The Stranger in Me

Jika kamu merasa mengetahui dirimu, berarti kamu benar-benar belum tahu dirimu sendiri. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Kamu boleh saja mengernyitkan dahi atau menertawakan pernyataan saya. Tapi itulah yang saya rasakan saat ini. Bahkan sampai usia di penghujung 20 ini terkadang saya masih takjub dengan apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh diri saya.

Beberapa bulan lalu ketika saya mengikuti psikotes, seorang psikolog menganalisa saya adalah seorang extrovert. Saya tidak mengerti mengapa dia langsung menilai saya seorang extrovert,  mungkin karena dia melihat saya sangat terbuka dan tidak malu-malu menceritakan diri saya. Konon, seorang extrovert mendapatkan energi ketika berada di tengah-tengah orang banyak. Seorang extrovert senang berada di tengah-tengah orang banyak dan cemas dengan kesendirian dan kesepian.

Analisis psikolog itu mungkin benar 15 tahun lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, ketika diterima oleh kelompok menjadi sangat penting. Sejak SD, SMP dan SMA, saya tidak betah di rumah. Setelah pulang sekolah, saya pasti keluyuran, entah untuk sekedar main bola di sekolah, ke rumah teman atau nongkrong di mall. Kala itu jika tidak keluar dan nongkrong  malam minggu dengan teman-teman saya resah dan senewen.

Keinginan diterima kelompok, nongkrong bareng dan malam mingguan itu berkurang berangsur-angsur dengan pertambahan umur. Atau bisa dibilang, semakin tua saya sama semakin introvert. Sekarang, saya tidak peduli apakah malam minggu di rumah atau tidak. Aktivitas nongkrong sudah tergantikan dengan baca buku atau main internet. Saya sanggup menghabiskan waktu tiga hari berturut-turut di rumah saja tanpa ada interaksi langsung dengan orang lain. Sesuatu yang dulu rasanya mustahil dilakukan.

Selain menjadi lebih introvert, sayapun jauh lebih lunak sekarang. Dulu saya adalah pembangkang besar. Apapun yang dikatakan orang tua saya, pasti saya bantah. Sekarang, di tempat kerja saya jarang membantah, jika ada beberapa hal yang tidak saya setujui, biasanya saya sampaikan secara halus, jika tidak berpengaruh juga, saya memilih untuk mundur dan tidak mau terlibat.

Pernahkah kamu berada di posisi terdesak? Ketika kamu tidak punya pilihan selain melindungi dirimu sendiri? Pada saat itulah kamu akan takjub akan hal-hal gelap yang bisa kamu lakukan untuk melindungi dirimu. Waktu SD ketika keisengan saya ngumpetin sandal saat solat berjamaah ketauan teman, saya diadukan ke Kepala Sekolah. Terpojok, sayapun memfitnah teman saya yang lain yang melakukannya. Kepala Sekolah tua itu untungnya tidak menggubris fitnah saya dan terus mendorong saya minta maaf. Sampai sekarangpun, mengingat hal tersebut membuat saya merasa bersalah kepada orang yang saya fitnah. Seburuk apapun itu saya sadar, hal itu manusiawi. Mark Twain pernah bilang, “Everyone is a moon, and has a dark side which he never shows to anybody

Kalau  mengenal dan mengerti diri sendiri saja sulit, bagaimana kita dengan mudah bisa menilai dan menghakimi orang lain?  Setiap orang punya medan perangnya masing-masing. Ada yang sedang berjuang, ada yang jatuh tersungkur, ada yang berhasil menang, kita tidak pernah tau. Menyenangkan, menyebalkan, pelit, culas, sombong dan pelbagai karakter buruk lainnya adalah produk dari perang tersebut, begitu juga dengan karakter-karakter baik. Sudah terlalu sering saya cepat menghakimi, menilai lalu lantas membenci karena saya menganggap orang lain tidak memiliki nilai yang sama dengan saya. Mungkin sudah saatnya menggantikan rasa sebal dan benci itu dengan kebaikan. Atau jika belum bisa bersikap baik, setidaknya saya bisa berlaku adil dan memperlakukan orang yang dibenci sebagai manusia yang sedang berjuang di medan perang.

Iklan

2 responses to “The Stranger in Me

  1. Ada apa kamu tiba-tiba bijaksana gini?

    Nah, makanya jangan suka menghakimi orang yang baru pertama kali punya pengalaman jatuh cinta, lalu gagal. She’s still struggling 😀

  2. Hahaha, ya ya ya, makanya gwkan cuma ngeledek tapi gak menghakimi. Life teaches you the hard way ya, with experience 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s