Monthly Archives: Desember 2014

Jiuzhaigou

Pecahan surga itu terserak di sebelah barat daya Cina, di daerah pegunungan Min Shan, 330 km sebelah utara Chengdu. Konon, 114 danau yang tersebar di sekitar wilayah Jiuzhaigou adalah pecahan cermin pemberian dewa Dage kepada Dewi Wonuosemo. Terlalu bersemangat, Wonousemo menjatuhkan cermin tersebut dari genggamannya dan pecah menjadi danau di Jiuzhaigou. Oktober lalu, kami mengunjungi pecahan surga tersebut. Pecahan surga tersebut dikemas dengan manajemen Ekoturisme yang sangat baik. Kapitalisasi pecahan surga itu mampu mengambil keuntungan dari pertumbuhan warga kelas menengah Cina yang haus liburan dan eksis di dunia maya.

Seperti daerah wisata lain, apapun yang ada di sekitaran taman nasional amit-amit mahalnya. Transport contohnya, karena kami tiba hampir malam, taksi yang harusnya Y 220 jadi Y 360 satu kali perjalanan. Shuttle bus yang dijanjikan di website hanya pepesan kosong, tak ada bus beroperasi sore hari.  Hotel busuk yang tidak dibersihkan yang aku tempati sama harganya dengan hotel bintang 3 di Shanghai. Jikalau mau tinggal di hotel berbintang macam Holiday Inn atau Intercontinental siap-siap saja merogoh kantong lebih dalam. Dan dari penelusuranku tidak ada harga in-beetwen, kita harus menerima either cheap and filthy atau expensive and fancy.

Jiuzhaigou di akhir Golden Week masih ramai. Grup turis Cina dengan pemimpin rombongan yang memegang bendera berteriak-teriak mengatur grupnya jadi pemandangan dominan di Jiuzhai. Sementara turis asing yang merupakan minoritas (seperti kami) sering terbelalak melihat harga makanan/souvenir yang luar biasa mahal. Menjelang musim gugur, beberapa cemara sudah mulai kemerahan, wangi daun gugur pun merebak, dan udara mulai dingin. Sayang kami terlalu cepat pergi ke Jiuzhai karena musim belum sampai puncaknya, karenanya warna warni dedaunan musim gugur tidak terlalu terlihat.

Idealnya Jiuzhaigou dijelajah minimal dua hari karena wilayah luas, danaunya yang banyak dan boardwalknya yang cakep banget. Harga tiket masuk Taman Nasional Jiuzhagihou barangkali adalah tiket taman nasional yang termahal di dunia. Tiket masuk ke Jiuzhai Y 310/orang/per hari. Aku dan istri bela-belain bayar mahal demi menikmati pengalaman baru jalan-jalan di Taman Nasional yang ramah kepada turis.

Jiuzhaigou

Jiuzhaigou

Okelah, karena harganya yang mahal dan lokasinya yang jauh akan kuberikan skenario terbaik bagaimana mengatur waktu di Jiuzhaigou agar tiket masuk seharga Rp 620.000/orang/hari itu tidak sia-sia. Skenario ini kubuat untuk dua hari di Jiuzhaigou.

Coba tengok peta di bawah ini, Jiuzhaigou Natural Park berbentuk seperti huruf Y dengan pintu masuk di dasar huruf Y tersebut. Angka satu dan dua yang kutulis di peta merupakan jalur hari pertama dan hari kedua. Lokasi yang kulingkari merupakan lokasi titik pertemuan dan lokasi  terminal bus. Jarak antar danau ada yang jauh dan ada yang dekat. Apabila mengejar waktu, naik bus paling cepat, namun apabila mau menikmati pecahan surga itu sampai ke pori-porinya, kamu bisa jalan di Boardwalk yang disediakan.

Peta Jiuzhaigou

Hari 1

Usahakan  bangun pagi dan datang sedini mungkin ke pintu masuk taman nasional. Kalau bisa jam 7 sudah di pintu gerbang. Di peak season, pintu masuk Taman bisa rusuh banget. Dari pintu gerbang kita akan digiring seperti sapi bersama kawanan besar turis-turis Cina untuk naik shuttle bus menuju Tourist Center.

Park Entrance

Hordes of Chinese

Namun di Peak Season, tak ada bus yang menuju Tourist Center. Kamu akan diturunkan di Shuzeng Valley, perkampungan besar Tibet. Dari sini, kita diharuskan jalan ke tourist Center untuk menentukan apakah mau ke Primeval Forest atau ke Long Lake.

Shuzeng Valley in the morning

Shuzeng Valley in the morning

Untuk hari pertama sebaiknya santai saja di Shuzeng Valley dan nikmati dengan berjalan kaki di Reed Lake, Shuzang Lake, Rhinoceros Lake sampai air terjun Nuo Ri Lang di sepanjang jalan menuju Tourist Center. Pagi hari, apalagi pada peak season orang ramai sekali di jalur ini. Tak usah diambil pusing.  Saranku, santai saja nikmati pemandangan sambil foto-foto. Tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati pemandangan dan antri foto ditengah kumpulan besar orang Cina. Ada dua jalur untuk menuju tourist center, pertama menyusuri boardwalk di sisi jalan, atau menyusuri boardwalk di seberang jalan. Saranku, saat berangkat pergi menyusuri jalan, dan baliknya menyusuri seberangnya.

Shu Zeng Falls

Shu Zeng Falls

Sesampainya di Tourist Center. Langsung ambil bus menuju Long lake. Jarak dari tourist center ke Long Lake cukup lumayan, sekitar 20 menit naik shuttle bus. Long lake berada pada ketinggian 3,100 m. Bila kamu seperti aku yang belum sempat aklimatisasi, maka pasti akan merasa pening, terhuyung-huyung dan lemas. Karena lokasinya yang tinggi, oksigen di udara tipis sehingga metabolisme anak pesisir seperti aku kaget, makanya lemas. Namun jangan kuatir pengalamanku ini hanya berlangsung sebentar, hanya beberapa jam. Setelah itu, kamu akan baik-baik saja.

Long Lake adalah danau terbesar, dan terdalam di seluruh danau yang ada di Jiuzhaigou. Latar belakang Long Lake adalah dua buah gunung yang tepinya bertemu, persis seperti gambar saat kita masih kanak-kanak. Tidak perlu kujelaskan, pemandangannya sangat cantik.

Long Lake Jiuzhaigou

Long Lake Jiuzhaigou

Setelah Long Lake berjalan kakilah sedikit menuju Five Colour Pond. Tidak seperti namanya, aku cuma lihat satu warna di Five Colour Pond ini, yaitu biru yang jernih. Sumpah ini adalah danau terjernih yang pernah kulihat. Apalagi saat kami ke sana cuaca sedang cerah, makin kinclong aja itu warna danau. Konon danau ini tempat dewi Semo mencuci rambutnya, warna danau itu dari lunturan wajah Dewi Semo.

Five Colour Pond

Lepas dari Five Colour Pond hari biasanya matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar. Ada beberapa pilihan, untuk rekan yang gak mau mengeluarkan uang untuk makan makanan yang kelewat mahal dan tidak enak di Restoran Nuo Ri Lang, bisa membeli bento instan yang ajaib.  Kenapa ajaib? karena bento ini cuma perlu air biasa untuk memanaskan. Aku tak mengerti prosesnya namun aku lihat banyak orang makan ini. Aku sampai penasaran di mana mereka dapat air panas, tapi setelah kutelisik, ternyata cuma air biasa yang dicampur semacam gel yang sudah ada di bento tersebut. Tapi untuk muslim harap hati-hati, kecuali kamu bisa bahasa mandarin, kita tidak pernah tahu apa isi bento tersebut.

Restoran Nuo Ri Lang

Lepas makan, turunlah ke Nuo Ri Lang dan kali ini terlusuri board walk dari seberang jalan, niscaya kamu akan melihat sudut pandang yang berbeda. Dan biasanya setelah makan siang, turis-turis Cina sudah kehabisan tenaga jadi jalan ini agak sepi. Ideal. Kamu bisa berjalan pelan-pelan sambil ngobrol, bercanda dan foto-foto.  Percayalah 4-5 jam berjalan di sepanjang danau ini sama sekali tidak kerasa. Hiking paling nikmat di Jiuzhaigou pada kondisi ini, sepi, pemandangan indah, dan bersama orang terkasih.

Duduk Duduk

Duduk Duduk

Berjalan seharian akan membuat lelah. Jam 17.00  bersiap-siaplah untuk pulang, simpan tenaga dan bekal untuk besok. Kesalahan kami di hari pertama adalah bekal cemilan yang kelewat sedikit sehingga kami sering iri melihat turis-turis cina yang hobi makan itu sering sekali makan camilan.

Hari 2

Sama seperti hari pertama, datanglah lebih pagi dan jangan lupa bawa camilan lengkap kemudian langsung  menuju ke shuttle bus dan bergegas jalan menuju tourist station dari Shuzeng Valley.

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Primeval Forest berada pada ketinggian 2930 m dpl. Menurut penelitian, kandungan ion negatif di hutan ini lebih tinggi dari daerah lainnya. ion negatif membuat kita merasa lebih tenang, mengurangi stress dan meningkatkan energi. Buatku keberadaan negatif ion ini tidak mempengaruhi stressnya aku menghitung pengeluaran dan melihat isi dompet di hari-hari terakhir di Cina.

High Negative Ion Forest

High Negative Ion Forest

Dari Primeval forest kita harus naik bus menuju ke grass lake karena jauh. Grass lake, swan lake dan arrow bamboo lake adalah danau kesukaan istriku karena ada rerumputan yang tumbuh di tengah danau ini.

Arrow Bamboo Lake

Arrow Bamboo Lake

Grass lake

Grass lake

Jalan di jalur dua ini sama sekali tidak terasa karena jarak antar danau tidak terlalu jauh dan jalan setapak yang disediakan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa cantik. Tanpa sadar, tau-tau matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar saja. Kami yang rencananya mau makan di restoran tidak jadi karena waktu tiba-tiba sudah jam 14.00, akhirnya kami makan camilan saja. Aku sarankan rekan melakukan hal yang sama dengan membawa mi instan, roti atau camilan.

Stunning View

Stunning View

Naracap

Naracap

Dari semua hal yang kami lihat di Jiuzhaigou, yang paling gila adalah Pearl Shoals yaitu boardwalk di area dangkal berarus deras sebelum masuk ke air terjun. Niat banget pengelola kawasan ini dalam membangun infrasturktur. Pantas saja harganya mahal. Aku dan istri benar-benar kagum dengan area Pearl Shoals ini. Ujungnya Pearl Shoals adalah air terjun terbesar yang menjadi icon Jiuzhaigou, yaitu Pearl Shoals Waterfall.

Pearl Shoals

Pearl Shoals

To The Waterfall

To The Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Jiuzhaigou telah membawa Taman Nasional ke level baru. Lokasinya yang mudah diakses, boardwalk sepanjang 70 km memudahkan turis dalam mengakses keindahan pecahan surga ini. Yang paling mengagumkan adalah cara manajemen taman nasional ini dalam membuat turis-turis lokal cina disiplin tidak merokok dan membuang sampah sembarangan. Aku sudah cukup melihat bagaimana perilaku turis Cina yang menyebalkan dan tidak tau aturan. Tapi di Jiuzhaigou manajemen mampu menerapkan disiplin yang ketat kepada turis-turis Cina.

Kalau kamu ke Cina, aku kira kamu tak boleh melewatkan Pecahan surga ini. Kamu bisa melihat contoh ekoturisme yang sempurna. Kamu bisa melihat bahwa upaya yang sungguh-sungguh dalam mengelola sumber daya alam bisa memberikan keuntungan kepada alam itu sendiri (terjaga) dan penduduk lokal yang tinggal di dalamnya.

Berenang di Jakarta? Mahal

Di akhir bulan November aku cuti beberapa hari di Jakarta untuk menemani istri operasi laparoskopi kista di Rumah Sakit Pondok Indah. Tinggal 3 hari di Jakarta, terutama di Rumah Sakit membuatku bosan dan minim gerak karena kerjanya hanya duduk, makan, nonton TV, sambil sesekali ngobrol sama keluarga yang datang menjenguk.

Ketika istri diizinkan keluar dari rumah sakit dan istirahat di rumah, aku langsung browsing-browsing dan tanya-tanya kolam renang di sekitaran Cilandak dan Cinere. Istri dan adik ipar menyarankan kolam renang Cilandak Sport Center di Citos namun dia bilang hati-hati karena di Citos banyak gay yang bikin males renang. Aku mikir, anjir, ketemu gay aja udah serem apalagi ketemunya di kolam renang. Saking sudah kepinginnya berenang akhirnya aku paksain aja berenang di Citos. Namun ada hal lain yang aku lupa, ternyata aku lupa bawa kacamata dan celana renang. Tanya-tanya sama orang rumah ternyata gak ada yang punya. Mau gak mau aku beli dulu kacamata dan celana renang itu. Paling dekat toko olahraga di rumah mertua ada di Cinere Mall. Jadi jadwalku hari itu, pergi ke Cinere Mall, beli celana dan kacamata renang kemudian baru ke Citos.

Aku yang biasa hidup di Bontang yang kalau mau ke kolam renang atau pergi ke manapun waktu perjalanan tidak sampai 10 menit, santai sekali. Aku keluar dari Villa Cinere Mas menuju Cinere Mall jam 4 sore. Aku lupa bahwa ada jalan laknat yang bernama Karang Tengah. Walaupun hari minggu sore, Karang Tengah arah Cinere Mall padat merayap. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Cinere Mall belum termasuk belanja. Aku baru bisa jalan menuju Citos lepas maghrib. Sekitar jam setengah tujuh, aku sudah sampai di Citos, untungnya Citos di hari minggu tidak penuh-penuh amat sehingga tidak sulit cari parkir.

Ada dua kolam di Citos, yaitu kolam besar (bukan kolam olimpik) dan kolam kecil. Dimensi Kolam besar sekitar 23 x 50 m, mirip dengan kolam olimpik hanya saja kedalamannya yang berbeda.  Sepintas aku senang karena kolam fasilitas di sini lengkap, tidak seperti di Bontang. Sebelum masuk kolam ada loker dan kamar mandi yang cukup banyak, ada shower untuk bilas dan kursi di pinggir kolam renang melimpah. Hal lain yang membuat aku senang, kolam ini buka sampai jam 10 malam. Dan ini pertama kalinya aku renang malam-malam.

Rasa senang itu rupanya hanya sementara. Persis ketika aku nyebur ke kolam kebahagiaanku sedikit demi sedikit tergerus. Hal yang pertama kurasakan adalah airnya yang engga enak, keset dan berasa asin. Jangan-jangan air kolam ini gak pernah diganti sehingga jadi kolam keringat, iyuuh!! Namun aku mencoba tidak memikirkannya dengan berenang lebih cepat. Hal lainnya yang membuat kebahagiaan berenang luntur adalah kolamnya yang dangkal dan banyak orang yang berenang tidak beraturan. Besarnya proporsi kolam dangkal membuat orang-orang seenaknya berhenti dan main-main di tengah kolam sehingga jalur yang sudah kutentukan kerap harus berubah-ubah bahkan kadang harus menunggu orang lewat supaya gak tabrakan. Setelah puas satu jam berenang (baru kali ini aku puas-puasin berenang lama karena gak mau rugi soalnya harganya mahal Rp 55K), kemudian aku mandi dan sebelum pulang mau cari buah dan camilan di Citos.

Di Bontang, walaupun tidak ada shower di kolam untuk bilas, tidak buka malam dan kursi nunggunya gak banyak, kondisi airnya jauh lebih baik dan bening. Kolamnya dalam sehingga tidak ada yang main-main dan berhenti seenaknya di tengah jalur walaupun jalur penuh. Selain itu yang paling penting, berenang di Bontang gratis! aku gak pernah itung-itungan waktu berenang dan tidak pernah mikirin bayar parkir dan sebagainya.

Sambil perjalanan pulang ke rumah, aku membayangkan betapa mahal dan repotnya kalau mau rutin berenang di Jakarta. Aku membayangkan apabila kebiasaanku di Bontang diterapkan di Jakarta yaitu berenang rutin seminggu  dua sampai tiga kali, pasti akan repot dan menyebalkan sekali. Berapa waktu yang harus ditempuh dari kantor/rumah ke kolam, dan berapa biaya untuk berenang, belum lagi parkir dan jajan. Mungkin kalaupun mau serius berenang bisa dilakukan pas wiken, itupun harus siap bangun pagi dan menyesuaikan dengan jadwal nongkrong.

Jakarta memang hampir memiliki segalanya, tapi aku rasa Jakarta kehilangan hal yang penting dan sederhana yaitu kemudahan mengatur jadwal. Untuk hal ini, aku bersyukur bisa tinggal di Bontang dan bisa merayakan hal-hal sederhana seperti mengatur jadwal untuk berenang.