Berenang di Jakarta? Mahal

Di akhir bulan November aku cuti beberapa hari di Jakarta untuk menemani istri operasi laparoskopi kista di Rumah Sakit Pondok Indah. Tinggal 3 hari di Jakarta, terutama di Rumah Sakit membuatku bosan dan minim gerak karena kerjanya hanya duduk, makan, nonton TV, sambil sesekali ngobrol sama keluarga yang datang menjenguk.

Ketika istri diizinkan keluar dari rumah sakit dan istirahat di rumah, aku langsung browsing-browsing dan tanya-tanya kolam renang di sekitaran Cilandak dan Cinere. Istri dan adik ipar menyarankan kolam renang Cilandak Sport Center di Citos namun dia bilang hati-hati karena di Citos banyak gay yang bikin males renang. Aku mikir, anjir, ketemu gay aja udah serem apalagi ketemunya di kolam renang. Saking sudah kepinginnya berenang akhirnya aku paksain aja berenang di Citos. Namun ada hal lain yang aku lupa, ternyata aku lupa bawa kacamata dan celana renang. Tanya-tanya sama orang rumah ternyata gak ada yang punya. Mau gak mau aku beli dulu kacamata dan celana renang itu. Paling dekat toko olahraga di rumah mertua ada di Cinere Mall. Jadi jadwalku hari itu, pergi ke Cinere Mall, beli celana dan kacamata renang kemudian baru ke Citos.

Aku yang biasa hidup di Bontang yang kalau mau ke kolam renang atau pergi ke manapun waktu perjalanan tidak sampai 10 menit, santai sekali. Aku keluar dari Villa Cinere Mas menuju Cinere Mall jam 4 sore. Aku lupa bahwa ada jalan laknat yang bernama Karang Tengah. Walaupun hari minggu sore, Karang Tengah arah Cinere Mall padat merayap. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Cinere Mall belum termasuk belanja. Aku baru bisa jalan menuju Citos lepas maghrib. Sekitar jam setengah tujuh, aku sudah sampai di Citos, untungnya Citos di hari minggu tidak penuh-penuh amat sehingga tidak sulit cari parkir.

Ada dua kolam di Citos, yaitu kolam besar (bukan kolam olimpik) dan kolam kecil. Dimensi Kolam besar sekitar 23 x 50 m, mirip dengan kolam olimpik hanya saja kedalamannya yang berbeda.  Sepintas aku senang karena kolam fasilitas di sini lengkap, tidak seperti di Bontang. Sebelum masuk kolam ada loker dan kamar mandi yang cukup banyak, ada shower untuk bilas dan kursi di pinggir kolam renang melimpah. Hal lain yang membuat aku senang, kolam ini buka sampai jam 10 malam. Dan ini pertama kalinya aku renang malam-malam.

Rasa senang itu rupanya hanya sementara. Persis ketika aku nyebur ke kolam kebahagiaanku sedikit demi sedikit tergerus. Hal yang pertama kurasakan adalah airnya yang engga enak, keset dan berasa asin. Jangan-jangan air kolam ini gak pernah diganti sehingga jadi kolam keringat, iyuuh!! Namun aku mencoba tidak memikirkannya dengan berenang lebih cepat. Hal lainnya yang membuat kebahagiaan berenang luntur adalah kolamnya yang dangkal dan banyak orang yang berenang tidak beraturan. Besarnya proporsi kolam dangkal membuat orang-orang seenaknya berhenti dan main-main di tengah kolam sehingga jalur yang sudah kutentukan kerap harus berubah-ubah bahkan kadang harus menunggu orang lewat supaya gak tabrakan. Setelah puas satu jam berenang (baru kali ini aku puas-puasin berenang lama karena gak mau rugi soalnya harganya mahal Rp 55K), kemudian aku mandi dan sebelum pulang mau cari buah dan camilan di Citos.

Di Bontang, walaupun tidak ada shower di kolam untuk bilas, tidak buka malam dan kursi nunggunya gak banyak, kondisi airnya jauh lebih baik dan bening. Kolamnya dalam sehingga tidak ada yang main-main dan berhenti seenaknya di tengah jalur walaupun jalur penuh. Selain itu yang paling penting, berenang di Bontang gratis! aku gak pernah itung-itungan waktu berenang dan tidak pernah mikirin bayar parkir dan sebagainya.

Sambil perjalanan pulang ke rumah, aku membayangkan betapa mahal dan repotnya kalau mau rutin berenang di Jakarta. Aku membayangkan apabila kebiasaanku di Bontang diterapkan di Jakarta yaitu berenang rutin seminggu  dua sampai tiga kali, pasti akan repot dan menyebalkan sekali. Berapa waktu yang harus ditempuh dari kantor/rumah ke kolam, dan berapa biaya untuk berenang, belum lagi parkir dan jajan. Mungkin kalaupun mau serius berenang bisa dilakukan pas wiken, itupun harus siap bangun pagi dan menyesuaikan dengan jadwal nongkrong.

Jakarta memang hampir memiliki segalanya, tapi aku rasa Jakarta kehilangan hal yang penting dan sederhana yaitu kemudahan mengatur jadwal. Untuk hal ini, aku bersyukur bisa tinggal di Bontang dan bisa merayakan hal-hal sederhana seperti mengatur jadwal untuk berenang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s