Monthly Archives: April 2016

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Sapardi Djoko Damano, 1973

Amiya Arundaya Rauf

Nak,

Kamu lahir di waktu yang tepat di bulan Januari. Saat itu, ayah sedang dinas ke jakarta, berjibaku mengurus limbah pabrik di kementerian lingkungan hidup. Setelahnya, ayah dijadwalkan operasi post konstruksi jari kelingking yang cedera karena bermain basket. Ayah tak muda lagi nak, mudah sekali cedera, padahal pertandingan hanya setingkat Perusahaan. Sayangnya ayah terlambat sadar kalau things have change.

Semua bermula ketika mamah menyadari ada flek yang merupakan tanda masa kelahiran sudah dekat. Lewat tengah hari, ayah dan mamah bergegas ke rumah sakit pondok indah. Setelah diperiksa dokter, nampaknya hari itu kamu belum mau keluar. Namun, dokter menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Ada saat-saat jantungmu berdetak sangat lemah. Dokter kuatir kamu terlilit tali pusar. Dokter menyarankan ayah dan mamah pulang dan mengecek kembali keesokan harinya. Mamah yang tak pernah kenyang menolak pulang, dia ngajak makan di PIM. Katanya biar kamu kuat. Ayah kira itu alasan saja supaya bisa makan di Monolog.

Minggu 17 Januari lepas tengah hari, ayah dan mamah kembali ke rumah sakit. Lagi-lagi dokter menemukan saat-saat di mana detak jantungmu sangat lemah, bahkan sampai diulang dua kalipun masih muncul. Dokter menyarankan agar kamu segera dilahirkan dengan ceasar atau kalau mau normal diinduksi. Mamahmu memilih induksi, sesuatu yang agaknya dia sesali kemudian.

Proses kelahiranmu hampir 24 jam. Ayah ikut menemani sepanjang proses kelahiranmu itu. Ayah melihat sendiri betapa mamahmu kesakitan saat kontraksi yang frekuensinya semakin lama semakin sering dengan durasi yang semakin panjang. Tengah malam mamahmu mencakar-cakar ayah meminta dokter datang untuk operasi caesar. Ayah mencoba menenangkan mamah dengan kuatir bercampur geli, karena baru beberapa jam lalu, mamah dengan gagahnya mengatakan ingin melahirkan normal.

Setelah sepanjang malam tak tidur, pagi harinya mamah kembali meminta dokter datang untuk segera operasi caesar. Saat itu mamah memang baru masuk ke bukaan tiga. Ayah lagi-lagi menenangkan mamah bahwa dokter sedang visit dan belum bisa datang. Padahal sejujurnya ayah tidak tau dokter ada di mana. Untungnya, hampir tengah hari mamah sudah masuk bukaan enam. Sehingga  mamah dipindahkan dari ruang perawatan ke ruang persalinan. Mamah yang tadinya lemas, mulai bersemangat karena kelahiranmu sudah dekat.

Tidak banyak drama di ruang persalinan itu, bahkan mayoritas drama ada di ruang perawatan ketika mamah dalam fase kontraksi. Dokter dan suster yang sudah berpengalaman mengikuti puluhan bahkan ratusan persalinan, sudah menjadi ritual rutin seperti apel pagi pegawai negeri. Kami sampat kuatir ketika suster memberitahukan bahwa air ketuban berwarna hijau pertanda kontaminasi. Hal ini menandakan kamu stress. Kami ketar ketir. Dokter juga sempat mempersiapkan segala sesuatunya kalau-kalau kamu kesulitan bernafas ketika lahir. Senin 18 Januari 2016 pukul 15.41 kamu menangis dengan kencang bahkan lebih kencang dari bayi lainnya. Momen itu adalah momen paling melegakan dan membahagiakan buat ayah, melihat kamu menangis, mendusel-dusel di dada mamah.

Kami menamakanmu Amiya Arundaya Rauf. Amiya berarti membawa kebahagiaan. Arundaya berarti matahari terbit yang melambangkan harapan untuk menghadapi masa depan. Sedangkan Rauf adalah nama Papi, kakekmu. Kami ingin membuat kebiasaan meneruskan nama keluarga nak. Jadi namamu itu berarti pembawa kebahagiaan dan harapan dari keluarga Rauf.

Sejak kamu lahir, ayah dan mamah masuk dalam fase hidup yang baru. Mengganti popok, bergadang , bertengkar, kesulitan menyusui, bertengkar, memandikan bayi, bertengkar, bahkan sampai kesulitan waktu mengatur waktu bertemu kamu dan mamah di Jakarta. dan pertengakaran-pertengkaran baru. Walaupun begitu, kami bahagia sekali Nak. Kamu menjadi pusat dunia ayah dan mamah. Kami selalu berusaha untuk menjadi orangtua yang baik untuk kamu. Dan kamu juga akan belajar dari Ayah dan mamah. Kita sama-sama belajar ya.