Monthly Archives: Oktober 2014

Shanghai

Shanghai & Beijing secara berurutan adalah dua kota terbesar di Cina. Cina seperti kita tau adalah kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di Dunia setelah Amerika Serikat. GDP atau Pendapatan Domestik Bruto mencapai US$9.5 trilyun.  Indonesia berada di urutan 16 dengan GDP/PDB sekitar US$ 870 milyar. Pertumbuhan ekonomi Cina pada tahun 2013 sebesar 7.4 %, sementara Indonesia 5.3%. Pertumbuhan ekonomi yang pesat melahirkan jumlah warga kelas menengah yang cukup besar, diperkirakan warga kelas menengah Cina mencapai 300 juta orang, lebih banyak dari jumlah orang Indonesia.  Jumlah kelas menengah yang besar menimbulkan permintaan yang besar terhadap barang-barang mewah seperti butik-butik bermerek dan mobil mahal. Butik-butik mewah, bahkan yang menurut Istriku bukan butik populer seperti Valentino bisa sangat besar di Cina. Mobil-mobil seperti Range Rover, VW, BMW, Porsche sangat umum terlihat di jalan raya di Shanghai dan Beijing. Sepertinya warga kelas menengah Cina menjadikan Amerika sebagai kiblat,  mereka suka baju bermerk, rumah mewah dan mobil berCC besar.

430 km/h on Maglev

430 km/h on Maglev

Di Shanghai, kami menginap di Baron Business Hotel, dekat Bund yang merupakan etalase ekonomi Cina yang berjaya. Arsitektur dan tata kotanya  yang menyerupai Eropa merupakan warisan dari penguasaan Inggris atas Cina saat perang opium yang menjadikan Shanghai pusat perdagangan antara Asia dan Eropa. Menguatnya ekonomi di Shanghai, yang menjadi pusat finansial di Cina, disimbolkan dengan “Bund Bull“,  patung banteng  yang menandakan agresivitas kekuatan finansial Cina. Patung serupa  juga ada di Wall Street. Walaupun sistem politik Cina komunis, namun sistem perekonomiannya tetap kapitalis. Agaknya Cina harus berterima kasih kepada  Deng Xioping yang menerapkan reformasi ekonomi di akhir tahun 1970an. Cina yang diakhir kepemimpinan Mao Zedong sangat miskin, perlahan-lahan menjadi raksasa ekonomi dunia.

Hordes of Chinese

Hordes of Chinese

Salah satu ciri warga kelas menengah adalah hasratnya untuk traveling. Jumlah kelas menengah yang besar terlihat di Shanghai saat hari libur nasional Cina atau “Golden Week“. Golden Week dimulai dari tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari berdirinya Republik Rakyat Cina, berlangsung selama tujuh hari. Seluruh kawasan wisata seperti, Bund, Nanjing Road, Pudong, Xintiadi, Tianzifang penuh oleh lautan turis yang didominasi oleh turis lokal. Kami yang sudah kepalang membeli tiket sightseeing bus yang cukup mahal, 80 Yuan/orang, sering tidak kebagian tempat duduk bahkan kesulitan mencari bus. Alhasil kami lebih banyak naik taksi karena jalur subway pada National Day banyak yang tutup.

Pudong View from The Bund

Pudong View from The Bund

Kamu pernah melihat foto iconic Shanghai yang menampilan Gedung-gedung dengan arsitektur unik dan megah? Foto iconic Shanghai tersebut diambil dari Bund di sebelah barat Sungai Huangpu mengarah ke Pudong. Pudong adalah distrik di sebelah timur Sungai Huangpu tempat berdirinya gedung-gedung terkenal seperti Oriental Pearl Tower, Jin Mao, Shanghai World Financial Center, dan Shanghai Tower yang masih dalam pembangunan. Belum sah ke Shanghai  kalau kamu belum ambil foto Pudong dari Bund.

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar, yang menurut beberapa review merupakan Best Rooftop bar, berada di Puncak Hotel Ritz Carlton di daerah Pudong. Nongkrong di Flair ada minimum chargenya. Apabila duduk di luar, per orang minimal menghabiskan 450 Yuan, atau sekitar Rp 900.000. Duduk di dalam minimum chargenya 350 Yuan atau sekitar Rp 700.000. Pilihan termurah adalah duduk di bar, tanpa minimum charge. In my opinion, the food and drink here sucks! Even the cocktail was very bad. Namun hal itu bisa ditutup oleh pemandangan dari Flair yang super keren. Persis di depan Flair ada Oriental Pearl Tower kemudian kamu bisa melihat Sungai Huangpu dan Bund dari Rooftop. Saranku, pikir-pikir lagi kalau mau duduk di luar, apalagi saat musim gugur atau musim dingin. Duduk di luar bisa dingin banget walaupun sudah dikasih selimut gratis.

Salah satu kegiatan menarik di Shanghai yaitu nonton sirkus ERA di Shanghai Circus World. Cina terkenal dengan para akrobatnya yang lincah, luwes, tapi kuat. Kita bisa lihat kekuatan gymnastic Cina di Olimpiade. Di cabang olahraga senam, nyaris semua nomor dikuasai oleh Cina. Paling murah nonton sirkus era sekitar 140 Yuan atau Rp 240.000. Kursinya mirip dengan kursi di Teater Taman Ismail Marzuki, agak sempit untuk saya. Satu show dibagi menjadi beberapa segmen dengan berbagai tema. Yang paling seru waktu melihat ada 10 sepeda motor masuk ke dalam satu bola dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Timing menjadi sangat penting ketika ada 10 sepeda motor masuk dan melingkari bola dengan jalur yang saling bersinggungan. Satu saja sepeda motor salah timing, bisa dipastikan semua celaka. Aku membayangkan, latihan macam apa yang mereka lakukan sehingga bisa memperhitungkan waktu dan kecepatan dengan detail.

Huai Hai Park

Huai Hai Park

Menurutku yang menarik dari Shanghai adalah banyaknya Taman di tengah Kota. Taman-taman ini sudah seperti neighbourhood, tempat orang Shanghai berinteraksi. Kita bisa melihat warga Shanghai yang bermain judi, senam, fitness, bahkan ada yang menawarkan jasa pijat. Salah satu taman yang aku kunjungi di Shanghai adalah Taman Huahai. Tidak terlalu istimewa sebetulnya, tapi aku suka Taman yang homy, ramah, dan banyak aktivitas di dalamnya. Aku  ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan orang yang sedang beraktivitas di sana, pingin tau dari mana asalnya, di mana tinggalnya, kenapa mayoritas adalah usia paruh baya, ke mana anak-anak mudanya nongkrong. Tapi mengingat bahasa mandarinku amat buruk, akhirnya aku cuma melihat-lihat saja.

Betapapun megah dan majunya ekonomi di Shanghai, perilaku berkendara anak-anak Shanghai, dan di Cina keseluruhan amat liar. Bus-bus besar seenaknya saja ngebut, tidak ingat bodinya yang besar. Taksi yang kami tumpangi ngebut dan nerabas lampu merah. Orang Cina amat gemar membunyikan klakson, mereka menggunakan klakson secara optimal, sedikit-sedikit klakson. Menyebrang jalan di Shanghai bisa sangat berbahaya, dan galakan sopir daripada pejalan kaki, kami beberapa kali melihat pejalan kaki dimaki oleh sopir, padahal jelas sopir yang salah. Situasi ini mirip dengan di Medan dan kayaknya lebih parah dari Medan.

Mengunjungi Shanghai kamu menjadi saksi betapa besar skala ekonomi Cina. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang kelewat tinggi, butik-butik mewah yang selalu ramai, mobil mewah yang berkeliaran, Mungkin hanya di Cina kita bisa melihat pertumbuhan warga kelas menengah yang luar biasa masif. Seorang pebisnis Taiwan, memiliki ungkapan yang bagus tentang bagaimana mengukur skala ekonomi Cina. Dia bilang: “Any number divided by 1.3 Billion is a small number. Any number multiplied by 1.3 billion is a big“.

He is damn right.

Tips Pergi Ke Cina Secara Mandiri

Bepergian ke negara dengan bahasa dan tulisan yang tidak  dikuasai memang  menantang, apalagi bila pergi ke daerah pedalaman suatu negara yang bahasa inggris bukan hal yang umum diketahui. Hal ini pernah aku alami waktu pergi ke Kota Hakodate di Pulau Hokkaido, Jepang, lokasi perang antara kekuatan shogun terakhir dengan tentara kaisar saat Restorasi Meiji. Tapi itu Jepang, di mana warganya relatif jujur  dan baik. Di Jepang, mantan pacar yang sekarang sudah jadi Istri belum pernah mengalami hal yang menjurus kriminal. Paling jelek yang dialami adalah celana dalamnya dicuri orang saat dijemur di luar. Dia bilang, di Jepang banyak pencuri celana dalam, dia mengaku ceroboh karena lupa memasukkan jemurannya ke dalam. Tindak kriminal yang aneh.

Di Jepang aku juga tidak perlu susah-susah belajar bahasa, karena mantan pacar yang sekarang sudah jadi istri saat itu sudah hampir lima tahun belajar di Jepang. Walaupun mengaku bahasa Jepangnya buruk, namun aku percaya kalau dia pasti bisa berkomunikasi, kalau tidak pakai bahasa Jepang, ya minimal bahasa tubuh. Karena hobinya makan, kami tidak pernah kesulitan berkomunikasi dalam memilih makanan, dia sudah tau bagaimana memesan makanan, memilih makanan yang bukan babi, dan menanyakan harga. Tapi pernah juga sih kami kesulitan memilih menu di Izakaya di Hakodate, karena tidak bisa menyampaikan apa yang kami ingin, akhirnya kami malah dikasih satu ekor ikan goreng, padahal maksudnya kami ingin nyemil saja.

Dia juga bilang, di setiap stasiun di Jepang ada tourist center yang punya staff dengan kemampuan bahasa Inggris jadi tidak perlu kuatir kesulitan cari informasi dan jadwal kereta. Benar saja, ketika kami kesulitan menentukan jalur dan jadwal di Sapporo karena kami akan mampir di beberapa kota sebelum sampai ke Hakodate, petugas di tourist center sampai mencarikan jadwal kereta terdekat dengan harga termurah!

Semua hal yang aku sebutkan di atas tidak bisa didapatkan di Cina. Di Cina, orang-orangnya masih sering tipu-tipu. Contohnya, ketika kami baru tiba di airport dan mau ke pusat kota Beijing. Dari Capital Airport kami naik kereta Airport Express sampai ke Stasiun Dongzhimen dan kemudian rencananya mau naik taksi karena kami berdua bawa dua koper besar. Namun ketika kami mau naik taksi, si sopir gak mau pakai argo dan meminta 180 Yuan atau sekitar 360 Ribu, padahal saya tau hotel saya tidak terlampau jauh dari Dongzhimen. Terlalu sebel, kami memilih jalan yang sulit yaitu naik subway dan kemudian lanjut jalan kaki ke Hotel, saya berbicara ke diri sendiri. “Brace yourself you are in China“.

Nyari orang yang bisa bahasa inggrispun sulit, di Kota besar seperti Shanghai dan Beijing saja sulit, apalagi di daerah pedalaman. Di Shanghai, saat jalan-jalan, kami berdua melihat ada restoran berlambang ayam yang cukup ramai. Kami menduga ini restoran spesialis ayam dan tidak ada menu babinya. Kami coba masuk ke dalam dan menghampiri pelayannya. Selanjutnya yang terjadi adalah dagelan. Tidak ada satupun pelayan yang bisa berbahasa inggris, bahkan antar pelayan saling dorong untuk melayani kami. Menu bahasa inggrispun sepertinya terselip entah ke mana. Saya yang sebelumnya sudah mempersiapkan situasi seperti ini dengan belajar bahasa mandarin tiga kali seminggu via youtube juga terbukti tidak berguna. Pengucapan bahasa mandarin saya tidak bisa dimengerti oleh pelayannya. Saya frustasi, diapun frustasi. Untungnya tidak lama menu bahasa inggris ketemu dan  kamipun bisa memesan makanan.

Restoran Ayam di Shanghai

Restoran Ayam di Shanghai

Pengalaman seru lainnya adalah ketika kami mau check-in di Ruimin Business Hotel di Jiuzhaigou. Walaupun namanya Business Hotel, hotel ini benar-benar payah, kotor dan selama tiga hari kami di sana, kamar tidak pernah dibereskan. Ketika kami check in, saya lupa kalau pesen kamar dengan Booking.com, bayarnya belakangan. Saya yang merasa sudah bayar sulit mengungkapkan maksud saya, dia juga yang merasa tidak merasa menerima pembayaran juga tidak bisa mengungkapkan maksudnya. Untung saja ada tamu lain yang bisa berbahasa inggris yang menerangkan dan mengingatkan saya bahwa Booking.com bayarnya belakangan.  Kamipun meminta maaf dan bermaksud membayar dengan kartu kredit karena uang cash sudah menipis. Kemudian ada masalah lagi, ternyata mereka hanya menerima kartu kredit yang diterbitkan bank Cina, kartu kredit Visa tidak laku. Akhirnya kami membayar cash dengan kuatir karena uang cash kami sudah mepet sekali.

Pemandangan Depan Hotel

Pemandangan Depan Hotel

Beranjak dari pengalaman itu, saya akan memberikan saran bagi rekan-rekan yang mau pergi ke negara dengan bahasa dan tulisan yang asing, terutama apabila rekan mau ke Cina.

  1. Apabila tidak mau ribet, saranku ikut saja travel dengan jadwal yang jelas. Selain harganya bisa lebih murah, rekan-rekan juga bisa terhindar dari hal-hal yang saya sebutkan di atas. Namun, dengan ikut travel, interaksi dengan warga lokal akan sedikit sekali dan pengalaman travel yang lucu-lucu kemungkinan kecil dialami.
  2. Apabila memutuskan untuk pergi tanpa travel, belajarlah bahasa mandarin walaupun sedikit. Paling tidak rekan traveler tau bagaimana bertanya menu makanan (sangat berguna kalau anda muslim), bertanya harga, bertanya toilet di mana, dan bertanya lokasi suatu tempat. Bahasa mandarin adalah bahasa yang unik karena silabelnya yang banyak. Sedikit saja salah pengucapan, orang-orang cina tidak akan mengerti yang diucapkan.
  3. Cina tidaklah murah. Oleh karena itu persiapkanlah uang cash secukupnya, terutama apabila rekan mau pergi ke daerah pedalaman. Harga di daerah wisata bisa dua sampai tiga kali lipat harga normal.
  4. Bersikaplah hati-hati dan tegas. Orang Cina adalah orang-orang yang ngeyel. Apabila tidak tegas, terutama dalam antrian dan harga, bisa dikerjain. Bersikap polite tidak disarankan terutama dalam antrian, bersikaplah agresif.
  5. Siapkan tisu basah yang higienis. Orang Cina sama seperti orang Indonesia, senangnya ngeludah sembarangan, ngupil sembarangan dan tidak ada air di toiletnya. Brace yourself.

Orang Indonesia, seperti aku, kalau pergi ke luar negeri berharap melihat kondisi negara yang lebih baik dari Indonesia, seperti keteraturan dan kebersihan. Di Cina, keteraturan dan kebersihan seperti barang asing, hanya sedikit lebih baik dari Indonesia. Jadi kalau malas berurusan dengan hal-hal seperti saya sebutkan, jangan pergi ke Cina, pergi saja ke Korea atau Jepang yang lebih teratur dan bersih.

Tapi menurutku, pergi ke Cina seperti pulang kampung ke Indonesia. Apabila rekan sudah biasa sama keadaan di Indonesia, di mana toiletnya gak bersih-bersih amat dan orangnya sedikit nakal. Saya percaya rekan akan bisa survive di Cina. Dan ketika sudah terbiasa, rekan akan bisa menikmati Cina yang menurutku sangat-sangat indah dan memiliki sejarah panjang yang menarik.  Rekan akan menemukan bahwa Cina adalah negara yang unik, dan tentu saja menemukan bahwa pendapat orang-orang tidak sepenuhnya benar tentang Cina.