Mitos Orang Dayak

Setiap saya menjawab pertanyaan tentang Kalimantan Timur, tempat saya bekerja untuk enam tahun terakhir. Pasti ada saja yang mewanti-wanti saya untuk berhati-hati terhadap suku Dayak. “Suku dayak perempuannya cantik-cantik, tapi jangan sampai kamu mempermainkannya bisa kena teluh, burungmu bakal hilang dan dipaku di atas pintu rumahmu” begitu kata beberapa teman.

Bontang tempat saya bekerja selama 6 tahun terakhir ini adalah Kota kecil di pesisir Kalimantan Timur. Kota ini adalah kota Industri dan kota para pendatang. Menurut penelitian (Setyanto & Loisa) berdasarkan sensus penduduk Kalimantan Timur di Bontang, etnis dominan di Bontang adalah Jawa 30%, disusul Kutai 19% dan Bugis 18%. Sedangkan etnis dayak hanya 10% dari seluruh penduduk Bontang.

Selama enam tahun hidup di Bontang, jarang sekali saya berinteraksi dengan orang Dayak. Kebanyakan justru orang Jawa, Bugis, dan Kutai. Jadi sebetulnya teman saya tersebut tidak perlu kuatir dengan saya yang kena teluh orang dayak, jika apa yang ditakutkan itu benar.

Di Dunia ini banyak hal yang sulit untuk dijelaskan dengan akal sehat. Mantra dan sihir adalah salah satunya. Saya belum pernah dan tidak ingin mengalami hal-hal yang berkaitan dengan mantra-mantra dan sihir tersebut. Mungkin saja teluh itu benar-benar terjadi, namun saya memilih untuk tidak mempercayainya. Mempercayai teluh membuat kita pretensius dan tidak produktif. Bagaimana anda bisa bergaul dengan orang suku lain apabila anda takut kena teluh dan sihir. Sikap pretensius malah akan membuat anda curiga, dan akhirnya mengisolasi anda dari dunia luar. 

Saya adalah orang yang skeptis dan sulit mempercayai sesuatu jika tidak ada landasan ilmiahnya atau mengalaminya sendiri. Problem tentang mitos orang Dayak ini menurut saya terlalu lebay dan dibesar-besarkan. Kalau benar mitos tentang suku dayak ini, harusnya ketika penjajah eropa datang ke daratan Kalimantan tidak terlalu sulit untuk mengusirnya. Tinggal ambil “burung”nya dan tempel saja di geladak kapal, pasti mereka sudah kabur ke negara asalnya dan kapok datang ke Kalimantan. 

Buku Antalogi The Best of Borneo Travel yang disusun oleh Victor T King, seorang peneliti studi Asia Tenggara,   mengumpulkan berbagai catatan perjalanan penjelajah kalimantan dari Eropa dari tahun 1700 – 1900an. Dalam buku itu, saya tidak menemukan cerita tentang teluh  pada antalogi tersebut, mungkin yang paling seram adalah kebiasaan suku dayak untuk memenggal kepala lawan dan menyimpannya sebagai semacam memorabilia, itupun tidak dengan pedang yang tiba-tiba terbang, tapi dengan pertarungan.

Selain dayak sebetulnya ada lagi orang asli Kalimantan yaitu melayu. Melayu biasanya tinggal di Pesisir. Melayu pandai berdagang dan segera saja mampu mengorganisasi masyarakatnya menjadi Kerajaan-kerajaan besar seperti Kesultanan Banjarmasin & Kesultanan Brunei. Sedangkan Dayak yang hidup nomaden serta mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhannya, sulit untuk mengorganisasi diri menjadi kerajaan besar.

Karena hidup dari kemurahan alam, yaitu berburu dan mengumpulkan makanan, suku dayak amat menghargai alamnya. Agama yang berkembang di suku dayak adalah agama pagan, sebelum misionaris masuk untuk menyebarkan agama kristen. Agama Pagan adala agama “Bumi” yang menghormati alam. Karena kental dengan agama “bumi” yang penuh mantra-mantra dan sihir, saya menduga kita jadi membuat mitos-mitos sendiri tentang suku Dayak yang eksotis.

Orang Dayak sebetulnya lebih terancam keberadaannya daripada saya yang terancam kena teluh. Orang dayak lebih rentan terkena mantra dan teluh yang jauh lebih sakti bernama kapitalisme dan modernisme. Karena terbiasa hidup nomaden dan hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan, suku dayak terlambat untuk beradaptasi dengan kehidupan modern,  bertani dalam skala besar, mengorganisasi masyarakat, dan belajar dalam bentuk formal. Akibatnya mereka lebih terbelakang dari etnis lainnya dan sulit mengejar ketertinggalan.

Saya jadi berpikir, seharusnya tetua-tetua suku dayaklah yang harus mengingatkan anak cucu mereka untuk hati-hati kena teluh kapitalisme dan modernisme ketika mereka mencari uang atau menimba ilmu di Kota. Karena, itu jauh lebih berbahaya daripada “burung” yang dipaku di pintu rumah. 

Iklan

2 responses to “Mitos Orang Dayak

  1. saya setuju dengan pendapat anda, bahkan mitos bukan hanya di pedalaman Kalimantan ttp juga di kota2 besar yg penuh lalu-lalang orang2 berdasi dan bermobil mewah….Tanpa ada kesadaran dan kemauan untuk mempelajari budaya kita sendiri kepercayaan mitos akan semakin tebal bahkan banyak tokoh mitologi yang dianggap sebagai Tokoh Histori.

  2. hhmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s