Monthly Archives: November 2014

Beijing

Beijing adalah Kota dengan sejarah panjang, perebutan kekuasaan, tipu-tipu dan bunuh membunuh terjadi di Kota ini selama ratusan tahun. Kekaisaran Cina terakhir pun jatuh di Beijing. Sebagai Kota bersejarah, kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan yang membentuk wajah Beijing. Hal ini bisa kita lihat di distrik Dongcheng. Sebagai first timer ke Cina, tentu saja kami ingin menyerap sisa-sisa kejayaan tersebut. Oleh karenanya kami tinggal di “old-town“, di salah satu hutong atau gang, yaitu fangjia Hutong.

Beijing di bulan Oktober sudah memasuki awal musim gugur. Udaranya sejuk dan cukup nyaman. Polusi udara yang konon tinggi di Beijing tidak kami rasakan, entah karena kami tidak cukup sensitif atau memang Pemerintah Beijing sudah mengetatkan ambang batas emisi dari industri di sekitar Beijing. Di sore dan malam hari Beijing cukup dingin, sekitar 15 derajat, namun di siang hari bisa 24 derajat. Kota Beijing sedikit lebih kotor dan rusuh. Orang-orangnya juga lebih lihai tipu-tipu.

Di Stasiun Dongzhimen kami pertama kali diperas oleh sopir taksi, untungnya kami mengetahui tipu-tipu sopir taksi dan balik kanan memilih naik subway. Tipu-tipu merupakan hal biasa di Beijing, untuk menjaga tetap sadar, gunakanlah akal sehat. Walaupun begitu, kami berdua bisa merasakan dinamika dan gemerlap Beijing. Di akhir Golden Week, Beijing padat pengunjung dan turis lokal mendominasi tempat-tempat wisata. Banyak sekali tempat-tempat bersejarah menarik yang terserak di sekitar Beijing. Namun sebetulnya kami hanya menginginkan dua hal, ke tembok Cina dan bersepeda di Kota Tua Beijing.

IMG_0468

Wedding Venue

Kami menginap di Hotel Nostalgia di Fangjia Hutong, yang sepertinya merupakan bagian dari industri kreatif di Beijing. Hotel kami sangat unik, karena desain interiornya mengambil konsep “vintage“. Seluruh barang dan pernak pernik di Hotel itu bergaya 60an.  Hotel kami bersebelahan dengan kantor desain yang dipenuhi anak-anak muda Beijing yang trendi. Di depan hotel kami ada restoran yang memiliki sedikit lapangan rumput di depannya. Ternyata lapangan rumput itu dijadikan venue pernikahan modern ala barat. Kami dua kali melihat ada pernikahan di lapangan rumput itu.   Keistimewaan tinggal di Hutong adalah dekat dengan jajanan. Tidak sulit untuk menemukan tempat makan di dekat Fangjia Hutong, restoran halalpun persis di depan hutong. Hotel Nostalgia tidak terlalu mahal, semalam sekitar 600 – 700 ribu, belum termasuk sarapan.

Great Wall

Seperti saran teman kantorku, kalau mau ke Great Wall ikut saja tur dari Hotel. Aku percaya dan sarannya kuikuti. Sebetulnya, aku ingin ke Great Wall di bagian Jinshanling yang lumayan jauh dari Cina karena sepi, pemandangan bagus dan bisa melihat reruntuhan (ruin) dari Great Wall. Namun, ketika aku mau booking, ternyata tur ke Jinshanling sudah tutup. Aku yang tidak sempat memikirkan plan lain karena sudah malam, akhirnya milih Badailing, spot populer yang sebetulnya sudah tidak kelihatan bentuk aslinya karena restorasi.

IMG_0621

Badailing Great Wall

Tur ke Badailing per orang harganya 280 Yuan atau 560 ribu rupiah. Ini sudah termasuk antar-jemput dan makan siang namun belum termasuk tip. Tur guide di Cina sangat blak-blakan dan berani. Dia tidak sungkan untuk minta tip dengan nominal tertentu. Dia minta 90 yuan atau 180 ribu rupiah untuk tips. Kami yang sudah lelah dan malas berdebat akhirnya memberikan tip yang dia minta.

Ikut tur di Cina penuh tipu-tipu dan lucu. Acara utama tur adalah Great Wall, namun tur ke tempat belanjanya lebih lama daripada Great Wallnya. Justru menurutku, Badailing Great Wall biasa saja, tidak istimewa.  Pengalaman keliling toko belanja itu yang lucu dan berkesan. Sebelum ke Great Wall, kami di bawa ke tempat penjualan Giok yang harganya gila-gilaan mahalnya, si mbak yang jual kekeuh menjelaskan ke saya tentang manfaat dan nilai investasi Giok. Kemudian setelah selesai hiking di Great Wall, kami di bawa ke “Pusat Pengobatan Herbal” di mana kami dipijat refleksi sambil ditawarin obat yang harganya juga gila-gilaan. Namun harus diakui, diagnosa dokter herbal itu sangat akurat, walau hanya melihat telapak tangan dan lidah. Dia bisa menebak dengan tepat kelemahan aku dan istri di bidang kesehatan. Itu yang menjadi senjatanya untuk mendorong kami membeli obat yang mahal. Aku yang sudah membaca motifnya terus menerus mengelak dan beralasan. Yang terakhir sebelum pulang, kami diajak ke peternakan ulat sutera. Sutera tersebut dijadikan selimut dan seprai, di sini tidak ada pemaksaan, kami hanya duduk sambil menunggu waktu pulang saja.

Bersepeda di Old Town

Beijing sejak dulu terkenal dengan aktivitas pengendara sepedanya. Bahkan tahun 1960-1970 Kota Beijing terkenal dengan “Bicycle Kingdom“. Namun seiring peningkatan ekonomi Cina dan hadirnya sepeda listrik, perlahan-lahan sepeda semakin kurang populer. Namun begitu, terasa sekali privilese seorang pengendara sepeda. Di Beijing ada jalur khusus pesepeda yang dilindungi oleh semacam pagar, pesepeda juga bisa keluar masuk hutong (gang) dengan bebas. Ketika aku bercerita kepada seorang inggris yang kami temui saat tur Greatwall mengenai serunya bersepeda di Beijing, dia menanyakan apakah itu aman, mengingat perilaku pengendara Beijing yang ugal-ugalan. Aku bilang cukup aman karena pesepeda punya jalur sendiri. Yang riskan adalah ketika masuk perempatan, disitulah kita harus berhati-hati dan mengikuti perilaku pesepeda Beijing.

Sepedaan di Hutong

Sepedaan di Hutong

Downtown Beijing konturnya datar sehingga nyaman sekali untuk sepedaan. Tempat menyewakan sepeda juga banyak, kamu tinggal nanya saja sama resepsionis Hotel. Biaya sewa sepeda sekitar 15 – 30 Yuan per hari dengan deposit 300 yuan per sepeda. Kamu harus pintar-pintar nawar, aku gak pintar nawar jadi kena 30 Yuan per hari.

Drum & Bell Tower

Banyak hal yang bisa dilihat di Kota Tua Beijing karena taman-taman dan bangunan-bangunan tua terserak di sekitar Tianamen Square seperti drum tower, Beihai Park, Jingshan Park, dan Shicahai Lake. Yang paling istimewa adalah hutong atau gang-gangnya. Menarik sekali bersepeda masuk ke hutong, melihat kampung-kampung Cina yang mirip sekali dengan Indonesia (joroknya).

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Sepedaan di Beijing tidak terlalu sulit. Ketika sudah satu-dua kali melewati suatu area, kita bisa mengandalkan intuisi untuk mengetahui arah. Park-hopping ( ada gak sih istilah ini) paling enak naik sepeda. Contoh, kalau mau liat danau di Shicahai, tinggal parkir di pinggiran Shicahai, kunci sepeda, terus jalan-jalan plus jajan deh di sekitaran Danau Shicahai. Mau pergi agak jauh juga bisa, malam-malam kami sepedaan sampe Donghuamen Night Market untuk ngeliat gerai makanan aneh yang overrated plus mahal. Kami pergi tanpa peta, hanya pake naluri, nyasar beberapa kali tapi masih bisa nentuin jalan dengan nanya orang.

Cafe

Hal lain yang mengejutkan dari Cina adalah cafenya yang lucu dan unik. Tidak seperti Jepang yang cafenya standard, kaku dan di mana-mana sama. Cina lebih kreatif dalam bikin cafe. Dari tiga cafe yang kami tongkrongi, semuanya konsepnya berbeda-beda, kopi dan makanannya pun surprisingly good. Cafe paling unik ada di Nanluogoxiang, tempat paling hip dan juga (mungkin) paling mahal di beijing. Capek sepedaan, kami mampir di Peking Cafe. Atmosfer cafenya cewe banget, dengan bunga kering tergantung di langit-langit dan bunga-bunga segar tersebar di sekitaran cafe. Atmosfer yang unik sebanding juga dengan harganya yang mahal, satu cangkir kopi bisa seharga 50 yuan atau Rp 100,000.

Peking Cafe Nanluogoxiang

Peking Cafe Nanluogoxiang

Cafe lainnya yang kami coba ada persis di depan hotel kami. Karena tulisan Mandarin yang aku tidak ngerti, mari kita sebut saja Cafe Hutong. Cafe ini walaupun simple, namun unik dan cukup berkarakter. Aku lihat, cafe ini pernah jadi lokasi syuting artis Korea (istriku penggemar film Korea, jadi dia tau banget film Korea). Cafe ini temanya Cina klasik, jadi ornamen dan hiasannya dari barang-barang kuno. Di Fangjia Hutong juga ada cafe lainnya yaitu  Remo Cafe yang bergaya retro. Kami mengunjungi Cafe ini sebelum berangkat ke Airport menuju Jiuzhai. Karena saat itu masih jam 8 pagi, Cafe ini baru buka. Kami tidak berharap banyak dari Remo Cafe, namun ternyata kopi dan menu sarapannya enak banget. Istriku penggemar kopi dan makanan, jadi dia tau benar mana kopi yang enak dan yang tidak. Kalau aku, hampir tidak bisa membedakan, hehe.

Cafe vintage Fangjia Hutong

Cafe vintage Fangjia Hutong

 

Beijing adalah Kota tua yang masih punya pesona. Bagi rekan yang menyukai sejarah, Kota ini menyimpan kenangan-kenangan di setiap pori-porinya. Kota ini juga cukup hip, denyut seni modern berdegub cukup kencang di sini. Kita bisa melihat anak-anak muda Cina yang dengan sistem politik komunis masih bisa berkreasi dan berkarya, bahkan lebih menarik dari Jepang yang agak membosankan.

Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia
yang pintar dan lucu walau kadang rumit
dan membingungkan. Ia mengajari saya
cara mengarang ilmu sehingga saya tahu
bahwa sumber segala kisah adalah kasih;
bahwa ingin berawal dari angan;
bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;
bahwa segala yang baik akan berbiak;
bahwa orang ramah tidak mudah marah;
bahwa seorang bintang harus tahan banting;
bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa;
bahwa orang lebih takut kepada hantu
ketimbang kepada tuhan;
bahwa pemurung tidak pernah merasa
gembira, sedangkan pemulung
tidak pelnah melasa gembila;
bahwa manusia belajar cinta dari monyet;
bahwa orang putus asa suka memanggil asu.

Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku
ke sebuah paragraf yang tersusun di atas
tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi
kalimat majemuk bertingkat yang panjang
di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat.
ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat
paham bahwa pulang adalah masuk
ke dalam palung. Ruang penuh raung.
segala kenang tertidur di dalam kening.
Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah
menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap
tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.

(Joko Pinurbo, 2014)

Si Muka Monyet

Beberapa hari lalu, teman kantor posting foto di depan Osakajo atau Osaka Castle lewat Path. Atapnya yang bertingkat-tingkat membawaku kembali ke tiga belas tahun lalu ketika pertama kalinya aku baca Taiko karya Eiji Yoshikawa yang menceritakan hidup Toyotomi Hideyoshi, “si muka monyet” yang memerintahan pembangunan Osaka Castle.Aku lupa apakah menamatkan buku setebal 1200 halaman ini atau tidak. Tapi yang kuingat, buku itu hanya dibaca di kelas saat pelajaran berlangsung 😀

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle menjadi tempat penting dalam unifikasi Jepang. Setelah pengkhianatan Akechi Matsuhide terhadap Oda Nobunaga pada peristiwa Honnoji, Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga berkat kemampuan negosiasi dan kecerdikannya berhasil menggantikan Nobunaga. Sejak menggantikan Nobunaga, Hideyoshi membangun Osaka Castle yang besar, indah dan kuat terhadap serangan lawan.  Ironisnya, di Osaka Castle pula  Hideyoshi meninggal karena sakit dan akhir dari klan Toyotomi yang habis dibantai oleh Tokugawa Ieyasu. Pada akhirnya, Ieyasulah yang memetik keuntungan dari upaya Nobunaga dan Hideyoshi dalam unifikasi Jepang dan mengukuhkan era Shogun Tokugawa.

Si Muka Monyet

Yang paling menarik dari Hideyoshi “si muka monyet” adalah bagaimana perjalanan karir Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga bisa menjadi menjadi Kampaku, tangan kanan kaisar Jepang. Kalau bahasa anak sekarang, “from zero to hero“. Di masa itu kekaisaran Jepang hanya simbol.  Sebetulnya yang berkuasa adalah Kampaku, sampai terjadi Restorasi Meiji yang menghilangkan era Shogun Tokugawa.

Hideyoshi pun dikenal sebagai negosiator ulung. Gaya kepemimpinannya rendah hati dan persuasif. Dia tidak pernah menyangkal asal muasalnya yang anak petani, dan selalu merendahkan dirinya di hadapan samurai-samurai besar.  Dalam menghadapi persoalan Hideyoshi lebih mengedepankan negosiasi daripada kekuatan militer. Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana kemampuan negosiasi Hideyoshi. Alkisah Nobunaga ingin membangun Benteng Kiyoshu sebagai sarana pertahanan menghadapi klan Imagawa, namun pekerjaan ini sangat lambat karena pekerja mengalami demotivasi. Hideyoshi yang saat itu hanya mengurus dapur menghadap Nobunaga, menjanjikan pekerjaan bisa selesai dalam waktu tiga hari. Nobunaga merestui Hideyoshi sambil memberi ancaman apabila janjinya tidak terpenuhi.  Hideyoshi memakai pendekatan yang tidak biasa. Hari pertama dia gunakan untuk berpesta, dengan tujuan mengembalikan moral pekerja sambil mendekati pekerja untuk meyakinkan pentingnya pekerjaan ini selesai tepat waktu dan mengiming-imingi hadiah dari Nobunaga.  Seperti dijanjikan Hideyoshi, Benteng Kiyoshupun selesai dalam tiga hari, dengan satu hari digunakan untuk berpesta.

Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu adalah tiga tokoh penting dalam unifikasi Jepang dengan karakter yang berbeda-beda. Bahkan perbedaan karakter ini dibuat pantun singkat yang diajarkan ke anak-anak sekolah di Jepang, tentang bagaimana membuat seekor burung bernyanyi.

Nakanunara, koroshiteshimae, hototogisu (Jika burung tidak bernyanyi, bunuh)
Nakanunara, nakasetemiyou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, buat bernyanyi)
Nakanunara, nakumadematou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, tunggu)

Baris pertama menggambarkan karakter Nobunaga yang keras, baris kedua menggambarkan karakter Hideyoshi yang persuasif, baris ketiga menggambarkan karakter Ieyasu yang sabar.

Dari ketiga tokoh besar Jepang, Hideyoshilah yang paling menarik perhatianku. pendekatannya yang tidak biasa, gaya kepemimpiannya yang humanis membuatku terinspirasi. Apalagi melihat latar belakangnya yang hanya petani dan pendidikannya yang tidak tinggi. Oleh karenenya, ketika teman posting foto Osaka Castle di Jepang, tetiba saya masuk ke ruang nostalgia, tiga belas tahun lalu, di dalam ruang kelas ketika saya kagum pertama kali pada si muka monyet Toyotomi Hideyoshi.

Damn I’m old.