Catatan Akhir Seorang Bujang

Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhir saya sebagai bujangan. Dua hari lagi saya melepas masa lajang saya. Dan pertanyaan yang paling sering muncul dari teman-teman adalah, ” Yakin lo, gua aja gak yakin lo bakal nikah?”  pertanyaan ini biasanya terlontar dari orang-orang yang belum kenal dekat dengan saya. Sahabat terdekat saya tahu betul bagaimana hubungan saya dengan calon istri saya, Ilma. LDR lebih dari lima tahun tidak menyurutkan hubungan kami. LDR by means beneran LDR. Ilma di Osaka, Jepang sedangkan saya di Indonesia. Ya saya bukanlah orang yang paling setia di dunia, tapi anehnya, bahkan setelah 10 tahun pun, saya belum pernah ketemu pasangan yang secocok ini.

Pertanyaan kedua yang paling sering adalah “lo tegang gak?” Saya paling bingung menjawab pertanyaan ini, maksudnya tegang gimana sih? Seluruh persyaratan nikah sudah saya lengkapi. Administrasi udah beres, mas kawin juga sudah dibeli, seserahan sudah, cincin kawin juga sudah ada. Baca akad nikah juga kayaknya gak susah-susah amat. Kenapa harus tegang? Oh mungkin masalah resepsi? Saya rasa orang tua yang lebih tegang, karena seperti pernikahan-pernikahan di Indonesia pada umumnya, resepsi adalah acara orang tua. Saya, yang sedang berjuang mencari tempat di dunia yang kecil ini manut saja. Atau mungkin karena akan saya akan memegang beban tanggung jawab lebih, karena sebagai suami saya juga akan bertanggung jawab terhadap hidup istri saya nanti. Saya punya  prinsip kalau ada permasalahan, pusingnya nanti ketika masalahnya datang, gak perlu dari sekarang. Sama seperti masalah tanggung jawab ini. Nanti saja dipikirkan ketika sudah menikah. Toh, saya juga masih punya akal sehat.  Saya berani menikah karena saya memang telah siap secara mental dan mudah-mudahan finansial.

Kalaupun ada yang saya kuatirkan ya itu, masalah finansial. Saya punya hobi yang mahal. Dengan menikah berarti biaya hobi saya itu harus dikali dua, kalau saya cuma mengandalkan pendapatan dari pekerjaan saya saja, nampaknya saya tidak akan bisa membiayai hobi saya.  Saya harus bisa menambah penghasilan baru atau istri harus bekerja untuk menambah penghasilan.

Nah itu juga akan jadi persoalan. Ngomong-ngomong masalah pekerjaan, calon istri saya overqualified jika harus bekerja di kota tempat saya bekerja sekarang. Apa yang dapat dilakukan Doktor bioengineering dari Jepang di kota industri di Bontang? Calon istri saya itu sudah terbiasa sibuk. Apa yang akan terjadi jika dia hanya bengong-bengong saja di rumah, di kota kecil.

Ah kan, jadi pening kepala saya. Inilah yang membuat saya malas harus memikirkan hal-hal yang belum terjadi tapi berpotensi menjadi masalah.

Mungkinkah ini yang dimaksud dengan tegang? The thrill of the uncertainty. Ketidakpastian, ketidakjelasan, tantangan-tantangan, permasalahan-permasalahan yang akan muncul. Ah mungkin saya memang harusnya tegang mengingat saya akan dihadapi di masa depan. Memang benar kata teman, saya lemot dan menggampangkan persoalan macam ini.

Ah sudahlah gak usah dipikirkan lagi,  que sera sera, whatever will be will be.

Bring it on life!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s