Si Muka Monyet

Beberapa hari lalu, teman kantor posting foto di depan Osakajo atau Osaka Castle lewat Path. Atapnya yang bertingkat-tingkat membawaku kembali ke tiga belas tahun lalu ketika pertama kalinya aku baca Taiko karya Eiji Yoshikawa yang menceritakan hidup Toyotomi Hideyoshi, “si muka monyet” yang memerintahan pembangunan Osaka Castle.Aku lupa apakah menamatkan buku setebal 1200 halaman ini atau tidak. Tapi yang kuingat, buku itu hanya dibaca di kelas saat pelajaran berlangsung 😀

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle menjadi tempat penting dalam unifikasi Jepang. Setelah pengkhianatan Akechi Matsuhide terhadap Oda Nobunaga pada peristiwa Honnoji, Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga berkat kemampuan negosiasi dan kecerdikannya berhasil menggantikan Nobunaga. Sejak menggantikan Nobunaga, Hideyoshi membangun Osaka Castle yang besar, indah dan kuat terhadap serangan lawan.  Ironisnya, di Osaka Castle pula  Hideyoshi meninggal karena sakit dan akhir dari klan Toyotomi yang habis dibantai oleh Tokugawa Ieyasu. Pada akhirnya, Ieyasulah yang memetik keuntungan dari upaya Nobunaga dan Hideyoshi dalam unifikasi Jepang dan mengukuhkan era Shogun Tokugawa.

Si Muka Monyet

Yang paling menarik dari Hideyoshi “si muka monyet” adalah bagaimana perjalanan karir Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga bisa menjadi menjadi Kampaku, tangan kanan kaisar Jepang. Kalau bahasa anak sekarang, “from zero to hero“. Di masa itu kekaisaran Jepang hanya simbol.  Sebetulnya yang berkuasa adalah Kampaku, sampai terjadi Restorasi Meiji yang menghilangkan era Shogun Tokugawa.

Hideyoshi pun dikenal sebagai negosiator ulung. Gaya kepemimpinannya rendah hati dan persuasif. Dia tidak pernah menyangkal asal muasalnya yang anak petani, dan selalu merendahkan dirinya di hadapan samurai-samurai besar.  Dalam menghadapi persoalan Hideyoshi lebih mengedepankan negosiasi daripada kekuatan militer. Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana kemampuan negosiasi Hideyoshi. Alkisah Nobunaga ingin membangun Benteng Kiyoshu sebagai sarana pertahanan menghadapi klan Imagawa, namun pekerjaan ini sangat lambat karena pekerja mengalami demotivasi. Hideyoshi yang saat itu hanya mengurus dapur menghadap Nobunaga, menjanjikan pekerjaan bisa selesai dalam waktu tiga hari. Nobunaga merestui Hideyoshi sambil memberi ancaman apabila janjinya tidak terpenuhi.  Hideyoshi memakai pendekatan yang tidak biasa. Hari pertama dia gunakan untuk berpesta, dengan tujuan mengembalikan moral pekerja sambil mendekati pekerja untuk meyakinkan pentingnya pekerjaan ini selesai tepat waktu dan mengiming-imingi hadiah dari Nobunaga.  Seperti dijanjikan Hideyoshi, Benteng Kiyoshupun selesai dalam tiga hari, dengan satu hari digunakan untuk berpesta.

Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu adalah tiga tokoh penting dalam unifikasi Jepang dengan karakter yang berbeda-beda. Bahkan perbedaan karakter ini dibuat pantun singkat yang diajarkan ke anak-anak sekolah di Jepang, tentang bagaimana membuat seekor burung bernyanyi.

Nakanunara, koroshiteshimae, hototogisu (Jika burung tidak bernyanyi, bunuh)
Nakanunara, nakasetemiyou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, buat bernyanyi)
Nakanunara, nakumadematou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, tunggu)

Baris pertama menggambarkan karakter Nobunaga yang keras, baris kedua menggambarkan karakter Hideyoshi yang persuasif, baris ketiga menggambarkan karakter Ieyasu yang sabar.

Dari ketiga tokoh besar Jepang, Hideyoshilah yang paling menarik perhatianku. pendekatannya yang tidak biasa, gaya kepemimpiannya yang humanis membuatku terinspirasi. Apalagi melihat latar belakangnya yang hanya petani dan pendidikannya yang tidak tinggi. Oleh karenenya, ketika teman posting foto Osaka Castle di Jepang, tetiba saya masuk ke ruang nostalgia, tiga belas tahun lalu, di dalam ruang kelas ketika saya kagum pertama kali pada si muka monyet Toyotomi Hideyoshi.

Damn I’m old.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s