Monthly Archives: Maret 2014

Catatan Akhir Seorang Bujang

Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhir saya sebagai bujangan. Dua hari lagi saya melepas masa lajang saya. Dan pertanyaan yang paling sering muncul dari teman-teman adalah, ” Yakin lo, gua aja gak yakin lo bakal nikah?”  pertanyaan ini biasanya terlontar dari orang-orang yang belum kenal dekat dengan saya. Sahabat terdekat saya tahu betul bagaimana hubungan saya dengan calon istri saya, Ilma. LDR lebih dari lima tahun tidak menyurutkan hubungan kami. LDR by means beneran LDR. Ilma di Osaka, Jepang sedangkan saya di Indonesia. Ya saya bukanlah orang yang paling setia di dunia, tapi anehnya, bahkan setelah 10 tahun pun, saya belum pernah ketemu pasangan yang secocok ini.

Pertanyaan kedua yang paling sering adalah “lo tegang gak?” Saya paling bingung menjawab pertanyaan ini, maksudnya tegang gimana sih? Seluruh persyaratan nikah sudah saya lengkapi. Administrasi udah beres, mas kawin juga sudah dibeli, seserahan sudah, cincin kawin juga sudah ada. Baca akad nikah juga kayaknya gak susah-susah amat. Kenapa harus tegang? Oh mungkin masalah resepsi? Saya rasa orang tua yang lebih tegang, karena seperti pernikahan-pernikahan di Indonesia pada umumnya, resepsi adalah acara orang tua. Saya, yang sedang berjuang mencari tempat di dunia yang kecil ini manut saja. Atau mungkin karena akan saya akan memegang beban tanggung jawab lebih, karena sebagai suami saya juga akan bertanggung jawab terhadap hidup istri saya nanti. Saya punya  prinsip kalau ada permasalahan, pusingnya nanti ketika masalahnya datang, gak perlu dari sekarang. Sama seperti masalah tanggung jawab ini. Nanti saja dipikirkan ketika sudah menikah. Toh, saya juga masih punya akal sehat.  Saya berani menikah karena saya memang telah siap secara mental dan mudah-mudahan finansial.

Kalaupun ada yang saya kuatirkan ya itu, masalah finansial. Saya punya hobi yang mahal. Dengan menikah berarti biaya hobi saya itu harus dikali dua, kalau saya cuma mengandalkan pendapatan dari pekerjaan saya saja, nampaknya saya tidak akan bisa membiayai hobi saya.  Saya harus bisa menambah penghasilan baru atau istri harus bekerja untuk menambah penghasilan.

Nah itu juga akan jadi persoalan. Ngomong-ngomong masalah pekerjaan, calon istri saya overqualified jika harus bekerja di kota tempat saya bekerja sekarang. Apa yang dapat dilakukan Doktor bioengineering dari Jepang di kota industri di Bontang? Calon istri saya itu sudah terbiasa sibuk. Apa yang akan terjadi jika dia hanya bengong-bengong saja di rumah, di kota kecil.

Ah kan, jadi pening kepala saya. Inilah yang membuat saya malas harus memikirkan hal-hal yang belum terjadi tapi berpotensi menjadi masalah.

Mungkinkah ini yang dimaksud dengan tegang? The thrill of the uncertainty. Ketidakpastian, ketidakjelasan, tantangan-tantangan, permasalahan-permasalahan yang akan muncul. Ah mungkin saya memang harusnya tegang mengingat saya akan dihadapi di masa depan. Memang benar kata teman, saya lemot dan menggampangkan persoalan macam ini.

Ah sudahlah gak usah dipikirkan lagi,  que sera sera, whatever will be will be.

Bring it on life!

Iklan

Leader VS Manager

Ada perbedaan mendasar antara manager dan leader. Banyak yang masih salah kaprah dengan menganggap seorang manager pasti memiliki leadership. Padahal belum tentu, seorang manager bisa saja tidak memiliki leadership dan orang dengan leadership yang kuat bisa jadi tidak memegang jabatan struktural. Nah berikut ini adalah perbedaan antara manager dan leader. Jadi jangan berkecil hati apabila anda belum memiliki jabatan struktural. Leadership bukan ditentukan oleh struktural dan  leadership adalah sesuatu yang dapat tumbuh seiring dengan waktu.

Leader VS Manager

 

Job Shadowing

Sebagai bagian dari program Climate Leadership +, program keren yang diprakarsai oleh CCROM IPB dan GIZ jerman, saya harus melakukan job shadowing terhadap peserta lainnya. Apa itu shadowing? shadowing adalah kegiatan mengikuti orang lain selama satu periode selama orang tersebut bekerja. Tujuannya adalah agar kita bisa merasakan bagaimana berada di posisi seseorang dan mendapatkan ide-ide segar dan pembelajaran yang berharga.

Tapi sebelumnya saya akan ceritakan bagaimana saya bisa ikut program keren ini. Beberapa bulan lalu, kenalan saya di training pencemaran udara bbm menawarkan training tentang perubahan iklim. Gratisan katanya. Mendengar kata gratis, saya bersemangat. Maklum, perusahaan pupuk yang katanya terbesar di Asia Tenggara tempat saya bekerja ini sedang giat-giatnya memotong anggaran, termasuk training. Singkat cerita, mendaftarlah saya dan tidak lama kemudian saya diundang untuk wawancara. Saya sebenarnya tidak menyangka prosesnya akan seserius ini. Apalagi topiknya tentang pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Citarum dan Kapuas yang tidak saya kuasai dan saya juga bukan stakeholder di dua DAS tersebut. Entah kenapa pada akhirnya saya berhasil diterima mengikuti program training yang cukup panjang ini. Mungkin panitia kasihan terhadap saya yang jarang mendapat pengetahuan baru dan teman-teman baru. Training pertama dilaksanakan di Bogor, dan seperti yang saya duga, materinya top, fasilitatornya keren, dan pesertanya hebat-hebat.

Kembali lagi ke shadowing, Saya ngintil atau shadowing teman saya yang bekerja di Hivos, LSM internasional di Kemang. Sejak awal saya memang tertarik mengetahui pekerjaan sehari-hari LSM, selain itu, kawan ini punya latar belakang yang menarik. Jadilah saya menghubungi dia untuk shadowing ketika saya kebetulan dinas di Bogor. Saya sampai bela-belain nginap di seputaran Kemang supaya tidak repot mencari kantornya  keesokan hari.Saya cukup terkejut juga karena teman ini langsung bilang oke pas saya bilang mau shadowing dia keesokan harinya. Saya tidak bisa membayangkan kalau ada yang mau shadowing saya di kantor tapi bilangnya sehari sebelum, pasti saya tolak.

Tiba di kantor Hivos, saya langsung dikenalkan kepada Direktur Regional Asia Tenggara. Ternyata kawan saya ini belum bilang ke bosnya kalau saya akan shadowing dia di Kantor. Dan yang lebih mengagetkan lagi, si Direktur sama sekali tidak keberatan dan malah mengajak saya untuk rapat bareng dia untuk melihat apa sebenarnya kerja Hivos. Menarik sebetulnya, namun saya terpaksa menolak dan bilang bahwa saya hanya akan shadowing kawan saya, bukan mengetahui dengan detail aktivitas organisasi.

Hivos Indonesia memiliki dua program utama yaitu open dan green. Open misinya untuk mempromosikan kebebasan, akses ke teknologi informasi dan kesetaraan gender. Sedangkan green adalah kegiatan untuk mempromosikan energi terbarukan dan proses agrikultur yang ramah lingkungan. Nah kawan saya ini sedang bekerja untuk mengembangkan penggunaan energi terbarukan dalam suatu proyek yang bernama Sumba Iconic Island. Targetnya cukup ambisius yaitu Sumba menjadi pulau yang menggunakan 100% energi terbarukan pada tahun 2025. Nah, pekerjaan sehari-hari kawan saya mengawal program tersebut agar bisa tercapai.

Saya melihat perbedaan utama antara LSM dan perusahaan adalah keterbukaannya. LSM sudah menjadi naturenya sangat terbuka. Karena reputasi mereka dibangun dari keterbukaan tersebut. Bagaimana mereka bisa memperoleh pendanaan bila tidak terbuka?  Makanya mereka sangat welcome terhadap saya, walaupun tidak mengetahui maksud kedatangan saya ke sana. Sangat berbeda dengan nature perusahaan yang menghormati confidentiality atau kerahasiaan.

Saya juga melihat teman-teman LSM sangat easy going, asik dan kreatif. Mereka terbiasa bersinggungan dengan masyarakat dan pemerintah sehingga membuat mereka mudah menempatkan diri dan tidak kaku. Mereka juga bekerja dengan anggaran terbatas sehingga membuat mereka kreatif untuk mengatasi anggaran cekak. Mereka juga memiliki akses ke metode-metode bekerja terbaru, sehingga saya merasa seperti seekor dinosaurus di tempat kerja mereka.

Selepas shadowing saya harus mewawancarai kawan ini untuk menggali lebih jauh tentang pengalaman dirinya, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, dan harapannya. Tidak elok rasanya saya kalau beberkan hasil wawancara saya. Namun bisa dibilang saya mendapat banyak inspirasi dan pembelajaran dari kawan saya ini. Saya bisa melihat potensi LSM  dalam mengatasi persoalan lingkungan hidup. Saya juga semakin yakin, di masa ini bukanlah persaingan yang menjadi kunci mengatasi permasalahan, melainkan kolaborasi. Inilah yang membuat saya bersyukur bisa ikut training Climate Leadership + yang pesertanya berasal dari LSM, pemerintah, dan perusahaan.

Sekeren-kerennya program Hivos, saya masih percaya bahwa there is no free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Saya ingin mengetahui agenda di balik program Hivos. Makanya sebelum menuntaskan shadowing hari itu, saya ingin mewawancarai direktur regional Hivos untuk menanyakan apa sih sebetulnya motivasi Hivos berada di Indonesia? Apakah, 1. untuk memulihkan nama Belanda yang dicap sebagai penjajah serakah dan keji? 2. sebagai sarana lobi untuk memperoleh proyek yang lebih besar? 3. diplomasi pemerintah Belanda  untuk melindungi kepentingannya di Indonesia. Sayangnya saat saya ke kantornya untuk pamit, beliau tidak ada. Akhirnya pertanyaan itu masih saya simpan sampai sekarang.