Shanghai

Shanghai & Beijing secara berurutan adalah dua kota terbesar di Cina. Cina seperti kita tau adalah kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di Dunia setelah Amerika Serikat. GDP atau Pendapatan Domestik Bruto mencapai US$9.5 trilyun.  Indonesia berada di urutan 16 dengan GDP/PDB sekitar US$ 870 milyar. Pertumbuhan ekonomi Cina pada tahun 2013 sebesar 7.4 %, sementara Indonesia 5.3%. Pertumbuhan ekonomi yang pesat melahirkan jumlah warga kelas menengah yang cukup besar, diperkirakan warga kelas menengah Cina mencapai 300 juta orang, lebih banyak dari jumlah orang Indonesia.  Jumlah kelas menengah yang besar menimbulkan permintaan yang besar terhadap barang-barang mewah seperti butik-butik bermerek dan mobil mahal. Butik-butik mewah, bahkan yang menurut Istriku bukan butik populer seperti Valentino bisa sangat besar di Cina. Mobil-mobil seperti Range Rover, VW, BMW, Porsche sangat umum terlihat di jalan raya di Shanghai dan Beijing. Sepertinya warga kelas menengah Cina menjadikan Amerika sebagai kiblat,  mereka suka baju bermerk, rumah mewah dan mobil berCC besar.

430 km/h on Maglev

430 km/h on Maglev

Di Shanghai, kami menginap di Baron Business Hotel, dekat Bund yang merupakan etalase ekonomi Cina yang berjaya. Arsitektur dan tata kotanya  yang menyerupai Eropa merupakan warisan dari penguasaan Inggris atas Cina saat perang opium yang menjadikan Shanghai pusat perdagangan antara Asia dan Eropa. Menguatnya ekonomi di Shanghai, yang menjadi pusat finansial di Cina, disimbolkan dengan “Bund Bull“,  patung banteng  yang menandakan agresivitas kekuatan finansial Cina. Patung serupa  juga ada di Wall Street. Walaupun sistem politik Cina komunis, namun sistem perekonomiannya tetap kapitalis. Agaknya Cina harus berterima kasih kepada  Deng Xioping yang menerapkan reformasi ekonomi di akhir tahun 1970an. Cina yang diakhir kepemimpinan Mao Zedong sangat miskin, perlahan-lahan menjadi raksasa ekonomi dunia.

Hordes of Chinese

Hordes of Chinese

Salah satu ciri warga kelas menengah adalah hasratnya untuk traveling. Jumlah kelas menengah yang besar terlihat di Shanghai saat hari libur nasional Cina atau “Golden Week“. Golden Week dimulai dari tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari berdirinya Republik Rakyat Cina, berlangsung selama tujuh hari. Seluruh kawasan wisata seperti, Bund, Nanjing Road, Pudong, Xintiadi, Tianzifang penuh oleh lautan turis yang didominasi oleh turis lokal. Kami yang sudah kepalang membeli tiket sightseeing bus yang cukup mahal, 80 Yuan/orang, sering tidak kebagian tempat duduk bahkan kesulitan mencari bus. Alhasil kami lebih banyak naik taksi karena jalur subway pada National Day banyak yang tutup.

Pudong View from The Bund

Pudong View from The Bund

Kamu pernah melihat foto iconic Shanghai yang menampilan Gedung-gedung dengan arsitektur unik dan megah? Foto iconic Shanghai tersebut diambil dari Bund di sebelah barat Sungai Huangpu mengarah ke Pudong. Pudong adalah distrik di sebelah timur Sungai Huangpu tempat berdirinya gedung-gedung terkenal seperti Oriental Pearl Tower, Jin Mao, Shanghai World Financial Center, dan Shanghai Tower yang masih dalam pembangunan. Belum sah ke Shanghai  kalau kamu belum ambil foto Pudong dari Bund.

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar, yang menurut beberapa review merupakan Best Rooftop bar, berada di Puncak Hotel Ritz Carlton di daerah Pudong. Nongkrong di Flair ada minimum chargenya. Apabila duduk di luar, per orang minimal menghabiskan 450 Yuan, atau sekitar Rp 900.000. Duduk di dalam minimum chargenya 350 Yuan atau sekitar Rp 700.000. Pilihan termurah adalah duduk di bar, tanpa minimum charge. In my opinion, the food and drink here sucks! Even the cocktail was very bad. Namun hal itu bisa ditutup oleh pemandangan dari Flair yang super keren. Persis di depan Flair ada Oriental Pearl Tower kemudian kamu bisa melihat Sungai Huangpu dan Bund dari Rooftop. Saranku, pikir-pikir lagi kalau mau duduk di luar, apalagi saat musim gugur atau musim dingin. Duduk di luar bisa dingin banget walaupun sudah dikasih selimut gratis.

Salah satu kegiatan menarik di Shanghai yaitu nonton sirkus ERA di Shanghai Circus World. Cina terkenal dengan para akrobatnya yang lincah, luwes, tapi kuat. Kita bisa lihat kekuatan gymnastic Cina di Olimpiade. Di cabang olahraga senam, nyaris semua nomor dikuasai oleh Cina. Paling murah nonton sirkus era sekitar 140 Yuan atau Rp 240.000. Kursinya mirip dengan kursi di Teater Taman Ismail Marzuki, agak sempit untuk saya. Satu show dibagi menjadi beberapa segmen dengan berbagai tema. Yang paling seru waktu melihat ada 10 sepeda motor masuk ke dalam satu bola dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Timing menjadi sangat penting ketika ada 10 sepeda motor masuk dan melingkari bola dengan jalur yang saling bersinggungan. Satu saja sepeda motor salah timing, bisa dipastikan semua celaka. Aku membayangkan, latihan macam apa yang mereka lakukan sehingga bisa memperhitungkan waktu dan kecepatan dengan detail.

Huai Hai Park

Huai Hai Park

Menurutku yang menarik dari Shanghai adalah banyaknya Taman di tengah Kota. Taman-taman ini sudah seperti neighbourhood, tempat orang Shanghai berinteraksi. Kita bisa melihat warga Shanghai yang bermain judi, senam, fitness, bahkan ada yang menawarkan jasa pijat. Salah satu taman yang aku kunjungi di Shanghai adalah Taman Huahai. Tidak terlalu istimewa sebetulnya, tapi aku suka Taman yang homy, ramah, dan banyak aktivitas di dalamnya. Aku  ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan orang yang sedang beraktivitas di sana, pingin tau dari mana asalnya, di mana tinggalnya, kenapa mayoritas adalah usia paruh baya, ke mana anak-anak mudanya nongkrong. Tapi mengingat bahasa mandarinku amat buruk, akhirnya aku cuma melihat-lihat saja.

Betapapun megah dan majunya ekonomi di Shanghai, perilaku berkendara anak-anak Shanghai, dan di Cina keseluruhan amat liar. Bus-bus besar seenaknya saja ngebut, tidak ingat bodinya yang besar. Taksi yang kami tumpangi ngebut dan nerabas lampu merah. Orang Cina amat gemar membunyikan klakson, mereka menggunakan klakson secara optimal, sedikit-sedikit klakson. Menyebrang jalan di Shanghai bisa sangat berbahaya, dan galakan sopir daripada pejalan kaki, kami beberapa kali melihat pejalan kaki dimaki oleh sopir, padahal jelas sopir yang salah. Situasi ini mirip dengan di Medan dan kayaknya lebih parah dari Medan.

Mengunjungi Shanghai kamu menjadi saksi betapa besar skala ekonomi Cina. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang kelewat tinggi, butik-butik mewah yang selalu ramai, mobil mewah yang berkeliaran, Mungkin hanya di Cina kita bisa melihat pertumbuhan warga kelas menengah yang luar biasa masif. Seorang pebisnis Taiwan, memiliki ungkapan yang bagus tentang bagaimana mengukur skala ekonomi Cina. Dia bilang: “Any number divided by 1.3 Billion is a small number. Any number multiplied by 1.3 billion is a big“.

He is damn right.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s