masih takjub dengan apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh diri saya.

Beberapa bulan lalu ketika saya mengikuti psikotes, seorang psikolog menganalisa saya adalah seorang extrovert. Saya tidak mengerti mengapa dia langsung menilai saya seorang extrovert,  mungkin karena dia melihat saya sangat terbuka dan tidak malu-malu menceritakan diri saya. Konon, seorang extrovert mendapatkan energi ketika berada di tengah-tengah orang banyak. Seorang extrovert senang berada di tengah-tengah orang banyak dan cemas dengan kesendirian dan kesepian.

Analisis psikolog itu mungkin benar 15 tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, ketika diterima oleh kelompok menjadi sangat penting. Sejak SD, SMP dan SMA, saya tidak betah di rumah. Setelah pulang sekolah, saya pasti keluyuran, entah untuk sekedar main bola di sekolah, ke rumah teman atau nongkrong di mall. Kala itu jika tidak keluar dan nongkrong  malam minggu dengan teman-teman saya resah dan senewen.

Keinginan diterima kelompok, nongkrong bareng dan malam mingguan itu berkurang berangsur-angsur dengan pertambahan umur. Atau bisa dibilang, semakin tua saya sama semakin introvert. Sekarang, saya tidak peduli apakah malam minggu di rumah atau tidak. Aktivitas nongkrong sudah tergantikan dengan baca buku atau main internet. Saya sanggup menghabiskan waktu tiga hari berturut-turut di rumah saja tanpa ada interaksi langsung dengan orang lain. Sesuatu yang dulu rasanya mustahil dilakukan.

Selain menjadi lebih introvert, sayapun jauh lebih lunak sekarang. Dulu saya adalah pembangkang besar. Apapun yang dikatakan orang tua saya, pasti saya bantah. Sekarang, di tempat kerja saya jarang membantah, jika ada beberapa hal yang tidak saya setujui, biasanya saya sampaikan secara halus, jika tidak berpengaruh juga, saya memilih untuk mundur dan tidak mau terlibat.

Pernahkah kamu berada di posisi terdesak? Ketika kamu tidak punya pilihan selain melindungi dirimu sendiri? Pada saat itulah kamu akan takjub akan hal-hal gelap yang bisa kamu lakukan untuk melindungi dirimu. Waktu SD ketika keisengan saya ngumpetin sandal saat solat berjamaah ketauan teman, saya diadukan ke Kepala Sekolah. Terpojok, sayapun memfitnah teman saya yang lain yang melakukannya. Kepala Sekolah tua itu untungnya tidak menggubris fitnah saya dan terus mendorong saya minta maaf. Sampai sekarangpun, mengingat hal tersebut membuat saya merasa bersalah kepada orang yang saya fitnah. Seburuk apapun itu saya sadar, hal itu manusiawi. Mark Twain pernah bilang, “Everyone is a moon, and has a dark side which he never shows to anybody

Kalau  mengenal dan mengerti diri sendiri saja sulit, bagaimana kita dengan mudah bisa menilai dan menghakimi orang lain?  Setiap orang punya medan perangnya masing-masing. Ada yang sedang berjuang, ada yang jatuh tersungkur, ada yang berhasil menang, kita tidak pernah tau. Menyenangkan, menyebalkan, pelit, culas, sombong dan pelbagai karakter buruk lainnya adalah produk dari perang tersebut, begitu juga dengan karakter-karakter baik. Sudah terlalu sering saya cepat menghakimi, menilai lalu lantas membenci karena saya menganggap orang lain tidak memiliki nilai yang sama dengan saya. Mungkin sudah saatnya menggantikan rasa sebal dan benci itu dengan kebaikan. Atau jika belum bisa bersikap baik, setidaknya saya bisa berlaku adil dan memperlakukan orang yang dibenci sebagai manusia yang sedang berjuang di medan perang.