Category Archives: Diving

Tips Diving Raja Ampat

Trip ke Raja Ampat mahal banget, kalau anda tidak benar-benar suka diving, anda akan berpikir ratusan kali sebelum pergi ke Raja Ampat. Saya memang suka sekali diving, walaupun tidak segitunya. Segitunya artinya mau menyerahkan hidup saya untuk diving. Contohnya seperti instruktur saya di Manado, Reynaldo Coral, sebelumnya dia adalah engineer IBM yang bekerja di Singapore. Entah apa yang ada di pikirannya tiba-tiba saja dia resign, menjadi instruktur diving dan menjadi resort manager di Manado yang saya kira pendapatannya tidak ada setengah dari pendapatannya di IBM.

Tidak hanya biaya yang harus disiapkan, anda juga harus nyaman diving dengan arus, seperti kalimat terkenal di Raja Ampat “No current no life“.  Pertunjukan spektakuler di Raja Ampat justru ketika arus kencang. Schooling runners yang tiba-tiba bubar karena dikejar tuna, manta yang dengan anggun berenang seperti terbang, dan patroli hiu disekitar terumbu karang, itu semua bisa dilihat apabila ada arus. Jadi untuk anda yang belum nyaman diving dengan arus sering-seringlah diving di daerah berarus sebelum datang ke Raja Ampat, karena seperti semua hal, kemampuan diving anda tumbuh dengan  pengalaman, tidak hanya membaca buku dan baca review di internet.

Jika anda sudah memutuskan untuk ke Raja Ampat, maka habis-habisanlah. Tentu habis-habisan anda harus diimbangi dengan kemampuan finansial dan ketersediaan waktu.  Raja Ampat merupakan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar;  Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang mencakup area seluas 40,000 km2. Saran saya lebih baik anda pakai Liveaboard daripada land-based. Atau lebih baik lagi jika menggabungkan keduanya, karena cakupan area yang luas dan karakter di tiap lokasi yang berbeda-beda. Daerah selatan, tengah dan utara memiliki karakternya sendiri-sendiri. Selatan didominasi oleh wall yang warnanya mengingatkan saya pada toko permen walaupun ikan pelagisnya tidak terlalu banyak. Daerah tengah didominasi oleh sea mount dengan banyak ikan pelagis walaupun warna-warninya tidak semenggetarkan daerah selatan. Saya belum pernah ke daerah utara, namun katanya di utara juga tipenya wall.

Warna Warni Misool

Waktu terbaik ke Raja Ampat antara bulan Oktober – Desember. Bulan Januari – April masih relatif baik walaupun sudah mulai berangin dan choppy. Tapi yang jelas jangan ke sana bulan Juni – September karena angin kencang dan hujan deras. Mungkin anda masih bisa diving apabila land-based, namun pasti diving anda tergganggu dengan hujan deras dan laut yang tidak tenang.

Oh iya,  jangan lupa ajak geng diving anda atau paling tidak buddy yang paling cocok. Jangan seperti saya kemarin, solo trip dan gabung dengan grupnya couples. Ada satu orang yang solo juga tapi belagunya minta ampun. Diving dengan geng ataupun hanya dengan couple ada plus minusnya. Diving dengan geng pasti rame banget dan berkesan. Rusuh, berantakan, dan banyak ketawa-ketawa, itu yang setidaknya saya alami saat di Komodo dan informasi dari Weka, dive leader saya di Raja Ampat. Diving dengan pasangan-pasangan yang sudah mapan lebih tenang dan nyaman. Restoran selalu bersih, para tamu yang lain tidak akan mencampuri urusan anda. Mau bareng geng, pasangan itu tergantung preferensi anda, tapi saran saya jangan pergi sendiri,hehehe.

Kecuali anda punya kemampuan finansial dan waktu yang tak terbatas, yang memungkinkan anda bolak-balik ke Raja Ampat.  15 hari sangat ideal untuk menjelajahi seluruh kepulauan Raja Ampat, apabila tidak punya cukup waktu dan biaya, 8 hari sudah cukup, tapi saran saya fokuslah di salah satu area; utara, selatan, atau tengah. Saya sendiri lebih senang ke selatan karena lebih beragam tipe lansekap bawah airnya serta warna warninya yang mengingatkan saya pada toko permen.

Akhir November sampai awal Desember kemarin  saya ke Raja Ampat selama 8 hari. Saya memakai operator Liveaboard Grand Komodo dengan Kapal Raja Ampat Explorer yang berkapasitas 14 divers. Raja Ampat Explorer merupakan kapal terbesar yang dimiliki oleh Grand Komodo. Dibandingkan dengan operator lain,  Grand Komodo lebih murah. Perbedaan harga antara Grand Komodo dengan Kapal Liveaboard lain saya lihat lebih karena fasilitas yang ada di Kapal. Kalau kemampuan dive guide saya rasa Grand Komodo tidak kalah atau bahkan lebih baik, karena dive leader di Grand Komodo seperti Weka dan Johnny berpengalaman mengeksplorasi Raja Ampat sejak tahun 1990an. Mereka mengetahui selak beluk Raja Ampat seperti mereka mengetahui garis tangan mereka sendiri.

Oceanic Manta Ray

Delapan hari trip ke Raja Ampat bersama Grand Komodo kami menghabiskan 3 hari di Selatan (Misool) dan 3 di tengah (Penemu dan Kri),  satu hari pertama digunakan untuk perjalanan dari Sorong ke Misool dan satu hari terakhir no dive karena keesokan harinya kami harus terbang. Saya sendiri lebih suka daerah selatan yang warna-warni dan tipe seascapenya lebih beragam dibandingkan daerah tengah. Namun daerah tengah tidak kalah seru dengan banyaknya atraksi ikan-ikan besar. Favorit saya di selatan (Misool) adalah Four Kings yang merupakan bukit bawah air yang memiliki empat puncak. Seru sekali berpindah-pindah dari satu puncak ke puncak lain, apalagi melihat terumbu karangnya yang warna warni. Selain itu yang istimewa di Misool adalah Batu Tengah. Belum pernah seumur hidup saya melihat begitu banyak ikan di satu lokasi. Bila dianalogikan mungkin sama seperti stasiun Shibuya di Jepang. Lokasi favorit saya di Raja Ampat tengah yaitu Kri karena ikan besarnya banyak dan slopenya ditutupi karang yang cantik.

Saya kira Raja Ampat adalah Mekahnya para penyelam. Anda harus ke Raja Ampat paling tidak satu kali dalam hidup untuk melihat betapa Tuhan maha pemurah  menciptakan laut yang kaya dan cantik untuk kita nikmati keindahannya. Dan sambil menyelam dalam keheningan yang menelusupi diri, kita menyadari bahwa diri kita ternyata hanya secuil dan pengetahuan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semesta yang luas ini.

Iklan

Pentingnya Dive Buddy

Trip ke Raja Ampat akhir November kemarin menyadarkan saya betapa pentingnya seorang trip buddy. Saya sudah punya pengalaman trip solo ke Manado dan Lembeh tahun 2011. Trip yang menyenangkan karena saya bisa ketemu teman sesama soloist dan bahkan sampai sekarang masih berhubungan dengan mereka. Memang kita tidak boleh dan tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu pengalaman saja. Perjalanan suci saya ke Raja Ampat kemarin ternodai oleh ulah buddy saya yang sombong dan menyebalkan.

Raja Ampat adalah Mekahnya penyelam. Perjalanan ke Raja Ampat adalah perjalanan suci, oleh karenanya semua harus dipersiapkan dengan baik. Fisik harus prima, pikiran harus terbuka, energi negatif harus dibuang jauh-jauh.

Walaupun jiwa dan raga saya sudah ditempa untuk pergi ke Raja Ampat,  saya melupakan faktor eksternal, yaitu buddy. Selama di Raja Ampat saya dipasangkan dengan seorang pria paruh baya asal Amerika Serikat yang sudah tujuh tahun kerja di Australia. Awalnya saya berusaha ramah dan memperkenalkan diri saya kepada dia, tapi sejak awal bertemu, dia nampak cemberut dan tidak ramah sama sekali. Dan kelihatannya situasi semakin tidak menyenangkan buat dia ketika pembagian grup.

Di Kapal Raja Ampat Explorer milik Grand Komodo ada 10 tamu (termasuk saya),  yaitu pasangan dokter Amerika Pak Jose dan bu Peggy Duran asal Texas yang sudah berusia 67 tahun tapi masih diving! Saya suka sekali melihat kemesraan dan kekompakan mereka, apalagi ketika mereka sedang membahas hasil rekaman video mereka. Saya harap saya juga bisa seperti mereka, diving sampai tua. Yang kedua pasangan Phillip dan Lora Lockett asal Minnesota, yang sudah traveling keliling dunia. Saya iri sekali melihat foto-foto mereka keliling dunia. Lalu ada pasangan Joey Huang dan Janet Koh asal Taiwan yang bekerja di HTC. Kedua pasangan ini bertemu ketika sedang mengambil kursus selam, dan hanya dalam waktu 6 bulan Joey melamar Janet di Sipadan Malaysia. Saya senang sekali mendengar cerita romantis mereka. Kemudian pasangan Kenward dan Cora Li asal Hongkong. Cora dan Kenward awalnya nampak dingin dan sombong, tapi setelah ngobrol-ngobrol dan kenal lebih jauh, ternyata mereka berdua sangat ramah dan baik. Kenward sangat kreatif, dia memodifikasi beberapa alat diving. Bahkan di akhir perjalanan saya dikasih bola lampu LED hasil modifikasi Kenward untuk menggantikan lampu senter saya yang cupu. Kenward baik banget. Nah yang terakhir Buddy saya yang bermasalah Joseph Jasmine, dari Minnesota, Amerika Serikat. Dia sudah kerja 7 tahun di Australia. Dia mengaku sudah 26 tahun diving dan sudah diving di Hawaii, Australia, Bonaire, Guam dan beberapa tempat lainnya. Awalnya saya senang mendengar dia cerita tentang pengalamannya, tapi lama kelamaan kok dia seperti pamer, pretensius dan negatif.

Kami dibagi menjadi dua grup, Pasangan Duran dan lockett di grup satu bersama Weka, dive leader di trip ini. Sedangkan pasangan Taiwan, Hongkong, saya dan Joe di grup dua dipandu oleh Aran, anak Fakfak.  Saya awalnya tidak sadar, tapi Joe selalu cemberut ketika diving bersama dengan grup dua. Dia yang biasanya cerewet di meja makan jadi pendiam ketika diving bareng kami. Dia cuma mau sharing dengan sesama orang Amerika, dan tidak dengan kami (Orang Asia). Joey sudah menyadari hal itu sejak awal, saya tidak, mungkin karena saya lagi positif-positifnya, hehehe.

Ada  yang agak aneh, pengakuan dia yang sudah 26 tahun diving tidak terlihat di bawah air. Dia nampak tidak terlalu nyaman berada dalam air. Konsumsi udaranya pun tidak terlalu baik. Ketika kami semua masih punya 70 Bar dia sudah tinggal 500 psi atau sekitar 35 Bar. Bahkan ketika divingpun dia pakai snorkel, seperti saya waktu masih baru selesai sertifikasi Open Water.

Puncak kejadian yang paling menyebalkan adalah saat night dive. Ketika saya sedang meyenter lubang untuk mencari hewan-hewan tiba-tiba kaki saya ditarik. Saya langsung melihat ke siapa yang menarik. Ternyata di belakang saya ada Joe dan Pak Jose. Joe memberi gestur kepada saya untuk naik.  Ternyata saya tidak sadar fins saya menyentuh soft coral. Mungkin saya memang salah dan dia menegur saya. Tapi kenapa harus di depan Pak Jose?

Setelah selesai night dive tiba-tiba dia membuat drama di atas perahu dan membuat grup kami  seolah-olah reckless divers yang merusak terumbu karang. Saya bingung, Joey bingung, Kenward bingung, bahkan Aran pun bingung. Dia bilang kalau diving kami buruk sekali, dan dia gak mau lagi diving sama kami. Saya sudah kesal sekali dengan dia dan ingin saya balas kata-katanya. Namun karena saya akan berada satu kapal dengannya beberapa hari ke depan saya tahan diri dan berkata pada dia dengan dingin; kalo gak suka diving sama kami silahkan pindah. Setelah night dive Joe ngambek tidak mau makan malam.

Joey dan Janet mencoba menenangkan saya. Dia bilang memang sejak awal dia tidak ramah terhadap kita (orang asia). Sepertinya dia merasa lebih baik dari kita, dan ketika ditempatkan satu grup dengan kita, dia merasa terlalu baik berada satu grup dengan kami. Dia kelihatan mencari-cari kesalahan di grup dua supaya bisa pindah ke grup pertama, walaupun itu berarti menjelek-jelekan kami. Sangat menyebalkan. Saya setuju dengan analisis Joey. Saya, Joey, Kenward dan Cora akhirnya bersekongkol untuk tidak lagi bicara dengan Joe. Enak buat pasangan Taiwan dan Hongkong ini ketika makan malam mereka duduk satu meja dan berbicara dengan bahasa yang sama. Lah saya duduk berhadapan dengan Joe.

Setelah kejadian itu, Joe dipindahkan ke grup satu. Saya lebih banyak diam di meja makan. Saya tidak pernah lagi melibatkan diri dengan obrolan orang-orang Amerika. Setelah makan biasanya saya langsung keluar dan ngobrol-ngobrol dengan crew. Tapi sepertinya Joe juga tidak begitu cocok dengan pasangan Duran dan Lockett. Dia jarang diajak ngobrol dan akhirnya lebih sering membenamkan diri di kamar.

Sejak itu setiap diving saya selalu memperhatikan dia. Saya lihat beberapa kali Pasangan Duran dan pasangan locket menyentuh terumbu karang dan jelas-jelas duduk di atas encrusting coral saat ambil foto namun Joe bergeming dan tidak membuat drama seperti saat night dive kemarin.

Dia kena batunya di Cape Kri. Cape Kri terkenal dengan arusnya yang kencang. Kami semua excited karena seperti Weka bilang, no current no life. Means, ada arus berarti ikannya banyak. Dive plan kami adalah drift dive sampai melewati tanjung kri dan stay di sana melawan arus selama 20 menit. Weka menyarankan hook atau glove untuk pegangan. Saya perhatikan Joe yang paling panik, dia kerap menanyakan bagaimana jika tidak punya hook. Saya tersenyum dalam hati ingin lihat bagaimana dia mengatasi arus di Kri tanpa menyentuh karang. Akhirnya saat diving saya lihat dia pontang panting pegangan karang dan tentu saja merusak banyak karang. Saya semakin yakin kalau kepedulian Joe terhadap terumbu karang hanya omong kosong, dan pengalaman diving  26 tahun diving itu bullshit. Saya memperkirakan dia baru belajar nyelam awal tahun ini.

Joey lah yang pertama kali membuat saya sadar pentingnya buddy dengan melontarkan pertanyaan; do you know how much fun you get when you have your partner in this trip?   Mungkin dia kasihan sama saya yang tidak bisa share cerita pasca diving. Beruntung Joey & Janet serta Kenward dan Cori baik hati dan mau mendengarkan saya sehingga saya masih bisa share. Tapi Joey benar, sebagus apapun lokasi diving, tetap ada yang kurang kalau kita tidak bisa sharing cerita tentang bagusnya warna ikan, lucunya perilaku ikan, atau kebodohan-kebodohan yang dilakukan di bawah air.

Ah saya jadi kangen sama buddy diving saya yang lagi kuliah di Jogja. Ayo kapan kamu selesai kuliah, kita diving bareng lagi 🙂

Komodo Journey

Rencananya dive trip komodo ini menjadi trip terakhir sebelum cuti diving untuk waktu yang tidak ditentukan. Diving adalah olahraga yang butuh waktu,  biaya dan toleransi dari pacar yang tinggi. Suatu saat pasti kalah salah satu, entah waktu, biaya atau toleransi.

Awalnya saya tidak antusias menjalani trip ini. Bahkan sampai Labuan Bajo pun, saya tidak tau mana saja dive site mana yang bagus di Komodo. Yang saya tau, di Komodo arusnya kencang sehingga harus ekstra hati-hati.

Kami LOB bersama Grand Komodo dengan Kapal MV Tarata. Tarata berkapasitas 12 orang. Selain kami berempat ada dua grup lagi. Sebut saja grup Jakarta -Bandung dan Grup Donggala. Berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, usia, etnis, dan suku yang berbeda-beda tidak lantas menghalangi kami. Bisa dibilang,walaupun kami semua baru kenal saat LOB, kami sudah seperti ketemu sahabat lama. Beginilah dunia para penyelam, dari latar belakang apapun kalau sudah ngomongin diving semuanya nyambung.

Grand Komodo memberikan service yang sangat baik. MV Tarata fasilitasnya oke, kamarnya walaupun kecil cukup nyaman. Deknya terdiri dari empat kamar, dua kamarnya twin bed, sisanya bunk bed. Setiap kamar ada pendingin udara dan kamar mandi. Restorannya juga menyediakan ruang yang cukup untuk berkumpul. Di restoran ada tempat menyimpan kamera, dan LCD untuk menayangkan foto/video. Di bagian atas ada tempat berjemur yang asik juga untuk menikmati sunrise/sunset atau sekedar hang out saat surface interval.

Guide kami adalah Bang Joni, dia adalah divemaster senior di Grand Komodo. Dia cukup menguasai site di Komodo. Perhatiannya terhadap safety juga tinggi. Kami semua merasa aman dipandu olehnya di Komodo. Namun di bawah air dia sedikit serampangan. Dia enak saja megang-megang Gorgonian untuk cari pygmy seahorse. Di Grup sebelah ada dua guide lain yaitu Egi dan Yanto, anak Gunung yang nyasar ke laut. Mereka berdua berasal dari Ruteng NTT yang merupakan daerah pegunungan. Egi punya kepribadian menarik, bandel, iseng dan sedikit pemberontak tapi memiliki passion yang tinggi terhadap Ikan dan hewan-hewan laut. Idola Egi adalah Wally Siagian, seorang divemaster yang sudah terkenal di seleuruh dunia dalam hal identifikasi Ikan. Egi juga sangat peduli kepada biota laut. Dia cerita bahwa dia hampir memukul tamu karena ingin menunggangi penyu.

The Diving

Diving di Komodo harus nyaman dengan arus yang deras karena daerah ini merupakan pertemuan antara air hangat dari Samudra pasifik dengan upwelling laut dalam yang dingin dari Samudra Hindia. Arusnya pecah berputar, memantul, naik turun di antara pulau-pulau kecil membawa nutrient yang kaya sehingga menjadikannya kaya akan kehidupan. Tipikal diving di utara Komodo airnya hangat dan jernih. Tipikal diving di selatan airnya dingin dan lebih butek. Karena waktu yang hanya empat hari efektif, kami hanya bisa menjelajahi sisi utara Komodo, itupun tidak semua.

Kami diving selama empat hari di 10 dive sites. Macam-macam sitenya, dari yang arusnya gila-gilaan sampe site yang terlalu banyak serangga kecil sehingga saat nyenter suatu objek semua serangga ngumpul dan menghalangi objek. Secara keseluruhan, kami puas dengan pilihan sitenya, walaupun ada beberapa site yang tidak jelas apa yang mau dilihat.

Komodo memang terkenal dengan arusnya yang deras. Tapi dari arus yang kencang itu ada sisi positifnya yaitu ikan yang luar biasa banyak ! Komodo adalah surga pelagic! Ikan-ikan besar macam GT, Tuna, Hiu, Manta mudah ditemui di Komodo.  Favorit pribadi saya adalah castle rock.

Castle rock adalah sea mount yang puncaknya berada sekitar 3 meter dibawah permukaan laut. Arus atasnya cukup kencang sehingga negative entry menjadi wajib. Tapi apabila anda sudah berada di kedalaman 20 m. Amboi! Ikan-ikan besar ada di mana-mana. Baru tiba kami sudah disambut oleh beberapa ekor white tip shark yang lagi patroli. Belum lagi GT dan Tuna yang seperti parkir tanpa kuatir terganggu diver. Schooling Snapper & batfish menambah keren suasana. Napoleon Wrasse seliweran sekitar kami tanpa takut. Kalau di Manado atau Bali kalau ketemu sama Napoleon sudah girang, di Komodo ketemu Nepoleon jadi biasa saja. Saat safety stop juga istimewa karena ada schooling rainbow runners yang mengelilingi kita jadi kita seperti dikelilingi ribuan ikan. Luar biasa.

Favorit kedua adalah Batu Bolong atau Current city. Sesuai namanya, current disini seperti washing machine. Tapi kalau tau selahnya sih santai saja, makanya nurut dive guide di site ini sangat penting. Batu Bolong pelagicnya tidak terlalu banyak namun karangnya lebih indah dibandingkan dengan crystal rock. Apalagi jika tiba di batu bolong pagi hari yang coral slope dan wall ditaburi ratusan anthias ungu langsung disinari sinar matahari. Breathtaking.

Yang paling berkesan adalah Taka Makassar atau Manta Point. Di site ini tidak ada apa-apa selain arus yang kencang dan Manta. Kalau ada manta kitapun harus fight supaya bisa melihat manta atraksi. Peganganpun sulit karena substrat dasarnya kebanyakan rubble atau pecahan karang. Jadi bisa terbayang hebohnya diving di sini. Kami berempat mati-matian mencari tempat yang pas untuk nonton manta yang tanpa usaha bisa melayang-layang di air.

The Landscape

Bukan cuma underwater, pemandangan atasnyapun luar biasa. Saya bisa bilang kalau senja terindah di sepanjang hidup saya adalah di menit itu, ketika kopi hitam, aroma tembakau (saya gak merokok tapi di Komodo I couldn’t resist),  pancaran keemasan di ufuk barat, sayup sayup canda tawa diving buddies dan angin semilir memelusup masuk sampai hati saya di Kepulauan Komodo.What could be better than that!. Sampai sekarangpun saya masih kangen sama senja di pulau komodo.

Perbukitan kering dan savanna juga luar biasa, kontras sekali dengan warna air laut disekitarnya yang merupakan gradasi biru muda-tosca-biru tua. Daerah NTT memang lebih kering dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Tapi justru itulah yang membuatnya menjadi menarik. Bentang alamnya sangat berbeda dengan bukit-bukit hijau di daerah tropis.

Betapapun fenomenalnya hewan komodo, saya tidak melihat sesuatu yang istimewa dari mereka. Oke liurnya beracun, ya mereka hewan yang terisoloasi secara geografis di NTT, memang feeding behavior mereka menarik, tapi di Bontang, kami juga punya hewan yang mirip komodo yaitu biawak. Setiap liat komodo saya jadi ingat si Solomon, biawak liar yang sering selieweran di Kantor saya.

Kami trekking di dua tempat yaitu Gili Lawa Laut dan Pulau Rinca. Di Rincalah kami melihat komodo yang sedang ngadem di sekitaran dapur. Dari pengakuan para rangers, Komodo yang berada di sana tidak diberi makan. Menurut saya itu Bullshit. C’mon, rangers itu dapat duit dari turis untuk ngeliat Komodo. Kalo gak dikasih makan atau paling tidak kalau si Komodo gak nemukan sisa-sisa makanan mustahil komodo akan bertahan lama di sana, bahkan sampai beranak pinak segala. Kedua pihak masing-masing diuntungkan, Rangers diuntungkan dengan adanya komodo, dan komodo diuntungkan dengan adanya makanan. Very simple.

Saya yang tadinya tidak antusias dan biasa-biasa saja jadi menemukan makna baru pada dive trip Komodo ini. Pertama, diving tidak selalu tentang tingginya level sertifikasi namun tentang pengalaman, pengetahuan dalam membaca site dan kepandaian membaca situasi. Setinggi apapun level sertifikasi anda tidak akan banyak berpengaruh kalau dive logged anda sedikit dan tidak tau caranya bergumul dengan arus. Kedua, operator lokal tidak kalah dengan operator luar negeri, termasuk masalah safety bahkan dalam beberapa hal lebih nyaman menggunakan operator lokal daripada operator luar. Ketiga, dengan LOB bukan hanya pengalaman diving yang didapat, tapi juga interaksi dengan grup lain, interaksi dengan kru dan tentu saja momen berharga dengan diri anda sendiri.

Saya yang tadinya sudah lupa dengan nikmatnya diving  jadi ingat kembali bagaimana sunyinya di bawah sana, kesunyian yang menenangkan. Saya teringat kembali rasanya terkagum-kagum karena melihat hiu, penyu atau apapun makhluk besar yang tadinya cuma bisa dilihat di televisi. Atau kebanggaan ketika menemukan hewan kecil nan cantik yang tidak ditemukan teman lain. Serta kehangatan ketika sharing cerita lucu kepada grup lain tentang peristiwa konyol yang mengundang derai tawa bahagia. Ah kalau sudah begini, bagaimana saya bisa meninggalkan diving yang sudah kadung saya cintai itu.

Pulau Weh: The Diving

Sebetulnya saya tidak punya rencana untuk diving pada awal tahun 2012. Namun ketika saya diajak nyelam di Pulau Weh dengan diiming-imingi segala kemudahan (kebetulan sahabat saya sedang berada di sana), saya tidak sanggup menolak ajakan nyelam di salah satu lokasi terbaik di ujung paling barat Indonesia.

Sebelumnya, tidak pernah saya melihat begitu banyak ikan di suatu perairan. Padahal di Weh, kenanekaragaman terumbu karangnya biasa saja, warna warni yang khas pada terumbu karang tidak tampak, hanya batu-batu vulkanik yang besar-besar. Dulu saya menanggap terumbu karang yang berankeragam dan warna warni berkorelasi positif dengan banyaknya ikan. Di Aceh saya menemukan kenyataan yang berbeda.

Pulau Weh pada dasarnya adalah daerah vulkanik yang masih aktif, makanya  di Pulau Weh kita akan melihat batu-batu vulkanik yang besar-besar. Aktivitas vulkanik ini pula yang membentuk bentuk bawah air Pulau Weh menjadi fenomenal. Slope, wall, drop off, overhang, swimthrough dan channel banyak terdapat di Weh.

Rubiah Tirta

Di Weh, saya nyelam dengan Rubiah Tirta yang merupakan dive center tertua di Aceh dengan reputasi yang baik. Rubiah Tirta dijalankan oleh tiga bersaudara, Yudi, Iskandar, dan Isfanuddin. Mereka meneruskan usaha ayah mereka, alm Dodent, seorang penyelam legendaris dan penggiat lingkungan hidup di Aceh.

Rubiah Tirta terletak di Bantai Iboih Pulau Weh, sekitar 40 menit berkendara dari Pelabuhan Balohan. Yang berbeda dengan dive center lain, Rubiah Tirta hanya melayani dive, tidak melayani penginapan dan makan. Ketika saya tanyakan ke Isfan – salah satu pemilik dan guide –  kenapa tidak mengembangkan bisnis  beliau menjelaskan kalau filosofi berbisnis mereka berbagi dengan penduduk sekitar. Mereka ingin memberikan dampak positif kepada penduduk yang ada di Iboih. Visi yang luar biasa walaupun saya harus naik turun bukit dari penginapan ke Dive Center.

Courtesy of Cut Rinda

Di Iboih, saya menginap di Iboih Inn yang dijalankan oleh Ibu Saliza. Saya menginap di kamar twin bed dengan fan. Setiap kamar punya fasilitas tempat tidur dengan kelambu, kamar mandi, balkon dengan hammock. Kamarnya cukup bersih dan nyaman. Hanya memang seperti layaknya kamar dengan dinding kayu di daerah pantai, aroma lembabnya terasa sekali. Mungkin kamar dengan AC bisa membantu mengurangi lembab, sayangnya budget saya tidak cukup untuk kamar AC.

Rubiah Tirta memiliki kebijakan satu guide untuk tiap dua penyelam. Biasanya satu guide untuk empat penyelam. Mungkin karena di Weh arusnya deras dan sulit diprediksi sehingga guide harus ekstra hati-hati dalam memandu penyelam. Selama menyelam di Weh, guide kami adalah Wandi dan Isfanuddin. Guide yang berpengalaman dan asik.

Karena hanya empat kali dive (dari rencana lima dive), kami langsung ditawari site terbaik di Weh. Dive pertama sekaligus check dive dilakukan di West Seulako, dive kedua night dive di Sea Garden, dive ketiga di Canyon, dan dive keempat di Batee Tokong.

West Seulako

Dive pertama merupakan check dive. Karena hanya check dive, saya kira kami akan melakukannya di lokasi yang biasa-biasa saja. Makanya saya tidak bawa kamera. Satu hal yang saya sesali belakangan.

Pertama kali masuk ke air saja saya langsung kaget dengan begitu banyaknya ikan berseliweran. Kerapu yang sulitnya minta ampun ditemukan di Bontang, sangat melimpah di Weh. Saya nyesel gak bawa kamera. Di lokasi ini pula saya melihat Ribbon Eel yang sudah jadi incaran saya sejak dulu. Di bawah air saya misuh-misuh kepada diri sendiri karena malas bawa kamera.

Courtesy of Rinda

West Seulako adalah slope dengan substrate dasar batu-batu gede, walaupun di beberapa bagian ada substrat dasar berpasir. Pada sekitar kedalaman 14 m ke arah Arus Paleeh, kita dapat menemukan overhang yang keren. Lagi-lagi saya nyesel karena gak bawa kamera. Saya juga nyesel karena gak bawa senter, padahal saya pingin tahu apa yang ada di bawah overhang itu.

Tanpa terasa satu jam sudah terlewati.  Pada saat melakukan safety stop, saya menemukan greenfish dan pinkfish yang merupakan salah satu spesies indikator pada metode reef check.

Sering ditemukannya kerapu dan teripang yang merupakan indikator reef check, saya menarik kesimpulan bahwa program konservasi di Weh berjalan baik. Pada saat surfacing dan ngobrol-ngobrol dengan Wandi. Dia cerita bahwa pada sepanjang area penyelaman, nelayan dilarang mengambil ikan dengan jaring. Penangkapan dengan racun dan pengeboman haram dilakukan. Pantas saja ikan dan invertebrata bernilai ekonomis seperti kerapu dan teripang masih banyak ditemui.

Sea Garden / Night Dive

Sea garden terletak di sisi Pulau Rubiah yang mengarah ke barat. Kami menyelam tidak terlalu dalam, hanya sekitar 12 meter saja.  5 meter pertama substrat dasarnya karang keras yang kebanyakan jenis acropora. Kemudian 5 – 8 meter rubble,  lebih dari 12 meter hanya terlihat pasir.

Tidak banyak juga yang kami temui di Sea Garden, yang menarik hanya Fimbriated moray dan Red Spooner crab gede yang diameternya sekitar 20 cm.  Saya berharap ketemu dengan lobster dan Spanish Dancer, tapi ternyata gak ketemu.

Fierce Looking Moray

Saya niat sekali untuk nite dive, sampai-sampai bawa lensa macro Inon saya. Eh ternyata sulit sekali pakai lensa macro, apalagi di lingkungan yang hanya mendapat cahaya senter. Berkali-kali saya ubah setingan kamera, berkali2 saya ubah sudut strobe ternyata hasilnya tetap tidak memuaskan. Pada akhirnya saya lepas itu lensa macro dan memotret seperti tanpa macro.

Canyon

Sejak perencanaan diving di Aceh saya selalu melihat review yang baik tentang site ini. Tentang seascapenya yang fenomenal, tentang arusnya yang bikin ngeri-ngeri asik, tentang ikannya yang besar-besar, bahkan ada yang pernah melihat mola-mola di site ini. Makanya pagi itu saya siap diving dengan penuh semangat.

Sampai tiba-tiba hujan deras.

Dive kami yang harusnya mulai jam delapan pagi terpaksa diundur ke jam sembilan karena hujan deras. Saya mulai cemas, bukan hujan yang saya kuatirkan, tapi visibility. Saat hujan berangin biasanya gelombang datang dan mengangkat sedimen-sedimen yang ada di dasar, sehingga menyebabkan visibility berkurang. Belum ditambah dengan run-off dari daratan.

Benar saja, saya mulai entry, visibilitynya kurang baik, hanya sekitar 10 – 15 m. harusnya kami menikmati reefscape Canyon yang konon mirip Grand Canyon jadi terganggu.

Canyon merupakan site seperti tebing yang dinding-dindingnya memiliki channel yang dapat dieksplor. Substrat dasar dari Canyon adalah karang keras. Tujuan kami adalah mengekslporasi canyon adalah mencapai channel yang menghadap ke selatan baru kemudian naik perlahan-lahan. Rencana kedalaman maksimal adalah 33 m. Channel tujuan kami berada pada kedalam 22 m pada dasarnya, sedangkan puncak pintunya terdapat pada kedalaman 16 m.

Saya sudah mengantisipasi arus deras yang tidak bisa ditebak di Canyon, sampai-sampai saya tidak membawa lensa macro karena khawatir jatuh. Nyatanya, di sana arusnya biasa saja, tidak terlalu deras. Memang saat dikedalaman sekitar 10 m, arusnya lumayan deras dan naik turun, sampai-sampai saya mual dibuatnya. Namun kenyataannya arus yang kami jumpai tidak semenyeramkan itu.

Di Canyon saya banyak melihat ikan-ikan besar. Di Channel saya menemukan Bumphead Parrotfish yang luar biasa besar, panjangnya sekitar 1.5 m.  Tidak lama kemudian saya mendapati seekor Ikan Napoleon yang besar. Panjangnya kira-kira 1 m. Tidak mau kehilangan momen, saya mengejar dan merekam napoleon itu, walaupun ketika kembali saya harus berenang melawan arus.

Napoleon, atau di Hongkong dikenal dengan Soo-Mei merupakan ikan famili Labridae yang keberadaannya terancam. Bayangkan saja, harga seekor Napoleon  di Hongkong dan Taiwan dihargai $180 / kg. Konon, dengan memakan Napoleon dapat meningkatkan stamina seksual. Sesuatu yang bisa diperdebatkan. Yang paling berharga adalah bibirnya, harga masakan bibir Napoleon bisa mencapai $300. Gila.

Saya ingat, di Derawan hampir saja saya memakan Napoleon. Pak Ruslan nawarin saya makan Napoleon seberat 300 gram dengan harga 350 ribu saja. Katanya paling enak dimasak steam jahe. Saya sudah ngiler saja ngebayanginnya. Kalau gak inget budget pas-pasan, mungkin sudah saya sikat itu Napoleon. Belakangan baru saya tahu kalau Napoleon sangat terancam keberadaannya.  Untung saja.

Batee Tokong

Batee Tokong terletak di sisi sebelah utara pulau Seulako. Batee Tokong adalah karang yang menyeruak dari dasar laut.  Dive plan kami hanya sedalam 20 m  dari arah Batee Tokong ke Seulako. Di site ini Wandi cerita kalau akan ditemukan banyak Moray Eel, dia berpesan untuk tidak takut kalau ketemu yang besar-besar.

Karakteristik Batee Tokong adalah wall sampai kedalaman 20 meter, kemudian slope. Substratnya adalah karang keras. Pada slope, saya melihat substrat dasarnya kebanyakan pasir.

Benar saja, dimana-mana tidak sulit untuk menemukan Moray. Hampir disetiap ceruk kami menemukan Moray. Menemukan Moray untuk objek foto sama sekali tidak sulit. Selain Moray yang berlimpah, saya sempat memergoki kerapu besar yang sedang beristirahat di batu karang. Saya sempat memotret sekali. Namun ketika saya yang saat itu sedang menyesuaikan buoyancy dengan menarik  tali emergency air dump dari BCD, si kerapu malah lari.

Ada sedikit fakta yang unik tentang Moray Eel tentang mengapa mereka selalu membuka mulutnya ketika menyeruak dari dalam ceruk. Awalnya saya kira mereka sedang dalam posisi mengancam. Tapi kenyataanya perilaku membuka mulut ini adalah untuk mengalirkan air ke insang mereka untuk bernafas. Moray merupakan makhluk yang tidak menyerang kecuali jika diganggu. Apabila diperhatikan baik-baik, mereka memiliki dua rahang, satu untuk mencaplok mangsa, dan satu lagi untuk menarik masuk ke dalam saluran pencernaan. Luar biasa bukan.

Diving di Weh benar-benar memuaskan, terutama bila yang anda sukai adalah drift diving dan melihat ikan-ikan yang banyak. Yang paling saya sukai di Aceh adalah makanan dan orang-orangnya yang memiliki karakter mengagumkan. Mengangumkan dalam arti fair dan menghargai hak-hak orang lain. Mungkin yang kurang selama di Aceh adalah waktu kami yang terlampau sempit dan perjalanan yang cukup melelahkan antara penginapan dan dive center. Apalagi saat malam karena tidak ada penerangan sepanjang jalan. Selebihnya, saya menganggap Weh yang terbaik dari beberapa dive trip saya.

Rubiah Tirta

______________________

Info Penting:

Dive di Rubiah Tirta untuk “Asians, not including Singaporean” adalah 185 ribu/dive. 225 ribu / dive kalau anda meminjam peralatan ke Rubiah Tirta. telepon: +62.652.3324555. email: info@rubiahdivers.com. website: http://www.rubiahdivers.com

Harga penginapan rata-rata 250 ribu / malam dengan dua bed dan fan. Pakai AC sekitar 300 -350 ribu.

Makan siang bisa didapat di dekat Dive Center. Sebagai gambaran, lontong aceh harganya Rp, 10,000.

Transport dari Balohan ke Iboih sangat mudah. Hanya Rp 50,000 per orang. Saran saya jangan bawa mobil apabila jika anda cuma seorang weekend warrior atau cuma 2-3 hari. Nanti anda akan pusing sendiri di pelabuhan. seperti saya.

Jangan segan-segan untuk jalan-jalan ke Km 0 dan Kota Sabang. Pengalaman berharga itu menginjakan kaki di km 0. Apalagi maghrib-maghrib dan tak tahu kalau km 0 itu ternyata banyak hantunya, hehehe.

Saya pribadi merekomendasikan Iboih Inn. Pertama karena memiliki jetty sendiri. Kedua karena kebaikan Ibu Saliza yang bermurah hati membiarkan saya tidur di hammock saat luntang-lantung di Sabang karena gak dapet ferry. Akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya. Ibu Saliza: +62811841570, +628126991659. Email: iboih.inn@gmail.com

Lagi-lagi Cuaca

Cuma keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Itulah perumpamaan yang diberikan untuk orang yang tidak mau belajar dari kesalahan. Keledai digambarkan sebagai mahkluk yang bebal dan bodoh. Walaupun sudah dipukul dan bentak, kalau mereka tidak mau jalan ya dia tidak akan jalan. Seharusnya memang manusia bisa belajar dari kesalahan. Namun selalu ada orang yang cukup bodoh untuk mengulangi kesalahannya dua kali. Saya termasuk di dalamnya.

Bulan Februari 2011 saya sudah amat lelah dengan rutinitas sehari-hari. Berawal dari iseng-iseng buka-buka situs mengenai lokasi-lokasi diving terbaik di Indonesia, saya langsung kepincut Bunaken. Bukan hanya Bunaken, saya juga sekaligus merencanakan diving di Lembeh yang terkenal sebagai muck diving capital of the world. Bunaken dan Lembeh hanya terpaut satu jam perjalanan. Terlalu bersemangat saya juga berencana untuk meningkatkan sertifikasi diving menjadi advanced open water diver. Tidak cukup sampai di situ, karena akan diving ke Lembeh yang menjadi surganya fotografer macro – seni memotret benda-benda kecil – saya lantas membeli external strobe sebagai peralatan wajib fotografer macro. Akibat tambahan-tambahan itu biaya liburan saya langsung membengkak drastis. Saya tidak peduli, yang penting senang. Namun ada hal yang lupa saya pertimbangkan. Cuaca.

Saya kena batunya, tiga hari saya di Lembeh cuacanya selalu mendung. Namun karena terletak di selat, diving di Lembeh tidak terlalu terpengaruh cuaca dan gelombang. Di Bunakenlah rencana diving hampir saja berantakan.  Waktu itu cuacanya sangat buruk dan gelombang tinggi sehingga hampir tidak mungkin untuk pergi ke Bunaken. Saya harus bersusah payah mencari dive center di Bunaken yang bisa menjamin diving saya lancar dan saya bisa ambil sertifikat advanced. Walaupun saya berhasil mendapatkan dive resort yang bisa mengakomodasi keinginan saya, namun tetap saja ketenangan liburan terusik dan saya harus keluar uang lebih untuk pindah resort.

Juli 2011 kejadian yang mirip berulang. Karena dipanas-panasi teman dan keracunan informasi tentang Wakatobi di internet, saya yang tidak berencana untuk dive trip lagi akhirnya memutuskan ikut ke Wakatobi dengan Live on Board (LoB) pula. Live on Board adalah tipe akomodasi diving yang segala aktivitas dilakukan di atas perahu, baik makan, tidur, dan tentu diving. LoB lebih mahal dari akomodasi land-based. Kelebihan LoB adalah kemampuannya untuk mengakses dive spot yang tidak sulit diakses dengan land-based. Seperti diduga, saya yang sudah terlanjur bersemangat tidak mempertimbangkan masalah cuaca. Lagi. Di Wakatobi angin timur berhembus kencang sehingga gelombang tinggi. Trip itinerary kami kacau balau. Kelebihan LoB untuk mengakses dive spot terisolir tidak bisa dimanfaatkan. Selama tiga hari kami hanya ngendon di Hoga dengan perahu besar itu. Di dive spot yang itu-itu saja.

Wakatobi merupakan singkatan dari empat pulau utamanya. Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Tomia adalah yang terbaik dari semuanya. Pantai indah dengan pasir putih yang sepi, laut dengan gradasi warna birunya, dan terumbu karang warna warni yang menyejukkan hati. Saya hanya sempat ke Wanci dan Kaledupa sedangkan Hoga adalah pulau kecil di dekat Kaledupa. Belum bisa bilang diving di Wakatobi kalau belum ke Tomia. Sungguh tidak enak kalau sudah mengeluarkan banyak energi dan uang untuk trip tapi hati tidak puas.

Mengingat-ingat kembali kebodohan yang dilakukan, saya hanya bisa tertawa saja. Meratapi nasib tidak akan mengembalikan apa-apa. Berandai-andai tidak bisa mengembalikan uang saya. Selama ini saya selalu menganggap diri saya tidak impulsif dan selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pada kenyataannya, untuk hal yang sangat saya sukai, saya sangat impulsif, tidak mampu berpikir panjang.

Penyelamat trip di Wakatobi adalah teman seperjalanan, Rinda, Ima, Agung dan Sigit. Tanpa mereka entah bagaimana jadinya dive trip saya di Wakatobi. Di Bunaken, ketika trip tidak sesuai rencana, saya tidak bisa sharing dan berkeluh kesah ke siapa-siapa. Dengan adanya teman, paling tidak sekarang saya bisa sharing dan sama-sama menertawakan nasib.

Namun keledai tetap saja keledai. Dua kali dive trip saya kacau karena saya yang impulsif dengan kesalahan yang sama pula. Cuaca.  Mudah-mudahan hal ini tidak terulang untuk ketiga kalinya. Amin.

 

Diving Sulawesi: Bagian II, Bunaken

Bunaken (sambungan dari Lembeh)

Menjadi PADI 5 star dive resort tidak menjamin suatu dive resort cocok dengan anda. Tasik Ria contohnya, sebuah resort bintang lima, review serba bagus, dan jadi tujuan diver elite. Tapi bagi saya, Tasik Ria kekurangan elemen penting yaitu ketidakmampuan membangun suasan akrab dengan pengunjungnya.

Tasik Ria sudah seperti hotel berbintang.  Bahkan saat saya disana sedang diadakan seminar disalah satu seminar hall. Luar biasa bukan! dive resort punya seminar hall. Cottagenya bagus dan bersih. Di tengah-tengah cottage ada kolam renang yang cukup besar. Karena Tasik Ria adalah dive resort, tentu saja kolam renangya dirancang cukup dalam untuk latihan selam. Saya perhatikan dalam kolam renang itu sekitar 5 -6 m.

Kamarnyapun tidak seperti kamar di dive resort pada umumnya, Tasik Ria memiliki semacam ruang tamu khusus menyimpan dive gear. Di samping ruang itu terletak kamar mandi, kamar tidur terletak di ruangan tersendiri yang terhubung oleh pintu. Kamarnya besar dengan king size bed, ber-ac dan siaran tv kabel.

Semuanya setingkat bintang lima kecuali kemampuannya membangun suasana akrab. Bayangkan, sejak saya check in sampai makan malam, nyaris tidak ada yang menyambut saya kecuali resepsionis, padahal saya cukup sering ke lobby resort untuk internetan. Kemudian juga, saya hampir tidak menemui tamu lain. Alhasil saya bengong-bengong saja seharian.

Sorenya, saat saya check in untuk diving, petugas di dive center kebingungan. Dia bilang tidak ada informasi ada tamu datang untuk diving. Saya malas sekali  untuk menjelaskan lagi dari awal,  belum lagi saya harus cerita  bahwa saya mau ambil advanced course. Eh, tiba-tiba dia bilang bahwa ada kemungkinan Tasik Ria tidak ada trip ke Bunaken dalam satu dua hari ini karena cuaca buruk sehingga menyebabkan ombak tinggi. Mendengar itu, saya kecewa. Setelah isi form dan bilang bahwa saya mungkin tidak ikut diving esok hari, saya langsung melesat ke kamar, ambil laptop, dan mencari cara supaya bisa diving di Bunaken walaupun cuaca buruk.

Perlu diketahui bahwa Tasik Ria terletak di main land, bukan di Pulau Bunaken sehingga membutuhkan waktu 45 menit untuk mencapai Bunaken. Cuaca buruk menyebabkan ombak tinggi di perairan utara Manado. Saya memaklumi keputusan Tasik Ria tidak pergi ke Bunaken karena masalah safety. Yang saya  sebal, mereka tidak menginformasikan kepada saya sejak awal bahwa jika cuaca buruk ada kemungkinan mereka tidak ada trip ke Bunaken.

Akhirnya saya membuat reservasi baru dengan Two Fish  yang terletak di Pulau Bunaken untuk keesokan harinya. Nah saat saya membatalkan rencana diving saya di Tasik Ria, barulah manajer Tasik Ria menemui saya dan meminta maaf karena kemungkinan tidak ada trip ke Bunaken. Saya hanya tersenyum saja. Kalau saja sejak siang tadi ada yang menyambut dan menjelaskan keadaannya, barangkali saya tetap akan tinggal di Tasik Ria.

Perjalanan ke Two Fish juga tidak mudah. Karena cuaca buruk, tidak ada perahu yang boleh sandar di dermaga Manado, alhasil saya harus menempuh jarak lebih jauh menuju dermaga Wori yang terletak sekitar 45 menit dari Manado. Dengan bujuk rayu akhirnya saya berhasil meminta sopir Tasik Ria untuk mengantar saya ke dermaga Wori, padahal tadinya dia bersikeras hanya mengantar saya sampai bandara 😀

Two Fish memang tidak semewah Tasik Ria. Lobbynya tidak luas dan ber-AC. Internet saja harus bayar lumayan mahal. Saya reservasi di kamar budget room,  kamar yang bahkan lebih buruk dari kos-kosan saya di bandung. Di tambah lagi, karena tinggak di budget room, saya harus share kamar mandi dengan tetangga kamar.

Walaupun begitu,  sejak awalpun saya sudah merasa “cocok” dengan Two Fish. Saya langsung disambut oleh manajer Two Fish dan diberi briefing tentang lokasi-lokasi di sana. Kemudian, manajer yang menjadi instruktur saya itu juga bercerita bahwa akan ada pesta tahun baru cina dan dia mengharapkan saya untuk bersosialisasi dengan tamu-tamu lain. Saya tersenyum lega.

Kedatangan saya di Manado dipenuhi keberuntungan. Saat saya disana cuacanya tiba-tiba menjadi cerah. Kemudian, saya bertemu dengan tamu lain yang sedang kursus Rescue Diver dan Divemaster. Saya lumayan akrab dengan calon divemasters ini karena seperti saya, mereka traveling sendirian 😀 Hal itu juga yang menambah pengetahuan saya tentang industri pariwisata selam. Ternyata, untuk menjadi penyelam profesional (divemaster) ternyata tidak mudah, dan bisa membuat frustasi. Ya, bahkan sesuatu yang paling menyenangkan sekalipun apabila porsinya terlalu banyak akan jadi menyebalkan.

Dalam PADI advanced open water course, saya harus mengambil lima specialty. Dua specialty wajib yaitu deep dive dan navigation, sementara tiga lagi saya memilih drift dive, night dive, dan underwater photography. Tujuan AOW adalah mengenalkan kita pada berbagai lingkungan diving, resiko dan bagaimana cara mengurangi resiko yang diakibatkan. Kalau menurut Flavia dan Bastian yang sedang ujian DM, AOW adalah tingkatan yang paling mudah. Kursus Open Water semuanya serba baru sehingga kadang menyulitkan, kursus rescue dive penuh perhitungan dan harus dijalani dengan serius karena menyangkut keselamatan orang laib, lebih-lebih DM yang harus dijalani super serius.  Saat kursus AOW saya pilih drift dan night dive karena dua dive itu merupakan favorit saya. Underwater Photography semata dipilih karena tangan saya sudah gatal ingin motret. Selama course, saya tidak boleh membawa kamera 😦

Dari semua specialty yang diambil, menurut saya yang paling menyenangkan adalah deep dive & night dive. Night dive di house reef depan resort menyenangkan karena instruktur saya jago sekali dalam mencari makhluk unik yang keluar saat malam. Saya melihat lobster-lobster besar, beberapa kepiting dan udang yang keluar saat malam. Deep dive istimewa karena lokasinya keren sekali. Saya deep dive di Fukui Point dan visibilitynya saat itu mencapai 40 m. Saking jernihnya, tidak kerasa saya sudah sampai di kedalaman 30 m. Yang istimewa, di Fukui Point, landscapenya indah sekali, seperti pegunungan di dasar laut. Enak sekali menyelam lambat-lambat sambil menikmati keindahan landscape Fukui Point.  Sayang saya tidak boleh bawa kamera saat itu. Navigation  tidak menyenangkan karena terlalu melelahkan. Saya tidak konsisten dalam kick cycle, sehingga sering diminta mengulang. Drift dive juga kurang asyik karena di Sachiko saat itu arusnya lemah sehingga kurang menantang. Underwater photography lebih parah, di Lekuan III visibilitynya hancur lebur sehingga apapun yang difoto terlihat hazy, menyebalkan.

Sama dengan saat di Lembeh, di Two Fish, saya satu-satunya tamu Indonesia selain dive guide dan staf. Bahkan Manajer dan salah satu owner berkata bahwa sudah lama sekali mereka tidak menerima tamu asli Indonesia. Tamu yang datang ke Two Fish biasanya adalah turis yang tidak terlalu kaya dan eksklusif sehingga tidak sulit untuk mengobrol bersama mereka. Apalagi dining roomnya memang dirancang untuk makan bersama-sama dalam satu meja. Tidak melulu tamu yang datang berpasangan atau dalam satu grup, ada juga yang datang sendirian, seperti Flavia, Bastian dan Sofia jadinya saya punya teman 😀

Saya sangat menikmati waktu saya di Two Fish, terutama saat pesta tahun baru cina. Warga asing memang lebih mampu menikmati pesta daripada orang Indonesia,  mungkin karena pengaruh alkohol sehingga mereka menjadi terbuka dan santai. Bagaimanapun saya sangat menikmati waktu bersama mereka. Benar-benar fun!

Two Fish adalah 5 star instructor development dive resort. Dari namanya saja kita tahu bahwa Two Fish unggul dalam bidang pengajaran. Saya lihat memang instruktur di Two Fish punya passion mengajar yang tinggi. Itu juga sebabnya saya memilih ambil AOW di Two Fish. Tapi menurut saya sih, Instruktur lokal tidak kalah kok dengan instruktur asing, bahkan kadang lebih enak diajar oleh instruktur lokal karena lebih mudah untuk berhubungan, dan apabila suatu hari ada keperluan, dengan mudah kita bisa berhubungan dengan instruktur itu.

Bagi anda yang ingin diving dengan suasana mewah dan private, jelas Two Fish bukan tempat untuk anda. Tapi bagi anda yang diving sendirian, kesepian, dan perlu ruang untuk berbaur dengan tamu lain, Two Fish adalah resort yang sempurna bagi anda 🙂

Diving Sulawesi: Bagian I, Lembeh.

Awal februari lalu saya nekat pergi diving sendirian ke Bunaken & Lembeh yang terletak di Sulawesi Utara. Tujuannya adalah untuk merasakan muck dan wall diving sekaligus menaikkan level sertifikasi menjadi advanced scuba diver. Saya sebetulnya sudah ngajak teman-teman lain untuk bergabung, namun karena gak ada yang merespons akhirnya saya memutuskan untuk pergi sendirian.

Ini adalah kali kedua saya menyambangi dua kota tersebut. Sebelumnya,  saya pernah menyambangi Manado & Bitung (Lembeh terletak di Bitung) bersama Sigit & Cima. Bedanya, dulu orientasi saya adalah eksplorasi dan jalan-jalan, sekarang orientasi saya adalah diving.

Setelah cari referensi di internet dan cari info ke sana sini, akhirnya saya memilihi Bastianos Lembeh dan Tasik Ria sebagai operator diving di Lembeh & Manado. Rencananya, tanggal 29 Januari – 1 Februari diving di Bastianos dan tanggal 1 – 6 Februari diving di Manado dengan Tasik Ria.

Diving di Lembeh sesuai rencana dan memenuhi ekspektasi saya, namun di Manado dengan kecewa saya harus meninggalkan Tasik Ria dan beralih ke Two Fish di Pulau Bunaken. Faktor cuacalah yang terutama membuat saya beralih ke Two Fish. Selain itu juga ada beberapa hal yang membuat saya kecewa. Padahal ekspektasi saya sudah besar terhadap Tasik Ria.

Diving di Manado & Lembeh rasanya seperti tamu di negeri sendiri. Baik di Bastianos, Tasik Ria ataupun Two Fish, cuma saya tamu yang berasal dari Indonesia. Ratenya dalam Euro dan Dolar dan gak bisa nawar 😦 Memang itulah salah satu tujuan saya pergi sendirian, yaitu untuk berbaur dengan tamu dari negara lain sehingga bisa menambah pengalaman & pengetahuan. Lagian, saya selalu suka dengan lingkungan baru dan orang-orang baru 🙂

Overall, diving di Lembeh & Manado sangat menyenangkan dan relaxing. Di Lembeh, cita-cita saya kesampaian untuk melihat frogfish/anglerfish yang nyeleneh dari pemahaman kita tentang ikan. Di Manado, walaupun dengan susah payah, bisa juga saya menikmati wall di Bunaken.

Lembeh

Saya tiba di Bastianos Lembeh pukul 00.30 karena pesawat saya delay satu jam. Satu jam sangat berharga karena saya masih harus menempuh satu setengah jam lagi untuk mencapai lembeh. Bah! Untunglah saya disambut dengan baik oleh staff Bastianos dengan plang besar bertuliskan “Welcome Wildan”, walaupun capek dan lelah tapi saya senang karena merasa diperhatikan.

Pagi harinya, saat sarapan saya berkenalan  dan ngobrol-ngobrol dengan manager Bastianos Serge Abourjeily. Manager yang berwawasan luas, memiliki pacar yang cantik, dan juga seorang u/w fotografer handal (sempurnalah hidupnya :D). Sayang yang terakhir ini saya baru tahu belakangan, kalau tahu sejak awal saya pasti sudah memohon-mohon minta diajari motret.

Bersenjatakan Canon G11, u/w housing, dan strobe Ikelite AF 35 yang baru saja dibeli beberapa hari sebelumnya, saya siap muck diving sambil foto-foto critters. Sebenernya saya rada keder juga,  karena membawa strobe tamu-tamu lain kayaknya mengira saya fotografer handal. Padahal ini pertama kalinya saya mencoba motret pake strobe 😀 Ya sudah, berlagak jago saja.

Selama diving di sana, guide saya adalah Fanly, pemuda yang sangat ngotot untuk menunjukkan kepada saya critters spesial khas Lembeh. Saking ngototnya dia sampai ngajak saya turun lagi saat rekannya melihat frogfish padahal saya sudah naik ke perahu dan tekanan udara saya tinggal 30 bar.  Kemudian,ternyata dia juga memecahkan telur flamboyant cuttlefish (Metasepia pfefferi) hanya untuk menunjukkannya kepada saya. Saya tahu ini dari Serge belakangan saat makan siang setelah dive.  Serge bercerita kalau dia melihat telur flamboyant cuttlefish dalam tempurung kelapa sejumlah enam. Namun setelah kami lewat, telurnya tinggal lima. Awalnya saya tidak ngeh saat Serge bercerita. Saat itu juga saya tidak tahu bahwa yang saya lihat adalah cuttlefish. Saya kira itu nudibranch 😀 Tapi setelah saya cermati foto yang saya ambil, saya sadar bahwa yang saya foto adalah flamboyant cuttlefish. Tidak sulit untuk menebak kalau Fanlylah yang memecahkan telurnya. Lanjut Serge, kemungkinan besar flamboyant cuttlefish itu akan mati karena belum siap untuk keluar dari telur. Saat dipecahkan, sotong kecil itu akan menggunakan sebagian besar energinya untuk mengeluarkan warna dengan tujuan melindungi dirinya dari predator. Lagian dia masih terlalu lemah untuk berburu. Saya merasa tidak enak. Harusnya saya bicara sama Fanly, tapi saya tidak melakukannya (sigh).

Flamboyant Cuttlefish

Lepas dari itu, muck diving di Lembeh sangat berkesan bagi saya. Pertama, karena saya banyak belajar untuk menjaga buoyancy. Dasar pasir hitam mengharuskan saya baik-baik menjaga buoyancy. Kalau saya tidak bisa menjaga buoyancy, berhamburanlah pasir-pasir itu sehingga bertambah sulit mengambil foto. Kalau foto sendiri saja sih gak papa, kalau foto bareng tamu yang lain jadi gak enak. Kedua, walaupun saya masih harus belajar lagi terutama untuk mengatur lighting dan kompisisi, namun saya cukup puas dengan hasil foto. Saya akan terus belajar sampai bisa menghasilkan foto seperti profesional 😀 Ketiga, Saya jadi belajar untuk diving dengan santai sambil menikmati lingkungan sekitar. Cuma dengan diving santai kita bisa benar-benar menikmati lingkungan dan punya lebih banyak kesempatan untuk melihat kehidupan laut yang unik. Keempat, di Lembehlah pertama kalinya saya muntah di bawah air :D.  Saya muntah karena belum biasa mengambil foto makro sambil mempertahankan posisi akibat arusnya yang lumayan sehingga menyebabkan mual. Pelajarannya, ternyata muntah di bawah air tidak sulit, cukup buka regulator terus muntah deh. Setelah selesai, pakai lagi regulatornya hehehe.

Dive spot di Lembeh typical, dasarnya pasir hitam dan kadang ada sedikit rubble. Yang membedakan hanya makhluk-makhluk yang ditemukan. Dive spot terbaik diantara enam diving saya di Lembeh adalah Jahir dan TK 1. Di Jahir saya melihat frogfish dan wunderpus, sedangkan di TK 1 saya melihat empat frogfish! tiga painted frogfish dan satu giant frogfish. Nah bagi rekan-rekan yang tidak tahu, frogfish/anglerfish adalah ikan yang unik. Sirip perutnya berevolusi sehingga berfungsi seperti tangan yang bisa digunakan untuk berjalan dan menggenggam. Ditambah lagi, sirip punggung pertama terletak di bagian kepala depan dan terevolusi menjadi seperti kail yang bisa digoyang-goyangkan yang fungsinya adalah untuk menarik mangsa. Kemudian juga, frogfish perlahan-lahan bisa menyesuaikan warna kulit dengan warna lingkungan. Luar biasa bukan! Makanya saya tertarik sekali dengan ikan unik ini.

frogfish

Kamar di Resort bastianos yang saya tempati walaupun lembab tapi cukup bersih. Kamar mandinya juga bersih dan nyaman. Yang keren,tempat tidurnya berkelambu, cocok buat yang sedang bulan madu 😀 Makanannya tidak terlalu istimewa tapi mereka perhatian terhadap tamu. Tau saya muslim, mereka tidak menghidangkan babi. Yang agak repot memang cara pembayarannya, mereka tidak biasa transaksi dengan rupiah. Sementara bayar pakai kartu kredit kena surcharge 3 %.  Pesan saya, kalau mau diving di Lembeh atau manado lebih baik bawa Euro supaya tidak rugi akibat perbedaan kurs. Overall, menginap di Lembeh memuaskan karena sesuai dengan harga. Ditambah lagi manajer Lembeh enak diajak diskusi mengenai marine life dan juga seorang fotografer handal.

Superior Room Bastianos

Tipe tamu yang saya temui di Bastianos Lembeh adalah couple atau group of friends sehingga agak sulit untuk berbaur. Disana saya bertemu Daniel & Heike, pasangan peneliti asal jerman yang bekerja di Singapore. Daniel adalah seorang diver yang serius. Dia punya gear yang sumpah, keren-keren. Logbooknya saja mirip buku agenda yang dibuat sendiri.  Saya juga bertemu dengan gerombolan orang Hongkong. Karena mereka beramai-ramai jadi sulit untuk berinteraksi. Ditambah lagi hanya satu dua orang yang bahasa inggrisnya bisa dimengerti. Ada tamu  yang sendirian yaitu Victoria, seorang perawat berkebangsaan inggris yang terkena infeksi telinga sehingga tidak bisa diving. Namun kelihatannya Victoria lebih tertarik untuk membaca buku dan bersantai daripada ngobrol-ngobrol.

Sebetulnya bukan suasana seperti ini yang saya cari saat traveling sendirian. Saya lebih suka penginapan yang suasananya tidak terlalu private sehingga setiap pengunjungnya bisa berbaur.  Di Bastianos terlihat setiap tamu yang datang punya acara masing-masing.  Saya yang sendirian jadi celingak celinguk gak karuan. Akhirnya daripada bingung, saya memilih untuk tidur saja di kamar.

Bulan Oktober adalah waktu terbaik diving di Lembeh karena di bulan itulah critters lebih mudah dijumpai. Namun seperti yang kita tahu, Oktober adalah peak season dan aturan di Lembeh setiap dive spot hanya boleh menerima lima belas orang diver. Diving di bulan Oktober sama saja seperti berebutan kamar mandi saat kebelet. Diving di Lembeh sebetulnya bisa dilakukan all season. Walaupun hujan, tidak akan terlalu berpengaruh, hanya visibilitynya yang tidak terlalu bagus. Namun itu bukan masalah karena kebanyakan objek fotonya macro.

Lembeh memang tempat yang asyik untuk mengasah kemampuan sebagai u/w fotografer karena banyak sekali makhluk-makhluk unik yang bisa dijadikan objek foto. Apabila anda berencana ke Lembeh, siapkanlah wetsuit yang agak tebal karena banyak motret dan sedikit aktivitas cardio kita akan mudah kedinginan. Bagi yang tidak memiliki kamera u/w, lebih baik beli dulu atau pinjam teman. Saya tidak bisa membayangkan diving di Lembeh tidak membawa kamera. Pasti akan membosankan karena kita hanya bisa melihat diver lain asyik memotret.

*)Cerita diving di Manado dilanjutkan pada tulisan selanjutnya supaya gak kepanjangan