Hanimun Bali: Ayana

Di mana lokasi favorit hanimun orang-orang Indonesia? Jawabannya sudah jelas, Bali! Sebetulnya saya memimpikan hanimun sambil trekking di sirkuit Annapurna di Nepal atau Menjelajah kota-kota kecil di Eropa Timur. Namun, ternyata saya terbentur oleh waktu dan tentu saja, uang. Calon Istri agak ngambek sebetulnya, karena cuti saya hanya tinggal delapan hari dan total tujuh belas hari. Tiga hari cuti saya pakai untuk menghadiri pernikahan kolega di Medan, sedangkan delapan hari  saya pakai untuk trip ke Raja Ampat awal November kemarin. Akhirnya saya hanya memakai tiga hari cuti ditambah lima hari izin menikah dari kantor.  Saya berusahan menyisakan tiga hari cuti saya, kalau sewaktu-waktu saya muak bekerja dan mau bikin dive trip singkat.

Anyway, Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, pilihan wisata dan akomodasi di Bali sangat beragam, dari yang mahalnya gak kira-kira sampai yang murah meriah. Demikan pun makanan, dari fine dining yang bisa menghabiskan berjuta-juta sekali makan, sampai warung nasi pedas 24 jam yang tidak lebih dari 20 ribu sudah puas.

Saya dan istri akan mencoba hal yang sebelumnya belum pernah kami coba, yaitu menginap di Resort Bintang lima, Ayana, Jimbaran. Memang kalo dilihat dari segi harga, nginep di Ayana mahal, yang paling murah, satu malam di Resort View 2.6 Juta dan tentu, sudah ke sana kami gak mau tanggung-tanggung. Kamipun bergerilya cari paket-paket murah di beberapa travel agent. Akhirnya kami mendapatkan paket dari weddingku.com  yang lebih murah dibandingkan yang lain. Sebetulnya saat  lihat paket lain di weddingku,  kami juga ingin nyobain nginep  di Ubud Hanging Gardens dan berenang di infinity poolnya yang terkenal itu. Tapi ah, kami dulu pacaran sering sekali lihat view pegunungan, dan rumah pacar di Bandung viewnya saja sudah perbukitan, masa iya hanimun ngeliat gunung lagi.

Berada di wilayah seluas 77 hektar Ayana memiliki 368 kamar yang terdiri dari 290 kamar hotel kelas bintang lima dan 78 private villa.  Dan juga di kompleks ini baru diresmikan Rimba, yang merupakan pengembangan dari Ayana. Bisa ditebak dari namanya, rimba menawarkan pemandangan hutan. Tidak kurang dari 13 Restoran & bar yang ada di kompleks ini. Selain itu Ayana juga memiliki empat kolam renang dan satu pantai private, yaitu Kubu.

Dari empat kolam renang yang disediakan, kami hanya mencoba dua kolam renang yaitu infinity edged pool dan ocean beach pool. Dua-duanya keren. Tapi menurut saya yang istimewa adalah ocean beach pool. Karena kolamnya lebih kecil, sepi, dipayungi pepohonan dan lebih dekat ke pantai. Sayangnya saya hanya sempat berenang siang hari, itu saja sudah rame. Padahal, karena menghadap sunset, berenang saat senja pasti lebih keren dan tidak terlupakan.

Ocean Beach Pool

Tentu saja yang paling terkenal adalah Rock Bar. Bar yang dibangun diatas batu karang ini memang menawarkan atmosfer yang berbeda. Anda bisa menikmati matahari tenggelam sambil minum-minum ditemani musik dan deburan ombak.  Tentu saja untuk menikmati suasana itu harga yang dibayar cukup mahal, untuk dua gelas minuman saja kami harus membayar 500 ribu. Namun hal itu sebanding dengan suasana yang ditawarkan. Apalagi kami menginap di Ayana, jadi kami tidak perlu mengantri seperti tamu lainnya, dan dapat meja yang terbaik 🙂

Ayana Jimbaran

Ayana Jimbaran

Dari 13 Restoran yang ada di Ayana, kami hanya makan di dua restoran yang ada di Ayana. Padi, tempat kami sarapan dan Sami-sami, restoran Italia. Seperti harapan kami, sarapan di hotel bintang lima teramat istimewa. Semua yang ditawarkan , dari western, asian, sampa indoneseian food, enak. Bahkan buah-buahan yang disajikan istimewa, seperti manggis dan kelapa muda. Kalau saja turis-turis cina itu tidak serakah mengambil semua manggis yang ditawarkan, mungkin saja sarapan itu jadi sempurna, tapi well, what you can say, chinese. Kami tentu saja berusaha menyantap semua dan berusaha menjadikan sarapan itu menjadi brunch, supaya kami gak usah makan siang dan bisa menghemat 😀  Satu hal yang saya suka dari Sami-sami adalah karena dia gak terlalu mahal. Bahkan pizza untuk 4 orang, harganya tidak lebih dari 150 ribu, tapi memang dibanding beberapa restoran Italia yang coba, memang Sami-sami tidak terlalu istimewa

Yang paling istimewa dari Ayana, dan saya yakin dari hotel bintang 5 lainnya juga adalah hospitalitynya. Kami sangat dimanjakan oleh Ayana. Lepas lari pagi contohnya, seorang staf langsung menghampiri saya dan memberikan sebotol aqua. Saat kami berenang di tengah hari,  stafnya dengan sigap menawarkan dua gelas aqua dingin, cemilan, dan menawarkan foto. Ketika kami  keluar dari kompleks hotel dan kembali lagi, security di depan menyapa istri dengan nama. Hal-hal kecil sebetulnya, namun membuat pengujung diistimewakan.

Di daerah Jimbaran, bukan hanya Ayana yang spesial, kami sempat makan seafood di pantai Jimabaran yang sebetulnya tidak terlalu istimewa dan juga kami sempat melipir ke Karma Kandara. Karma Kandara juga  istimewa dan juga yang pasti, mahal. Mungkin saja di masa depan, ketika kami punya rizki berlebih, kami bisa menginap di sini.  Kami ke sini ingin melihat-lihat resort. dan makan malam di restoran Di Mare. Jalan menuju Karma Kandara agak rumit, karena jalannya kecil dan hampir mustahil menghafal jalan. Saya bergantung sekali sama google map.

Di Mare tidak mengecewakan, dengan gaya arsitektur mediteran dan view menghadap samudera hindia. Sebelumnya saya belum pernah minum air putih yang ada rasanya, pertama kali saya rasakan ya di restoran ini. Dalam air putihnya dicampur dedaunan yang menurut saya rasanya jadi lebih segar, tapi kalau menurut istri saya jadi aneh. Sebetulnya yang khas dari Di Mare adalah seafood khas mediteran, namun karena saya dan istri sudah puas makan seafood di Jimbaran, akhirnya kami pesan steak. Steak Di Mare simple saja sebetulnya, daging premium Australia 180 gr yang di beri seasoning sedikit dan disajikan pada piring yang bentuknya seperti talenan. Saya pesan dengan tingkat kematangan medium rare. Rasanya? tentu saja mantap, juicy, lembut, pas sekali dengan saus yang disajikan.

Karma Kandara

Karma Kandara

Setelah makan malam, kami turun ke Nammos Beach Club, untuk liat-liat. Untuk turun ke Beach Club kita harus naik lift kecil. Mungkin karena sudah malam, beach club sepi sekali. Tidak ada pengunjung yang datang. Ketika saya tanyakan ke salah satu pegawainya, memang beach club biasanya ramai ketika siang dan sore. Kami sebentar saja di beach club dan kemudian naik kembali ke atas untuk pulang.

Mungkin salah satu kerugian mencoba hotel bintang lima yang hospitalitynya bagus adalah standard anda jadi naik dan agak rewel ketika menginap di hotel yang biasa-biasa saja. Contohnya saya, ketika kami pindah ke Astana Batu Belig, saya yang terbiasa dengan pelayanan Ayana, jadi kecewa dengan pelayanan Astana Batu Belig. Dengan mencoba hotel bintang lima, anda jadi tau kenapa hotel tersebut punya harga yang mahal. Bisnis hospitality adalah bisnis yang rumit dan membangunnya butuh waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit. Jadi, anda tidak akan dengan mudah mengatakan seperti ini, “Ah buat tidur doang kok, ngapain mahal-mahal” .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s