Kanker

Subuh itu kepala saya masih berat namun  harus bangun karena pesawat yang membawa saya ke Jakarta berangkat dua jam lagi. Saya yang belum sempat ganti baju sehabis nonton pertandingan penentuan juara liga spanyol antara Atletico Madrid VS Barcelona di salah satu cafe di Kota Pontianak bangun dengan berat lalu mandi dan mulai memasukan baju dan barang yang berserakan di meja kamar.

Setelah pamit dengan room mate saya yang  masih setengah sadar, saya menuju ke lobby hotel untuk membayar laundry dan menunggu rekan lain, Prof Boer, Pak Rayyan dan Dian, yang kurang beruntung karena harus naik pesawat paling pagi.

Di Airport Supadio, Prof Boer, Dian dan saya terlibat pembicaraan yang seru sambil ngopi dan ngemil kacang. Awalnya kami membicarakan tentang penyakit psikosomatis. Dian mengutip salah satu penelitian yang menyebutkan kalau istri yang tidak bahagia lebih mudah terkena kanker. Agak sembrono sebetulnya mengutip pseudoscience di depan seorang profesor yang paham betul dengan metode sains. Prof Boer langsung mempertanyakan metode dan asumsi yang dipakai lalu meragukan klaim tersebut. Untuk menyelamatkan blunder kawan saya tersebut, saya alihkan saja pembicaraan ke science dan pesan moral di balik kanker yang saya ambil dari buku The Fault in Our Stars (TFOS) karya John Green.

Saya mulai diskusi seru itu dengan kalimat ini; kanker adalah efek samping dari proses evolusi manusia, dan orang-orang yang terkena kanker adalah korban dari proses seleksi alam. Saya yang waktu kuliah evolusi dapat nilai A tersebut (*ehem) mulai ceramah kalau dalam hidup, mutasi yang bertanggung jawab atas keanekaragaman di bumi ini, terus terjadi di dalam tubuh manusia. Nah, orang-orang kanker ini adalah orang-orang yang tidak beruntung karena mutasi yang terjadi membuat mereka malah tidak bisa survive di dunia ini.

Bukan hal yang menyenangkan sebetulnya bicara tentang kanker. Nenek saya  dari Ibu meninggal karena kanker esofagus, dan Ibu saya harus dioperasi karena terindikasi kanker payudara. Mengingat nenek dan ibu saya terkena kanker, berarti saya punya kecenderungan kuat terkena kanker. Saya bisa jadi merupakan orang-orang yang tidak beruntung itu.

Sebetulnya yang paling saya takutkan dari kanker bukanlah penyakitnya. Tapi akibat dari penyakit tersebut. Kanker menghancurkan tubuh sedikit demi sedikit.  Akibatnya tubuh kita jadi lemah dan tidak bisa mengurus diri sendiri. Dan ketika tidak bisa mengurus diri sendiri saya menjadi butuh bantuan orang-orang terdekat. Saya bukan tipe orang yang nyaman apabila harus merepotkan orang lain. Saya tidak tau apa yang harus dilakukan ketika (amit-amit!!) kanker menyerang saya.

Ah tapi saya tidak mau memikirkan itu, we are gonna die anyway right? dan apalah saya ini di dunia?  Cuma satu diantara 7 milyar orang.  Saya hanya jadi  angka tak berharga di data itu, dan mungkin apabila saya cukup berbuat baik, saya bisa dikenang oleh orang-orang terdekat.

Prof Boer nampaknya setuju dengan argumen saya dan tidak banyak berkomentar. Tidak lama kemudian, panggilan boarding terdengar. Ketika saya dan Dian mengambil uang di dompet, Prof Boer menolak dan meminta dia saja yang membayar kopi dan kacang pagi itu.  Kami lalu menuju ke boarding gate bersama dengan seratusan penumpang lainnya dengan kepala yang lebih ringan akibat kopi dan diskusi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s