Tips Pergi Ke Cina Secara Mandiri

Bepergian ke negara dengan bahasa dan tulisan yang tidak  dikuasai memang  menantang, apalagi bila pergi ke daerah pedalaman suatu negara yang bahasa inggris bukan hal yang umum diketahui. Hal ini pernah aku alami waktu pergi ke Kota Hakodate di Pulau Hokkaido, Jepang, lokasi perang antara kekuatan shogun terakhir dengan tentara kaisar saat Restorasi Meiji. Tapi itu Jepang, di mana warganya relatif jujur  dan baik. Di Jepang, mantan pacar yang sekarang sudah jadi Istri belum pernah mengalami hal yang menjurus kriminal. Paling jelek yang dialami adalah celana dalamnya dicuri orang saat dijemur di luar. Dia bilang, di Jepang banyak pencuri celana dalam, dia mengaku ceroboh karena lupa memasukkan jemurannya ke dalam. Tindak kriminal yang aneh.

Di Jepang aku juga tidak perlu susah-susah belajar bahasa, karena mantan pacar yang sekarang sudah jadi istri saat itu sudah hampir lima tahun belajar di Jepang. Walaupun mengaku bahasa Jepangnya buruk, namun aku percaya kalau dia pasti bisa berkomunikasi, kalau tidak pakai bahasa Jepang, ya minimal bahasa tubuh. Karena hobinya makan, kami tidak pernah kesulitan berkomunikasi dalam memilih makanan, dia sudah tau bagaimana memesan makanan, memilih makanan yang bukan babi, dan menanyakan harga. Tapi pernah juga sih kami kesulitan memilih menu di Izakaya di Hakodate, karena tidak bisa menyampaikan apa yang kami ingin, akhirnya kami malah dikasih satu ekor ikan goreng, padahal maksudnya kami ingin nyemil saja.

Dia juga bilang, di setiap stasiun di Jepang ada tourist center yang punya staff dengan kemampuan bahasa Inggris jadi tidak perlu kuatir kesulitan cari informasi dan jadwal kereta. Benar saja, ketika kami kesulitan menentukan jalur dan jadwal di Sapporo karena kami akan mampir di beberapa kota sebelum sampai ke Hakodate, petugas di tourist center sampai mencarikan jadwal kereta terdekat dengan harga termurah!

Semua hal yang aku sebutkan di atas tidak bisa didapatkan di Cina. Di Cina, orang-orangnya masih sering tipu-tipu. Contohnya, ketika kami baru tiba di airport dan mau ke pusat kota Beijing. Dari Capital Airport kami naik kereta Airport Express sampai ke Stasiun Dongzhimen dan kemudian rencananya mau naik taksi karena kami berdua bawa dua koper besar. Namun ketika kami mau naik taksi, si sopir gak mau pakai argo dan meminta 180 Yuan atau sekitar 360 Ribu, padahal saya tau hotel saya tidak terlampau jauh dari Dongzhimen. Terlalu sebel, kami memilih jalan yang sulit yaitu naik subway dan kemudian lanjut jalan kaki ke Hotel, saya berbicara ke diri sendiri. “Brace yourself you are in China“.

Nyari orang yang bisa bahasa inggrispun sulit, di Kota besar seperti Shanghai dan Beijing saja sulit, apalagi di daerah pedalaman. Di Shanghai, saat jalan-jalan, kami berdua melihat ada restoran berlambang ayam yang cukup ramai. Kami menduga ini restoran spesialis ayam dan tidak ada menu babinya. Kami coba masuk ke dalam dan menghampiri pelayannya. Selanjutnya yang terjadi adalah dagelan. Tidak ada satupun pelayan yang bisa berbahasa inggris, bahkan antar pelayan saling dorong untuk melayani kami. Menu bahasa inggrispun sepertinya terselip entah ke mana. Saya yang sebelumnya sudah mempersiapkan situasi seperti ini dengan belajar bahasa mandarin tiga kali seminggu via youtube juga terbukti tidak berguna. Pengucapan bahasa mandarin saya tidak bisa dimengerti oleh pelayannya. Saya frustasi, diapun frustasi. Untungnya tidak lama menu bahasa inggris ketemu dan  kamipun bisa memesan makanan.

Restoran Ayam di Shanghai

Restoran Ayam di Shanghai

Pengalaman seru lainnya adalah ketika kami mau check-in di Ruimin Business Hotel di Jiuzhaigou. Walaupun namanya Business Hotel, hotel ini benar-benar payah, kotor dan selama tiga hari kami di sana, kamar tidak pernah dibereskan. Ketika kami check in, saya lupa kalau pesen kamar dengan Booking.com, bayarnya belakangan. Saya yang merasa sudah bayar sulit mengungkapkan maksud saya, dia juga yang merasa tidak merasa menerima pembayaran juga tidak bisa mengungkapkan maksudnya. Untung saja ada tamu lain yang bisa berbahasa inggris yang menerangkan dan mengingatkan saya bahwa Booking.com bayarnya belakangan.  Kamipun meminta maaf dan bermaksud membayar dengan kartu kredit karena uang cash sudah menipis. Kemudian ada masalah lagi, ternyata mereka hanya menerima kartu kredit yang diterbitkan bank Cina, kartu kredit Visa tidak laku. Akhirnya kami membayar cash dengan kuatir karena uang cash kami sudah mepet sekali.

Pemandangan Depan Hotel

Pemandangan Depan Hotel

Beranjak dari pengalaman itu, saya akan memberikan saran bagi rekan-rekan yang mau pergi ke negara dengan bahasa dan tulisan yang asing, terutama apabila rekan mau ke Cina.

  1. Apabila tidak mau ribet, saranku ikut saja travel dengan jadwal yang jelas. Selain harganya bisa lebih murah, rekan-rekan juga bisa terhindar dari hal-hal yang saya sebutkan di atas. Namun, dengan ikut travel, interaksi dengan warga lokal akan sedikit sekali dan pengalaman travel yang lucu-lucu kemungkinan kecil dialami.
  2. Apabila memutuskan untuk pergi tanpa travel, belajarlah bahasa mandarin walaupun sedikit. Paling tidak rekan traveler tau bagaimana bertanya menu makanan (sangat berguna kalau anda muslim), bertanya harga, bertanya toilet di mana, dan bertanya lokasi suatu tempat. Bahasa mandarin adalah bahasa yang unik karena silabelnya yang banyak. Sedikit saja salah pengucapan, orang-orang cina tidak akan mengerti yang diucapkan.
  3. Cina tidaklah murah. Oleh karena itu persiapkanlah uang cash secukupnya, terutama apabila rekan mau pergi ke daerah pedalaman. Harga di daerah wisata bisa dua sampai tiga kali lipat harga normal.
  4. Bersikaplah hati-hati dan tegas. Orang Cina adalah orang-orang yang ngeyel. Apabila tidak tegas, terutama dalam antrian dan harga, bisa dikerjain. Bersikap polite tidak disarankan terutama dalam antrian, bersikaplah agresif.
  5. Siapkan tisu basah yang higienis. Orang Cina sama seperti orang Indonesia, senangnya ngeludah sembarangan, ngupil sembarangan dan tidak ada air di toiletnya. Brace yourself.

Orang Indonesia, seperti aku, kalau pergi ke luar negeri berharap melihat kondisi negara yang lebih baik dari Indonesia, seperti keteraturan dan kebersihan. Di Cina, keteraturan dan kebersihan seperti barang asing, hanya sedikit lebih baik dari Indonesia. Jadi kalau malas berurusan dengan hal-hal seperti saya sebutkan, jangan pergi ke Cina, pergi saja ke Korea atau Jepang yang lebih teratur dan bersih.

Tapi menurutku, pergi ke Cina seperti pulang kampung ke Indonesia. Apabila rekan sudah biasa sama keadaan di Indonesia, di mana toiletnya gak bersih-bersih amat dan orangnya sedikit nakal. Saya percaya rekan akan bisa survive di Cina. Dan ketika sudah terbiasa, rekan akan bisa menikmati Cina yang menurutku sangat-sangat indah dan memiliki sejarah panjang yang menarik.  Rekan akan menemukan bahwa Cina adalah negara yang unik, dan tentu saja menemukan bahwa pendapat orang-orang tidak sepenuhnya benar tentang Cina.

Iklan

3 responses to “Tips Pergi Ke Cina Secara Mandiri

  1. Wildan, kl utk biaya hostel&makan, cina ama jepang mahalan mana? thnks be4 ^_*

  2. Mahalan jepang intan. Cina rentang harganya masih lebih lebar untuk hostel dan makan. Kapan mau ke Cina?

  3. pgn dan… tp bm tau kpn,,krn banyak bener keinginan sementara budget nya terbatas hihihihihhii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s