Tentang Salat

“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Faathir, 35:38)

Saya paham, seorang muslim wajib salat lima waktu. Salat adalah tiang agama, dalam salah satu hadist. Kita pun familiar sejarah salat lima waktu, yaitu ketika isra’ mi’raj, Nabi Muhammad mendapatkan perintah langsung dari Allah untuk salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Namun Nabi Muhammad yang sangat mengerti kondisi umatnya di masa datang – yang disibukkan oleh hingar bingar dunia dan tangga sosial yang nampaknya tidak pernah habis didaki – menawarnya hingga lima kali saja dalam satu hari.

Tidak ada alasan sebetulnya bagi muslim untuk tidak salat lima waktu. Rentang waktu antar salat lima waktu cukup panjang, kecuali magrib, salat juga tidak memakan waktu yang lama, hanya sekitar 5 – 15 menit. Lantas apa yang menyebabkan beberapa muslim sulit sekali untuk salat lima waktu?

Saya adalah seorang muslim yang taat dan berupaya salat lima waktu. Tapi itu dulu. Sekarang saya bahkan tidak berusaha menjaga salat lima waktu. Apa penyebabnya? Dulu saya beranggapan Allah itu hakim. Allah akan menghukum orang yang tidak salat dengan azab, hidupnya akan mengalami kesialan dan nasibnya akan buruk dan  sebaliknya, mengganjar muslim taat dengan hidup yang  penuh berkah. Saya juga dengan polos melihat adanya hubungan antara salat dan moral seorang muslim.

Sayangnya, kenyataan berkata lain. Seiring berjalannya waktu, saya malah lebih sering melihat orang yang tidak salat yang secara moral bahkan lebih baik daripada yang salat. Hal ini dengan mudah dilihat dari negara muslim yang terus menerus bertengkar, tidak menghargai perempuan, tidak bisa mengatasi kaum miskin & insecure, dibandingkan dengan negara-negara sekuler yang diluar dugaan, lebih cinta perdamaian dan menangani kaum miskin dengan baik.  Saya bingung. Di mana manfaat salat untuk mencegah yang munkar?

Saya melihat bahwa kaum muslim sering kehilangan konteks. Terlalu sering menyalahkan pihak eksternal, entah itu, Amerika, Yahudi, atau dunia yang terlalu liberal. Beragama, bagi kaum muslim adalah yang ritual. Mungkin banyak muslim yang seperti saya, yang merasa kalau dengan ibadah ritual saja, Allah akan langsung mengganjar hidup kita dengan kebahagiaan dan rizqi yang berlimpah, akhirnya banyak muslim yang tersingkir dari kompetisi dunia yang merasa kecewa dengan ketidakadilan di dunia.

Akhirnya saya berubah pikiran. Saya merasa, tidak salatpun saya masih bisa berbuat baik, pantang merebut yang bukan hak, dan berbagi dengan orang yang dalam kesulitan. Selama periode itu, saya baik-baik saja. Tidak ada yang berubah. Saya tetap mencoba jadi orang yang baik dan sesedikit mungkin merugikan orang lain.

Namun ternyata, banyak sekali hal-hal yang tidak bisa saya pahami. Beberapa tahun terakhir saya sering mengalami kegagalan dengan latar belakang yang cukup aneh. Entah itu karena saya terlalu terburu-buru mengerjakan sesuatu, meremehkan suatu hal penting, atau ketika saya sudah siap mental, saya malah tergoda dengan hal-hal tidak penting. Saya yang selalu merasa ada hubungan antara usaha keras dan hasil merasa kecele. Ternyata tidak sesederhana itu, banyak sekali hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.

Kegagalan demi kegagalan cukup menghancurkan mental saya. Ada badai dalam diri yang sulit dijinakkan. Saya sering menyalahkan diri saya, dan saya jadi tidak santai. Saya jadi sulit untuk menentukan tujuan hidup dan mencari apa yang sebetulnya saya inginkan. Seorang sahabat yang mendengar keluh kesah saya menyarankan, “Salat geura, Dan”,dia bilang bukan karena saya pasti mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi supaya saya tau jalan apa yang harus saya tempuh dan perjuangkan.

Saya pun mempraktekan yang disarankan sahabat saya, saya berusaha untuk salat lima waktu, walaupun belum sempurna benar. Memang tidak serta merta saya jadi tau jalan hidup saya. Tapi yang saya rasakan sekarang, saya lebih santai,  lebih tenang, lebih pasrah.  Saya jadi lebih mudah berbaik sangka terhadap nasib. Bisa jadi inilah yang dulu tidak saya rasakan. Saya tidak merasakan manfaat dari salat yang dilandasi rasa takut. Sekarang, saya salat karena kebutuhan untuk mencari ketenangan dan kepasrahan.

Ya setidaknya untuk sekarang ini saya bisa lebih tenang. Ya mudah-mudahan saya akan cukup konsisten dan kualitas kehidupan spiritual saya bisa jadi lebih baik.

Iklan

One response to “Tentang Salat

  1. Alhamdulillah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s