Beijing

Beijing adalah Kota dengan sejarah panjang, perebutan kekuasaan, tipu-tipu dan bunuh membunuh terjadi di Kota ini selama ratusan tahun. Kekaisaran Cina terakhir pun jatuh di Beijing. Sebagai Kota bersejarah, kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan yang membentuk wajah Beijing. Hal ini bisa kita lihat di distrik Dongcheng. Sebagai first timer ke Cina, tentu saja kami ingin menyerap sisa-sisa kejayaan tersebut. Oleh karenanya kami tinggal di “old-town“, di salah satu hutong atau gang, yaitu fangjia Hutong.

Beijing di bulan Oktober sudah memasuki awal musim gugur. Udaranya sejuk dan cukup nyaman. Polusi udara yang konon tinggi di Beijing tidak kami rasakan, entah karena kami tidak cukup sensitif atau memang Pemerintah Beijing sudah mengetatkan ambang batas emisi dari industri di sekitar Beijing. Di sore dan malam hari Beijing cukup dingin, sekitar 15 derajat, namun di siang hari bisa 24 derajat. Kota Beijing sedikit lebih kotor dan rusuh. Orang-orangnya juga lebih lihai tipu-tipu.

Di Stasiun Dongzhimen kami pertama kali diperas oleh sopir taksi, untungnya kami mengetahui tipu-tipu sopir taksi dan balik kanan memilih naik subway. Tipu-tipu merupakan hal biasa di Beijing, untuk menjaga tetap sadar, gunakanlah akal sehat. Walaupun begitu, kami berdua bisa merasakan dinamika dan gemerlap Beijing. Di akhir Golden Week, Beijing padat pengunjung dan turis lokal mendominasi tempat-tempat wisata. Banyak sekali tempat-tempat bersejarah menarik yang terserak di sekitar Beijing. Namun sebetulnya kami hanya menginginkan dua hal, ke tembok Cina dan bersepeda di Kota Tua Beijing.

IMG_0468

Wedding Venue

Kami menginap di Hotel Nostalgia di Fangjia Hutong, yang sepertinya merupakan bagian dari industri kreatif di Beijing. Hotel kami sangat unik, karena desain interiornya mengambil konsep “vintage“. Seluruh barang dan pernak pernik di Hotel itu bergaya 60an.  Hotel kami bersebelahan dengan kantor desain yang dipenuhi anak-anak muda Beijing yang trendi. Di depan hotel kami ada restoran yang memiliki sedikit lapangan rumput di depannya. Ternyata lapangan rumput itu dijadikan venue pernikahan modern ala barat. Kami dua kali melihat ada pernikahan di lapangan rumput itu.   Keistimewaan tinggal di Hutong adalah dekat dengan jajanan. Tidak sulit untuk menemukan tempat makan di dekat Fangjia Hutong, restoran halalpun persis di depan hutong. Hotel Nostalgia tidak terlalu mahal, semalam sekitar 600 – 700 ribu, belum termasuk sarapan.

Great Wall

Seperti saran teman kantorku, kalau mau ke Great Wall ikut saja tur dari Hotel. Aku percaya dan sarannya kuikuti. Sebetulnya, aku ingin ke Great Wall di bagian Jinshanling yang lumayan jauh dari Cina karena sepi, pemandangan bagus dan bisa melihat reruntuhan (ruin) dari Great Wall. Namun, ketika aku mau booking, ternyata tur ke Jinshanling sudah tutup. Aku yang tidak sempat memikirkan plan lain karena sudah malam, akhirnya milih Badailing, spot populer yang sebetulnya sudah tidak kelihatan bentuk aslinya karena restorasi.

IMG_0621

Badailing Great Wall

Tur ke Badailing per orang harganya 280 Yuan atau 560 ribu rupiah. Ini sudah termasuk antar-jemput dan makan siang namun belum termasuk tip. Tur guide di Cina sangat blak-blakan dan berani. Dia tidak sungkan untuk minta tip dengan nominal tertentu. Dia minta 90 yuan atau 180 ribu rupiah untuk tips. Kami yang sudah lelah dan malas berdebat akhirnya memberikan tip yang dia minta.

Ikut tur di Cina penuh tipu-tipu dan lucu. Acara utama tur adalah Great Wall, namun tur ke tempat belanjanya lebih lama daripada Great Wallnya. Justru menurutku, Badailing Great Wall biasa saja, tidak istimewa.  Pengalaman keliling toko belanja itu yang lucu dan berkesan. Sebelum ke Great Wall, kami di bawa ke tempat penjualan Giok yang harganya gila-gilaan mahalnya, si mbak yang jual kekeuh menjelaskan ke saya tentang manfaat dan nilai investasi Giok. Kemudian setelah selesai hiking di Great Wall, kami di bawa ke “Pusat Pengobatan Herbal” di mana kami dipijat refleksi sambil ditawarin obat yang harganya juga gila-gilaan. Namun harus diakui, diagnosa dokter herbal itu sangat akurat, walau hanya melihat telapak tangan dan lidah. Dia bisa menebak dengan tepat kelemahan aku dan istri di bidang kesehatan. Itu yang menjadi senjatanya untuk mendorong kami membeli obat yang mahal. Aku yang sudah membaca motifnya terus menerus mengelak dan beralasan. Yang terakhir sebelum pulang, kami diajak ke peternakan ulat sutera. Sutera tersebut dijadikan selimut dan seprai, di sini tidak ada pemaksaan, kami hanya duduk sambil menunggu waktu pulang saja.

Bersepeda di Old Town

Beijing sejak dulu terkenal dengan aktivitas pengendara sepedanya. Bahkan tahun 1960-1970 Kota Beijing terkenal dengan “Bicycle Kingdom“. Namun seiring peningkatan ekonomi Cina dan hadirnya sepeda listrik, perlahan-lahan sepeda semakin kurang populer. Namun begitu, terasa sekali privilese seorang pengendara sepeda. Di Beijing ada jalur khusus pesepeda yang dilindungi oleh semacam pagar, pesepeda juga bisa keluar masuk hutong (gang) dengan bebas. Ketika aku bercerita kepada seorang inggris yang kami temui saat tur Greatwall mengenai serunya bersepeda di Beijing, dia menanyakan apakah itu aman, mengingat perilaku pengendara Beijing yang ugal-ugalan. Aku bilang cukup aman karena pesepeda punya jalur sendiri. Yang riskan adalah ketika masuk perempatan, disitulah kita harus berhati-hati dan mengikuti perilaku pesepeda Beijing.

Sepedaan di Hutong

Sepedaan di Hutong

Downtown Beijing konturnya datar sehingga nyaman sekali untuk sepedaan. Tempat menyewakan sepeda juga banyak, kamu tinggal nanya saja sama resepsionis Hotel. Biaya sewa sepeda sekitar 15 – 30 Yuan per hari dengan deposit 300 yuan per sepeda. Kamu harus pintar-pintar nawar, aku gak pintar nawar jadi kena 30 Yuan per hari.

Drum & Bell Tower

Banyak hal yang bisa dilihat di Kota Tua Beijing karena taman-taman dan bangunan-bangunan tua terserak di sekitar Tianamen Square seperti drum tower, Beihai Park, Jingshan Park, dan Shicahai Lake. Yang paling istimewa adalah hutong atau gang-gangnya. Menarik sekali bersepeda masuk ke hutong, melihat kampung-kampung Cina yang mirip sekali dengan Indonesia (joroknya).

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Sepedaan di Beijing tidak terlalu sulit. Ketika sudah satu-dua kali melewati suatu area, kita bisa mengandalkan intuisi untuk mengetahui arah. Park-hopping ( ada gak sih istilah ini) paling enak naik sepeda. Contoh, kalau mau liat danau di Shicahai, tinggal parkir di pinggiran Shicahai, kunci sepeda, terus jalan-jalan plus jajan deh di sekitaran Danau Shicahai. Mau pergi agak jauh juga bisa, malam-malam kami sepedaan sampe Donghuamen Night Market untuk ngeliat gerai makanan aneh yang overrated plus mahal. Kami pergi tanpa peta, hanya pake naluri, nyasar beberapa kali tapi masih bisa nentuin jalan dengan nanya orang.

Cafe

Hal lain yang mengejutkan dari Cina adalah cafenya yang lucu dan unik. Tidak seperti Jepang yang cafenya standard, kaku dan di mana-mana sama. Cina lebih kreatif dalam bikin cafe. Dari tiga cafe yang kami tongkrongi, semuanya konsepnya berbeda-beda, kopi dan makanannya pun surprisingly good. Cafe paling unik ada di Nanluogoxiang, tempat paling hip dan juga (mungkin) paling mahal di beijing. Capek sepedaan, kami mampir di Peking Cafe. Atmosfer cafenya cewe banget, dengan bunga kering tergantung di langit-langit dan bunga-bunga segar tersebar di sekitaran cafe. Atmosfer yang unik sebanding juga dengan harganya yang mahal, satu cangkir kopi bisa seharga 50 yuan atau Rp 100,000.

Peking Cafe Nanluogoxiang

Peking Cafe Nanluogoxiang

Cafe lainnya yang kami coba ada persis di depan hotel kami. Karena tulisan Mandarin yang aku tidak ngerti, mari kita sebut saja Cafe Hutong. Cafe ini walaupun simple, namun unik dan cukup berkarakter. Aku lihat, cafe ini pernah jadi lokasi syuting artis Korea (istriku penggemar film Korea, jadi dia tau banget film Korea). Cafe ini temanya Cina klasik, jadi ornamen dan hiasannya dari barang-barang kuno. Di Fangjia Hutong juga ada cafe lainnya yaitu  Remo Cafe yang bergaya retro. Kami mengunjungi Cafe ini sebelum berangkat ke Airport menuju Jiuzhai. Karena saat itu masih jam 8 pagi, Cafe ini baru buka. Kami tidak berharap banyak dari Remo Cafe, namun ternyata kopi dan menu sarapannya enak banget. Istriku penggemar kopi dan makanan, jadi dia tau benar mana kopi yang enak dan yang tidak. Kalau aku, hampir tidak bisa membedakan, hehe.

Cafe vintage Fangjia Hutong

Cafe vintage Fangjia Hutong

 

Beijing adalah Kota tua yang masih punya pesona. Bagi rekan yang menyukai sejarah, Kota ini menyimpan kenangan-kenangan di setiap pori-porinya. Kota ini juga cukup hip, denyut seni modern berdegub cukup kencang di sini. Kita bisa melihat anak-anak muda Cina yang dengan sistem politik komunis masih bisa berkreasi dan berkarya, bahkan lebih menarik dari Jepang yang agak membosankan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s