Monthly Archives: Mei 2014

Gus Dur, Tentang Tuhan & Ketuhanan

Tulisan yang merupakan pengantar terhadap buku Romo Mangunwijaya ini saya ambil dari website islami.co. Tulisan yang apik menembus batas-batas agama dalam hubungannya dengan Tuhan dan Ketuhanan. Saya suka sekali dengan pandangan Gus Dur yang menunjukkan kualitas tauhid tingkat tinggi.

Gus Dur Bicara Tuhan

Abdurrahman Wahid

SEORANG awam mendatangi Nabi Muhammad, dan bertanya di manakah Tuhan berada. Nabi menjawab dengan pertanyaan, di manakah Tuhan menurut orang itu? Penanya tersebut lalu menjawab bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Nabi lalu membenarkan ucapannya itu. Para sahabat Nabi lalu mempersoalkan hal itu, sepeninggal orang tersebut. Mengapakah Nabi mengatakan Tuhan berada di langit, nun jauh di atas, padahal bukankah Ia berada di mana saja, karena Ia tidak terikat ruang dan waktu, serta tak mengenal bentuk? Dijawab oleh Nabi, bahwa bagi orang tersebut, Tuhan berada di atas, dan itu sudah cukup baginya.  

Riwayat tersebut menggambarkan betapa sulitnya menerangkan hakikat agama kepada manusia. Keserbaagungan Tuhan dan kemaha-mahaan lainnya yang dimiliki-Nya, tak dapat dijelaskan secara tepat kepada manusia. Sebabnya mudah saja: keterbatasan kemampuan manusia untuk menangkap kebesaran Tuhan. Kebesaran-Nya yang demikian mutlak, meniadakan kemampuan untuk hanya menetapkan satu cara saja untuk memahami-Nya. Dengan kata lain, pemahaman akan hakikat Tuhan mau tidak mau lalu mengambil bentuk berbeda-beda, dan dengan sendirinya pemahaman itu sendiri lalu berderajat. Tidak sama tingkat pemahaman Tuhan dari manusia ke manusia lainnya. Ada yang memahami-Nya demikian sederhana, seolah-olah Tuhan adalah sesuatu yang tidak kompleks sama sekali. Tuhan yang demikian adalah Tuhan yang dipahami secara sesisi: Maha Pemarah, Maha Penghukum, Maha Pembalas, dan seterusnya. Kepada manusia Ia adalah wajah kekuasaan yang mengerikan dan menakutkan, selalu siap dengan hukuman dan siksaan-Nya. Ia langsung menghukum setiap kesalahan, kelalaian dan kealpaan, bahkan sering kali hukuman-Nya sudah dijatuhkan sebelum kematian manusia dan ketika dunia belum kiamat. Penyakit menular dari sampar sampai cacar, bencana alam dari gempa bumi sampai banjir dan gunung meletus dan penindasan oleh bangsa-bangsa lain dijadikan contoh dari hukuman Tuhan itu.   Tuhan yang sesisi itulah yang paling banyak mencengkam benak manusia, dari masa ke masa dan dari agama ke agama. Hubungan Tuhan dan manusia dalam pemahaman seperti itu sangat bersifat mekanistik. Kau berjasa kepada Tuhan, kau akan diganjar dengan pahala. Sesuai dengan bagianmu, akan kau peroleh salah satu dari deretan sekian banyak imbalan, mulai dari kolam susu sampai bidadari ayu. Sebaliknya, kalau kau bersalah, hukuman akan jatuh dengan sendirinya. Boleh pilih, menurut tingkat dosamu, dari potong lidah hingga masuk penggorengan raksasa atau dipanggang menjadi manusia guling (ekuivalen kambing guling dari kehidupan dunia). Hubungan Tuhan dan manusia adalah hubungan hitam-putih, dengan spektrum sangat sempit dan tidak ada kemungkinan derajat pilihan cukup besar untuk mewadahi begitu banyak keragaman antarmanusia. Kalau ini yang dijadikan pola kehidupan beragama, masing-masing lalu berada pada kesempitannya sendiri. Jangankan dengan pemeluk agama lain, dengan sesama pemeluk satu agama pun akan terjadi perbedaan tajam. Pemahamanku adalah satu-satunya pemahaman yang benar, dan kau kafir karena kau berbeda dari pandanganku, dus kau bersalah. Neraka adalah bagianmu, dan surga adalah bagianku.  

Tak dapat diingkari lagi, pendekatan seperti itu terhadap agama tentu akan dipenuhi oleh keruwetan hubungan antarmanusia, yang sebenarnya justru jauh dari hakikat agama. Salah satu ciri utama agama adalah universalitas ajarannya, sehingga melampaui batas-batas perbedaan antarmanusia. Jika ini tidak terjangkau oleh pemahaman agama yang disebutkan di atas, dengan sendirinya peranan agama lalu diciutkan, yaitu hanya untuk membebaskan sekelompok manusia saja, bukannya membebaskan keseluruhan umat manusia dari kungkungan kemanusiaan yang penuh keterbatasan. Manusia yang tidak mampu membebaskan diri dari kungkungan itu sudah tentu tidak dapat mengangkat diri menuju pengembangan sifat-sifat keilahian yang hakiki dalam dirinya, padahal itulah yang justru diminta oleh agama dari manusia. Jadilah bayangan Tuhanmu, agar kau mampu mencintai-Nya, adalah inti dari imbauan agama kepada manusia. Bagaimana mungkin kau mencapai derajat kecintaan kepada Tuhan dalam ukuran paling tepat, kalau kau tidak mencintai manusia secara umum, karena Tuhan justru mencintai mereka?  

Tidak heranlah jika kaum mistik lalu mendambakan keintiman langsung antara manusia dan Tuhannya. Dari para pertapa Hindu dan Buddha hingga pendiri ordo Katolik dan para Sufi Muslim, mereka semua mendambakan kecintaan timbal-balik yang tulus antara Tuhan dan makhluk-Nya. Tuhan dilihat sebagai totalitas kebaikan dan kasih-sayang, dan manusia dilihat sebagai penerima kebaikan dan kasih-sayang itu. Karenanya, ia menerima Tuhan dengan kecintaan mutlak dan penghargaan setulus-tulusnya. Terasa benar kedua hal itu dalam ungkapan Sufi wanita Rabi’ah Al-‘Adawiyah: Ya Allah, tiadalah kusembah Engkau karena takut neraka-Mu atau tamak surga-Mu, melainkan kusembah Engkau karena Kau-lah zat tunggal yang patut kusembah. Luluhlah semua perintang di hadapan kecintaan seperti itu, hancurlah semua penghalang di muka ketulusan begitu mutlak.  

Memang tidak semua manusia dapat sampai ke tingkat pemahaman Ketuhanan seperti itu, karena memang ia adalah tingkatan khusus untuk sejumlah orang suci saja. Namun, ia sepenuhnya benar sebagai tolok ukur ideal bagi pemahaman yang seharusnya dimiliki manusia akan Tuhan-Nya. Nabi Muhammad menggambarkan bahwa Tuhan adalah sebagaimana dibayangkan oleh kawula-Nya, dalam arti Ia mampu mengisi segala rongga yang ada di benak manusia, dan semua sudut yang ada dalam hatinya. Al-Quran mengajarkan bahwa “Tuhan lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri”, namun pada saat yang sama Ia “duduk tegak di tahta-Nya”. Ini berarti Ia lebih besar dari apa pun rumusan manusia akan hakikat-Nya yang Mahasempurna. Sia-sialah upaya menjaring Tuhan hanya ke dalam sebuah pengertian saja. Seperti dikatakan para ulama Muslimin, boleh kalian rumuskan apa saja tentang Tuhan, tetapi jangan tentukan mekanisme kerja-Nya dalam menciptakan alam dan mengaturnya sekali. Boleh kalian sifati Tuhan dengan seberapa pun sifat yang dapat kalian kumpulkan, namun jangan tanyakan bagaimana sifat-sifat Tuhan itu menyatu dengan Zat-Nya. Jangan sebutkan bagaimana, kata Imam Hambali, bila kaifa dalam bahasa Arabnya.  

Gambaran keluasan wawasan Ketuhanan yang seharusnya dimiliki manusia, seperti dicoba untuk digambarkan di atas, rasanya merupakan “pintu masuk” yang tepat bagi buku Romo Y. B. Mangunwijaya ini. Penulisnya melihat hubungan manusia dan Tuhan dalam ketakterhinggaan ufuk Ketuhanan itu, yang melampaui semua perbedaan antarmanusia dan menjembatani semua kesenjangan dalam kehidupan dunia. Manusia pertama-tama tidak dilihat sebagai obyek “garapan Tuhan” saja, melainkan sebagai pelaku aktif yang dituntut untuk mewujudkan pandangan keagamaannya dalam kehidupan nyata. Kalau boleh dirumuskan secara global, penghayatan iman seperti itu adalah penghadapan dan pertanggungjawaban keimanan kepada kehidupan. Keimanan bukanlah sesuatu yang abstrak dan berdiri sendiri lepas dari kehidupan, melainkan ia merupakan bagian utama dari kehidupan, karena ia harus mengarahkan kehidupan itu kepada suatu keadaan yang dikehendaki Tuhan.  

Karena Tuhan adalah Tuhan yang Baik, Pemaaf, Pemurah, dan Pengasih, maka manusia tidak dapat lepas dari keharusan mewujudkan dalam dirinya sifat-sifat tersebut. Upaya mewujudkan sifat-sifat Tuhan itu dalam diri manusia tidak dapat berarti lain dari keharusan berbuat baik kepada sesama manusia, bersikap murah hati kepada mereka, mudah memaafkan kesalahan mereka, dan senantiasa berusaha mengasihi mereka. Sudah tentu tuntutan itu berujung pada keharusan manusia untuk senantiasa memikirkan kesejahteraan bersama seluruh umat manusia, bahkan kesejahteraan seluruh isi alam dan jagad raya ini. Tuntutan keagamaan seperti itu mengharuskan tumbuhnya pandangan tersendiri dalam diri manusia, dan itu akan diperoleh manakala religiositas ditanamkan dalam dirinya sejak masa anak. Bahwa “pendidikan agama” yang konvensional selama ini hanya menekankan penguasaan rumusan-rumusan abstrak tentang Tuhan dan penumbuhan sikap formal yang menyempitkan wawasan anak tentang Tuhan, akhirnya mendorong penulis buku ini untuk mencoba memetakan secara sederhana bagaimana seharusnya religiositas anak dikembangkan dan dibina.  

Dalam kitab Al-Hikam, penulisnya merumuskan sebuah sikap yang sangat fundamental dalam mendidik religiositas: jangan temani orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangatmu kepada Allah dan ucapan-ucapannya tidak menunjukkan kamu ke jalan menuju Allah. Kesadaran dan pemahaman akan Tuhan terkait sepenuhnya dengan percontohan yang harus diberikan tentang bagaimana seharusnya bergaul dengan Tuhan.  

Keteladanan adalah kata kunci dari kerja mengembangkan religiositas dalam diri anak. Keimanan anak adalah sesuatu yang tumbuh dari pelaksanaan nyata, walaupun dalam bentuk dan cakupan sederhana, dari apa yang diajarkan. Karenanya, Tuhan yang abstrak tidak akan menciptakan religiositas, karena Ia tidak tergambar dalam keteladanan yang kongkret. Berikan kepada anak sosok Tuhan yang sangat abstrak, dan ia hanya akan menjadi beo peniru rumusan tanpa mampu memiliki religiositas sedikit pun. Letakkan pemahaman anak itu akan Tuhan dalam bentuk yang kongkret, yang dapat diwujudkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan ia akan mengembangkan dalam dirinya religiositas penuh. Religiositas yang merasa prihatin oleh gugahan keprihatinan orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Religiositas yang dalam lingkupnya sendiri mampu membuat anak itu di kemudian harinya mempertanggungjawabkan keimanannya sendiri kepada kehidupan.  

Sebuah kisah menarik dari khazanah kaum Sufi dapat dikemukakan di sini. Seorang wanita saleh tidak mau memberi minum kepada kucing yang dikurungnya, hingga kucing itu mati. Sedangkan seorang wanita pelacur suatu ketika menolong anjing yang tersesat di padang pasir dari kematian karena kehausan, dengan jalan memberikan kepada anjing itu persediaan terakhir air minumnya. Dilakukannya hal itu dengan tidak menghiraukan keselamatannya sendiri. Di hari kiamat, sang wanita saleh dimasukkan neraka, karena kekejamannya jauh melampaui kesalehannya, sedangkan sang pelacur masuk surga karena kasih-sayangnya menyelamatkan makhluk lain, dan itu melebihi semua kesalahan dan kebobrokan moralnya. Mungkin dalam cerita inilah dapat ditemui gambaran kongkret akan religiositas, jika dimaksudkan dengan itu pertanggungjawaban keimanan kepada kehidupan. Religiositas dalam arti pemahaman bahwa ajaran formal agama belaka tidak akan mampu membentuk keimanan yang mampu meneropong kehidupan dalam segala keluasan dan kelapangannya. Ajaran formal itu masih harus dikongkretkan dalam sikap-sikap yang menghargai kehidupan dan memuliakan kedudukan manusia. Religiositas yang tidak terpaku pada pembenaran diri sendiri atau ajaran sendiri saja, melainkan yang sanggup membuat manusia menghargai sesamanya, betapa jauhnya sekalipun perbedaan antara mereka dalam keyakinan agama.  

Tuhan yang ditanamkan pada diri anak, kalau diikuti garis pemahaman tersebut, adalah Tuhan yang mewujudkan diri dalam bentuk kongkret bagi anak. Tuhan milik anak, bukan hanya Tuhan milik kaum agamawan, apalagi Tuhan yang dimonopoli para teolog. Kalau Romo Mangunwijaya dalam buku ini meminta pengembangan anak yang menjadi milik Tuhan, dengan segala keindahan yang ada pada diri anak seperti itu, maka di akhir kata pengantar ini patutlah disambut ajakan itu dengan mengimbau agar hal itu dicapai melalui pengembangan wawasan yang akan menampilkan Tuhan yang menjadi milik anak. Menjadikan Tuhan milik anak, agar anak menjadi milik Tuhan, kalau meminjam peristilahan masa kini (seperti menyadarkan masyarakat dan memasyarakatkan kesadaran).

Mampukah kita semua, dengan melupakan semua perbedaan agama dan keyakinan masing-masing, melakukan kerja itu? 

Iklan

Tentang Salat

“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Faathir, 35:38)

Saya paham, seorang muslim wajib salat lima waktu. Salat adalah tiang agama, dalam salah satu hadist. Kita pun familiar sejarah salat lima waktu, yaitu ketika isra’ mi’raj, Nabi Muhammad mendapatkan perintah langsung dari Allah untuk salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Namun Nabi Muhammad yang sangat mengerti kondisi umatnya di masa datang – yang disibukkan oleh hingar bingar dunia dan tangga sosial yang nampaknya tidak pernah habis didaki – menawarnya hingga lima kali saja dalam satu hari.

Tidak ada alasan sebetulnya bagi muslim untuk tidak salat lima waktu. Rentang waktu antar salat lima waktu cukup panjang, kecuali magrib, salat juga tidak memakan waktu yang lama, hanya sekitar 5 – 15 menit. Lantas apa yang menyebabkan beberapa muslim sulit sekali untuk salat lima waktu?

Saya adalah seorang muslim yang taat dan berupaya salat lima waktu. Tapi itu dulu. Sekarang saya bahkan tidak berusaha menjaga salat lima waktu. Apa penyebabnya? Dulu saya beranggapan Allah itu hakim. Allah akan menghukum orang yang tidak salat dengan azab, hidupnya akan mengalami kesialan dan nasibnya akan buruk dan  sebaliknya, mengganjar muslim taat dengan hidup yang  penuh berkah. Saya juga dengan polos melihat adanya hubungan antara salat dan moral seorang muslim.

Sayangnya, kenyataan berkata lain. Seiring berjalannya waktu, saya malah lebih sering melihat orang yang tidak salat yang secara moral bahkan lebih baik daripada yang salat. Hal ini dengan mudah dilihat dari negara muslim yang terus menerus bertengkar, tidak menghargai perempuan, tidak bisa mengatasi kaum miskin & insecure, dibandingkan dengan negara-negara sekuler yang diluar dugaan, lebih cinta perdamaian dan menangani kaum miskin dengan baik.  Saya bingung. Di mana manfaat salat untuk mencegah yang munkar?

Saya melihat bahwa kaum muslim sering kehilangan konteks. Terlalu sering menyalahkan pihak eksternal, entah itu, Amerika, Yahudi, atau dunia yang terlalu liberal. Beragama, bagi kaum muslim adalah yang ritual. Mungkin banyak muslim yang seperti saya, yang merasa kalau dengan ibadah ritual saja, Allah akan langsung mengganjar hidup kita dengan kebahagiaan dan rizqi yang berlimpah, akhirnya banyak muslim yang tersingkir dari kompetisi dunia yang merasa kecewa dengan ketidakadilan di dunia.

Akhirnya saya berubah pikiran. Saya merasa, tidak salatpun saya masih bisa berbuat baik, pantang merebut yang bukan hak, dan berbagi dengan orang yang dalam kesulitan. Selama periode itu, saya baik-baik saja. Tidak ada yang berubah. Saya tetap mencoba jadi orang yang baik dan sesedikit mungkin merugikan orang lain.

Namun ternyata, banyak sekali hal-hal yang tidak bisa saya pahami. Beberapa tahun terakhir saya sering mengalami kegagalan dengan latar belakang yang cukup aneh. Entah itu karena saya terlalu terburu-buru mengerjakan sesuatu, meremehkan suatu hal penting, atau ketika saya sudah siap mental, saya malah tergoda dengan hal-hal tidak penting. Saya yang selalu merasa ada hubungan antara usaha keras dan hasil merasa kecele. Ternyata tidak sesederhana itu, banyak sekali hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.

Kegagalan demi kegagalan cukup menghancurkan mental saya. Ada badai dalam diri yang sulit dijinakkan. Saya sering menyalahkan diri saya, dan saya jadi tidak santai. Saya jadi sulit untuk menentukan tujuan hidup dan mencari apa yang sebetulnya saya inginkan. Seorang sahabat yang mendengar keluh kesah saya menyarankan, “Salat geura, Dan”,dia bilang bukan karena saya pasti mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi supaya saya tau jalan apa yang harus saya tempuh dan perjuangkan.

Saya pun mempraktekan yang disarankan sahabat saya, saya berusaha untuk salat lima waktu, walaupun belum sempurna benar. Memang tidak serta merta saya jadi tau jalan hidup saya. Tapi yang saya rasakan sekarang, saya lebih santai,  lebih tenang, lebih pasrah.  Saya jadi lebih mudah berbaik sangka terhadap nasib. Bisa jadi inilah yang dulu tidak saya rasakan. Saya tidak merasakan manfaat dari salat yang dilandasi rasa takut. Sekarang, saya salat karena kebutuhan untuk mencari ketenangan dan kepasrahan.

Ya setidaknya untuk sekarang ini saya bisa lebih tenang. Ya mudah-mudahan saya akan cukup konsisten dan kualitas kehidupan spiritual saya bisa jadi lebih baik.

Hanimun Bali: Ayana

Di mana lokasi favorit hanimun orang-orang Indonesia? Jawabannya sudah jelas, Bali! Sebetulnya saya memimpikan hanimun sambil trekking di sirkuit Annapurna di Nepal atau Menjelajah kota-kota kecil di Eropa Timur. Namun, ternyata saya terbentur oleh waktu dan tentu saja, uang. Calon Istri agak ngambek sebetulnya, karena cuti saya hanya tinggal delapan hari dan total tujuh belas hari. Tiga hari cuti saya pakai untuk menghadiri pernikahan kolega di Medan, sedangkan delapan hari  saya pakai untuk trip ke Raja Ampat awal November kemarin. Akhirnya saya hanya memakai tiga hari cuti ditambah lima hari izin menikah dari kantor.  Saya berusahan menyisakan tiga hari cuti saya, kalau sewaktu-waktu saya muak bekerja dan mau bikin dive trip singkat.

Anyway, Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, pilihan wisata dan akomodasi di Bali sangat beragam, dari yang mahalnya gak kira-kira sampai yang murah meriah. Demikan pun makanan, dari fine dining yang bisa menghabiskan berjuta-juta sekali makan, sampai warung nasi pedas 24 jam yang tidak lebih dari 20 ribu sudah puas.

Saya dan istri akan mencoba hal yang sebelumnya belum pernah kami coba, yaitu menginap di Resort Bintang lima, Ayana, Jimbaran. Memang kalo dilihat dari segi harga, nginep di Ayana mahal, yang paling murah, satu malam di Resort View 2.6 Juta dan tentu, sudah ke sana kami gak mau tanggung-tanggung. Kamipun bergerilya cari paket-paket murah di beberapa travel agent. Akhirnya kami mendapatkan paket dari weddingku.com  yang lebih murah dibandingkan yang lain. Sebetulnya saat  lihat paket lain di weddingku,  kami juga ingin nyobain nginep  di Ubud Hanging Gardens dan berenang di infinity poolnya yang terkenal itu. Tapi ah, kami dulu pacaran sering sekali lihat view pegunungan, dan rumah pacar di Bandung viewnya saja sudah perbukitan, masa iya hanimun ngeliat gunung lagi.

Berada di wilayah seluas 77 hektar Ayana memiliki 368 kamar yang terdiri dari 290 kamar hotel kelas bintang lima dan 78 private villa.  Dan juga di kompleks ini baru diresmikan Rimba, yang merupakan pengembangan dari Ayana. Bisa ditebak dari namanya, rimba menawarkan pemandangan hutan. Tidak kurang dari 13 Restoran & bar yang ada di kompleks ini. Selain itu Ayana juga memiliki empat kolam renang dan satu pantai private, yaitu Kubu.

Dari empat kolam renang yang disediakan, kami hanya mencoba dua kolam renang yaitu infinity edged pool dan ocean beach pool. Dua-duanya keren. Tapi menurut saya yang istimewa adalah ocean beach pool. Karena kolamnya lebih kecil, sepi, dipayungi pepohonan dan lebih dekat ke pantai. Sayangnya saya hanya sempat berenang siang hari, itu saja sudah rame. Padahal, karena menghadap sunset, berenang saat senja pasti lebih keren dan tidak terlupakan.

Ocean Beach Pool

Tentu saja yang paling terkenal adalah Rock Bar. Bar yang dibangun diatas batu karang ini memang menawarkan atmosfer yang berbeda. Anda bisa menikmati matahari tenggelam sambil minum-minum ditemani musik dan deburan ombak.  Tentu saja untuk menikmati suasana itu harga yang dibayar cukup mahal, untuk dua gelas minuman saja kami harus membayar 500 ribu. Namun hal itu sebanding dengan suasana yang ditawarkan. Apalagi kami menginap di Ayana, jadi kami tidak perlu mengantri seperti tamu lainnya, dan dapat meja yang terbaik 🙂

Ayana Jimbaran

Ayana Jimbaran

Dari 13 Restoran yang ada di Ayana, kami hanya makan di dua restoran yang ada di Ayana. Padi, tempat kami sarapan dan Sami-sami, restoran Italia. Seperti harapan kami, sarapan di hotel bintang lima teramat istimewa. Semua yang ditawarkan , dari western, asian, sampa indoneseian food, enak. Bahkan buah-buahan yang disajikan istimewa, seperti manggis dan kelapa muda. Kalau saja turis-turis cina itu tidak serakah mengambil semua manggis yang ditawarkan, mungkin saja sarapan itu jadi sempurna, tapi well, what you can say, chinese. Kami tentu saja berusaha menyantap semua dan berusaha menjadikan sarapan itu menjadi brunch, supaya kami gak usah makan siang dan bisa menghemat 😀  Satu hal yang saya suka dari Sami-sami adalah karena dia gak terlalu mahal. Bahkan pizza untuk 4 orang, harganya tidak lebih dari 150 ribu, tapi memang dibanding beberapa restoran Italia yang coba, memang Sami-sami tidak terlalu istimewa

Yang paling istimewa dari Ayana, dan saya yakin dari hotel bintang 5 lainnya juga adalah hospitalitynya. Kami sangat dimanjakan oleh Ayana. Lepas lari pagi contohnya, seorang staf langsung menghampiri saya dan memberikan sebotol aqua. Saat kami berenang di tengah hari,  stafnya dengan sigap menawarkan dua gelas aqua dingin, cemilan, dan menawarkan foto. Ketika kami  keluar dari kompleks hotel dan kembali lagi, security di depan menyapa istri dengan nama. Hal-hal kecil sebetulnya, namun membuat pengujung diistimewakan.

Di daerah Jimbaran, bukan hanya Ayana yang spesial, kami sempat makan seafood di pantai Jimabaran yang sebetulnya tidak terlalu istimewa dan juga kami sempat melipir ke Karma Kandara. Karma Kandara juga  istimewa dan juga yang pasti, mahal. Mungkin saja di masa depan, ketika kami punya rizki berlebih, kami bisa menginap di sini.  Kami ke sini ingin melihat-lihat resort. dan makan malam di restoran Di Mare. Jalan menuju Karma Kandara agak rumit, karena jalannya kecil dan hampir mustahil menghafal jalan. Saya bergantung sekali sama google map.

Di Mare tidak mengecewakan, dengan gaya arsitektur mediteran dan view menghadap samudera hindia. Sebelumnya saya belum pernah minum air putih yang ada rasanya, pertama kali saya rasakan ya di restoran ini. Dalam air putihnya dicampur dedaunan yang menurut saya rasanya jadi lebih segar, tapi kalau menurut istri saya jadi aneh. Sebetulnya yang khas dari Di Mare adalah seafood khas mediteran, namun karena saya dan istri sudah puas makan seafood di Jimbaran, akhirnya kami pesan steak. Steak Di Mare simple saja sebetulnya, daging premium Australia 180 gr yang di beri seasoning sedikit dan disajikan pada piring yang bentuknya seperti talenan. Saya pesan dengan tingkat kematangan medium rare. Rasanya? tentu saja mantap, juicy, lembut, pas sekali dengan saus yang disajikan.

Karma Kandara

Karma Kandara

Setelah makan malam, kami turun ke Nammos Beach Club, untuk liat-liat. Untuk turun ke Beach Club kita harus naik lift kecil. Mungkin karena sudah malam, beach club sepi sekali. Tidak ada pengunjung yang datang. Ketika saya tanyakan ke salah satu pegawainya, memang beach club biasanya ramai ketika siang dan sore. Kami sebentar saja di beach club dan kemudian naik kembali ke atas untuk pulang.

Mungkin salah satu kerugian mencoba hotel bintang lima yang hospitalitynya bagus adalah standard anda jadi naik dan agak rewel ketika menginap di hotel yang biasa-biasa saja. Contohnya saya, ketika kami pindah ke Astana Batu Belig, saya yang terbiasa dengan pelayanan Ayana, jadi kecewa dengan pelayanan Astana Batu Belig. Dengan mencoba hotel bintang lima, anda jadi tau kenapa hotel tersebut punya harga yang mahal. Bisnis hospitality adalah bisnis yang rumit dan membangunnya butuh waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit. Jadi, anda tidak akan dengan mudah mengatakan seperti ini, “Ah buat tidur doang kok, ngapain mahal-mahal” .