Keluarga Tanpa Drama

Saya besar di keluarga yang miskin drama dan ekspresi perasaan. Ayah saya adalah orang yang datar dan dingin. Beliau tipe orang yang bisa menggertak & menyakiti orang lain tanpa meninggikan intonasi suara. Ibu saya barangkali adalah satu-satunya orang yang hangat di keluarga kami, namun apalah arti seorang yang hangat diantara empat orang dingin lainnya. Akhirnya beliau juga ikut-ikutan menjadi orang yang dingin.

Sarkasme, nyinyir dan kebiasaan meledek berkembang pesat di keluarga kami. Semua orang pasti kena bully. Hal-hal ini melekat kuat di saya dan keluarga. Kakak, saya dan adik dikenal sebagai orang sarkastis, nyinyir dan peledek yang ulung. Di setiap kumpul keluarga inti pasti ada saja ledekan antara keluarga.

Kami juga tidak pernah mengucapkan selamat ketika ada anggota keluarga kami yang meraih sesuatu. Contoh, kakak saya selama sekolah  selalu menjadi juara kelas. Tidak pernah sekalipun kami merayakannya dengan makan-makan atau apapun, yang ada, Ayah dan Ibu hanya menceritakan betapa bangga dia pas ambil raport Kakak Saya, sangat berbeda ketika beliau mengambil raport saya yang dipenuhi keluhan guru akibat perilaku dan nilai saya yang tidak pernah secemerlang kakak saya. Ya, bahkan di dalam keberhasilan kakak, orang tua  masih memiliki celah untuk nyinyirin saya.

Keluarga kami juga jarang sekali merayakan sesuatu apapun. Bahkan ketika lebaran, kami tidak pernah sungkem-sungkeman dan maaf-maafan. Hanya makan-makan ketupat saja Mungkin baru ketika Kakak, Saya dan Adik sudah dewasa baru kami berinisatif merayakan sesuatu, dari ulang tahun, kelulusan SPMB  dan lain-lain. Keberhasilan atau kegagalan yang kami raih, tidak pernah ditarik menjadi keberhasilan atau kegagalan keluarga. Ketika saya gagal atau berhasil itu menjadi kegagalan saya sendiri, ketika berhasil sayapun bangga sendiri.

Akibatnya, saya menjadi orang yang dingin, tanpa drama, dan sulit untuk mengungkapkan perasaan. Ketika saya menikah dengan adat jawa (karena istri saya orang Jawa), ada ritual sungkem sambil bersimpuh di kedua orang tua. Kami sekeluarga kikuk sekali ketika menjalani itu. Sementara mertua saya banyak sekali menyampaikan pesan kepada saya. Ibu saya mengaku bingung mau ngomong apa ke menantu barunya, karena dia melihat saya lama sekali dinasihati oleh mertua saya. Saya tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan ini.

Ketika ada bencana, kegembiraan & ataupun masalah, pendekatan kami selalu rasional. Ketika ada maslaah, hal pertama kali yang terlintas adalah apa yang harus dilakukan, ketimbang berlarut-larut mendalami tentang penyebab suatu masalah.

Ada orang-orang yang senang mendramatisir masalah seraya menceritakan masalahnya ke semua orang untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Saya sangat sebal dengan orang-orang itu. Saya sungguh bersyukur besar di keluarga yang tau cara mengisolasi masalah dan menyelesaikan tanpa perlu melibatkan semua orang.

Anda salah mengira jika menilai hubungan keluarga kami bermasalah hanya karena gak pernah tangis-tangisan bareng. Sesungguhnya hubungan kami sekeluarga amat kuat. Jarang bertemu dan terlihat dingin bukan berarti kami tidak saling membantu jika ada salah satu anggota keluarga yang kena musibah. Kami menyayangi satu sama lain tanpa perlu drama dan air mata. Kami percaya, perwujudan kasih sayang yang paling paripurna adalah dengan tindakan, bukan dengan drama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s