Category Archives: Buku & Film

In Defense Of Rahwana

Tuhan, Jika Cintaku pada Shinta terlarang? mengapa Kau bangun perasaan megah ini di dalam sukmaku? – Rahwana

Petikan tersebut saya ambil dari  pertunjukan teater plus musik plus wayang Maha Cinta Rahwana karya Sujiwo Tejo. Pertunjukan ini adalah tafsir lain dari Sujiwo Tejo tentang cerita Ramayana. Rahwana,  Raksasa dari Alengka yang biasanya merupakan tokoh antagonis dalam cerita Ramayana menjadi fokus jadi cerita ini, terutama tentang cintanya yang agung terhadap Sinta.

Rahwana menculik Sinta dari Rama di Hutan Dandaka ketika Rama sedang menjalankan dharmanya untuk melindungi pertapa. Namun, bukankah Rama sedang menjalani pengasingan di Hutan Dandaka? Perang antara pertapa dengan kaum raksasa seharusnya bukan merupakan perang Rama? mengapa Rama harus ikut campur walaupun Sinta sebetulnya sudah keberatan dengan ikut campurnya Rama?

Rahwana menculik Sinta selama 12 tahun (versi S. Pendit 12 bulan). Rahwana membuatkan Sinta taman yang indah. Selama 12 tahun itupun Rahwana memperlakukan Sinta dengan amat baik; tidak pernah menyentuh Sinta, selalu berkata-kata lembut dan menyiraminya dengan rayuan manis. Rahwana tidak ingin memaksakan cintanya, ia ingin menyentuh Sinta jika benar-benar jatuh cinta pada Rahwana. Sampai akhirnya ketika dia harus kehilangan saudara dan anaknya karena serangan Rama dan balatentara kera, dia bertanggung jawab kepada cintanya yang teguh dengan mempertahankan Sinta sampai ajal menjemput.

Rama, putra mahkota kerajaan Ayodya, mendapatkan Sinta lewat sayembara yang sebetulnya tidak dia inginkan. Namun karena kesaktiannnya, dia berhasil mematahkan busur dan mendapatkan Sinta. Selama hidup di pengasingan Rama sering meninggalkan Sinta untuk ikut campur dalam perang antara pertapa dengan raksasa, perang yang sebetulnya bukan perang Rama. Ketika berhasil merebut Sinta dengan bantuan bala tentara monyet pimpinan Hanoman dan Sugriwa (tidak ada satupun tentara Ayodya) Rama membiarkan Sinta lompat ke dalam api untuk membuktikan kesetiannya. Setelah itupun, Sinta malah diusir ke hutan saat hamil tua karena Rama masih tetap tidak percaya kepada Sinta.

Rahwana, yang walaupun memiliki istri yang banyak dan semuanya cantik, tidak dapat menahan perasaan cintanya yang besar terhadap Sinta. Itulah yang mendorongnya untuk bertahan selama 12 tahun tidak menyentuh Sinta. Cinta Rahwana sangat agung terhadap Sinta. Sedangkan Sinta cinta setengah mati kepada Rama, diminta lompat ke api saja mau, diusir ke hutan saat hamil tua Sintapun menurut.

Cinta yang tidak simetris memang pahit. Bagi anda yang belum pernah merasakan cinta yang tidak simetris, tidak akan paham mengapa ini begitu pahit dan menyakitkan. Namun bagi anda yang pernah mengalami cinta yang tidak simetris, anda akan empati terhadap Rahwana dan segeralah tumpah air mata oleh luka yang kembali terbuka. Seperti sahabat saya itu. Dia menitikan air mata dalam diam dan gelap ketika Glenn Fredly dengan syahdunya menyanyikan Maha Cinta Rahwana.

Hal inilah yang saya suka dari Epik Hindu. Baik Mahabharata dan Ramayana tidak memandang segala sesuatunya dengan hitam putih. Rama yang menjadi simbol kebaikan ternyata seorang yang picik dan dangkal. Sedangkan Rahwana yang menjadi simbol kejahatan ternyata seorang yang dicintai rakyatnya, dan mampu mencintai secara utuh penuh.

Sebelum saya menutup tulisan ini, izinkanlah saya mengambil kutipan dari pertunjukan itu,

Menikah itu soal takdir. Cinta itu martabat. Kita tahu, mana yang harus diperjuangkan, -Maha Cinta Rahwana-

Rahwana mungkin bersalah secara etika ketika dia menculik Sinta yang sudah bersuamikan Rama. Namun, siapa yang bisa menyalahkan perasaan?

Iklan

Amba: Sebuah Resensi

“Apabila kita bertanya pada seorang ksatria tua, apa keberanian yang paling purba, dia akan menjawab: kewajiban”

Siapapun yang familiar dengan cerita Mahabharata pasti tahu kisah Amba & Bhisma.  Kisah Bhisma tidak dapat diceritakan tanpa Amba dan sebaliknya. Keduanya dipertemukan oleh nasib dan masing-masing mempengaruhi nasib satu  lainnya.  Nukilan kisah Mahabharata dengan latar tahun 1965 yang merupakan tahun yang berat bagi republik ini  memberi warna tersendiri pada novel Amba.

Diawali dengan suatu peristiwa di Pulau Buru pada tahun 2006 ketika seorang wanita ditikam oleh wanita lainnya di atas sebuah makam. Dari situlah kita tahu bahwa wanita yang tertikam adalah Amba yang sedang menangis diatas makam Bhisma, ayah dari anaknya di luar nikah. Sementara yang menikam adalah Mukaburung, istri Bhisma selama pengungsian di Pulau Buru. Istri yang tidak pernah disentuhnya.

Amba yang tertikam adalah seorang wanita yang mencari cinta yang tercerabut akibat pergolakan politik di tahun 1965. Pencariannya sampai pada Pulau Buru yang menjadi pengungsian tahanan politik oleh pemerintah Orde Baru. Dari sana kita akan menyelami karakter Amba, yang cerdas, yang pikirannya lebih maju dibandingkan zamannya. Kemudian kita lantas memahami alasan kenapa dia tidak kunjung menerima lamaran Salwa, pemuda idaman orang tuanya, yang hatinya lurus dan lempang. Amba yang lebih cinta kepada bahasa dan puisi itupun oleh nasib dituntun ke sebuah rumah sakit di Kediri. Bertemu dengan cintanya, Bhisma seorang dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur. Dokter yang simpati sekaligus ragu terhadap komunis, yang memikul tanggung jawab berat di pundaknya.

Bagi anda yang familiar dengan kisah Amba pasti sudah bisa menebak arah dari Novel ini. Dalam Mahabharata dikisahkan Amba, Ambika dan Ambalika adalah Putri Raja Kasi yang cantik. Raja Kasi mengadakan Sayembara untuk memilih calon suami untuk putrinya. Bhisma yang sakti mengikuti sayembara dan berhasil memboyong putri-putri kerajaan Kasi, tidak untuk dirinya karena Bhisma sudah bersumpah untuk tidak menikah dan menjalani hidup sebagai brahmana, namun untuk adiknya, Wichitrawirya. Di tengah perjalanan pulang, Bhisma dihadang oleh Salwa dan pasukannya. Salwa yang sudah menjalin kasih dengan Amba dipermalukan oleh Bhisma di hadapan pasukannya. Karena sudah menjalin kasih dengan Salwa, Wichitrawirya tidak lagi menginginkan Amba. Salwa yang sudah merasa jatuh harga dirinya karena dikalahkan Bhisma juga menolak Amba.

Kalau ada hal yang mengganggu pada novel ini, mungkin karena terlalu banyak kebetulan yang mirip dengan kisah Mahabharata, bahkan sampai nama  tokoh utamanya (Amba, Ambika, Ambalika, Bhisma, Salwa dan Srikandi). Kalau di Mahabharata Bhisma meninggalkan Amba karena menjalani hidup sebagai brahmana, di novel ini Bhisma diasingkan ke Pulau Buru.

Laksmi Pamuntjak dikenal sebagai esais dan penulis puisi yang lebih kerap menulis  dengan bahasa inggris. Pemilihan diksi pada novel ini menjadi ajang pamer Laksmi akan kekuatannya mengubah kata-kata menjadi nada. Disatu sisi itu merupakan hal yang baik, namun saya merasa agak berlebihan, apalagi surat-surat dari Salwa yang terlampau manis. Ditambah lagi, banyak diksi di novel Amba yang saya tidak tahu apa artinya.

Di Novel ini juga saya melihat Amba begitu banyak dikelilingi lelaki yang amat baik dan simpati kepadanya (Salwa, Bhisma, Adalhard, Zulfikar dan Samuel) sementara tidak satupun diantara mereka, kecuali Bhisma, yang mendapatkan balasan layak dari Amba, seakan dunia Amba hanya terfokus pada satu hal yaitu Bhisma. Satu  karakter yang  mengagumkan adalah Adalhard yang tahu bahwa dia tidak akan mungkin menggantikan Bhisma dalam hati Amba namun tetap mau menerima Amba dan mengambil tanggung jawab Bhisma dengan menjadi ayah dari anaknya.

Laksmi Pamuntjak tidak saja berhasil membuat sebuah  novel yang indah  namun juga sebuah historiografi yang enggan menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Pengetahuan kita di tahun 1965 mengacu pada buku sejarah terbitan Pemerintah yang tentu saja tidak objektif dan tidak pernah dikupas secara adil tentang sang pecundang yaitu PKI dan sayap sayap politiknya. Yang kita paham dari PKI adalah segerombolan orang-orang sadis tidak beragama yang gemar menyembelih orang-orang yang tidak sealiran dengannya. Laksmi berhasil menghindarkan diri dari anakronisme sejarah dengan tidak menilai, tapi memaparkan secara cermat keadaan sejarah pada saat itu.

Seperti pada Mahabharata, pesan yang coba dikemukakan oleh Laksmi Pamunjtak adalah tidak ada sesuatupun di dunia ini yang benar-benar putih dan benar-benar hitam. Bahkan hitampun punya kata-kata yang mewakili –ebony, coal,raven– dan stigma pada hitam tidak selalu bermakna kelam, buruk dan membawa mala. Begitupun dengan merah. Merah punya banyak jenis – merah delima, merah hati, merah marun – dan bukan hal yang harus ditakuti.

Paulo Coelho: Aleph

Saya tidak menyangka Paulo Coelho akan membuat buku yang sangat personal. Hal ini membuktikan bahwa bukan cuma kita-kita saja yang bisa galau dan labil. Seorang Paulo Coelho pun bisa galau dan labil, cuma ya galaunya kelas tinggi. Mainannya sudah spiritualisme dan yang digalaukan adalah dosa dikehidupan sebelumnya.

Ekspektasi  tinggi terhadap buku ini membuat saya berharap bisa mendapatkan petualangan seru Coelho serta menjadi tersegarkan oleh pesan moral dari petualangannya itu. Namun yang terjadi adalah saya tersesat di dalam buku ini.  Salah satu hal yang menyebabkan tersesat adalah mengenai Aleph. Menurut Coelho, Aleph adalah suatu titik pada jagat raya yang mengandung energi tinggi yang ketika melewatinya perasaan kita membuncah yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.  Okay, saya yakin kita semua pernah mengalami hal ini. Ada tempat-tempat yang entah bagaimana bisa menimbulkan efek seperti yang dimaksud Coelho. Nah yang sulit dijelaskan adalah ketika  dua orang atau lebih memiliki keterikatan yang kuat bertemu di Aleph, mereka akan mampu menembus waktu ke masa lalu di mana keduanya pernah menjalin suatu hubungan istimewa Bahkan mereka bisa menciptakan Aleph. Nah,  saya bingung dengan makhluk bernama Aleph itu.

Mungkin saya memahami buku ini sebagai non-fiksi, seperti sebuah  catatan pengalaman.  Harusnya saya menganggap ini sebagai buku fiksi yang tidak terlalu serius menanggapinya. Tapi itu sulit, karena Coelho membuat novel ini seolah-olah adalah cerita nyata. Sejak awal membaca buku ini saya terus terusik dengan konsep reinkarnasi dan penebusan dosa masa lalu. Pikiran dan imajinasi saya selalu menghalangi konsep ini masuk, dan saya menjadi sulit menikmatinya.

Buku ini menceritakan penulis sebagai tokoh utama yang sedang labil. Ia terus mempertanyakan kepercayaannya dan sudah mencapai titik jenuh dalam hidupnya. Dia terjebak dalam rutinitas. Menyadari hal ini, dia memutuskan untuk melakukan perjalanan. Ini yang keren, dia menelusuri jalur kereta legendaris, Trans-Siberian Railway sepanjang 9,288 km dari Moscow ke Vladivostok yang melewati tujuh zona waktu. Edan.

Dalam perjalanannya, Coelho  bersama Hilal, seorang violist berbakat yang memiliki masa lalu yang kelam. Kepadanya Coelho melakukan dosa masa lalu. Yao seorang penerjemah kelahiran cina dan ahli aikido yang tidak bisa melepaskan istrinya yang telah meninggal dan beberapa penerbit dan editor. Tentu karena inti ceritanya tentang spiritualisme kita tidak bisa berharap akan ada petualangan seru seperti di The Alchemist. It is all about spiritualism.

Paulo Coelho tetaplah Paulo Coelho, walaupun sering membuat saya mengernyitkan dahi, dia adalah seoraang story-teller yang hebat. Dia pandai menjaga alur cerita dan tidak terjebak dalam detail membosankan. Dia juga seorang bijak yang kata-katanya “quotable”

Seperti buku-buku Coelho yang lain, buku ini penuh dengan pesan moral. Anda yang fans Coelho pasti bisa menikmatinya. Saya sih selalu suka cara Coelho mengatasi kebuntuan di hidupnya dengan melakukan perjalanan. Cuma saya tidak memiliki kemewahan seperti dia yang bisa terus-terusan jalan-jalan. Namun seperti yang Coelho bilang. Traveling is never a matter of money, it is  a matter of courage. Sayangnya I have neither money nor courage.

(500) Days of Summer

500 Days of Summer

Film ini adalah contoh yang baik tentang pemaknaan ulang happy ending.  Ya, memang Saya paling sebal sama film-film komedi romantis yang memakai formula itu-itu saja, pertemuan-jatuh cinta pandangan pertama-drama-akhirnya hidup happily ever after. basi!

Ah, Anda-anda pasti mencoba menganalisa apakah ini berhubungan dengan pengalaman buruk yang dialami? Tidak juga. Tak dipungkiri memang pengalaman yang membentuk persepsi mengenai kehidupan. Namun terlepas dari itu,  Saya selalu  percaya bahwa  selama Kita hidup di dunia yang tidak pasti ini, tidak akan pernah ada yang namanya happily ever after.

Film ini menceritakan tentang Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt), pria  menyedihkan dan sensitif yang mengira telah menemukan cinta sejati pada diri Summer Finn (Zooey Deschanel).

Tom , seorang berlatar pendidikan arsitektur yang menjadi tukang bikin kata-kata manis untuk perusahaan pembuat kartu ucapan, langsung jatuh cinta ketika melihat Summer di kantornya. Seiring berjalannya waktu, Kita bisa menebak kalau Summer yang misterius itu memang tertarik pada Tom. Namun, pada awal hubungan mereka pun, Summer sudah menegaskan kalau dia tidak mau ada ikatan dalam hubungan mereka. Summer tidak percaya pada ikatan.

Nah, itulah sumber masalahnya, Tom pun menjadi pria yang merengek-rengek dan sensitif. Tom menginginkan kejelasan mengenai hubungan mereka karena Tom menganggap sudah menemukan “cinta sejati” pada diri Summer. Dia terus menerus menuntut kejelasan kepada Summer mengenai hubungan mereka. Summer pun mengatakan “we’re just friends“. Tom merasa perlu curhat dengan adiknya, Rachel Hansen (Chloe Moretz) mengenai tingkah Summer. Rachel ternyata jauh lebih dewasa dari Kakaknya yang menyedihkan itu. Rachel memberikan pandangan rasional kepada Tom yang seharusnya memikirkan kembali mengenai Summer adalah  wanita yang tepat bagi Tom.

Secara teknis, film ini menampilkan cara bercerita yang menarik. Film ini menampilkan alur cerita yang tidak kronologis melainkan lompat-lompat, maju mundur dalam 500 hari bersama Summer. Adegan yang menampilkan hari bahagia bagi Tom kemudian lompat ke adegan dimana mereka putus, lalu kembali lagi ke hari-hari awal Tom mendekati Summer, lalu lompat lagi, kembali lagi, ditambah permainan animasi yang segar dan menarik yang disisipkan membuat film ini tidak membosankan dan sedap dipandang mata.

Film ini menyampaikan pesan bahwa hubungan timbal balik itu tidak bisa dipaksakan. Ada seusuatu dalam diri Summer yang menahannya untuk “resmi berpacaran” walaupun Tom sudah merasa Summer adalah “the one“. Makanya Summer selalu menghindar karena merasa belum menemukan apa yang dia cari dalam diri Tom.

Akhir yang Indah dalam suatu cerita tidak harus diakhiri dengan kebersamaan antara kedua tokoh utamanya. Itulah yang membedakan film ini dengan komedi romantis biasa. Film ini membuat anda berpikir ulang mengenai arti cinta dan jodoh. Dan lagi, film ini berakhir mengambang, bukan hidup bahagia selamanya. Itulah yang paling Saya suka dari film ini.

Problem Solving

Problems are always attached within our lives wheter are you student, employee, or even a UN’s secretary general. We all have problems wheter big or small. What differentiated one from another is how they face problems.

Rule number one is the attitude. Perhaps you have mastered the problem-solving tools. But problem solving is not just skills, it is a whole mind-set.  A true problem solver is constantly trying to bring out the best in them to shape their environment, their world.

According to Ken Watanabe – A former Mckinsey & Company management consultant – there are four types of attitude which can get in the way of effective problem solving.  Maybe these attitudes remind you of someone, or remind you of yourself. Now let us identify some:

  • Miss Sigh

She is a kind of person who gives up immediately whenever she faces a smallest challenge. Sometimes Miss Sigh had a great idea to fix a problem. But she is afraid to speak it up. Afraid people will laugh at her.  Mrs Sigh can’t take control of her life. She just sighs.

  • Mr Critic

Mr Critic is never afraid to speak up. Whenever someone comes up with the plan, he is ready to point out the weakneses and attack everybody else’s ideas. He is always eager to blame someonle else whenever things go wrong. Similar with Miss Sigh, Mr Critic never gets anything done. Maybe he is too afraid to take responsibillites and face the fact that he himself makes mistakes.

  • Miss Dreamer

Miss Dreamer has her head stuck in the clouds. She has great ideas, but she never goes beyond that. Miss Dreamer is never bothered maps out her dreams into set of action. She is statisfied with thinking about her dreams.

  • Mr. Go-Getter

Different from others, Mr.Go-Getter seems like a non-problem solver. He is proactive and doesn’t have problems with negative thoughts. He quickly jumps into action when anything goes wrong. However, he is kind of someone who doesn’t know how to pause and think before act. He tends to blame every failure on lack of effort. He is not interested in finding the root-cause of the problem. All he wants to do is trying harder and harder. He failed to realize that stopping to think might as important as taking action.

What kind of attitude does problem-solver have? Like Mr.Go-Getter, problem solver doesn’t hesitate to take action, but the difference is they know when to step on the brake and change the direction. They identify root cause of the problems and setting a specific goal. While taking action they are also monitoring their progress to make sure they are heading to the right direction.

Rule number two is the steps. Problem solving is not magic. Problems will not dissapear with a single wave of hands or with an uttering of incantation. It requires several steps to be done, and every step is important. Those steps are; (1) understand the current situation, (2) identify the root cause of the problem, (3) develop an action plan, (4) execute until the problem is solved and making modifications if needed.

At the very beginning, before you solve anything, you have to realize there is a problem. Afterwards, you have to find the root-cause. Yet, finding the root-cause of the problem is not enough, you have to think how to fix your problem and take the action.

Although it sounds very easy and simple, the practice is not easy and sometimes it gets tricky. Along the way, there are obstacles, a true problem solver are persistent to the goal and always open to changes and modifications as necessary.

I would give you the example taken from Watanabe’s Problem Solving 101 book.

Consider a student whose math grades are going down. Like any normal students, the student would have to raise his grades. Maybe, without finding what actually the root-cause of the problem, He made a decision to quit soccer team and focus studying. This extreme decision would be such a waste if the main problem is not how long he studies, but how effective.

A problem solvng kid might start by asking himself, “What type of question am I getting wrong?” Then he breaks down the question into categories like, algebra, fraction, and geometry. By comparing the scores between categories he might find that the algebra score is going up, fraction is flat and only geometry is going down. Just looking at the average math grades, doesn’t help him to see the exact problems.

If geometry is the problem, then he must further break down geometry scores into subtopics including area, angles, and volume to better identify the problem.

When his understanding goes from level “my math grades are going down” to more specific “my math grades are going down because I’m not doing well in three topic: trapezoid area, cylinder volume and pyhtaogorean theorm application” the effectiveness of his plan and the end result would be significantly different.

After He identifes what problems that cause him troubles, then he can make an action plan. Wheter it is to increase study time or to improve his method. Increase study time means adding extra study time before sleep or after waking up. Improve his method can be done by swithcing to a better textbook, ask teacher and friends, or hire a tutor.

The effective way to solve math problems is different for everybody. That is why you should asking the “why” and “how” question to develop a custom-made action plan. As you can see, problem solving is not complicated, even if it is big and complicated. You just have to break it down into small manageable problems, and you will be able to solve it.

Rule number three is the tools. Tools are important. But you only can use the tool after you have the attitude and understand the steps. Problem solving tools which will I describe below are simple common tools used for problem solving. Not limited only to these tools, perhaps there are other thousands of toolsl which can be used for problem solving activites. Anything which help you understand the situtation, map your idea, or simply give you better visualisation, can be considered as a tool.

  • Logic tree

Logic tree is a simple yet versatile visual tool. You probably have been using it to describe ideas. In problem solving, logic tree can help you to identify root cause of the problems and develop solutions. The key point of using logic tree is to break down problems into categories without anything left out. Here’s the example

  • Yes/no tree

Ye s or no tree can be used to figured out a problem or developing  solutions by posing mulitple yes/no questions. I give you a funny example. Ignore the harsh words though

  • Problem solving desgin plan

Problem solving design plan is designed to collecting and analysing data to support your hypothesis. In the desgin plan you clarify the issue you are going to solve, state your hypothesis and reasons, list the analysis, actions and information to prove or disaprove your hypothesis. It doesn’t have to be above mentioned, you can make your own design plan correspond to current situation. I’ll give you the example taken from Watanabe’s book. It’s about a band called The Mushroom Lovers. After their first three concerts, they had only 15 peoples. After made hypothesis, they are trying to collect information to prove and dissaprove their hypothesis. They need a design plan to avoid collect irrelevant information. Their design plan as follow;

Issue

Hypothesis Rationale Analysis Information

Why are some pople who know about the concerts not coming?

Because they don’t like rock music in general What music lover wouldn’t go to a free show Interview 5 people who knew about the concerts but didn’t attend Interview

  • Hypothesis pyramid

Hypothesis pyramid is a great tool to structuring your argument. It can be used to clarify your conclusion and useful for communicating your arguments to others. The basic structure puts the conclusion on top while supporting arguments on the bottom, like structure of pyramids.

  • Pros and Cons; Criteria and evaluation

When you need to evaluate multiple options and select the best, you can use Pros and Cons table. It really helps you before you make any decisions. It ensures you to consider the good and bad aspects. You also can use criteria and evaluation tool to make decision. By criteria, you can evaluate your options and decide the importance of each criterias. These examples are also taken from Watanabe’s book.

Pro con’s table

Pro’s Con’s
Amadillo high school +++ High quality of education

++ strong baseball team

++ free tuition

++ some of friends will probably go there

– – – No study abroad program

–far from home

–old school building

Total 10 + Total 5 –
Beaver high school +++ High quality of education

+++ strong baseball team

+++ study abroad program

+++ free tuition

++ many of friends will probably go there

–far from home

–old school builiding

Total 14 + Total 2 –

Criteria & evaluation table

Criteria Importance Amadillo HS Beaver HS
Quality of education high +++ +++
Study abroad program High + (no) +++
Strenght of baseball team Medium ++ ++
Cost of tuition high +++ (free) +++(free)

We can see that to solve a problem is not hard. Like riding bicylce, swimming, and any other stuff, it needs practice. Once you are used to, You can stop panicking, get a grip, and start thinking.  Problem solving is easy when you know how to set a clear goal, figure out how to reach it, and follow through while reviewing progress and making changes to your plan as necessary

We also have to change our perspective to a problem. Rather seeing it as a problems, we could view it as a challange. A chance to make ourselves, our community or even the world better.

*Most of it are taken from Ken Watanabe’s book: Problem Solving 101. It is actually a book for children to face new problem-solving focused education. But somehow, with simple language, real-life examples and attractive pictures, a complicated matters become easy and manageable.

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Novel ini membuktikan bahwa seorang Dewi Lestari mampu menulis lintas genre. Awalnya, Saya kaget ketika membaca novel yang berbeda dengan karya Dee sebelumnya. Dee membuat novel ini ringan, jenaka, khas anak muda, berbeda dengan Supernova.

Kita mengikuti perjalanan kedua tokoh utama, yaitu Kugy dan Keenan. Dee mengibaratkan tokoh ini berada dikedua kutub berlawanan dan bertemu ditengah kemustahilan. Menurut Saya,  kedua tokoh ini tidak betul-betul berada di kedua kutub berlawanan. Keduanya adalah artis, Kugy seorang penulis dongeng dan Keenan pelukis. Keduanya pandai mengekspresikan dirinya walaupun dengan media berbeda.

Secara teknis, penokohan, penyusunan plot, gaya bertutur,  drama yang dibangun, sampai klimaks, Perahu Kertas mengikuti pola yang lazim ditemui pada komik serial cantik. Cewek cantik periang yang tidak peduli penampilan dan cowok keturunan bule yang cool, pendiam dan misterius akhirnya saling jatuh cinta, terpagut asmara, tidak bisa terpisahkan. Dijamin, anda-anda yang menggemari serial cantik, pasti sangat menggemari novel ini.

Dee memang pandai memainkan emosi pembacanya, mulai dari kehidupan percintaan, keluarga, persahabatan, pengorbanan, cita-cita, ambisi. Ramuan bahan-bahan ini di tangan seorang Dee, menghasilkan karya yang memiliki daya magnet yang luar biasa. Perasaan pembaca serasa diaduk-aduk, diterbangkan dengan impian, sekaligus dihempaskan dengan kenyataan pahit yang selalu ada.

Novel ini memang memikat, ditengah aktivitas lebaran, saya mampu menyelesaikan 434 halaman dalam waktu tiga hari. Cuma novel-novel yang memiliki alur cerita memikat, penyusunan plot yang tertata dan pengembangan drama yang indah, yang mampu membuat saya tenggelam membaca sampai berjam-jam.

Namun, dibalik kemampuan tutur bercerita dan kepandaian memainkan emosi, sesungguhnya tidak banyak hal baru dari novel ini. Kehidupan percintaan, makna berkorban, menjadi diri sendiri, mengejar mimpi, sering kita dapati pada karya-karya lain.  Tapi ada satu hal yang menarik. Novel ini menyampaikan pesan bahwa hati tidak pernah akan bisa memilih, ia selalu berlabuh ke tempat yang sama. Hati tidak pernah memilih, ia dipilih. Saya suka perspektif ini, bahwa kemanapun hati kita pernah singgah, sesungguhnya ia selalu berlabuh ke tempat yang sama.

Negeri 5 Menara

Man jadda wajada

siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses

Itulah semangat yang menyelimuti novel menarik mengenai kehidupan anak pondok pesantren berjudul Negeri 5 Menara oleh A. Fuadi. Saya suka segala sesuatu yang menceritakan budaya, pendidikan, dan kehidupan dalam sudut pandang orang yang menjalaninya. Hal ini penting untuk membangun persepsi.

Setelah selama sekian terjebak dalam persepsi sendiri mengenai suatu hal, Saya belajar untuk tidak terlalu cepat menilai. Saya belajar untuk memahami dan membangun sudut pandang dari berbagai sisi. Karena, Saya yakin dengan melakukan itu, Saya bisa terbebas dari segala pretensi yang membatasi komunikasi.

Nah, bukan itu poin itu yang akan Saya tekankan, hehe.

Dalam salah satu babnya, dalam suatu sesi kelas malam -kelas yang diperuntukan untuk mengulang & mempersiapkan pelajaran- Ustadz Salman menceritakan potongan biografi tokoh-tokoh dunia. Dia menyanyakan pertanyaan retoris, “Apa yang membedakan orang sukses dengan orang biasa”? menurutnya ada dua hal yang sangat penting:

  1. going the extra miles. Intinya berusaha lebih keras, jangan mudah merasa cukup. Kita harus berani capek for going the extra miles
  2. Jangan pernah membiarkan diri terpengaruh oleh unsur luar. Kita berkuasa atas diri kita sendiri. Jangan pernah memberikan kekuasaan itu kepada lingkungan, keadaan dan orang lain untuk merusak impian-impian kita.

Sebetulnya itu bukan hal baru, namun mengingat situasi yang dialami, Saya tersengat. Nasihat inilah yang Saya butuhkan sekarang. Terutama yang nomor dua. Sudah terlalu sering Saya membiarkan diri  berada dibawah kekuasaan luar, baik lingkungan atau seseorang. Saya sering marah ketika orang lain memancing, sedih ketika dikecewakan dan gugup ketika diintimidasi. Manusiawi? tentu, tapi bukan berarti kita harus menyerah. Saya bertekad, mulai saat ini Saya tidak akan menyerah kepada keadaan dan seseorang. Karena Saya punya cita-cita, maka  dengan segenap ada, Saya akan menjaga api itu tetap menyala dan tidak akan membiarkan seorang pun memadamkannya.

Nah, petuah Pak Ustadz ini telah menjaga api ini tetap berkobar. Semoga, petuah ini juga bisa menginspirasi 🙂