Monthly Archives: Agustus 2014

Cerita Di Bus Damri

Lepas dari terminal 2, Bus Damri yang saya tumpangi itu beranjak menuju terminal 1. Seperti biasanya, hanya sedikit penumpang yang naik bus Damri dari terminal 2. Ketika sampai di terminal 1 & 3 baru bus akan penuh. Damri adalah satu-satunya transportasi yang murah dan bisa menampung cukup banyak orang. Pilihan lainnya hanya taksi dan taksi gelap, atau ojek jika jarak tempuh dekat dan barang bawaan tidak banyak.

Jika pulang ke rumah di Cipulir, saya memilih naik taksi, karena lebih cepat dengan dibukanya tol Ciledug yang menghubungkan bandara dengan jalan raya ciledug, hanya 30 menit sampai di rumah dan relatif tidak macet. Namun, karena saya ada rapat dua hari berturut-turut di Kantor Perwakilan Jakarta dan ditambah lagi ada titipan rekan ke kantor (di Kantor saya, budaya titip mentitip dokumen penting kepada orang dinas menjadi trend karena cepat dan terpercaya), jadi saya akan tinggal di hotel di sekitaran Kebon Sirih. Sebelum ke hotel, saya akan mampir dulu ke Kantor Perwakilan menyampaikan titipan.

Bus Damri jurusan Bandara Soekaro Hatta – Terminal Gambir adalah pilihan yang rasional karena murah, dan dari Gambir  sampai ke Kantor Perwakilan  sudah sangat dekat. Jika malas jalan kaki, bisa naik taksi atau ojek. Karena barang bawaan saya sedikit, hanya satu ransel dan satu duffle bag, saya milih jalan kaki saja.

Sampai di Terminal Satu, Bus Damri jurusan Bogor sudah hampir dipenuhi penumpang, dan di sebelah saya duduk seorang pria paruh baya yang  membawa tas dan kardus kecil, sepertinya berisi oleh-oleh. Bapak itu bernama Samsudin, seorang Guru Agama di Tegal. Dia baru mendarat dari Palembang untuk melayat adiknya yang meninggal karena tabrakan motor. Dia menuju Gambir untuk pulang ke Tegal dengan naik kereta, walaupun sampai saat itu dia belum membeli tiket kereta dan tidak tau jadwal kereta ke Tegal. Dia berasumsi kereta ke Tegal berangkat sore dari Jakarta. Dia sudah berencana untuk makan siang, sholat dan jalan-jalan di Monas sebelum berangkat ke Tegal. Ringan sekali, sangat berbeda dengan saya. Jika saya jadi dia, saya tidak akan bikin rencana apapun sebelum tau persis tentang jadwal keberangkatan. Saya tidak akan sesantai itu dan setengah mati cari informasi keberangkatan kereta.

Saat tau saya datang ke Jakarta dengan naik Garuda dan dengan frekuensi penerbangan yang hampir satu kali setiap bulannya, Pak Samsudin berseloroh “Wah sampeyan beruntung sekali bisa kerja di Perusahaan yang membiayai naik pesawat setiap bulan, kalau guru Agama mana bisa”. Saya yang menangkap aura insecure menjadi tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini.

 Perasaan insecure bisa muncul ketika kita bicara dengan orang yang berbeda secara strata sosial. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu, walaupun tidak sama persis. Ketika saya diajak mertua datang ke Halal Bi Halal Keluarga Bakrie di Kemang, saya yang memakai baju koko dan sepatu sandal di tengah keluarga dan kerabat tuan rumah yang berbatik dan berkebaya, merasa insecure. Kuatir dikira pelayanan katering dan disuruh cuci piring oleh tuan rumah, saya hanya duduk di pojokan sambil makan tanpa punya nyali untuk ngobrol dengan siapapun. Beruntung saat itu adik ipar saya yang sebenarnya tidak ingin ikut acara halal bi halal itu, merasa kasihan dengan saya, ikut dan sama-sama memakai baju koko. Akhirnya kami setengah hari itu duduk di pojokan rumah mewah di Kemang dan mendiskusikan tentang game-game yang keren di PS4.

Alih-alih terus membicarakan tentang saya yang beruntung dan dia yang kurang beruntung, saya berusaha membelokan arah pembicaraan yang dia kuasai dan nyaman untuk berbicara, yaitu tentang pendidikan. Saya menyampaikan kritik, “kenapa dengan adanya muatan agama di sekolah-sekolah, akhlak murid tidak membaik, bahkan cenderung memburuk, sepertinya ada yang salah dengan pendidikan agama kita” dia menjawab “memang pendidikan agama di sekolah-sekolah hanya sebatas belajar ritual agama dan bacaan-bacaan yang sebetulnya tidak secara signifikan mengubah akhlak” Saya menangkap Pak Samsudin berharap ketika belajar fiqih islam, murid bisa terinspirasi untuk mendalami islam dan kemudian berpengaruh kepada akhlak.

Sambil berbicara tentang akhlak dalam Islam, Pak Samsudin menawari saya buah duku. saya ambil beberapa buah dan memakannya. Namun karena tidak ada plastik kresek untuk membuang kulit dan biji duku, saya tidak berani makan banyak-banyak. Pak Samsudin pun kebingungan, karena sudah terlanjur makan banyak, beliau sulit membuang biji dan kulit dukuh, kantung kresekpun tidak ada. Akhirnya beliau menyimpan kulit dan biji duku yang tidak termakan itu di kantong jaring di depan kursi. Karena ruang antar jaringnya lebar akhirnya kulit dan biji duku itu jatuh ke mana-mana. Dia akhirnya berhenti makan duku, dan memasukan duku itu ke tasnya.

Dia sepakat dengan saya tentang pendidikan agama yang harusnya memberikan porsi  yang lebih besar kepada pendidikan karakter dan akhlak. Saya tidak mengikuti pendidikan agama sekarang ini, namun saya merasa belajar agama di sekolah hanya membuat saya pintar untuk melakukan ritual agama, sama sekali tidak menyentuh karakter. Karakter, dominan terbentuk di lingkungan luar sekolah, yaitu keluarga dan pergaulan. Mungkin hal inilah yang ingin direngkuh oleh kurikulum 2013.

Namun kurikulum 2013 juga memiliki masalahnya sendiri. Pak Samsudin menyoroti tentang kurikulum 2013, yang terkesan dipaksakan dan membebani guru. Sampai saat ini dia melihat hanya sedikit sekali guru yang mengerti konsep tentang kurikulum 2013. Di kurikulum 2013, guru hanya menjadi fasilitator, muridlah yang harus aktif mengamati, mengeksplorasi, mencoba, sampai menyimpulkan hasil dari suatu pembelajaran.  Sistem penilaian kurikulum 2013pun  berdasarkan hal tersebut. Jadi guru harus menyiapkan berbagai tools untuk memfasilitasi penilaian tersebut. Bukan hal yang mudah, apalagi untuk guru tradisional yang mengajar di daerah terpencil.

Pak Samsudin memberikan contoh, di Tegal, sekarang dia mewajibkan muridnya mencari sendiri bahan ajaran di internet dan meminta muridnya mempresentasikannya di depan kelas. Pekerjaannya sekarang hanya membuat lesson plan dan membuat lembar penilaian yang banyak itu sesuai dengan kurikulum 2013. Namun hal ini sulit untuk diterapkan untuk guru di daerah terpencil. Murid di daerah terpencil terbiasa dicekoki pelajaran. Agak sulit untuk  meminta mereka mencari bahan pelajaran sendiri, apalagi akses informasi terbatas. Bahkan dia bilang, di daerah pedalaman Tegal. Ketika panen tiba, murid banyak yang izin untuk memanen padi. Bagaimana kurikulum 2013 mau diterapkan?

Saya percaya bahwa pendidikan tidak bisa diseragamkan. Ada gap yang cukup besar antara pulau jawa dan pulau lainnya.  Tidak adil jika kita menyamaratakan standard pendidikan antara Pulau Jawa dan Pulau lainnya. Menurut saya yang paling penting dari pendidikan formal adalah terpeliharanya hasrat untuk belajar, bukan standarisasi outputnya. Dengan terpeliharanya hasrat untuk belajar, kesempatan berkembang lebih besar daripada belajar hanya mengharapkan hasil. Kita bisa melihat, ada orang-orang yang tidak memiliki latar pendidikan formal yang cemerlang namun ternyata bisa sukses karena memiliki hasrat untuk belajar. Dahlan Iskan contohnya, beliau tidak lulus IAIN namun bisa membangun grup Jawa Pos dan menjadi Menteri BUMN, demikian pun Chairul Tanjung, lulusan kedokteran Gigi yang kerajaan bisnisnya menggurita dan menjadi Menko Perekonomian. Dahlan dan Chairul merupakan orang-orang yang memiliki hasrat belakar yang tinggi dan tidak terpaku pada standar pendidikan formal.

Ketika tiba di Stasiun Gambir, saya menunjukkan lokasi loket beli tiket dan menjelaskan arah apabila beliau ingin pergi ke Monas. Sayapun pamit. Sambil bersalaman beliau berkata “senang bertemu dan mendapat perspektif baru, semoga sukses” . Sayapun merasa begitu. Semoga sampai dengan selamat ke Tegal Pak!.

 

Iklan

Keluarga Tanpa Drama

Saya besar di keluarga yang miskin drama dan ekspresi perasaan. Ayah saya adalah orang yang datar dan dingin. Beliau tipe orang yang bisa menggertak & menyakiti orang lain tanpa meninggikan intonasi suara. Ibu saya barangkali adalah satu-satunya orang yang hangat di keluarga kami, namun apalah arti seorang yang hangat diantara empat orang dingin lainnya. Akhirnya beliau juga ikut-ikutan menjadi orang yang dingin.

Sarkasme, nyinyir dan kebiasaan meledek berkembang pesat di keluarga kami. Semua orang pasti kena bully. Hal-hal ini melekat kuat di saya dan keluarga. Kakak, saya dan adik dikenal sebagai orang sarkastis, nyinyir dan peledek yang ulung. Di setiap kumpul keluarga inti pasti ada saja ledekan antara keluarga.

Kami juga tidak pernah mengucapkan selamat ketika ada anggota keluarga kami yang meraih sesuatu. Contoh, kakak saya selama sekolah  selalu menjadi juara kelas. Tidak pernah sekalipun kami merayakannya dengan makan-makan atau apapun, yang ada, Ayah dan Ibu hanya menceritakan betapa bangga dia pas ambil raport Kakak Saya, sangat berbeda ketika beliau mengambil raport saya yang dipenuhi keluhan guru akibat perilaku dan nilai saya yang tidak pernah secemerlang kakak saya. Ya, bahkan di dalam keberhasilan kakak, orang tua  masih memiliki celah untuk nyinyirin saya.

Keluarga kami juga jarang sekali merayakan sesuatu apapun. Bahkan ketika lebaran, kami tidak pernah sungkem-sungkeman dan maaf-maafan. Hanya makan-makan ketupat saja Mungkin baru ketika Kakak, Saya dan Adik sudah dewasa baru kami berinisatif merayakan sesuatu, dari ulang tahun, kelulusan SPMB  dan lain-lain. Keberhasilan atau kegagalan yang kami raih, tidak pernah ditarik menjadi keberhasilan atau kegagalan keluarga. Ketika saya gagal atau berhasil itu menjadi kegagalan saya sendiri, ketika berhasil sayapun bangga sendiri.

Akibatnya, saya menjadi orang yang dingin, tanpa drama, dan sulit untuk mengungkapkan perasaan. Ketika saya menikah dengan adat jawa (karena istri saya orang Jawa), ada ritual sungkem sambil bersimpuh di kedua orang tua. Kami sekeluarga kikuk sekali ketika menjalani itu. Sementara mertua saya banyak sekali menyampaikan pesan kepada saya. Ibu saya mengaku bingung mau ngomong apa ke menantu barunya, karena dia melihat saya lama sekali dinasihati oleh mertua saya. Saya tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan ini.

Ketika ada bencana, kegembiraan & ataupun masalah, pendekatan kami selalu rasional. Ketika ada maslaah, hal pertama kali yang terlintas adalah apa yang harus dilakukan, ketimbang berlarut-larut mendalami tentang penyebab suatu masalah.

Ada orang-orang yang senang mendramatisir masalah seraya menceritakan masalahnya ke semua orang untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Saya sangat sebal dengan orang-orang itu. Saya sungguh bersyukur besar di keluarga yang tau cara mengisolasi masalah dan menyelesaikan tanpa perlu melibatkan semua orang.

Anda salah mengira jika menilai hubungan keluarga kami bermasalah hanya karena gak pernah tangis-tangisan bareng. Sesungguhnya hubungan kami sekeluarga amat kuat. Jarang bertemu dan terlihat dingin bukan berarti kami tidak saling membantu jika ada salah satu anggota keluarga yang kena musibah. Kami menyayangi satu sama lain tanpa perlu drama dan air mata. Kami percaya, perwujudan kasih sayang yang paling paripurna adalah dengan tindakan, bukan dengan drama.

Mitos Orang Dayak

Setiap saya menjawab pertanyaan tentang Kalimantan Timur, tempat saya bekerja untuk enam tahun terakhir. Pasti ada saja yang mewanti-wanti saya untuk berhati-hati terhadap suku Dayak. “Suku dayak perempuannya cantik-cantik, tapi jangan sampai kamu mempermainkannya bisa kena teluh, burungmu bakal hilang dan dipaku di atas pintu rumahmu” begitu kata beberapa teman.

Bontang tempat saya bekerja selama 6 tahun terakhir ini adalah Kota kecil di pesisir Kalimantan Timur. Kota ini adalah kota Industri dan kota para pendatang. Menurut penelitian (Setyanto & Loisa) berdasarkan sensus penduduk Kalimantan Timur di Bontang, etnis dominan di Bontang adalah Jawa 30%, disusul Kutai 19% dan Bugis 18%. Sedangkan etnis dayak hanya 10% dari seluruh penduduk Bontang.

Selama enam tahun hidup di Bontang, jarang sekali saya berinteraksi dengan orang Dayak. Kebanyakan justru orang Jawa, Bugis, dan Kutai. Jadi sebetulnya teman saya tersebut tidak perlu kuatir dengan saya yang kena teluh orang dayak, jika apa yang ditakutkan itu benar.

Di Dunia ini banyak hal yang sulit untuk dijelaskan dengan akal sehat. Mantra dan sihir adalah salah satunya. Saya belum pernah dan tidak ingin mengalami hal-hal yang berkaitan dengan mantra-mantra dan sihir tersebut. Mungkin saja teluh itu benar-benar terjadi, namun saya memilih untuk tidak mempercayainya. Mempercayai teluh membuat kita pretensius dan tidak produktif. Bagaimana anda bisa bergaul dengan orang suku lain apabila anda takut kena teluh dan sihir. Sikap pretensius malah akan membuat anda curiga, dan akhirnya mengisolasi anda dari dunia luar. 

Saya adalah orang yang skeptis dan sulit mempercayai sesuatu jika tidak ada landasan ilmiahnya atau mengalaminya sendiri. Problem tentang mitos orang Dayak ini menurut saya terlalu lebay dan dibesar-besarkan. Kalau benar mitos tentang suku dayak ini, harusnya ketika penjajah eropa datang ke daratan Kalimantan tidak terlalu sulit untuk mengusirnya. Tinggal ambil “burung”nya dan tempel saja di geladak kapal, pasti mereka sudah kabur ke negara asalnya dan kapok datang ke Kalimantan. 

Buku Antalogi The Best of Borneo Travel yang disusun oleh Victor T King, seorang peneliti studi Asia Tenggara,   mengumpulkan berbagai catatan perjalanan penjelajah kalimantan dari Eropa dari tahun 1700 – 1900an. Dalam buku itu, saya tidak menemukan cerita tentang teluh  pada antalogi tersebut, mungkin yang paling seram adalah kebiasaan suku dayak untuk memenggal kepala lawan dan menyimpannya sebagai semacam memorabilia, itupun tidak dengan pedang yang tiba-tiba terbang, tapi dengan pertarungan.

Selain dayak sebetulnya ada lagi orang asli Kalimantan yaitu melayu. Melayu biasanya tinggal di Pesisir. Melayu pandai berdagang dan segera saja mampu mengorganisasi masyarakatnya menjadi Kerajaan-kerajaan besar seperti Kesultanan Banjarmasin & Kesultanan Brunei. Sedangkan Dayak yang hidup nomaden serta mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhannya, sulit untuk mengorganisasi diri menjadi kerajaan besar.

Karena hidup dari kemurahan alam, yaitu berburu dan mengumpulkan makanan, suku dayak amat menghargai alamnya. Agama yang berkembang di suku dayak adalah agama pagan, sebelum misionaris masuk untuk menyebarkan agama kristen. Agama Pagan adala agama “Bumi” yang menghormati alam. Karena kental dengan agama “bumi” yang penuh mantra-mantra dan sihir, saya menduga kita jadi membuat mitos-mitos sendiri tentang suku Dayak yang eksotis.

Orang Dayak sebetulnya lebih terancam keberadaannya daripada saya yang terancam kena teluh. Orang dayak lebih rentan terkena mantra dan teluh yang jauh lebih sakti bernama kapitalisme dan modernisme. Karena terbiasa hidup nomaden dan hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan, suku dayak terlambat untuk beradaptasi dengan kehidupan modern,  bertani dalam skala besar, mengorganisasi masyarakat, dan belajar dalam bentuk formal. Akibatnya mereka lebih terbelakang dari etnis lainnya dan sulit mengejar ketertinggalan.

Saya jadi berpikir, seharusnya tetua-tetua suku dayaklah yang harus mengingatkan anak cucu mereka untuk hati-hati kena teluh kapitalisme dan modernisme ketika mereka mencari uang atau menimba ilmu di Kota. Karena, itu jauh lebih berbahaya daripada “burung” yang dipaku di pintu rumah.